Apakah rejeki hanya didapat dari menjalani praktek yang demikian? Sedemikian tertutupkan jalan halal bagi masyarakat kita?
Wassalam, Irwan.K 2008/5/21 Ananto <[EMAIL PROTECTED]>: > Gema Tasbih Pelacur di Surabaya > > Suatu hari ada vestival MTQ khusus untuk para pelacur di kota buaya, > Surabaya, yang ditempatkan di Bangunsari, komplek pelacuran kelas populis > terbesar di kota itu. Tiba-tiba seorang pelacur dengan pakaian ketat, > eksotis dan menantang, datang dengan membawa tasbih di arena itu. Tasbihnya > terus berputar, sesekali mulutnya komat-kamit, mendesahkan dzikir. Sebuah > pemandangan yang ekstrim! > > Acara itu cukup mengundang perhatian publik, sekaligus mengharukan dan > menyayat hati. Betapa tidak, acara itu dimulai dengan pembacaan Shalawat > Badar, bak pasukan hendak menuju medan pertempuran. Mereka berkerudung, > sebagian berjilbab, dan sebagian berpakaian layaknya pelacur pula, seronok. > > Ketika saya diundang untuk mengamati prosesi itu, saya mendatangi pelacur > yang bertasbih. Apa gerangan yang menimpa nasib hamba Allah yang eksostis > ini? "Jangan dikira, Mas, soal hati dan jiwaku, saya tidak mau kalah dengan > seorang Kiai," akunya. Sebuah ungkapan jujur, tulus dan cukup > kontroversial, tetapi benar-benar menusuk jantung saya paling dalam. Saya > terharu mendengarkan kalimat itu, bahkan airmata saya mulai mengembang > tidak > terasa. > > Saya hanya berfikir sederhana, siapa yang tahu drama terakhir dari > kehidupan > seseorang? Siapa tahu hari ini ia menjadi penjaja nafsu liar, di akhir > hayatnya justru menjadi Kekasih Allah? Siapa tahu ia hanya melacurkan > tubuhnya, sementara hati dan jiwanya hanya untuk Allah? Siapa tahu dia ini > bukan pelacur, tetapi seorang gadis yang ditugaskan oleh Allah untuk > menyamar sebagai pelacur? Ataukah memang dia pelacur beneran, dan memiliki > tingkat spiritual yang sangat eksotis, sampai tahap paling ekstrim: dunia > pelacur dan dunia spiritual dalam satu tubuh? Wallahu A'lam. > > Belum selesai saya mengakhiri ketercenganan, saya dikejutkan lagi oleh > jawaban yang cukup meruntuhkan seluruh dada saya, ketika saya bertanya > tentang keluarga dia. "Saya seorang janda Mas, dengan dua orang anak, > laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki saya sedang menghafal Al-Qur'an di > sebuah pesantren, sedangkan anak perempuan saya sekolah di madrasah di > kampung, ikut neneknya. Saya melacur ini untuk membiayai hidup mereka > berdua, dan setiap hari saya berdoa, agar anak saya jadi Ulama yang saleh, > sementara yang perempuan jadi perempuan shalihat yang berguna." > > Perempuan itu menitikkan airmatanya. Meskipun ia terjerumus ke dalam dunia > hitam pelacuran, rupanya ia berjuang tanpa putus asa, agar dua anaknya > menjadi ahli syurga? > [Non-text portions of this message have been removed]

