senin kemarin saya bertemu amien rais.

beliau telak mengatakan dana kampanye hade
tak mungkin cuma Rp 800 juta.

"mas tris (sutrisno bachir --ketua pan) banyak
menyumbang," katanya.

dalam berkoalisi mestiya andil semua pihak
dihargai. jangan cuma menonjolkan sumbangan
kelompok sendiri. dalam mengusung partai islam
sebaiknya jangan mengalami defisit kehormatan.




At 12:52 PM 4/24/2008 -0700, you wrote:

>(dari milis tetangga:)
>Catatan pinggir seorang kader PKS tentang Pilgub Jabar
>2008.
>
>Nyesek
>
>"Berita terakhir dari Ketua DPD (TPPD) bahwa tidak
>tersedia dana untuk uang transport saksi. Harap DPC
>konsolidasi. Bobar (Bogor Barat) memerlukan Rp 16.7 jt
>utk kepentingan ini. Ana pribadi setelah kokoreh di
>dapur dan tawakkal, bismillah menginfakkan Rp 1 jt.
>Ana mohon antum semua melakukan hal serupa".
>
>Itulah SMS yang saya terima ba'da Shubuh, Sabtu lalu
>(12 April), sehari menjelang pilgub kemarin. Saya
>kenal persis si pengirim SMS itu, dan tahu betul bahwa
>penghasilannya per bulan mungkin sekitar Rp 2 jt. Saya
>juga tahu bahwa dia sekarang sedang nyicil kredit
>rumah. Kesediaannya menginfakkan dana sebesar Rp 1 jt
>membuat mata saya berlinang; hampir setengah dari
>penghasilan bulanannya. Teringatlah kisah sahabat yang
>menginfakkan setengah dari hartanya. Kalaulah itu
>hanya dilakukan sekali saja, mungkin tidak terlalu
>mengherankan. Tetapi hanya 2 malam sebelumnya, semua
>grup halaqah pada semua level dikumpulkan per DPC
>untuk melakukan liqo gabungan. Di sana jelas
>disampaikan anjuran untuk siap berjuang melakukan
>jihad siyasi dalam pilkada hari Ahad itu. Di samping
>kesiapan mobilisasi berjihad dengan waktu, pemikiran
>dan tenaga, tentu infaq dengan maal merupakan hal yang
>ditekankan dalam liqo gabungan itu. Taujih demi taujih
>tentang keutamaan berjihad dengan harta, pembangkitan
>optimisme, dan keyakinan bahwa kemenangan di jalan
>Allah itu bukan fungsi dari kebesaran harta dan jumlah
>pasukan, mengiringi suasana khusyu yang menyelimuti
>semangat menggeloran dalam hati setiap ikhwah yang
>hadir di sana. "Berinfaqlah sampai antum jadi nyesek
>(sesak di dada)!", begitu kata seorang ustadz ketika
>menerangkan ayat Al Qur'an: "Tidaklah kalian akan
>sampai kepada kebajikan, sampai kalian menginfakkan
>apa-apa yang kalian cintai!" Yang kita cintai itulah
>yang kalau kita infakkan membuat sesak di dada. "Kalau
>antum infaq Rp 50 ribu tetapi dada antum masih tenang,
>berarti itu belum menginfakkan apa yang antum cintai.
>Tambah lagi jadi Rp 100 ribu, tambah lagi dan tambah
>lagi, sampai suatu saat antum merasa nyesek di dada
>antum. Itulah tanda bahwa antum menginfakkan apa yang
>antum cintai, yang antum merasa berat untuk
>melepasnya!"
>
>Bisa dibayangkan, Kamis malam sudah infaq
>habis-habisan. Sabtu pagi, muncul SMS lagi seperti di
>atas. Sebelumnya lagi, setiap hari Ahad selama
>beberapa pekan diadakan Apel Siaga yang tentu saja
>ikhwah selalu diminta untuk berinfaq. Makanya,
>sunduquna juyubuna.. betul-betul dirasa.
>Kantong-kantong ikhwah betul-betul diperas habis.
>Sehingga kalau diperas lagi, mungkin yang keluar
>adalah darah. Sabtu itu saya membalas SMS tadi. Saya
>siapkan infaq dalam jumlah yang cukup membuat dada
>saya sesak (ya Allah, limpahkanlah keikhlasan ke dalam
>hati hamba..!).
>
>Tetapi saya yakin, rasa sesak saya itu tidaklah
>sebesar rasa sesak ikhwah yang menginfakkan setengah
>dari penghasilannya tadi. Dan saya bayangkan lagi,
>betapa banyak lagi ikhwah yang tingkat penghasilannya
>lebih rendah daripada itu. Betapa sesaknya dada-dada
>mereka ketika mereka merogoh kantong-kantong mereka
>untuk membiayai pelaksanaan operasional segala tetek
>bengek yang perlu untuk pemilihan gubernur ini. Kalau
>tim sukses HADE mengatakan bahwa dana kampanye yang
>dikeluarkan adalah Rp 800 juta totalnya, itu belum
>termasuk dana yang dikeluarkan ikhwah di grass-root.
>Dana yang dikeluarkan mereka dengan ikhlas, yang
>mereka tidak perlu tanda terima, tidak perlu ucapan
>terimakasih. Dana yang ketika diberikan, tidak
>disertai harapan bahwa dana itu akan balik kepada
>mereka dalam bentuk apa pun. Dana itulah yang langsung
>digunakan oleh level-level struktur terbawah seperti
>DPD, DPC dan DPRa yang langsung bergerak di
>tengah-tengah masyarakat.
>
>Militansi Kader
>
>Pagi ini di TV saya melihat seorang pengamat politik
>yang selama ini biasanya berkomentar tidak terlalu
>simpati dengan PKS, mengakui bahwa mesin politik
>(networking) PKS yang luar biasa yang menyebabkan
>kemenangan pasangan HADE. Dan itu memang terlihat
>betul di lapangan. Pilgub ini adalah pemilihan pertama
>yang saya alami secara langsung di tanah air. Jadi ini
>adalah kali pertama juga, saya terlibat langsung
>dengan segala aktivitas kader di level yang paling
>bawah yang terkait dengan sebuah pemilihan. Dan
>apresiasi serta kekaguman pun lahir dari diri saya.
>Selama 4 pekan berturut-turut, ikhwah dikumpulkan per
>DPC dalam sebuah Lailatul Katibah (mabit bersama) -
>kalau akhwat dikumpulkan dalam Jalasah Ruhiyah sore
>hari. Kekuatan ruhiyah digenjot terus. Setelah
>mendapatkan siraman ruhani, sholat lail, wirid dan
>dzikir bersama, selesai Lailatul Katibah ini maka
>ikhwah disebar ke berbagai kelurahan untuk melakukan
>Direct Selling, penjualan langsung door to door.
>Subhanallah.
>
>Kadang kita sering menjadikan mabit sebagai alasan
>untuk bisa tidur siang lebih panjang. Tapi ini setelah
>mabit, ikhwah langsung menyebar, mengetuk pintu-pintu
>masyarakat. Memperkenalkan diri dengan santun,
>memberikan sosialisasi tentang pilkada ini (well, ini
>mah seharusnya tugas KPUD), dan baru minta ijin dengan
>baik-baik untuk mengenalkan calon gubernur dan
>wakilnya kepada masyarakat. Ini dilakukan pada 4 Ahad
>berturut-turut, mabit malamnya dan terus menyebar
>ber-direct selling pada pagi harinya. Ini tentunya di
>luar kegiatan rutin yang biasa dilakukan kader
>langsung di tengah masyarakat seperti bakti sosial,
>pelayanan kesehatan, bazar sembako murah, dsb.
>Keikhlasan yang luar biasa. Tidak ada di benak para
>kader ini bahwa ketika HADE menang, mereka akan
>diangkat menjadi tim tenaga ahli atau akan mendapatkan
>tempat khusus di lingkaran dekat kekuasaan. Jabatan
>tangan saja dari gubernur terpilih, mereka tidak akan
>dapatkan.
>
>Mereka berjuang ikhlas karena yakin bahwa kebaikan
>pada masyarakat akan tersebar dengan menangnya calon
>yang mereka usung. Perjuangan kader tidak terhenti
>sampai di sana. Selama seminggu terakhir, diadakan
>ronda malam bergiliran. Tujuannya sederhana: menjaga
>agar atribut kampanye (stiker, spanduk, baliho) yang
>kita pasang, tidak dirusak oleh pihak-pihak lain. Buat
>sebagian kita, melihat stiker tertempel di tiang
>listrik tetapi kondisinya tersobek, mungkin
>biasa-biasa saja. Tetapi bisa kita bayangkan, betapa
>pedihnya hati ikhwah yang menempelkan stiker itu
>melihat hasil tempelannya itu dirusak orang lain.
>Karena itu, semua atribut harus dijaga, dan ikhwah
>rela mengorbankan tidur malamnya untuk itu. Kemudian
>di malam terakhir, ronda malam juga diintensifkan
>dengan tujuan mengawasi jangan sampai terjadi
>pembagian sembako atau amplop kepada masyarakat di
>jam-jam terakhir menjelang pemilihan. Bisa diyakinkan,
>para kepanduan kita akan berjaga dan siap meluncur
>apabila ada pelaporan hal-hal seperti itu terjadi.
>Perjuangan para akhwat juga luar biasa. Di Direct
>Selling, mereka yang paling semangat. Waktu kampanye,
>mereka juga melaksanakan aksi kampanye simpatik.
>Berdiri di perempatan-perempat an jalan, membagikan
>bunga-bunga yang mereka rangkai sendiri dan menyapa
>setiap pengendara kendaraan.
>
>Di hari pelaksanaan, mereka bergantian menyediakan
>konsumsi untuk para saksi, meskipun tidak sedikit yang
>juga bertindak sebagai saksi. Melihat keikhlasan dan
>militansi kader dalam berjuang dan berinfaq seperti di
>atas, mulut ini sempat bergumam: "Seandainya mereka
>yang terpilih menjadi anggota legislatif atau duduk di
>jabatan eksekutif, kemudian melupakan para kader,
>menjadi jauh dengan para kader, tidak memiliki empati
>dan sensifitas terhadap kebutuhan kader, malah menjadi
>kaya dengan memanfaatkan jabatannya, maka sungguh itu
>adalah sebuah KEDZHALIMAN yang SANGAT BESAR!"
>
>Lega
>
>Saya memilih di kompleks perumahan tempat saya
>tinggal. Warganya tentu relatif terpelajar dengan
>kondisi ekonomi yang juga relatif lebih stabil
>dibanding masyarakat kebanyakan. Ditambah dengan
>aktifitas ke-Islaman yang baik, tidak ada kekhawatiran
>akan terjadi kecurangan dalam proses pelaksanaan
>pemilihan kemarin. Yang ada adalah memang rasa
>optimisme bahwa HADE akan menang di kompleks itu.
>Tidak hanya di kompleks perumahan tempat saya tinggal,
>ikhwah di Kota Bogor tidak tanggung-tanggung memasang
>target perolehan suara 51% untu HADE. Di samping
>kontribusi untuk pilgub, ini juga sebagai batu
>loncatan untuk pemilihan walikota di bulan Oktober
>mendatang. Jeblok di pilgub, jangan harap akan bisa
>bangkit untuk pemilihan walikota, karena jeda waktu
>yang kurang dari 6 bulan.
>
>Ketika perolehan suara dihitung satu per satu di TPS
>tempat saya memilih, pasangan HADE langsung melejit
>memperoleh suara terbanyak. Sekitar 60%. TPS-TPS lain
>di kelurahan saya juga menunjukkan hal yang sama.
>Muncullah rasa lega menggantikan rasa sesak yang
>mungkin masih terasa sampai malam sebelumnya. Lega
>karena perjuangan berat dan luar biasa para kader,
>ternyata Allah SWT balas langsung di dunia ini juga
>(tanpa melupakan harapan kita akan balasan yang lebih
>baik di akhirat tentunya). Apalagi ketika pulang ke
>rumah usai menyaksikan perhitungan suara di TPS,
>tayangan TV menyiarkan hasil quick-count pilgub itu.
>Semua lembaga menyebutkan bahwa HADE unggul!
>
>"Allahu Akbar Walillahilhamd! " Itu adalah bunyi SMS
>dari kader yang kemarin mengatakan akan berinfaq Rp 1
>juta itu. Perhitungan suara terus dilakukan. Tersebar
>SMS dari Ketua DPD bahwa di Kota Bogor, HADE berhasil
>mengumpulkan suara sebesar 52% dari hasil perhitungan
>semua jumlah suara yang sah. "Allahu Akbar
>Walillahilhamd! "
>
>Perasaan lega dan kekaguman terhadap perjuangan kader
>ternyata tidak berhenti. Muncul SMS berupa instruksi:
>"Wajib bagi para kader untuk mengawal kotak-kotak
>suara dari TPS ke PPS ke PPK". Kegiatan ronda malam
>tetap dijalankan, tetapi sekarang bergiliran di PPK
>(Panita Pemilihan tingkat Kecamatan) untuk menjaga
>kotak-kotak suara jangan sampai ada yang mengganggu.
>Jadwal pun dibuat. Setiap grup halaqah wajib
>mengirimkan 1 wakilnya pada jadwal yang sudah
>disepakati. "Kita akan terus mengawal perolehan suara
>kita!".
>
>Ngeri
>
>Setelah suasana kelegaan dan euforia, dalam perenungan
>kemudian muncul perasaan ngeri. Ngeri kalau kita tidak
>bisa mengemban amanah kepemimpinan ini. Ngeri kalau
>janji-janji tidak bisa direalisasikan. Bukan karena
>tidak mau, tetapi karena berbagai hambatan praktis di
>sistem birokrasi kita. Pertanyaan-pertanya an sudah
>mulai mengarah. Bagaimana PKS dan PAN bisa melakukan
>komunikasi politik dengan DPRD yang dikuasasi 3
>raksasa: Golkar, PDIP dan PPP, sehingga
>program-programnya tidak dijegal dan bisa jalan?
>Bagaimana kalangan birokrasi di Pemda Provinsi bisa
>diarahkan semuanya ke satu tujuan yang sama? Ibarat
>tubuh manusia, yang baru kita menangkan adalah
>kepalanya. Sedangkan kaki, tangan dan anggota tubuh
>lainnya? Sebuah pertanyaan yang besar. Para kader PKS
>berjuang, memeras keringat dan kantong dana, karena
>mereka yakin bahwa dengan memiliki amanah
>kepemimpinan, akan lebih banyak lagi kebaikan yang
>bisa ditebarkan kepada masyarakat. Semoga keyakinan
>dan harapan itu memang bisa terwujud.
>
>Bogor, 14 April 2008
>
>Sehari setelah Pilgub
>
>-akm-


Kirim email ke