Keberpihakan Presiden terhadap rakyat kecil memang tidak diragukan.
-----------------------
http://www.antara.co.id/arc/2008/6/4/presiden-minta-penyaluran-kur-capai-rp15-triliun-tahun-ini/
Presiden Minta Penyaluran KUR Capai Rp15 Triliun Tahun Ini
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar
penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus ditingkatkan, guna mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional.
"Program KUR akan terus kita kembangkan, sekarang sekitar Rp6 triliun dan akan
terus kita tingkatkan sampai Rp15 triliun, karena negara sudah memberi jaminan
Rp1,4 triliun," kata Presiden Yudhoyono saat membuka Pekan Produksi Budaya
Indonesia di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, penyaluran KUR ini juga sangat penting membantu para pengusaha
kerajinan tangan yang saat ini usahanya terus tumbuh pesat.
"Saya dan DPR sepakat, untuk tahun depan kita bisa meningkatkan lagi (KUR) agar
ekonomi kerakyatan bergerak mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan
kemiskinan bisa dikurangi," katanya.
Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono mengatakan selama ini para pengusaha
industri kreatif mengeluhkan kurangnya modal dan promosi serta pemasaran,
sehingga pemerintah terus mengembangkan langkah nyata membantu permodalan
melalui KUR serta kegiatan promosi dan pemasaran.
"Kita kembangkan dan pelihara warisan leluhur, dengan mengembangkan ekonomi
kreatif yang juga bisa menumbuhkan ekonomi nasional kita," katanya.
Dalam kesempatan itu, sejumlah bank secara simbolis menyerahkan KUR kepada para
perajin kerajinan tangan, yaitu BRI sebesar Rp4,176 triliun untuk 625.083
debitur, Bank Mandiri Rp993,24 miliar untuk 33.110 debitur.
Dirut BNI, Gatot MB Suwondo, dalam kesempatan itu menyerahkan KUR sebesar
Rp911,871 miliar untuk 7.413 debitur, Bank Bukopin Rp452,623 miliar untuk 2.384
debitur, Bank Syariah Mandiri Rp258,485 miliar untuk 4.400 debitur dan BTN
Rp81,05 miliar untuk 470 debitur.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam acara itu juga menyerahkan buku
cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Rencana Aksi kepada Presiden
Yudhoyono. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]