Mengharap Gereja di Arab Saudi

Musthafa Helmy*


Belum bisa dibayangkan bagaimana reaksi warga Arab Saudi jika suatu hari 
Ahad nanti sekelompok orang mendatangi sebuah bangunan megah yang 
berkali-kali membunyikan lonceng.

Tapi arah menuju hari bersejarah itu sudah mulai terlihat. Sebab, dalam 
waktu dekat Arab Saudi akan menggelar konferensi international antaragama: 
Islam, Kristen, dan Yahudi. Dari sana akan sangat mungkin muncul 
rekomendasi kemudahan pembangunan gereja di negara tempat kelahiran Islam itu.

Harian Israel, Haaretz, edisi Kamis, 28 Maret lalu, menyebutkan bahwa 
langkah maju Raja Abdullah itu diperkirakan karena dia telah mengantongi 
izin ulama Arab Saudi yang menganut paham Wahabi, sekte ortodoks mazhab 
Hambali.

Arab Saudi memang tengah menggeliat menangkap perubahan. Tekanan 
bertubi-tubi terkait dengan hak asasi beragama yang dilontarkan Amerika 
Serikat sejak invasi ke Irak telah melonggarkan pandangan penguasa Saudi. 
Menurut The Times 18 Maret lalu, Arab Saudi selama ini melarang Bibel dan 
salib. Padahal, menurut harian itu, di Saudi terdapat sekitar sejuta orang 
kristiani.

Sebelumnya, harapan ada gereja di Saudi disampaikan Paus Benediktus XVI 
pada November tahun lalu, saat Raja Abdullah berkunjung ke Vatikan. 
Kunjungan ini menarik karena kedua negara itu tak memiliki hubungan 
diplomatik. Abdullah saat itu menjelaskan soal Islam yang semula 
disalahtafsirkan Paus dalam kuliahnya yang kontroversial di Universitas 
Regensburg, Jerman, pada 2006. Abdullah memaparkan toleransi Islam dan 
penolakan Islam terhadap terorisme dan kekerasan.

Menurut laporan Richard Owen, wartawan The Times di Roma, Paus kemudian 
seolah minta bukti agar Saudi mengizinkan pembangunan gereja sebagai 
lambang toleransi dan hubungan antaragama. Kunjungan Paus ke Masjid Biru di 
Istanbul dan "belajar" cara salat Islam tahun lalu mengisyaratkan kemesraan 
dua agama itu.

Beberapa negara Teluk seperti "berlomba" membangun gereja setelah Amerika 
Serikat menaklukkan Irak. Peresmian Gereja Katolik di Qatar awal Maret lalu 
dihadiri sekitar 15 ribu pemeluk Kristen di negara itu. Radio Vatikan 
mengomentari berdirinya sejumlah gereja di negara Teluk sebagai perjalanan 
sejarah yang sangat monumental dalam 14 abad. Gereja Qatar dibangun dengan 
dana Emir Syekh Hamad bin Khalifa al-Thani. Kini sudah terdapat tujuh 
gereja di Uni Emirat Arab, empat di Oman, dan tiga lagi di Kuwait.

Menurut Uskup Besar Mounged el-Hachem, kardinal untuk wilayah negara-negara 
Teluk, diplomasi gereja Saudi dilakukan terus-menerus dan tinggal menunggu 
waktu. Bahkan Paul Hinder, kardinal yang menangani wilayah Arab, mengatakan 
keberadaan gereja di Saudi justru akan menguntungkan negara itu sendiri 
karena para pekerja asing akan semakin terpuaskan secara spiritual. Menurut 
Hinder, situasi umat Katolik di Saudi seperti umat pada masa awal 
kelahirannya yang merindukan gereja.

Keinginan umat kristiani itu seolah mendapat dukungan pemimpin Libya, 
Muammar Qadhafi, yang berharap Mekah dan Madinah juga dibuka untuk 
nonmuslim. Alasan Qadhafi, tak ada larangan dalam Al-Quran dan hadis. 
"Siapa yang mengatakan nonmuslim tak boleh masuk Ka'bah? Bagaimana mungkin 
kaum muslim memonopoli Ka'bah? Setiap orang punya hak untuk datang dan 
mengelilingi Ka'bah," katanya.

Memang ada perbedaan pandangan fikih dalam hal kebolehan nonmuslim masuk 
Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan, mazhab 
Hanafi, seperti dikutip Dr Wahbah Azzuhaily dalam Atsarul Harbi fil Islam, 
membolehkan nonmuslim masuk Ka'bah sekalipun. Tapi, mengacu pada pendapat 
Imam Hambali yang dianut Saudi, nonmuslim dilarang masuk wilayah Hijaz, 
yang meliputi Mekah, Madinah, Taif, dan Jeddah, tanpa izin penguasa.

Namun Saudi sudah mengizinkan Jeddah dan Taif sebagai wilayah terbuka untuk 
nonmuslim. Karena itu, jika nanti Saudi mengizinkan, gereja hanya boleh 
dibangun di luar wilayah Hijaz, seperti Riyadh dan Dahran. Sebab, 
keberadaan gereja menandakan adanya penduduk tetap (mustaw-thin), yang 
dilarang di Hijaz oleh semua mazhab fikih.

Sebuah sejarah baru saling mengerti antarumat beragama sedang ditulis.

*) Wartawan senior
(Kolom majalah Tempo, 21 April 2008)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke