Seminggu pasca publikasi film anti-Islam Geert Wilders, Fitna, dunia
tidak guncang seperti diperkirakan Wilders. Tapi apa yang ditunjukkan
Wilders benar, namun metodenya, salah!" 
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/wilders_amrozi080404>
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/wilders_amrozi080404
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/wilders_amrozi080404>



Lalu Apa Beda Wilders dan Amrozi?

Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta, 04-04-2008



Laporan Aboeprijadi Santoso tentang Wilders dan Amrozi 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/wilders_dan_amrozi_20080404_44_1\
kHz.mp3>

Seminggu pasca publikasi film anti-Islam Geert Wilders, Fitna, dunia
tidak guncang seperti diperkirakan Wilders. Timur Tengah kalem, Belanda
sendiri tenang, dan Indonesia tetap mantap, kembali ke rutin keseharian.
Respons Indonesia juga "cukup bagus", simpul Syafei'i Maarif, mantan
Ketua Umum Muhammadiyah menanggapi anti-klimaks Wilders.

Demo dan insiden kecil telah berlalu, dan beberapa kalangan mulai
membenamkan diri untuk berefleksi. Wilders membaca al Qur'an salah,
persis seperti teroris Amrozi. "Apa yang ditunjukkan Wilders benar, tapi
metodenya, salah!" ujar Nong Darol Mahmada, aktivis perempuan dan salah
satu pendiri Jaringan Islam Liberal JIL, kepada Radio Nederland
Wereldomroep.

Sebulan yang lalu, dunia, pemerintah asing dan kelompok Muslim masih
cemas akan apa yang bakal terjadi apabila politikus Belanda Geert
Wilders meluncurkan filmnya yang anti al Qur'an dan Islam itu. Majalah
Sabili, dari kalangan Muslim radikal Indonesia, misalnya, awal Februari
lalu dalam komentarnya berjudul "Skenario Armageddon dari Amsterdam,"
meramalkan geger dunia.

"Belanda," kami kutip, "dalam bahaya, baik dalam atau luar negeri. Umat
Islam dunia akan mengamuk. Bendera Merah Putih Biru akan dibakar di
mana-mana. Kedutaan dan kepentingan Belanda di negeri-negeri Muslim akan
dibakar. Banyak korban jatuh, bahkan meninggal". Demikian Sabili edisi
no 15 sambil mengutip koran Belanda Dag 16 Januari.

Meleset
Namun, sama sekali meleset. Geger kecil di sana sini terjadi, demo Front
Pembela Islam FPI dan HTI, Hisbut Tahrir, sempat ramai di muka Kedutaan
Besar Belanda di Kuningan, Jakarta, namun tak ada insiden yang berarti.
Brimob yang berjaga-jaga hanya mencatat beberapa telur busuk dilempar ke
dalam wilayah kedutaan. Duta Besar Belanda Nikolaos van Dam tidak perlu
diungsikan seperti nasib Duta Besar Denmark dalam demo yang memprotes
kartun Nabi, dua tahun silam, di Jakarta.

Pengamat politik di Jakarta umumnya sepakat bahwa para pemimpin agama di
Indonesia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan percaturan
diplomatiknya yang baik dengan pemerintahan PM Jan Peter Balkenende di
Den Haag, berhasil mengatasi situasi dengan elegan. Tanggapan dan
surat-menyurat ulama di bawah pimpinan Kyai Haji Hasyim Muzadi dari
Nahdlatul Ulama, dan langkah-langkah Presiden SBY yang melarang film
Fitna dan mencekal Geert Wilders, dinilai "tepat". Di Jakarta antisipasi
pimpinan negara dan ulama itu dinilai "bagus".

Trend
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafi'ie Maarif, kepada Radio Nederland
juga menyatakan pujiannya, senada dengan kalangan Jaringan Islam
Liberal. Menurut Maarif, semua ini menunjukkan bahwa umat Islam di
Indonesia sudah "cukup dewasa." Maarif, yang pernah memimpin ormas Islam
kedua terbesar di Indonesia ini, menunjuk, dewasa ini "suara-suara
radikal yang biasanya vokal, kini cenderung diam."

Perkembangan ini tampaknya juga dipengaruhi oleh kesibukan politik dan
maraknya isu-isu hangat dalam negeri seperti soal Gubernur BI, harga
beras dan minyak yang naik, dan kekhawatiran kenaikan harga-harga BBM
dan defisit APBN, menyerap banyak perhatian publik.

Ketenangan pasca-film Fitna itu juga sejalan dengan trend yang banyak
dicatat belakangan ini. Survey-survey menunjukkan partai-partai berbasis
agama belakangan makin tak populer. Suara-suara pro pluralisme mendesak
dan banyak disuarakan partai-partai agama yang besar maupun kecil.
Paling jelas, Partai Keadilan Sejahtera PKS, kini terdesak agar menjadi
partai terbuka saja.

Suara lain
Betapa pun, kasus Geert Wilders dan film Fitnanya toh tak akan berlalu
begitu saja di negeri bermayoritas Muslim terbesar ini. Hujatan dan
kritik pedas telah kita dengar, tapi menarik pula dicatat, adanya
suara-suara lain yang mencoba memetik hikmah dan pelajaran dari
provokasi agresif Wilders itu.

Syafe'i Maarif menyatakan dirinya sulit mengerti mengapa Geert Wilders
merasa perlu mengambil risiko besar dengan meluncurkan film Fitna. Dia
mengakui masih ada kalangan Muslim yang cenderung buta dan radikal dalam
menunaikan imannya. Melalui telpon, Maarif mengulangi pernyataannya
bahwa "Al Qur'an jauh lebih toleran ketimbang sebagian umat Islam."
"Baca saja ayat-ayat surat Yunus 99, al Baqarah 256, dan banyak sekali
yang lain," demikian Syafii Maarif.

Kritik diri
Rektor UIN, Universitas Islam Negeri Komaruddin Hidayat malah mencatat
kasus Wilders dan Fitna perlu kita manfaatkan untuk melakukan kritik
diri. Kepada Green Radio, dulu Radio Utan Kayu, Komaruddin menganjurkan
tak usah bereaksi berlebihan, malah kita perlu memberi apresiasi yang
layak, dan memberanikan kritik-diri.

Gus Dur, alias Abdurrahman Wahid, yang dianggap tokoh Muslim paling
liberal di Indonesia, lebih suka sibuk membenahi keributan di dalam
partainya, PKB, seolah-olah tak peduli keramean seputar film Fitna.
Reaksinya bisa ditebak: "Gitu aja kok repot!"

Tapi Nong Darol Mahmada, perempuan Banten, jebolan UIN Jakarta, dan
salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal JIL, berpendapat, kita perlu
repot, maksudnya, perlu mempelajari dengan kritis film Fitna-nya Wilders
itu.

Setuju tapi tak setuju
Jelas, Geert Wilders sangat selektif dalam memilih kutipan dan
gambar-gambar untuk filmnya. Tetapi, yang lebih serius, Wilders mencabut
kutipan-kutipan ayat tersebut dari konteks sosial dan historisnya.
Misalnya, dapatkah kutipan pertama dari Surah 8 yang disugestikannya
seolah dimaksud memacu aksi teror zaman sekarang. Nong Darol
menjelaskan:



                       Nong Darol Mahmada

"Sebenarnya ini mungkin bukan persiapan teror. Ini adalah semacam ayat
al Qur'an yang menjadi justifikasi buat para jihadis, kan. Bahwa dalam
al Qur'an itu dikatakan, siapa pun yang melakukan perang, atau jihad
atas nama Tuhan untuk menghancurkan atau di dalam terjemahan di sini itu
menggentarkan, menggentarkan itu membuat takut musuh kita, itu akan
mendapatkan pahala. Dan dia tidak akan dianiaya.

Tidak akan sama sekali dirugikan. Akan mendapatkan pahala dari Allah, ya
berupa surga di akhirat nanti. Makanya, pelaku-pelaku yang menabrakkan
dirinya langsung itu karena ada janji di sini bahwa mereka itu akan
mendapatkan pahala itu mendapat justifikasi yang sangat solid ya dari al
Qur'an."

Nong Darol, yang dulu sering dikejar aktivis muslim radikal, membenarkan
banyak ayat yang bersubstansi kekerasan dan menyayangkan ada sikap
konsistensi yang diskriminatif terhadap kelompok lain seperti kafir, non
Islam, pada umumnya dan Yahudi pada khususnya. Karena itu, dia
berpendapat, Geert Wilders benar, dan mungkin juga, perlu untuk
menggugah, tetapi metodenya sama saja dengan kalangan fundamentalis yang
membaca al Quran secara harafiah.

Nong Darol Mahmada: "Saya rasa bahwa kalau Islam dipahami seperti ini,
maka ini seperti membajak Islam yang sebenarnya. (Jadi Anda setuju
dengan pandangan Wilders, tetapi tidak setuju dengan caranya? ) Iyaa!"





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke