JURNAL SAIRARA:
   
   
   
  HARI ITU KAMI BERJUMPA KEMBALI
   
  -Kisah-kisah kecil berjumpa dengan Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak di 
Koperasi Restoran Indonesia Paris, 10 April 2008.
   
   
   
  5.
   
   
  Dalam pertemuan santai antar teman di Koperasi, soal apa saja diketengahkan 
dan dibicarakan secara terus-terang. 
   
   
  Karena anggota-anggota Koperasi , umumnya menjadi anggota berbagai milis, 
maka mereka pun mengikuti serangan-serangan terhadap GM pribadi dan Komunitas 
Utan Kayu [KUK].Maka pertanyaan-pertanyaan mengenai hal ini  pun tak terelakkan 
diajukan. Apalagi sudah menjadi kebiasaan di kalangan anggota Koperasi kalau 
berbicara dengan sesama dan orang-orang yang dianggap dekat, selalu berbicara 
langsung  ke masalah tanpa berputar-putar, hal yang mungkin bagi orang lain 
terasa amat tajam.  Sedangkan bagi mereka, ketajaman dan bicara langsung, tidak 
pernah meretakkan hubungan. Bertanya dan mengajukan pendapat adalah hak yang 
dipahami oleh masing-masing  dan dihadapi dengan sikap bahwa  "yang berbicara 
tak berdosa, yang mendengar patut waspada".
   
   
  Dari pembicaraan santai malam itu, terkesan padaku bahwa Mas Goen sendiri 
agaknya  kurang menangkap dasar nalar alasan  serangan terhadap KUK dan  atas 
dirinya. 
   
   
  Menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai soal ini, GM yang kata-katanya selalu 
terukur sebagai laiknya seorang penyair, hanya mengatakan bahwa di  KUK dan KUK 
itu bukan hanya GM. Ia pun sebuah komunitas yang sangat longgar. Terbuka. 
Seterbuka diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh KUK. Ucapan seseorang yang 
tergabung di KUK, tidaklah serta-merta menjadi pendapat dan sikap KUK.
   
   
  Ketika merenungkan kata-kata GM ini, aku juga teringat akan pengalaman 
kecilku selama di Lekra dulu . 
   
   
  Siapakah yang bisa melarang seseorang mengutarakan pendapat? Di Lekra dan 
terutama di lembaga-lembaga kejuruan serta sanggar-sanggarnya, semua orang 
leluasa berbicara. Sanggar dan lembaga-lembaga kejuruan merupakan tempat 
diskusi yang seru dan terus-menerus. Aku sendiri , jika ada yang kurasakan 
sudah tak tertahan dan menyangkut hal-hal  yang kuanggap punya nilai umum, maka 
ia kutulis dan kusiarkan di media massa. Kasus Pram dalam hubungannya dengan 
pimpinan pusat Lekra di Cidurian 19 Jakarta dulu, yqang tidak selalu akur,  
barangkali merupakan contoh yang cukup representatif. Sehingga adalah keliru 
jika ada yang memandang Lekra sebagai satu ketunggalan sikap dan pendapat. Yang 
monolit. Kalau pun ada ketunggalan pada Lekra, maka ia terdapat pada pandangan 
sikap bahwa sastra-seni itu bersifat memihak. Mempunyai sikap [engagé]. 
Berpihak kepada kemanusiaan.
   
   
  Sehubungan dengan ini, aku teringat akan salah paham orang-orang luar tentang 
pendapat-pendapat Pramoedya.  Karena tidak sedikit yang menganggap pendapat 
Pram sebagai serta-merta pendapat Lekra di mana ia tegabung dan menjadi salah 
seorang anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra. Lekra membiarkan para 
anggota-anggotanya untuk mengeluarkan  pendapat, termasuk kepada Pram. Sekali 
pun ada kebebasan begini, tapi umumnya di kalangan anggota Lekra ada satu hal 
yang sama, yaitu menjadikan sastra-seni sebagai salah satu sarana 
memanusiawikan manusia yang pada saat itu disebut sastra-seni untuk rakyat . 
Sastra-seni berpihak [engagé] inilah yang satu pada orang-orang Lekra, walaupun 
terhadap garis "sastra-seni untuk buruh, tani dan prajurit" tetap saja ada 
perbedaan pendapat. 
   
   
  Aku tidak tahu  apakah  pengalaman Lekra di atas bisa diterapkan   guna 
memahami ucapan GM di atas tentang KUK.
    
   
  Sedangkan mengenai  serangan terhadap KUK dan GM pribadi, aku sendiri sering 
berpikir, apa tidak lebih baik jika jika komunitas-komunitas yang ada di 
Indonesia sekarang ini,  bersaing secara sehat sesuai pandangan "biar bunga 
mekar bersama, seribu aliran bersaing suara"? Apakah kerjasama bukannya lebih 
menguntungkan daripada saling baku hantam, apalagi seandainya baku hantan itu 
tidak menyangkut masalah-masalah hakiki atau mendasar. Kerjasama akan jauh  
lebih produktif. Berlomba berkreasi dengan mutu yang maksimal akan lebih 
berguna bagi pengembangan dan kebaik2, adik apa kamajuan sastra-seni negeri 
kita. Kerjasama antar komunitas begini menayangkan mimpi di benakku bahwa pada 
suatu hari mereka berhasil menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Nasional dari 
bawah. Bukan Kongres Kebudayaan Nasional dari atas.
   
   
  Apakah gerangan yang hakiki dalam serangan-serangan pada KUK dan GM atau 
pengarang lain secara pribadi dan apakah yang didapatkan dari serangan-serangan 
demikian untuk pengembangan sastra-seni negeri ini secara kongkrit? Prinsip 
sastra-seni apakah yang diperjuangkan? Politik? Politik sastra apa yang 
ditawarkan? Apakah tulisan-tulisan GM, lebih-lebih caping-nya tidak mengandung 
sikap politik? Apakah pertanyaan ke publik  GM tentang "di mana Wiji Thukul" 
misalnya bukan suatu sikap politik? Apakah gagasan GM menjadikan Gedung 
Kesenian di Pulau Buru, bukannya suatu sikap politik? Apa gerangan kesalahan 
politik dalam tulisan-tulisan GM yang juga nampaknya terus-menerus berkembang?
   
   
  "Ah, kau membela GM!", barangkali ada yang berkata demikian . Memang boleh 
jadi demikian, jika hakekat sikapku yang ingin menduduki masalah pada 
proporsinya , bersikap adil pada siapapun dipandang sama dengan membela. Hanya 
saja KUK dan GM pun pasti akan kukritik juga jika menurut pandanganku mereka 
berlaku tak adil dan melakukan kesalahan politik. Jika dan sekali lagi jika! 
Apalagi  dari pengenalanku yang terbatas, GM bukan orang yang menolak kritik. 
   
   
  Kritik diperlukan kapan pun diperlukan. Tapi mengapa tidak kiritik itu  
dilakukan secara  menyeluruh secara  sehat dan katakanlah secara ilmiah? Untuk 
mengembangkan sastra-seni , meningkatkan taraf apresiasi, kukira kritik memang 
perlu. Hanya saja kritik dan kritik itu ada bermacam-macam  tingkat kadarnya. 
Kritik seperti halnya karya sastra-seni lainnya sebenarnya tidak lain dari 
tingkat dan kadar diri kita sendiri. 
   
   
  Hanya saja, kukira masih  perlu juga dicatat, bahwa kritik dan kritik itu 
selain bermacam-macam kadarnya, kritik dan kritik itu caranya pun perlu sesuai 
dengan tingkat kontradiksi. Seniscayanya baik jika diperhitungkan, apakah 
kritik itu ditujukan kepada teman, atau dibidikkan kepada lawan atau musuh. 
Kritik terhadap kawan dan lawan, kiranya akan mengambil cara berbeda. Apakah GM 
seorang musuh? Apakah KUK itu musuh sastra-seni Indonesia? Politik sastra-seni 
KUK dan tindakan-tindakan yang bagaimanakah yang membuat KUK dan GM ditempatkan 
pada posisi musuh, seandainya mereka memang adalah musuh yang harus dihujat dan 
dibidik? 
   
   
  Pertanyaan berikut yang muncul dibenakku adalah: Adakah polemik esensil 
sekarang ini di dunia sastra-seni Indonesia? Kalau ada polemik, prinsip apa 
gerangan yang dipolemikkan? 
   
   
  Polemik antara penulis Poedjangga Baroe tahun 30-an masalahnya jelas. Debat 
antara Lekra dan kelompok Manifestan tahun 60-an, masalahnya pun gamblang. 
Apakah adakah debat atau polemik yang prinsipiil  sekarang ini? Kukira jika 
memang ada masalah prinsipiil, maka akan menjadi lebih produktif jika masalah 
itu diutarakan jelas dan didiskusikan secara sehat serta tenang bernalar. 
  Jika memang ada masalah prinsipiil dan masalah tersebut dibahas dengan tenang 
bernalar, pasti akan meningkatkan taraf pemahaman dan apresiasi pembaca. Pasti 
akan mencerahkan dan membantu pemanusiawian diri, kehidupan dan masyarakat.  
Bakal meningkatkan taraf apresiasi kita, termasuk si awam seperti diriku ini. 
Aku tidak tahu, apakah pemikiran begini merupakan pandangan yang kadaluwarsa 
dan tidak tanggap zaman? Jika ada masalah esensil sekarang yang diperdebatkan 
dan diketengahkan maka baru kukatakan ada polemik. Karena keterbatasanku, maka 
aku ingin diberitahukan, apakah gerangan masalah esensil yang diperdebatkan 
sekarang? 
   
   
  Masalah penerbitan karya-karya di luar negeri oleh penerbit asing , kukira 
tidak lepas dari peran lobbie selain mutu karya tersebut sendiri memang turut 
mendukung. Tentang soal ini aku tidak masuk ke rinciannya. 
   
   
  Di Perancis, lobbie sastra Indonesia untuk diterbitkan pada tahun-tahun 
terakhir ini banyak dilakukan oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia 
"Pasar Malam". Lobbie ini pun agaknya juga terjadi pada hadiah-hadiah 
internasional baik bertingkat rejional atau pun skala dunia. Kukira, tak ada 
keanehan dengan lobbie ini. Lobbie menyangkut masalah jaringan, hubungan dan 
kemampuan serta barangkali juga pengalaman. Barangkali ini juga sebagian dari 
rahasia penerbitan buku-buku Pram, lebih-lebih ketika ia berada di pulau 
pembuangan Buru. 
   
   
  Jika demikian, untuk apa cekcok tak perlu dikembang-kembangkan, padahal jika 
komunitas-komunitas sastra-seni bisa bekerjasama di lapangan, kerjasama ini 
hanya akan berdampak memperkuat lobbie dan promosi. Siapakah dan adakah yang 
dirugikan dengan kerjasama saling asih, saling asah dan saling asuh? 
Pengembangan sastra-seni Indonesia, tantangan-tantangan yang menyertai usaha 
ini, promosinya di luar negeri pun  lebih terbantu jika terjalin kerjasama. Aku 
masih percaya bahwa GM sangat memperhatikan pengembangan angkatan muda. Aku 
masih percaya bahwa GM menaruh harapan pada angkatan muda.
   
   
  Soal-soal ini termasuk yang antara lain juga diangkat dalam perbincangan 
santai  di Koperasi Restoran Indonesia di Paris -- yang memang sekaligus dalam 
proyek pendiriannya 25 tahun dahulu juga merupakan pusat kegiatan kebudayaan 
Indonesia. 
   
   
  Sedangkan anggapan bahwa KUK sebagai agen imperialis, karena mendapat bantuan 
dari luar negeri, jika benar ada, kukira, soal ini menyangkut masalah bagaimana 
kita menggunakan bantuan dari luar. Berdasawarsa lamanya, aku pernah menangani 
masalah dana dari luar negeri ini untuk Indonesia, dan aku tidak pernah sedetik 
pun merasa diriku  sebagai agen imperialis dan atau menjual diri untuk 
kepentingan asing. Tapi KUK dan diriku adalah dua hal yang berbeda dan 
terpisah. KUK sajalah yang paling bisa menjelaskan secara tepat apa siapa 
dirinya dan sikapnya. Hanya secara prinsip apakah benar dengan menerima bantuan 
luar negeri itu sama sebangun dan otomatis menjadikan diri kita sebagai agen 
asing atau kaki tangan imperialis? Apalagi jika penerima dana tidak mengadaikan 
diri dan berulah sebagai budak tapi berpegang pada prinsip sendiri yang 
republiken dan berkeindonesiaan. Apakah tudingan seperti di atas , bukannya 
tidak terlalu simplistis?  Dalam hal ini, aku jadi teringat akan
 kata-kata Mas Oyik [Satyagraha Hoerip]  alm. dalam simposium  sastra Majalah 
Horison: "Berhentilah  bersenda gurau". Kata-kata Mas Oyik ini diucapkan untuk 
menganjurkan agar antara orang-orang Lekra dan pendukung Manifes Kebudayaan mau 
dan bisa duduk bersama di hadapan satu meja menyimpulkan pengalaman dengan 
kepala dingin. Dalam skala terbatas anjuran Mas Oyik ini telah dilakukan oleh 
Andi Makmur Makka dari The Habibie Center dengan menyeponsor pameran-pameran 
bersama yang berhasil antara pelukis-pelukis Lekra dan para pelukis pendukung 
Manifes Kebudayaan  disertai dengan diskusi untuk memahmi pengalaman dari 
pertikaian masa silam. Menyusul usaha berhasil ini, Bung Andi Makmur Makka 
jugalah  yang pada tahun lalu di The Habibie Center, kemudian mengorganisasi 
dikusi tentang kebudayaan dan berkeindonesiaan. Barangkali usaha-usaha seperti 
yang dilakukan oleh Bung Makka ini lebih produktif dan nyata dalam menanggap 
perkembangan sastra-seni di negeri ini. Dengan cara begini,
 barangkali hal yang negatif bisa menjelma jadi sesuatu yang positif, bukan 
sebaliknya hal yang positif dirobah dan diarahkan ke jurusan yang  negatif. Aku 
khawatir , jika mendorong hal positif jadi negatif, kita akan makin mengayuh 
perahu ke hulu yang temaram, padahal muara laut kehidupan dan zaman, demikian  
dahsyat menggelora menagih jawab. Waktu pun akan makin meninggalkan kita tanpa 
perduli mencecerkan tahun demi tahun usia kita sebagai dedaunan kuning rontok 
berhamburan. Terhadap soal waktu dan keniscayaan menanggap zaman ini, seorang 
penyair Tiongkok pernah menulis:
   
   
  "rebut waktu pagi senja
  seribu tahun terlalu lama" 
   
   
  Mengapa kita mesti secara sukarela membuang waktu "seribu tahun" mengayuh ke 
hulu sedangkan muara dan laut menunggu kejantanan awak pinisi? 
   
   
  Malam Musim Bunga makin larut, terasa hingga ke ruang percakapan santai. 
Tamu-tamu yang makan malam satu demi satu pulang meninggalkan restoran. Di luar 
matahari sudah lama tenggelam meninggalkan kelam pada dedaunan hijau yang makin 
merimbun. Pembicaraan saja yang nampaknya seperti tak berujung bagaikan 
kehidupan yang terus berlanjut tanpa perduli suka dan duka kita pribadi. "La 
vie continue", orang Perancis bilang.***
   
   
  Paris, April 2008
  ----------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
   
  Keterangan foto:
  Goenawan Mohamad  di acara Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar 
Malam", Paris, 09 April 2008. [Dok. JJK].
   
   
  [Bersambung....]


       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke