Jurnal Sairara:
   
   
  Kepada Saudara Taufiq Ismail 
   
   
  6.
   
   
  MENCOCOKKAN DATA
   
   
    "Saya menyiapkan diri dengan literatur baru untuk diskusi itu. Percuma. Tak 
ada gunanya. Pram berbicara dengan istilah-istilah kuno tahun 1960-an ”tujuh 
setan desa, tiga setan kota, tuan tanah, sama rata sama rasa, kapitalis 
birokrat” dan seterusnya. Diskusi ideologi timpang dan tak bermakna. Saya 
tercengang. Pengarang besar ini tak punya pengetahuan tentang 
Marxisme-Leninisme yang berarti dan dapat diukur dengan jengkal tangan kanan. 
Saya tak merasakan getaran, sengatan setrum ideologi 
Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme dari diskusi itu, seperti yang saya 
rasakan bila berdiskusi dengan orang-orang Palu Arit tulen yang pernah saya 
alami. Pram bukan komunis."
   
   
  "Saya makin mual pada partai yang berhasil memperalatnya, yang dirangkul, 
difasilitasi ini-itu, diangkut ke seberang garis menyertai apel barisan PKI, 
terpaksa ikut menderita dalam pembuangan, dan ternyata tetap saja tidak in 
dalam ideologi ini sama sekali. Ternyata Lekra tak berhasil menjadikannya 
komunis. Dia Pramis, seperti pengakuannya sendiri, dan dia betul. Pram 
terlampau individualistik, egosentrik dan keras hati untuk jadi pion partai 
mana pun. Palu Arit cuma memerlukan nama besar Pram untuk baliho Lekra/PKI, 
mengeksploitirnya sebagai tokoh pengisi billboard iklan produk ideologi kiri di 
tepi jalan raya tol kesusasteraan Indonesia. Untuk itu PKI berhasil, juga KGB 
(Komunis Gaya Baru) Indonesia abad 21 ini."

   
  ***
   
   
   
    Apakah  orientasi "sastra-seni untuk rakyat" ini identik dengan ide PKI 
sehingga dengan alasan ini Lekra pun jadi otomatis identik dengan PKI? Ataukah 
ini suatu paralelisme?
   
   
  Michel Winock, seorang sejarawan Perancis,  dengan menggunakan data-data yang 
terdapat dalam sejarah sastra Perancis, dalam karyanya "Le Siecle des 
Intellectuels" [Editions du Seuil, 1997, 1999, Paris,  885 hlm] menunjukkan 
bahwa konsep "seni untuk rakyat" pada galibnya sama dengan "sastra-seni yang 
berpihak" yang di Perancis disebut sastra-seni berpihak atau "engagé". Dari 
data-data yang ditunjukkan oleh Winock ini, aku melihat bahwa "sastra-seni 
untuk rakyat" sebagai ungkapan Indonesia untuk saastra-seni 'engagé', tidak 
mempunyai dasar sama sekali untuk diidentikkan sebagai sebagai sastra-seni 
Komunis.  Emile Zola yang membela Kapten Dreyfus, atau Victor Hugo yang 
bersimpati pada pemberontakan Komune Paris, sampai harus lari ke Belgia,  
sekali pun mereka menterapkan sastra-seni engagé tapi mereka sama sekali bukan 
anggota Partai Komunis.  Dalam sejarah sastra Indonesia, dalam artian sastra 
baik sastra yang berbahasa Indonesia mau pun yang berbahasa lokal, apalagi 
sastra
 lisan,  kukira tradisi sastra-seni engagé ini juga cukup kuat. Sansana , 
sebagai salah satu bentuk sastra lisan  Dayak, kukira bisa diangkat sebagai 
contoh dari sastra-seni engagé ini. Demikian juga yang seni ludruk seperti yang 
diperlihatkan oleh Cak Durasim, atau seni ketoprak yang ditunjukkan antara lain 
oleh grup Krido Mardi atau Ngesti Pandowo.  Sastra-seni engagé tidak identik 
dan tidak bisa dijadikan indikasi atau bukti bahwa sastra-seni demikian adalah 
sastra-seni monopoli orang Komunis. "Sastra-seni untuk rakyat", kukira, adalah 
kata lain dari sastra-seni engagé.  Dari segi keberpihkan ini apakah pandangan 
dan sikap berkesenian Lekra bisa diangkat sebagai indikasi dan kesamaan dengan 
PKI? Ataukah ada suatu kesejajaran belaka dengan segala latar dan sebabnya, 
untuk tidak menggunakan alasan kebetulan --alasan yang lemah?
   
   
  Aku tidak tahu apa bagaimana komentar Saudara Taufiq Ismail saat didirikan 17 
Agustus 1950 di Jakarta, untuk menghadapi ofensif agresi Belanda di bidang 
kebudayaan melalui Sticusa,  dan mulai munculnya "kecenderungan ke kanan" di 
kalangan sastrawan-seniman Indonesia, turut hadir alm. H.B. Yassin, Balfas, 
Bachrum Rangkuti di samping D.N. Aidit dan Njoto? Aku kira tidak seorang pun 
yang sepakat jika ada yang  menyatakan bahwa H.B.Yassin, Balfas dan Bachrum 
adalah anggota-anggota PKI. 
   
   
  Paralel dengan kehadiran H.B.Yassin, Balfas dan Bachrum di dalam rapat 
pendirian Lekra di Jalan Madura Jakarta,  kukira akan sulit mencari dasar 
pembenaran bahwa orang-orang yang ingin berkesenian melalui lembaga-lembaga 
kejuruan Lekra -- seluruhnya sampai tahun1965 ada 7 lembaga kejuruan -- sebagai 
anggota-anggota PKI. Malangnya, orang-orang yang usia 12-14 tahun yang ikut 
berkesenian di lembaga-lembaga Lekra dibuang ke Pulau Buru sebagai anggota PKI 
sementara mereka tidak tahu apa-apa tentang apa-bagaimana itu PKI. Apalagi 
tentang  "Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme" -- istilah-istilah yang 
digunakan oleh Saudara Taufiq  Ismail masih bisa dipertanyakan jika dilihat 
dari sumbernya, dan lebih terbaca sebagai kesengitannya ada isme-isme tersebut. 
Bahkan meninggal di pulau Buru tanpa juga tahu apa itu komunisme dan PKI. 
   
   
  Karena itu , aku selalu mencari penjelasan dari yang menulis "Lekra/PKI, 
sebagai satu kesatuan, termasuk dari Saudara Taufiq Ismail yang terang-terangan 
menyatakan pendapatnya sebagai orang anti komunis dan anti" 
Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme" -- hak dasar yang sama sekali tidak bisa 
digugat siapa pun. Hanya saja, apakah hak tidak tergugat ini tidak bisa memberi 
ruang betapa pun sempitnya bagi pemahaman nalar. Dari contoh anak umur 14 tahun 
yang tidak tahu apa-apa tentang komunisme dan PKI tapi dibuang di Buru dan 
meninggal di sana, dengan menyandang tuduhan sebagai PKI, bagaimana Saudara 
Taufiq Ismail mempertanggungjawabkan penjajaran "Lekra/PKI" yang senantiasa 
beliau gunakan?  Apakah pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang tidak nalar, 
untuk tidak menggunakan kata ilmiah?  
   
   
  Melanjutkan contoh anak umur  anak 14 tahun yang bernama Gatot dari Jalan 
Taman Siswa Yogyakarta,  yang ikut kegiatan Lekra dan dibuang kemudian 
meninggal di Pulau Buru sebagai anggota PKI,  sangat menarik apa yang ditulis 
oleh Saudara Taufiq Ismail tentang Pramoedya Ananta Toer  berikut ini:
   
   
  "Saya makin mual pada partai yang berhasil memperalatnya, yang dirangkul, 
difasilitasi ini-itu, diangkut ke seberang garis menyertai apel barisan PKI, 
terpaksa ikut menderita dalam pembuangan, dan ternyata tetap saja tidak in 
dalam ideologi ini sama sekali". Dan Saudara Taufiq Ismail dengan tegas 
mengatakan bahwa "Pram bukan komunis." Pram adalah "Pramis".
   
   
  Dari segi HAM, penangkapan, pemenjaraan dan kemudian pembuangan Pram, "Pram 
yang bukan Komunis" tapi "Pramis"  ke Pulau Buru, sama sekali tidak menyentuh 
nurani keadilan Saudara Taufiq. Beliau tidak menggugat ketidakadilan yang 
dialami oleh Pram, sehingga mengesankan apa yang dialami Pram dan jutaan 
lainnya sebagai suatu kewajaran. Kemudian setelah itu Saudara Taufiq Ismail 
mengulurkan tangan dengan teori "perdamaian total" yang tentu saja tidak 
kutolak. Tapi salahkah berharap ketika kita melakukan perdamaian total" kita 
tidak membuang masa silam, belajar dari masa silam. Mempelajarinya tanpa emosi 
seperti yang dirintis oleh teman-teman dari Syarikat Indonesia yang 
bersekretariat pusat di Yogyakarta?
   
   
  Barangkali pemahamanku salah, dan jika demikian,  tolong Saudara Taufiq 
Ismail luruskan jika pemahaman ini salah. Tapi dari kalimat Saudara Taufiq 
Ismail ini nampak bahwa dalam Lekra terdapat orang-orang non PKI antara lain 
figur seperti Pram yang "Pramis". Jika demikian, tepatkah saudara Taufiq Imail 
menulis pensejajaran "Lekra" dan PKI? Dalam hal ini aku kira masalahnya berada 
di luar konteks jika Lesbumi mengafiliasikan diri dengan NU, LKN 
mengafiliasikan diri dengan PNI, Lesbi dengan Partindo, Lekrindo pada Parkindo, 
misalnya. Lekra dengan tegas dan sadar menolak  untuk berafilisasi dengan PKI. 
Tidak berartikah sikap ini? Berafiliasi atau tidak, kukira, menyangkut soal 
analisa dan pandangan filosofis realis, disamping ada unsur kepentingan, 
terutama kepentingan politis. Aku khawatir, yang melihat bahwa Lekra sebagai 
organisasi bawahan PKI walaupun mereka bisa tidak buta aksara tapi sesunguhnya 
masih belum bisa membaca dan dari segi filosofi masih tidak bebas dari cara
 pandang yang disebut mekanis atau otomatis subyektif. Simplitisisme. Ujud dari 
kemalasan berpikir rinci. Barangkali!
   
   
  Barangkali masalah ini kurang mempunyai relevansi kegunaan nyata  pada masa 
sekarang, jika dilihat dari teori kegunaan. Tapi jika ia kuketengahkan juga 
maka ia lebih bersifat informatif disertai harapan bagaimana kita menyetiai 
kenyataan dalam konteks mencari kebenaran dari kenyataan,  serta sebuah lampu 
kuning terhadap  pemutarbalikan data pada saat kita perlu merekonstruksi 
sejarah negeri dan bangsa bagi kepentingan ber-republik dan berkeindonesiaan. 
Kejujuran pada data, adalah suatu sikap sejarah sekaligus menakar kadar diri 
masing-masing sebagai anak manusia. 
   
   
  Kalimat-kalimat Saudara Taufiq  Ismail di atas ini bisa dibaca dari berbagai 
sudut pandang. Kalimat-kalimat yang tidak ingin kulewatkan bagai penglihatan  
melewatkan  busa hanyut di sungai atau buih diserap pantai. ****
   
   
  Paris, Mei 2008

  ----------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
   
  [Bersambung .....]

       
---------------------------------
 Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.   Download it now! /a

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke