Kalau semua wacana politis mengharuskan tersedianya dana (dan siapa 
yang punya dana yaaaa?), berarti semuanya ini seperti dunia iklan, 
pokoke mbayar. Lalu dimana deokrasinya? Ujung ujungnya semua 
tergantung pesan sponsor?

Lha dana untuk menolong tuntas rakyat di Sidoardjo saja tak ada tuh? 
Dana untuk membangun perumahaan sosial bagi warga tak mampu saja tak 
ada tuh? Tetapi tiba tiba untuk pemilu dan pilkada tersedia dalam 
jumlah yang besar?

Wakil rakyat itu dipilih karena kemampuannya membangun negeri ini, 
atau karena mampu membayar? Kita ini negara kaya atau miskin sih?

Salam

Danardono



--- In [email protected], Ananto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> gimana kalau ga percaya dua2nya...
> AR juga... PKS juga...
> 
> setuju?
> 
> salam,
> ananto
> 
> 
> On 4/26/08, hendi 004 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   mas.............. jangan percaya dah ama omongan amin 
rais.......... kan
> > dia itu slalu aja begitu, menyangkal dan menyangkal........... 
padahal dia
> > sendiri gak tau tuh brapa jumlah yang sebenarnya dana kampahe 
HADE itu.....
> > iya to...................
> >
> > Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED] <ndewanto%40mail.tempo.co.id>>
> > wrote:
> > senin kemarin saya bertemu amien rais.
> >
> > beliau telak mengatakan dana kampanye hade
> > tak mungkin cuma Rp 800 juta.
> >
> > "mas tris (sutrisno bachir --ketua pan) banyak
> > menyumbang," katanya.
> >
> > dalam berkoalisi mestiya andil semua pihak
> > dihargai. jangan cuma menonjolkan sumbangan
> > kelompok sendiri. dalam mengusung partai islam
> > sebaiknya jangan mengalami defisit kehormatan.
> >
> > At 12:52 PM 4/24/2008 -0700, you wrote:
> >
> > >(dari milis tetangga:)
> > >Catatan pinggir seorang kader PKS tentang Pilgub Jabar
> > >2008.
> > >
> > >Nyesek
> > >
> > >"Berita terakhir dari Ketua DPD (TPPD) bahwa tidak
> > >tersedia dana untuk uang transport saksi. Harap DPC
> > >konsolidasi. Bobar (Bogor Barat) memerlukan Rp 16.7 jt
> > >utk kepentingan ini. Ana pribadi setelah kokoreh di
> > >dapur dan tawakkal, bismillah menginfakkan Rp 1 jt.
> > >Ana mohon antum semua melakukan hal serupa".
> > >
> > >Itulah SMS yang saya terima ba'da Shubuh, Sabtu lalu
> > >(12 April), sehari menjelang pilgub kemarin. Saya
> > >kenal persis si pengirim SMS itu, dan tahu betul bahwa
> > >penghasilannya per bulan mungkin sekitar Rp 2 jt. Saya
> > >juga tahu bahwa dia sekarang sedang nyicil kredit
> > >rumah. Kesediaannya menginfakkan dana sebesar Rp 1 jt
> > >membuat mata saya berlinang; hampir setengah dari
> > >penghasilan bulanannya. Teringatlah kisah sahabat yang
> > >menginfakkan setengah dari hartanya. Kalaulah itu
> > >hanya dilakukan sekali saja, mungkin tidak terlalu
> > >mengherankan. Tetapi hanya 2 malam sebelumnya, semua
> > >grup halaqah pada semua level dikumpulkan per DPC
> > >untuk melakukan liqo gabungan. Di sana jelas
> > >disampaikan anjuran untuk siap berjuang melakukan
> > >jihad siyasi dalam pilkada hari Ahad itu. Di samping
> > >kesiapan mobilisasi berjihad dengan waktu, pemikiran
> > >dan tenaga, tentu infaq dengan maal merupakan hal yang
> > >ditekankan dalam liqo gabungan itu. Taujih demi taujih
> > >tentang keutamaan berjihad dengan harta, pembangkitan
> > >optimisme, dan keyakinan bahwa kemenangan di jalan
> > >Allah itu bukan fungsi dari kebesaran harta dan jumlah
> > >pasukan, mengiringi suasana khusyu yang menyelimuti
> > >semangat menggeloran dalam hati setiap ikhwah yang
> > >hadir di sana. "Berinfaqlah sampai antum jadi nyesek
> > >(sesak di dada)!", begitu kata seorang ustadz ketika
> > >menerangkan ayat Al Qur'an: "Tidaklah kalian akan
> > >sampai kepada kebajikan, sampai kalian menginfakkan
> > >apa-apa yang kalian cintai!" Yang kita cintai itulah
> > >yang kalau kita infakkan membuat sesak di dada. "Kalau
> > >antum infaq Rp 50 ribu tetapi dada antum masih tenang,
> > >berarti itu belum menginfakkan apa yang antum cintai.
> > >Tambah lagi jadi Rp 100 ribu, tambah lagi dan tambah
> > >lagi, sampai suatu saat antum merasa nyesek di dada
> > >antum. Itulah tanda bahwa antum menginfakkan apa yang
> > >antum cintai, yang antum merasa berat untuk
> > >melepasnya!"
> > >
> > >Bisa dibayangkan, Kamis malam sudah infaq
> > >habis-habisan. Sabtu pagi, muncul SMS lagi seperti di
> > >atas. Sebelumnya lagi, setiap hari Ahad selama
> > >beberapa pekan diadakan Apel Siaga yang tentu saja
> > >ikhwah selalu diminta untuk berinfaq. Makanya,
> > >sunduquna juyubuna.. betul-betul dirasa.
> > >Kantong-kantong ikhwah betul-betul diperas habis.
> > >Sehingga kalau diperas lagi, mungkin yang keluar
> > >adalah darah. Sabtu itu saya membalas SMS tadi. Saya
> > >siapkan infaq dalam jumlah yang cukup membuat dada
> > >saya sesak (ya Allah, limpahkanlah keikhlasan ke dalam
> > >hati hamba..!).
> > >
> > >Tetapi saya yakin, rasa sesak saya itu tidaklah
> > >sebesar rasa sesak ikhwah yang menginfakkan setengah
> > >dari penghasilannya tadi. Dan saya bayangkan lagi,
> > >betapa banyak lagi ikhwah yang tingkat penghasilannya
> > >lebih rendah daripada itu. Betapa sesaknya dada-dada
> > >mereka ketika mereka merogoh kantong-kantong mereka
> > >untuk membiayai pelaksanaan operasional segala tetek
> > >bengek yang perlu untuk pemilihan gubernur ini. Kalau
> > >tim sukses HADE mengatakan bahwa dana kampanye yang
> > >dikeluarkan adalah Rp 800 juta totalnya, itu belum
> > >termasuk dana yang dikeluarkan ikhwah di grass-root.
> > >Dana yang dikeluarkan mereka dengan ikhlas, yang
> > >mereka tidak perlu tanda terima, tidak perlu ucapan
> > >terimakasih. Dana yang ketika diberikan, tidak
> > >disertai harapan bahwa dana itu akan balik kepada
> > >mereka dalam bentuk apa pun. Dana itulah yang langsung
> > >digunakan oleh level-level struktur terbawah seperti
> > >DPD, DPC dan DPRa yang langsung bergerak di
> > >tengah-tengah masyarakat.
> > >
> > >Militansi Kader
> > >
> > >Pagi ini di TV saya melihat seorang pengamat politik
> > >yang selama ini biasanya berkomentar tidak terlalu
> > >simpati dengan PKS, mengakui bahwa mesin politik
> > >(networking) PKS yang luar biasa yang menyebabkan
> > >kemenangan pasangan HADE. Dan itu memang terlihat
> > >betul di lapangan. Pilgub ini adalah pemilihan pertama
> > >yang saya alami secara langsung di tanah air. Jadi ini
> > >adalah kali pertama juga, saya terlibat langsung
> > >dengan segala aktivitas kader di level yang paling
> > >bawah yang terkait dengan sebuah pemilihan. Dan
> > >apresiasi serta kekaguman pun lahir dari diri saya.
> > >Selama 4 pekan berturut-turut, ikhwah dikumpulkan per
> > >DPC dalam sebuah Lailatul Katibah (mabit bersama) -
> > >kalau akhwat dikumpulkan dalam Jalasah Ruhiyah sore
> > >hari. Kekuatan ruhiyah digenjot terus. Setelah
> > >mendapatkan siraman ruhani, sholat lail, wirid dan
> > >dzikir bersama, selesai Lailatul Katibah ini maka
> > >ikhwah disebar ke berbagai kelurahan untuk melakukan
> > >Direct Selling, penjualan langsung door to door.
> > >Subhanallah.
> > >
> > >Kadang kita sering menjadikan mabit sebagai alasan
> > >untuk bisa tidur siang lebih panjang. Tapi ini setelah
> > >mabit, ikhwah langsung menyebar, mengetuk pintu-pintu
> > >masyarakat. Memperkenalkan diri dengan santun,
> > >memberikan sosialisasi tentang pilkada ini (well, ini
> > >mah seharusnya tugas KPUD), dan baru minta ijin dengan
> > >baik-baik untuk mengenalkan calon gubernur dan
> > >wakilnya kepada masyarakat. Ini dilakukan pada 4 Ahad
> > >berturut-turut, mabit malamnya dan terus menyebar
> > >ber-direct selling pada pagi harinya. Ini tentunya di
> > >luar kegiatan rutin yang biasa dilakukan kader
> > >langsung di tengah masyarakat seperti bakti sosial,
> > >pelayanan kesehatan, bazar sembako murah, dsb.
> > >Keikhlasan yang luar biasa. Tidak ada di benak para
> > >kader ini bahwa ketika HADE menang, mereka akan
> > >diangkat menjadi tim tenaga ahli atau akan mendapatkan
> > >tempat khusus di lingkaran dekat kekuasaan. Jabatan
> > >tangan saja dari gubernur terpilih, mereka tidak akan
> > >dapatkan.
> > >
> > >Mereka berjuang ikhlas karena yakin bahwa kebaikan
> > >pada masyarakat akan tersebar dengan menangnya calon
> > >yang mereka usung. Perjuangan kader tidak terhenti
> > >sampai di sana. Selama seminggu terakhir, diadakan
> > >ronda malam bergiliran. Tujuannya sederhana: menjaga
> > >agar atribut kampanye (stiker, spanduk, baliho) yang
> > >kita pasang, tidak dirusak oleh pihak-pihak lain. Buat
> > >sebagian kita, melihat stiker tertempel di tiang
> > >listrik tetapi kondisinya tersobek, mungkin
> > >biasa-biasa saja. Tetapi bisa kita bayangkan, betapa
> > >pedihnya hati ikhwah yang menempelkan stiker itu
> > >melihat hasil tempelannya itu dirusak orang lain.
> > >Karena itu, semua atribut harus dijaga, dan ikhwah
> > >rela mengorbankan tidur malamnya untuk itu. Kemudian
> > >di malam terakhir, ronda malam juga diintensifkan
> > >dengan tujuan mengawasi jangan sampai terjadi
> > >pembagian sembako atau amplop kepada masyarakat di
> > >jam-jam terakhir menjelang pemilihan. Bisa diyakinkan,
> > >para kepanduan kita akan berjaga dan siap meluncur
> > >apabila ada pelaporan hal-hal seperti itu terjadi.
> > >Perjuangan para akhwat juga luar biasa. Di Direct
> > >Selling, mereka yang paling semangat. Waktu kampanye,
> > >mereka juga melaksanakan aksi kampanye simpatik.
> > >Berdiri di perempatan-perempat an jalan, membagikan
> > >bunga-bunga yang mereka rangkai sendiri dan menyapa
> > >setiap pengendara kendaraan.
> > >
> > >Di hari pelaksanaan, mereka bergantian menyediakan
> > >konsumsi untuk para saksi, meskipun tidak sedikit yang
> > >juga bertindak sebagai saksi. Melihat keikhlasan dan
> > >militansi kader dalam berjuang dan berinfaq seperti di
> > >atas, mulut ini sempat bergumam: "Seandainya mereka
> > >yang terpilih menjadi anggota legislatif atau duduk di
> > >jabatan eksekutif, kemudian melupakan para kader,
> > >menjadi jauh dengan para kader, tidak memiliki empati
> > >dan sensifitas terhadap kebutuhan kader, malah menjadi
> > >kaya dengan memanfaatkan jabatannya, maka sungguh itu
> > >adalah sebuah KEDZHALIMAN yang SANGAT BESAR!"
> > >
> > >Lega
> > >
> > >Saya memilih di kompleks perumahan tempat saya
> > >tinggal. Warganya tentu relatif terpelajar dengan
> > >kondisi ekonomi yang juga relatif lebih stabil
> > >dibanding masyarakat kebanyakan. Ditambah dengan
> > >aktifitas ke-Islaman yang baik, tidak ada kekhawatiran
> > >akan terjadi kecurangan dalam proses pelaksanaan
> > >pemilihan kemarin. Yang ada adalah memang rasa
> > >optimisme bahwa HADE akan menang di kompleks itu.
> > >Tidak hanya di kompleks perumahan tempat saya tinggal,
> > >ikhwah di Kota Bogor tidak tanggung-tanggung memasang
> > >target perolehan suara 51% untu HADE. Di samping
> > >kontribusi untuk pilgub, ini juga sebagai batu
> > >loncatan untuk pemilihan walikota di bulan Oktober
> > >mendatang. Jeblok di pilgub, jangan harap akan bisa
> > >bangkit untuk pemilihan walikota, karena jeda waktu
> > >yang kurang dari 6 bulan.
> > >
> > >Ketika perolehan suara dihitung satu per satu di TPS
> > >tempat saya memilih, pasangan HADE langsung melejit
> > >memperoleh suara terbanyak. Sekitar 60%. TPS-TPS lain
> > >di kelurahan saya juga menunjukkan hal yang sama.
> > >Muncullah rasa lega menggantikan rasa sesak yang
> > >mungkin masih terasa sampai malam sebelumnya. Lega
> > >karena perjuangan berat dan luar biasa para kader,
> > >ternyata Allah SWT balas langsung di dunia ini juga
> > >(tanpa melupakan harapan kita akan balasan yang lebih
> > >baik di akhirat tentunya). Apalagi ketika pulang ke
> > >rumah usai menyaksikan perhitungan suara di TPS,
> > >tayangan TV menyiarkan hasil quick-count pilgub itu.
> > >Semua lembaga menyebutkan bahwa HADE unggul!
> > >
> > >"Allahu Akbar Walillahilhamd! " Itu adalah bunyi SMS
> > >dari kader yang kemarin mengatakan akan berinfaq Rp 1
> > >juta itu. Perhitungan suara terus dilakukan. Tersebar
> > >SMS dari Ketua DPD bahwa di Kota Bogor, HADE berhasil
> > >mengumpulkan suara sebesar 52% dari hasil perhitungan
> > >semua jumlah suara yang sah. "Allahu Akbar
> > >Walillahilhamd! "
> > >
> > >Perasaan lega dan kekaguman terhadap perjuangan kader
> > >ternyata tidak berhenti. Muncul SMS berupa instruksi:
> > >"Wajib bagi para kader untuk mengawal kotak-kotak
> > >suara dari TPS ke PPS ke PPK". Kegiatan ronda malam
> > >tetap dijalankan, tetapi sekarang bergiliran di PPK
> > >(Panita Pemilihan tingkat Kecamatan) untuk menjaga
> > >kotak-kotak suara jangan sampai ada yang mengganggu.
> > >Jadwal pun dibuat. Setiap grup halaqah wajib
> > >mengirimkan 1 wakilnya pada jadwal yang sudah
> > >disepakati. "Kita akan terus mengawal perolehan suara
> > >kita!".
> > >
> > >Ngeri
> > >
> > >Setelah suasana kelegaan dan euforia, dalam perenungan
> > >kemudian muncul perasaan ngeri. Ngeri kalau kita tidak
> > >bisa mengemban amanah kepemimpinan ini. Ngeri kalau
> > >janji-janji tidak bisa direalisasikan. Bukan karena
> > >tidak mau, tetapi karena berbagai hambatan praktis di
> > >sistem birokrasi kita. Pertanyaan-pertanya an sudah
> > >mulai mengarah. Bagaimana PKS dan PAN bisa melakukan
> > >komunikasi politik dengan DPRD yang dikuasasi 3
> > >raksasa: Golkar, PDIP dan PPP, sehingga
> > >program-programnya tidak dijegal dan bisa jalan?
> > >Bagaimana kalangan birokrasi di Pemda Provinsi bisa
> > >diarahkan semuanya ke satu tujuan yang sama? Ibarat
> > >tubuh manusia, yang baru kita menangkan adalah
> > >kepalanya. Sedangkan kaki, tangan dan anggota tubuh
> > >lainnya? Sebuah pertanyaan yang besar. Para kader PKS
> > >berjuang, memeras keringat dan kantong dana, karena
> > >mereka yakin bahwa dengan memiliki amanah
> > >kepemimpinan, akan lebih banyak lagi kebaikan yang
> > >bisa ditebarkan kepada masyarakat. Semoga keyakinan
> > >dan harapan itu memang bisa terwujud.
> > >
> > >Bogor, 14 April 2008
> > >
> > >Sehari setelah Pilgub
> > >
> > >-akm-
> >
> >
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! 
Mobile. Try it
> > now.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > 
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke