Catatan Bantimurung
MENGASAH TOKOH
Kutulis catatan ini dari Bantimurung, sebuah daerah di mana banyak kupu-kupu,
salah satu lambang dari keindahan dan kekayaan alam tanahair. Keindahan dan
kekayaan yang sampai sekarang tidak dimanfaatkan untuk pemanusiawian rakyat dan
warganegaranya. Keindahan dan kekayaan negeri yang diperjualbelikan dan
hasilnya dimasukkan kocek penyelenggara negara seperti yang terjadi di Indo
Moro, Barito Utara [Kalteng] dan atau Free Port [Papua Barat], untuk menyebut
dua misal saja dari sekian banyak contoh.
Di Bantimurang lah aku membaca posting Gustaf Dupe yang berbicara tentang
"mengasah tokoh", sebuah istilah yang kuanggap sangat kontekstual sekaligus
mengetengahkan soal hakiki bangsa dan negeri.
Apa di mana letak kontekstualnya pendapat Gustaf Dupe ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini , aku berangkat dari pandangan bahwa Indonesia
sekarang memerlukan pimpinan kekinian untuk memecahkan masalah kekinian. Martir
dan pahlawan hanya bisa dijadikan acuan. Selamanya hanya teladan dan acuan.
Martir dan pahlawan yang sudah tiada, tidak bisa dijadikan pegangan dan tidak
bisa memimpin Indonesia secara kongkret dan memecahkan masalah-masalah
kongkret. Sehubungan dengan ini, aku teringat akan percakapanku dengan syohib
dekatku, penyair Amarzan Ismail Hamid di ruang kerjanya di tingkat empat
kantor Majalah Tempo tahun lalu. Sederhana ucapan Amarzan tapi kukira mendasar,
membekas di ingatan dan renunganku:"Aku sih sangat kagum dan hormat pada
Soekarno serta ide-idenya. Hanya yang kupertanyakan, apakah Soekarno yang sudah
tiada, bisa memecahkan masalah Indonesia kekinian dan terus berkembang?
Mengapa kita mengidolkan masa lalu sementara kita hidup di hari ini? Menurutku,
untuk memecahkan masalah Indonesia sekarang, yang kita perlukan
adalah pemimpin dan pemikir hari ini. Demikian pendapatku. Ujar Amarzan yang
kujawab dengan acungan jempol tanda kesapakatan dan kagum pada pendapat yang
berani, jujur dan orisinal serta tanggap zaman ini, sambil melangkah keluar
meneruskan perjalanan jauhku. Amarzan Lubis asyik menikmati gado-gado makan
siangnya, tapi kurasakan mata hatinya mengantarku seperti biasa saban kami
berpisah. Seakan kudengar suaranya yang amat kuhafal berkata: "Kusni, hati-hati
kau di jalan".
Masalahnya kemudian: siapakah pemimpin kekinian itu yang diharapkan bisa
memimpin Indonesia sesuai dengan nilai-nilai republiken dan keindonesiaan
sebagai bagian utuh dari nilai-nilai manusiawi?
Yang jelas bagiku pimpinan partai politik dan penyelenggara negara bukanlah
otomatis menjadi pemimpin nasion, walau pun mereka mempunyai pengaruh terhadap
perkembangan nasion. Tidak sedikit pimpinan partai politik ini sangat narsis,
dan melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh yang menempatkan mereka
jauh dari kepentingan rakyat dan bangsa. Apalagi pimpinan yang membunuh
rakyatnya hanya akan amis darah saja. Mana ada pemimpin rakyat dan bangsa yang
tangannya amis darah rakyat dan bangsanya sendiri.
Mereka akan disebut pemimpin nasion ketika mereka menyelenggarakan negara
mereka membela kepentingan rakyat dan bangsa dengan kesanggupan mengemban
segala resikonya.
Pemimpin rakyat dan bangsa lahir dari proses perjuangan pahit-getir,
jatuh-bangun dan bukan dari suatu pemilihan semu. Mutu kepemimpinan mereka pun
akan ditapis oleh proses perjuangan pahit-getir untuk membela rakyat dan
bangsa. Bukan melalui pemerkayaan diri ketika menyelenggara negara. Dalam
artian inilah, aku memahami istilah yang digunakan oleh Gustaf Dupe ketika ia
mengatakan: "Mari, perkuat barisan dan mengasah tokoh", terutama "tokoh"
zaman ini. Hari ini! Hanya "tokoh" yang terasah oleh badai-topan, pahit-getir
zaman yang bisa disebut pemimpin rakyat dan bangsa. Tokoh yang terasah bukan
karena ia dipilih menjadi ketua partai atau menteri dan pos-pos penyelenggara
negara berbagai tingkat -- tingkat yang agaknya di negeri kita lebih
memperlihatkan tingkat penyalahgunaan kekuasaan. "Mengasah tokoh" kukira, sama
dengan pengertian dan kesimpulan rakyat Tiongkok yang tersimpul dalam ungkapan
bahwa "daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh". Pimpinan partai
politik, presiden dan menteri yang tak terasah seperti ujar penyair Tiongkok
Kuno, akan berjatuhan seperti musim silih berganti, sementara rakyat masih
saja di tempatnya tak beranjak.
Pendapat Amarzan dan Dupe, kukira saling beratutan. Saling isi-mengisi.
Adakah dan siapakah pemimpin rakyat dan bangsa yang terasah dan yang sangat
diperlukan sekarang ini? Kita tidak bisa menyelenggarakan negeri, negara dan
bangsa dengan para martir.
Sehubungan dengan ini, aku jadi teringat dalam sebuah diskusi di Balai Budaya
Solo, Jawa Tengah, di mana budayawan Halim HD mengetengahkan pertanyaan
provokatif kepadaku: "Mengapa Indonesia masih saja terpuruk dan dilanda oleh
krisis multi dimensional, sementara angkatan sekarang, sudah banyak bergelar
akademi dan membaca, buku-buku banyak dialihbahasakan?".
Menjawab pertanyaan provokatif ini, aku kembali melontar pertanyaan ke
publik: Apakah kita bisa membaca konteks buku-buku yang diterjemahkan itu?
Apakah buku-buku terjemahan itu telah membantu kita secara nyata untuk membaca
kehidupan dan masyarakat kita, lalu menjadi penyang [penyang, bahasa Dayak
Katingan, berarti sangu sprititual kehidupan] guna melakukan perobahan
progresif manusiawi? Apakah di negeri ini sudah ada anak negeri sejenis Ho Chi
Minh dan Mao Zedong yang tanpa narsisme demi mengujudkan mimpi-mimpi agung
mereka sanggup memulai laga dari hutan, gunung dan desa-desa terpencil dan
sunyi? Aku malah sering menyaksikan bahwa pernah berada di penjara di negeri,
kepernahan di penjara itu sering dijadikan sertifikat kompromi dengan
penyelenggara negara. Tidak jarang digunakan sebagai ijazah untuk mendapatkan
kedudukan. Bersamaan dengan itu, mimpi indah dahoeloe dilempar ke comberan dan
ke sungai-sungai berpolusi tinggi. Sepolusi jiwa yang takluk. Tentu saja,
jiwa-jiwa yang takluk , seperti Nikolai Gogol bilang tidak lain dari
"jiwa-jiwa mati", bukan jiwa-jiwa yang "terasah". Bukan pula jiwa sejenis
"kuda yang teruji dalam perjalanan jauh". Demikian jpun nasibnya cinta dan
mimpi akan disaring dan diasah oleh waktu serta "perjalanan jauh". Gelora
seketika bukanlah hakekat suatu "perjalanan jauh". Gelora sering menimbulkan
buih dan busa.
Dari Bantimurung aku memandang kupu-kupu beterbangan ke segala penjuru
[karena daerah ini memang daerah bersarang kupu-kupu], dikejar lomba-berlomba
oleh anakku dan ibunya. Aku melihat di bawah sayap kupu-kupu itu, tanahairku
yang sepi mimpi, sunyi suara tapak "utus" panarung zaman yang tangguh serta
terasah. Di pucuk-pucuk pepohonan dan di dedaunan, yang nyaring kudengar adalah
dengus angin narsisme berhembus dari jiwa-jiwa yang tak terasah dan takluk.
Karaeng Galesong, Samber Nyawa, Panimba Tasik , Pemungkas Gunung terpinggir
dari ingatan angkatan yang hampir bisa dibilang tak punya sejarah karena
melupakan sejarah. Anak bangsa dan negeri begini melangkah entah ke mana tanpa
masa silam dan sejarah yang dilupakan. Bisakah ia melahirkan tokoh terasah
pengejawantah mimpi? Barangkali mimpi pun sudah tak ada dan sesuatu yang
dipandang sisa-sia di tengah gelora globalisasi kapitalisme dominan seperti
halnya "Perjalanan ke Cordoba, sayup dan sepi. Buah zaitun di kantong
pelana. Ajal menunggu di Cordoba".
Apakah Indonesia sekarang berada di jalan ke Cordoba yang "jauh dan sepi"?
Dari Bantimurung, sambil memandang anak perempuanku bermain bersama ibunya aku
memandangmu tanahair. ***
Paris, Akhir Musim Dingin 2008.
---------------------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes?
Yahoo! Movies is all you need
[Non-text portions of this message have been removed]