Insiden bentrokan antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan 
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadisalah satupembahasan 
antara Komisi III DPR kepada Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto yang berlangsung di 
Gedung DPR, Jakarta, Kamis (12/6). 
      Kapolri Jenderal Sutanto mengatakan, jika saja pada 1 Juni lalu, Aliansi 
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) mengikuti rute 
yang sudah disepakati, maka insiden tersebut tidak akan terjadi. Rute yang 
seharusnya dilalui AKKBB, jelas dia, Gambir-Kedubes AS-Air 
Mancur-BI-Thamrin-HI. Di lokasi tersebut sudah ditempatkan sekitar 400 personel.

      "Rute-rute tersebut sudah diamankan, tapi AKKBB tidak menepati janji. 
Kalau menepati rute mereka, pasti tidak akan terjadi (bentrokan). Kalau polisi 
dibilang tidak siap, tidak tepat. Mereka (AKKBB) sendiri yang cari masalah, " 
ujar Kapolri menjawab pertanyaan anggota Dewan.

      Ketika itu, pihak kepolisian sendiri menurunkan sekitar 10.000 hingga 
14.000 orang. Sementara jumlah massa yang melakukan aksi pada saat itu 6.000 
orang ada berbagai macam kegiatan yakni ada unjuk rasa menentang kenaikan harga 
BBM dan peringatan hari lahir Pancasila.

      Kapolri juga mengatakan agar masyarakat turut aktif mencegah terjadinya 
tindak kekerasan. "Kita harus menyikapi situasi dengan jernih dan arif. Jangan 
sampai terjadi tindakan kekerasan dan jatuh korban, " pungkasnya.

      Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Adang Firman juga menegaskan, 
sebelum terjadinya Insiden Monas, pihaknya sudah mengingatkan berkali-kali 
untuk tidak melakukan kegiatan pada hari itu, karena sudah cukup banyak yang 
melakukan kegiatan.

      "Kata siapa tidak diingatkan, sudah berkali-kali kita ingat untuk tidak 
melakukan kegiatan di hari Minggu, jadi tolong jangan di bolak-balik, " 
tegasnya.

      Kapolda mengatakan, pihaknya sudah memintai keterangan untuk 
mengklarifikasi hal perizinan itu, salah satunya dengan memanggil penanggung 
jawabnya.

      Setelah SKB tiga menteri diterbitkan, pihak pendukung Ahmadiyah berencana 
melakukan aksi besar-besaran menolak kebijakan tersebut.

      Ia mempersilakan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) untuk berdemontrasi 
menolak SKB, namun dia mengingatkan jangan anarkistis.

      "Kalau mau demo ya silakan saja sejauh tidak anarkis. Tapi kalau Anarkis 
kita akan mengikuti ketentuan hukum yang berlaku, " ujarnya

      Adang menilai memang setiap sebuah keputusan keluar, selalu saja ada 
pihak yang puas dan tidak puas. "Tapi kami di kepolisian akan melakukan 
antisipasi secara kontinyu, " pungkasnya. (novel)
     



 


--------------------------------------------------------------------------------



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG. 
Version: 8.0.100 / Virus Database: 270.3.0/1500 - Release Date: 6/12/2008 4:58 
PM


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke