Jurnal Sairara:
   
   
   
  MENUJU SARAWAK [8]
   
   
  Di Kuching, aku tinggal di sebuah hotel kecil tapi cukup nyaman. Yang 
pertama-tama kucari di lobbie hotel adalah peta Kota Kuching, hingga aku bisa 
memperoleh gambaran tentang kota. Tahu berada di mana dan ke mana. 
   
   
  Melalui percakapan dengan pekerja-pekerja hotel, kuketahui bahwa mereka 
banyak yang berasal dari etnik Dayak. Ketika mereka tahu bahwa aku  juga 
berasal dari etnik Dayak Kalimantan Tengah, percakapan kami menjadi makin 
lancar dan terbuka. Bahkan ketika aku sudah kembali ke Paris, hubungan kami 
masih saja berlangsung.  
   
   
  Di samping peta, mereka inilah kemudian yang banyak memberiku petunjuk ke 
tempat-tempat yang ingin kutuju. Tentu saja kebaikan begini, bisa didapat juga 
dari orang-orang non Dayak di hotel mana pun karena kukira salah satu fungsi 
mereka adalah memberikan informasi yang diperlukan oleh para tamu. 
   
   
  Tujuan pertama yang ingin kudatangi tentu saja adalah Museum Dayak Kuching.  
Sekaligus untuk  melihat-lihat keadaan dan mengenal  kota, maka aku memutuskan 
berjalan kaki  ke Museum, suatu hal yang biasa kulakukan pada waktu senggang, 
lebih-lebih pada saat berlangsungnya pemogokan-pemogokan besar di Paris. 
   
   
  Kukira Museum Dayak di Kuching ini merupakan sebuah museum terbesar dan 
terpenting mengenai Dayak di dunia. Di Tropen Museum, Amsterdam, memang bisa 
dapatkan ruangan peragaan khazanah budaya Dayak, tapi kukira tidak khusus  
Dayak dan tidak sebesar Museum Dayak  yang di Kuching. Sedangkan di Paris, yang 
kudapatkan bukan museum tapi toko yang menjual barang-barang budaya dari Tanah 
Dayak seperti patung, mandau, talawang,, patung, dan lain-lain ....dengan harga 
jual yang tak kepalang tinggi. Jika kuingat, betapa rendahnya hasil karya 
perempuan-perempuan pengrajin Dayak di kampung-kampung dibeli oleh orang kota , 
apalagi jika dibandingkan dengan harga jual di Paris, aku hanya bisa terdiam. 
Selama bekerja di Kalimantan Tengah, aku pernah mencoba melakukan sesuatu untuk 
mencari jalan keluar dari keadaan getir demikian,  tapi waktuku tidak padan, 
saat aku kembali terpaksa meninggalkan Indonesia. Hanya saja dari apa yang 
pernah kucoba lakukan, aku melihat bahwa ketimpangan
 demikian, bukanlah sesuatu yang fatal dan tak punya jalan keluar alternatif. 
Barangkali kejelian melihat celah, prakarsa, ketekunan dan profesionalisme 
serta pengembangan jaringan akan menjadi unsur penting bagi pengembangan 
semangat mandiri.
   
   
  Museum Dayak Kuching yang berhalaman luas, terdiri dari dua gedung besar 
bebentuk betang, dihubungkan oleh sebuah titian, sebagaimana biasa terdapat 
pada bangunan-bangunan Dayak.  Di dua gedung ini, dipamerkan segala apa saja 
yang merupakan khazanah budaya Dayak dari berbagai daerah, melalui mana kita 
bisa mengenal sejarah Dayak dari masa ke masa. Termasuk perlawanan mereka 
terhadap penjajahan Inggris. Rumah betang berbagai daerah,termasuk yang ada di 
wilayah Indonesia, bisa kita hayati di sini dan melihat beda yang satu dari 
yang lain. Alat-alat kerja sehari-hari dan senjata berperang, alat penangkap 
ikan, bentuk berbagai macam perahu,dan lain-lain  di sini pun bisa kita 
saksikan.  Halaman-halaman luas dua gedung ini juga  merupakan tempat 
memamerkan kekayaan budaya Dayak.
   
   
  Yang ingin mengenal Dayak, dan orang Dayak yang ingin mengenal dirinya, masa 
silamnya, sejarahnya, budayanya, potensi terpendamnya,  untuk lebih terang 
memandang terang hari ini, kukira, Museum Dayak Kuching ini akan sangat 
bermanfaat. Museum ini kurasakan tak obah sebagai kelas belajar yang langka dan 
memikat serta sangat mendidik.
   
   
  Yang aku tidak tahu, dan luput dari sasaran pertanyaanku, apakah di Kuching 
ada kebun binatang yang memamerkan segala hewan yang ada di Borneo. Waktu 
berkunjung ke Balikpapan, Kalimantan Timur,  kebun binatang begini kudapatkan. 
Sehubungan dengan hewan-hewan pulau raya Borneo/Kalimantan ini aku bersama 
orang-orang kampung sering tertawa geli saban membaca berita tentang 
sarjana-sarjana dari universitas ini dan itu di Jawa yang meneliti pulau, 
mengatakan bahwa  mereka telah menemukan binatang ini dan itu di Kalimantan. 
Kami tertawa dengan istilah menemukan itu. Karena jauh sebelum para sarjana 
dari Jawa ini  menemukan hewan-hewan tersebut, orang kampung sejak lama 
mengenalnya. 
   
   
  Aku juga tidak tahu, apakah kebun binatang khas pulau ada terdapat di 
Pontianak, Kalimantan Barat. Yang jelas di Kalimantan Tengah sampai sekarang 
masi tidak ada. Jangankan  kebun binatang, Danau Tahai seperti halnya dengan 
Kereng Pangi  dan atau Bukit Batu, yang sesungguhnya merupakan obyek wisata dan 
tempat hiburan bagi anak-anak yang menarik dan potensial, nampak masih kurang 
terurus.
   
   
  Sesudah hampir separo hari berada di museum ini, aku melanjutkan kunjungan ke 
tempat lain: ke Tugu Pahlawan, dengan pertanyaan apa-siapa yang dipandang 
sebagai pahlawan oleh Sarawak.****
   
   
   
  Paris,  Akhir Musim Dingin 2008.
    ---------------------------------------------
  JJ. Kusni,  pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.


       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke