Jurnal Sairara:
DIALOG SASTRAWAN SE BORNEO 2009
Sepucuk surat listrik [sulis] muncul di layar laptopku. Sepucuk surat dari
Huda, di Palangka Raya. Huda adalah seorang penggiat drama di Palangka Raya,
berasal dari Jawa. Di Palangka Raya ia mempunyai sebuah grup teater yang dengan
segala kesulitan tetap gigih melanjutkan kegiatannya. Bersama Huda dan yang
lain-lain, kami mendirikan ISASI [Ikatan Sastrawan Indonesia] Kalteng dengan
majalah Dermaga sebagai organ resminya dibantu oleh para anggota DPRD dan
Walikota Salundik Gohong, pada waktu itu. Salundik , seorang mantan kolonel
Dinas Inelejen, yang mengagumi Chairil Anwar. Yang kusukai pada Salundik dan
istrinya bahwa mereka berdua tidak pernah segan turun ke lapangan dan ke
pedesaan sehingga dekat orang kampung dari segala asal etnik. Menjadi walikota
bagi Salundik Gohong adalah menjadi walikota seluruh etnik di Palangka Raya.
Bukan hanya walikota orang Dayak. Salundik seorang Dayak dan Indonesia, sanggup
meninggalkan peluang "abuse of power" sebagai kolonel intelijen
demi cintanya pada kampung di mana ia merasa berhutang moral. Artinya, ia
bukan seorang militerisme. Tidak semua orang militer adalah militerisme. Ada
militer pemimpi dan bukan militerisme walau pun seorang militer gampang merosot
jadi militeris.
Huda dalam kegiatan berteaternya pernah mengundang Rendra, Mbak Ken Zuraida
Rendra, Dorothea Rosa Herliany yang sangat besar keinginannya mengarungi
sungai-sungai Kalteng, dan aktif menggalang kerjasama dengan penggiat drama di
Jawa dan propinsi-propinsi lain di Kalimantan.
Ketika Dewan Kesenian Daerah Kalteng macet, kami segera mendirikan ISASI, di
mana berhimpun seluruh sastrawan dari berbagai etnik. Kehadiran berbagai etnik
di Kalteng adalah suatu kenyataan. Kalteng adalah rulah betang bersama. Tidak
mengindahkan hal ini , kiranya sama dengan tidak mengindahkan kenyataan karena
mana pula ada propinsi di negeri ini yang hanya dihuni oleh etnik tunggal.
Karena itu untuk memprovokasi pikiran lebih jauh, aku sepakat dengan ide
Dorothea Rosa Herliany menerbitkan bukuku: "Negara Etnik". Provokasi ide,
sekali pun mengandung resiko, tetap kuanggap perlu untuk mendorong orang supaya
berpikir tidak sejauh ujung jari.
Jika diamati maka pemilihan Teras Narang sebagai wakilnya, bisa dibaca
sebagai aliansi antara Jawa dan Dayak, Islam dan Kristen, unsur-unsur yang
agaknya masih dijadikan hitungan penting, dalam percaturan politik di Kalteng.
Tentu saja faktor uang sangat menentukan dalam aliansi merebut posisi nomor
satu dan dua di propinsi. Kepentingan daerah, dan program, barangkali hanya
barang dagangan serta penumbuh utopi -- tanpa usah terlalu diharapkan bisa
terujud. Bukan pula sebagai sarana social control suatu janji politik.
Indonesia dengan demikian, tak obah seperti negeri tempat ngedobos dan kita
akan menghancurkan diri sendiri sebagai bangsa dan negara.
Ketika berada di Palangka Raya, aku merasa aneh di hadapan kenyataan bahwa
kegiatan di bidang sastra-seni di propinsi Kalteng dilakukan oleh etnik-etnik
yang ada , terutama Jawa, Batak dan Dayak secara sendiri-sendiri. Kalau mau
jujur, kegiatan sastra-seni yang dilakukan oleh etnik Dayak sangat tidak
menggembirakan, padahal syarat materialnya cukup tersedia. Untuk menerobos
keadaan ini maka mula-mula kami membangun Dewan Kesenian, tapi gagal. Setelah
gagal kami membangun ISASI. Huda ada di antara kegiatan ini. Kurangnya
kegiatan sastrawan-seniman etnik Dayak, tercermin dari kata-kata Korrie Layun
Rampan dalam suratnya ke teman-teman Kalteng, mengatakan:
"Selama ini Mas Korie mengenal sastrwan yang ada di Kalteng hanya 3 orang
diantaranya (alm) Badar Sulaiman Usin, Bang Kusni, dan Joko P Sandaran (sudah
lama pindah ke Jawa)."
Seniman-seniman dari etnik Dayak, banyak bergerak di bidang tari, melalui
sanggar-sanggar. Hanya saja tari-tari yang digelarkan lebih banyak berupa
pengulangan dari yang ada. Hanya Sanggar Antang yang sangat kreatif menggarap
tema-tema lokal dengan memadukan unsur-unsur lokal dan kekinian. Pemimpin
Sanggar Antang, pernah belajar pada Bagong Koesoediardjo selama beberapa tahun
di Yogya. Kalau amatanku benar, dalam bidang sastra-seni ini, Kalteng masih
ditandai oleh eksluvitas. Tanpa kecuali. Sebenarnya Dewan Kesenian dan ISASI
bisa melakukan terobosan, tapi rebutan uang dan peranan politik masih
mengepung. Kepungan yang tidak gampang diterobos. Apalagi jika sudah nampak ada
uang. Ide manusiawi, republiken dan keindonesiaan gampang diremukkan. Mata jadi
hijau di hadapan duit. Prinsip an mimpi jadi busa sungai dan gelembung sabun.
Abuse of power [penyalahgunaan kekuasaan] dianggap wajar. Orang lokal tak obah
jadi ayam-ayam jago yang rebutan makanan, lalu berlaga. Ketika
berlaga, itik datang menghabiskan makanan yang direbut itu. Dalam bahasa
Dayak Katingan,keadaan begini disebut "hakayau kulai" [saling memotong kepala
keluarga]. Kearifan budaya rumah betang seakan menjadi masa silam, padahal
secara konsepsional konsep budaya rumah betang, secara perspektif kukira masih
punya perspektif dan sangat manusiawi. Aku sendiri, pernah merasakan sakitnya
tusukan budaya "hakayau kulai" ini ketika bekerja 4 tahun di Indonesia. Aku
merasa sendiri dan sepi, lalu kembali terbuang dari kampung. Kudapatkan Dayak
sekarang, bukan Dayak doeloe lagi secara konsepsional. Asing pada dirinya.
Sanggup berdiri di atas bangkai saudara sendiri seperti kisah kakekku almarhum
ketika aku bocah, dan seperti keadaan Kasongan, kota lahirku, sekarang ibukota
kabupaten Katingan, di masa gerilya melawan Belanda.
Dialog Sastrawan Se Borneo , bukanlah kegiatan baru. Kalau aku tak salah
hitung hitung, yang akan diselenggarakan di Kaltim pada 2009 nanti, adalah
pertemuan yang ke-11, menyusul yang ke-10 di Sandakan, Sabah, Malaysia Timur.
Tadinya, kepada Teras Narang selaku gubernur dan teman-teman di Kalteng aku
mengusulkan pertemuan yang ke-11 ini diselenggarakan di Kalteng, walau pun aku
tahu , syarat-syaratnya masih sangat tidak padan. Aku hanya ingin mendorong dan
memprovokasi ide karena sadar benar bahwa aku tidak bisa berbuat banyak oleh
jauhnya aku dari pulau kelahiran. Sekali pun sudah menjelang pertemuan yang
ke-11, pertemuan penting begini, sejauh ini tidak terasa gaung gema dan makna
kongkretnya. Setelah bertemu, lalu selesai, tak obah dengan Kongres-kongres
Kebudayaan Nasionl yang dilakukan dari atas.
Yang menjadi pertanyaanku: Mengapa demikian? Jika pengamatanku benar, apakah
tidak perlu dicari sebabnya? Apakah kongres hanya untuk kongres menghabiskan
dana yang ada sehingga sejenis temu berhura-hura tanpa makna? Sejalan dengan
pikiran sepintas ini, maka apakah tidak baik, pertemuan sastrawan diluaskan
menjadi pertemuan sastrawan-seniman dan budayawan yang menyertakan wakil-wakil
penggiat di lapangan, tanpa mengecualikan pihak pejabat terkait? Lalu dicoba
dibuat program tindak lanjut skala Borneo, sejenis Festival Venesia di Italia,
misalnya. Pengikut penggiatan sastra-seni lapangan, kukira, akan membuat kita
bisa lebih membumi dan tidak berhenti pada temu dan kongres saja. Temu dan
Kongres apakah tidak selayaknya, mencoba membaca keadaan, lalu dari tahu
keadaan, mengembangkan makna berangkat dari kenyataan itu. Ah, aku memang
seorang pemimpi dan sepi sendiri di jalan mimpi yang selalu sepi ini. Tapi
seperti ujar Chairil Anwar walau pun aku takkan sampai di pantai
keempat "di leher kukalungkan oleh-oleh untuk si pacar" dan kaulah itu
tanahair, kampung-halaman. "Oleh-oleh" itu adalah mimpiku. Pacar, pacarku, kau
mau menerimanya, bukan, sekali pun mimpi bukan emas dan uang, dewa hari ini?!
Cepat atau lambat, Borneo akan satu oleh adanya trans jalan raya dan kereta
api trans Borneo. Jalan raya dan kereta api trans Borneo akan berdampak banyak
dan langsung pada kehidupan penduduk, sekali pun secara politik, batas negara
tidak diusik. Borneo secara budaya adalah satu. Banyak kesamaan dasarnya.
Dialog sastrawan Borneo seniscayanya sadar akan peranan budaya untuk menjadikan
Borneo sebagai "rumah betang manusiawi" penduduk pulau. Tidakkah hal ini lebih
penting daripada berhura-hura dan narsisme dan nampang? Ini tidak hakiki,
tuan-tuan dan puan-puan. Menerbitkan buku dan karya bersama, hanyalah arti
kecil sehitam kuku untuk mimpi memanusiawikan manusia. Dialog Sastrawan Se
Borneo [aku usulkan diperluas!] tidak selayaknya dijadikan tempat nampang
narsistik, tapi untuk membangun esok, berangkat dari kenyataan dan bacaan
situasi. Temu Sastrawan Se Borneo akan tidak punya arti jika tidak ada tindak
lanjut yang nyata seperti yang dulu-dulu yang mengabaikan himbauan
esok pulau dan kemanusiaan yang manusiawi. Quo Vadis, kukira akan menjadi
pertanyaan sentral Dialog Sastrawan Se Borneo 2009.
"Has eh Hari!" [Ayo saudaraku!], ujar orang Dayak Katingan. "Has eh durang
dandau Utus Panarung!" [Ayo segala yang terkasih turunan pelaga] .***
Paris, Musim Dingin 2008.
-------------------------------------
JJ. Kusni, pelajar awal sastra-seni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran
Indonesia Paris.
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]