INGAT BUNG.....
Konstitusi Negara melindungi dan menjamin segenap warga negara  tanpa 
kecuali,  bahwa  ada  tindakan  kekerasan atau penistaan 
itu  merupakan perbuatan kriminal yang harus diproses sesuai hukum yang berlaku 
(KUHP & KUHAP). Negara tidak boleh intervensi terhadap keyakinan warga 
negaranya. Dan orang atau kelompok yang mengintervensi keyakinan atau agama 
orang lain itu adalah pelanggaran Konstitusi. 

Founding father telah memberikan warisan yang sangat berharga berupa konstitusi 
yaitu  UUD 1945 dan falsafah negara PANCASILA. Ingat, negara kita bukan 
negara TEOKRASI, namun negara hukum yang didasari kebinekaan. 

Kelompok fundamentalis atau garis keras memang sengaja dibina/dipelihara oleh 
orang dan kelompok tertentu untuk bargaining kepentingan politiknya. FPI 
misalnya didirikan tahun 1998 oleh aparutus laskar orde baru  wujud 
dari  PAMSWAKARSA. Militer  menggunakan  organisasi sejenis 
FPI  untuk  menyerang  mahasiswa  dan kelompok  
pro-reformasi ketika itu.  

Karena itu sejatinya organisasi2 garis keras itu bukan memperjuangkan aqidah, 
mereka hanya berkedok agama untuk kepentingan politik tertentu. Bukankah agama 
sejatinya "rahmatan lil alamin"  jadi, yang mengatasnamakan agama dan 
melakukan kekerasan terhadap orang lain adalah penistaan agama, mempermalukan 
agama, dan mendistorsi nilai-nilai agama. Sebab agama hadir untuk menciptakan 
kedamaian, keselamatan, dan toleransi. 

Musuh agama terbesar sesungguhnya kemiskinan dan kebodohan. Jika agama tidak 
mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan dan kebodohan, maka mereka gampang 
dimanipulasi atau diperalat oleh kepentingan politik kaum barbarian. Ini tugas 
para tokoh agama, politisi, dan pemerintah....jangan sampai ajaran Rosullah 
yang sangat agung dihancurkan oleh kepentingan pragmatisme sesaat.



--- On Wed, 6/11/08, A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppiindia] Membongkar Jaringan AKKBB
To: "sabili" <[EMAIL PROTECTED]>, [email protected], "lisi" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Saksi" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, June 11, 2008, 5:32 AM










    
            http://eramuslim. com/berita/ tha/8610184048- membongkar- jaringan- 
akkbb-3.htm



Membongkar Jaringan AKKBB (3)

Selasa, 10 Jun 08 19:11 WIB

Kirim teman

Kejadian

rusuh yang diakibatkan provokasi massa AKKBB terhadap para laskar Islam

siang itu (1/6) di Monas berlangsung cepat. Para korlap dari umat Islam

berusaha menenangkan massanya yang marah. Untunglah korban luka hanya

beberapa orang dan tidak ada yang parah. Namun oleh media massa cetak

maupun teve yang dikuasai jaringan liberal Islam dan juga non-Muslim,

peristiwa yang sebenarnya biasa saja ini diblow-up sedemikian

rupa bagaikan sebuah peristiwa genosida yang memakan korban ratusan

ribu nyawa. Penguasaan media massa, di sinilah titik lemah umat Islam

Indonesia.

Sehari setelah peristiwa, Kuasa Usaha Kedubes

Amerika Serikat John A Heffern menjenguk empat anggota AKKBB di RSPAD,

Jakarta. Dalam kunjungannnya, John menyalami dan berbincang dengan

mereka. Keempatnya adalah Manager Program Jurnal Perempuan Guntur Romli

(salah satu pentolan JIL), Direktur ICIP Syafii Anwar, dan dua anggota kelompok 
sesat Ahmadiyah yakni Dedi C Ahmad dan Taher.

Pada hari yang sama, dan ini yang mengejutkan,

Presiden SBY dengan amat cepat merespon peristiwa tersebut. Padahal

presiden yang satu ini dikenal sebagai seseorang yang lamban dan peragu

dalam mengambil sikap. Hanya sehari setelah kejadian, SBY menggelar

jumpa pers mendadak di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara,

Jakarta. Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, adik

dari tokoh JIL Rizal Mallarangeng mengingatkan para jurnalis untuk

tidak memotong pernyataan presiden dalam medianya. “Karena ini

menyangkut isu yang sensitif, ” demikian Andi.

Secara lengkap, ini adalah pernyataan SBY soal bentrokkan di Monas: “Saya

sangat menyesalkan terjadinya kekerasan di Jakarta kemarin siang. Saya

mengecam keras pelaku-pelaku tindak kekerasan itu yang menyebabkan

sejumlah warga kita luka-luka.

Negara kita adalah negara hukum yang punya UUD,

UU dan peraturan yang berlaku, bukan negara kekerasan. Oleh karena itu

terkait insiden kekerasan kemarin, saya minta hukum ditegakkan.

Pelaku-pelakunya diproses secara hukum diberikan sanksi hukum yang

tepat.

Ini menunjukkan negara tidak boleh kalah dengan

perilaku-perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang

berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia. 



Saya meminta masyarakat luas mengingat

akhir-akhir ini banyak kegiatan fisik di lapangan, sebagian adalah

unjuk rasa sebagian lagi bukan. Tapi di satu kota bersamaan sering

terjadi berbagai kegiatan fisik dengan tujuan, motif dan tema berbeda.

Saya harap semua pihak tetap tertib mengendalikan diri. Apa yang

disampaikan kepada kepolisian, itu dijalankan. Karena itu janjinya

kepada kepolisian sehingga pengamanan bisa dilakukan. 



Kalau ada masalah di antara komponen

masyarakat, solusinya bukan dengan kekerasan, tapi solusi damai. Sesuai

dengan semangat kita, UUD, UU dan peraturan yang berlaku.

Kepada kepolisian, saya meminta agar

meningkatkan kinerjanya. Tantangannya tidak ringan, permasalahannya

kompleks. Oleh karena itu kepolisian di seluruh tanah air khususnya

Jakarta dan kota besar lain, lebih cepat dan profesional agar semua

bisa ditangani dengan baik. 



Memang ada dinamika, ada kegiatan yang

tiba-tiba datang seperti kekerasan yang terjadi kemarin. Tapi

kepolisian tetap melakukan pencegahan.

Tegas! Jangan memberikan ruang untuk keluar

dari apa yang kita kehendaki. Kepada seluruh rakyat mari kita jaga

baik-baik negeri ini, kita jaga kehormatan bangsa di negeri sendiri dan

dunia internasional. 



Tindakan kekerasan kemarin yang dilakukan oleh

organisasi tertentu, orang-orang tertentu mencoreng nama baik negara

kita di negeri sendiri maupun dunia.

Jangan mencederai seluruh rakyat Indonesia

dengan gerakan-gerakan dan tindakan seperti itu. Demikian pernyataan

saya, terima kasih.” 



Sehari setelah SBY mengeluarkan Lalu

(3/6/2008), Kedubes AS mengeluarkan rilis yang disampaikan kepada

berbagai media massa Indonesia. Kedubes AS menyatakan jika tindak

kekerasan seperti yang terjadi di Monas menimpa massa AKKBB akan

memiliki dampak yang serius bagi kebebasan beragama dan berkumpul di

Indonesia dan akan menimbulkan masalah keamanan. Kedubes AS juga

prihatin terhadap para korban yang terluka dan pihaknya pun menyambut

baik sikap SBY agar para pelaku tindak kejahatan segera ditindak secara

hukum. Tidak sampai di sini, Kedubes AS pun mendesak pemerintah SBY

untuk terus menjunjung kebebasan beragama bagi para warga negaranya

sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia. 



Di sebagian besar media massa, cetak maupun

teve, peristiwa ini mendapat porsi pemberitaan yang sangat besar dengan

pemihakan yang sangat kentara. Yang sangat kasar dalam hal ini adalah

Metro TV. Dalam aneka acara, Metro TV menyebut Habib Rizieq hanya

dengan “Rizieq Shihab”, sedangkan Abdurrahman Wahid dengan sebutan Gus

Dur atau KH. Abdurrahman Wahid. Angle pemberitaan pun terasa sekali,

bahkan kasar, mencitra-burukkan FPI sebagai organisasi massa yang haus

darah, beringas bagaikan preman, dan wajib dibubarkan.

Apa yang dilakukan Metro TV sebenarnya

tidaklah aneh karena stasiun teve ini memang sejak lama telah

mengakomodir orang-orang dari kelompok liberal dan bukan rahasia umum

lagi jika banyak siarannya sangat Americanized. Bagi sebagian kalangan, stasiun 
teve ini adalah CNN-nya Indonesia.

Lantas, di manakah letak hubungannya dengan kepentingan Zionis-Yahudi, apakah 
itu bernama Zionis Amerika atau Zionis Israel? 



Jika kita jeli, maka AKKBB ini merupakan

sebuah aliansi cair dari dua kubu yakni kaum Liberal seperti JIL dan

juga kubu non-Muslim seperti KWI dan PGI. Bukan rahasia umum lagi jika

JIL merupakan perpanjangan tangan kepentingan Zionis di Indonesia untuk

menghancurkan Islam dari dalam. Keterangan tentang hal ini tidak perlu

dibahas lagi. Salah satunya silakan lihat situs www.libforall. com dan juga 
tulisan di eramuslim.com, rubrik Nasional dengan judul “Di

mana Habib Rizieq dan Abdurrahjan Wahid Sebelum Kasus Monas” (Ahad,

8/6) tentang Abdurrahman Wahid.

Arah dan strategi pemberitaan sebagian besar media

massa kita—cetak maupun teve—secara kasar memang terlihat tidak

profesional dan memihak kubu pro-Ahmadiyah. Hal ini sebenarnya

berangkat dari strategi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tank

Amerika yang ingin menghancurkan Islam di Indonesia.

Dalam tulisan keempat akan dipaparkan isi dari strategi Rand Corporation yang 
ditulis oleh Cheryl Bernard. (bersambung/ rizki)

 ===

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS



Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252



Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 

Informasi selengkapnya ada di http://www.media- islam.or. id atau 
http://syiarislam. wordpress. com




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke