-------Original Message-------
 
From: Lutfia Ariyanti A.
Date: 03/03/08 04:32:11 PM
Subject: Mafia SMS
 
Fyi
 
Fia
 
Lutfia Ariyanti
 
Claims Group
 
PT. TUGU PRATAMA INDONESIA
 
Jl. H.R. Rasuna Said Kav.C 8-9
 
Jakarta 12940
 
|* (62 21) 52961777 ext 3023| 7 Fax (62 21) 52961555 |*
[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  |
________________________________
 
TOLONG  BACA DAN  JANGAN  COBA 2X IKUT WALAU PUN HANYA Rp 2000 MAKANYA
BACA  OK 
 
Dapat dari milis  tetangga.........
 
Dua hari yang lalu gw ketemu dengan salah  seorang  AFI (Akademi Fantasi
Indosiar). Selain lepas kangen (he..he)  gw juga dapat cerita seru dari  
kehidupan mereka.
 
Di balik  image mereka yang gemerlap saat manggung atau ketika nongol di
teve, kehidupan  artis AFI sangat memprihatinkan.
 
Banyak di antara mereka yang hidup  terlilit utang ratusan juta rupiah.
Pasalnya, orang tua mereka ngutang ke  sana-sini buat menggenjot sms
putera-puteri mereka. Bisa dipastikan tidak ada  satu pun kemenangan AFI itu
yang berasal dari pilihan publik. Kemenangan mereka  ditentukan seberapa
besar orang tua mereka anggup menghabiskan uang untuk sms.  Orang tua Alfin
dan Bojes abis 1 M. Namun mereka orang kaya,  biarin aja.
 
Yang kasian mah, yang kaga punya duit. Fibri (AFI  005) yang tereliminasi di
minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia
sekarang hidup di sebuah kos sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang
sedikit mahal RP 500..000. Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat
ongkos transportasi. Kositu sederhana (masih  bagusan kos gw gitu loh),
bahkan kamar mandi pun di luar. Makannya sekali  sehari. Makan dua kali
sehari sudah mewah buat Fibri. Kaga ada dugem dan kehidupan glamor, lha
makan aja susah.
 
Adabanyak yang seperti  Fibri. Sebut saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll.
 
Mereka teikat  kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, kaga bisa
cari job di  luar Indosiar. Bayaran di Indonesiar sangat kecil.
Lagian pembagian job  manggung sangat tidak adil. Beberapa artis AFI seperti
Jovita dan Pasya  kebanjiran job, sementara yang lain kaga dapat/jarang
dapat job. Maklum  artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat makan aja  mereka
susah. Temen gw malah sering dijadiin tempat buat  minjem duit. Minjemnya
bahkan cuma Rp 100.000. Buat makan gitu loh.  Mereka ga berani minjem banyak
karena takut ga bisa bayar.
 
Ini  benar-benar proyek yang tidak manusiawi. Para orang tua dan anak
Indonesiadijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu bakat di 
televisi. Mereka dikontrak ekslusif selama dua tahun oleh Indosiar.  Namun
tidak Ada jaminan hidup sama sekali.
Mereka hanya dibayar kalo ada  manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak
menentu. Buruh pabrik yang  gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada
mereka.
 
Nah  acara ini dan acara sejenis masih banyak, Pildacil juga begitu. Kasian
orang tua  dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah
penipuan seperti  ini. Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak
lolos dalam  audisi AFI. Padahal dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa
dibayangkan Betapa dia akan membuat orang tuanya punya utang yang melilit
pinggang, yang  tidak akan
terbayar sampai kontraknya habis.
 
mungkin ada yang  tertarik buat ngangkat cerita itu ke media anda? Gw punya
nomer kontak  mereka. Gayahidup mereka yang kontras dengan image publik
kayanya menarik untuk  diangkat. Ini juga penting agar anak-anak Dan orang
tua di  Indonesiakaga tertipu lebih  banyak lagi.
 
 
JUDI SMS MENGGILAAAA  ......
 
Tiap stasiun televisi di Indonesiamempunyai acara kontes-kontesan. Tengok
saja misalnya AFI, Indonesian  Idol, Penghuni Terakhir, KDI,
Putri Cantrik, dsb. Sejatinya, tujuan dari  acara ini bukan mencari bibit
penyanyi terbaik. Acara ini hanya sebagai  kedok. Bisnis sebenarnya adalah
SMS premium.
 
Bisnis ini sangat  menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum --
setidaknya   sampai saat ini. Mari kita hitung. Satu kali kirim SMS 
biayanya --anggaplah-- Rp 2000. Uang dua ribu rupiah ini sekitar 60%  untuk
penyelenggara SMSCenter (Satelindo, Telkomsel,  dsb). Sisanya yang 40% untuk
"bandar" (penyelenggara) SMS. Siapa saja bisa  jadi bandar, asal punya modal
untuk sewa server yang terhubung  ke Internet nonstop 24 jam per hari dan
membuat  program aplikasinya. Jika dari satu SMS ini "bandar" mendapat  40%
(artinya sekitar Rp 800), maka jika yang mengirimkan sebanyak 5%  saja dari
total penduduk Indonesia (Coba anda hitung, dari 100 orang  kawan anda,
berapa yang punya handphone? Saya yakin lebih dari 40%),  maka bandar ini
bisa meraup uang sebanyak   Rp 80.000.000.000 <http://80.0.0.0/>  (baca:
Delapan puluh milyar rupiah).
 
Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah ? rumah senilai 1  milyar, itu
artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25%  dari keuntungan yang diraupnya
sebagai "biaya promosi"! Dan ingat, satu  orang biasanya tidak mengirimkan
SMS hanya sekali. Masyarakat diminta  mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya
agar jagoannya tidak tersisih, dan  "siapa tahu" mendapat hadiah. Kata 
siapa tahu" adalah  untung-untungan, yang mempertaruhkan pulsa Handphone.
Pulsa ini dibeli  pakai uang. Artinya : Kuis SMS adalah 100% judi.
 
Begitu  menggiurkannya bisnis ini, sampai-sampai Nutrisari membuat iklan
yang  saya pikir menyesatkan. Pemirsa televisi diminta menebak, "buka"  atau
"sahur", lalu jawabannya dikirim via SMS. Adaembel-embel  gratis. Adakata, 
dapatkan handphone..." Saya bilang ini menyesatkan, karena pemirsa televisi
bisa menyangka : "Dengan mengirimkan SMS ke nomor sekian  yang gratis (toll
free), saya bisa mendapat handphone  gratis".
 
Kondisi ini sudah sangat menyedihkan. Bahkan sangat  gawat. Lebih parah
daripada zaman Porkas atau SDSB. Jika dulu, orang untuk  bisa berjudi harus
mendatangi agen, jika dulu zaman jahiliyah orang  berjudi dengan anak panah,
sekarang orang bisa
berjudi, hanya  dengan beberapa ketukan jari di pesawat handphone!
  .
Tolong  bantu sebarkan kampanye anti judi SMS ini. Tanpa bantuan anda,
kampanye  ini akan meredup dan sia-sia belakan
 
Thanks,
 
Best Regards
Heriyanto
MT  IT
PT.Indomarco Prismatama
 
[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke