--- In [email protected], "sipitung68" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Inklusif Pluralis: Reinkarnasi Pemikiran Kafir > > > Pendapat orang-orang yang anti Tuhan mayoritas demikian; agama sebagai > penghalang bagi kemajuan dalam berpikir dan berekspresi. Manusia harus > berkembang secara produktif dan tidak terbatas oleh tetek-bengek > aturan-aturan yang dapat membatasi, baik skala vertikal ataupun > horizontal. Intinya, agama harus disingkirkan dalam menciptakan > peradaban. âBila manusia masih dibatasi oleh gramatika berarti > manusia masih belum lepas dari cengkraman otoritas.â Kata Nietszche.
*** manusia adalah manusia dgn dibekali akal pikiran yg harus digunakan dgn baik, manusia diberikan logika utk berpikir jernih dan menimbang mana yg membawa kemajuan dan mana yg tidak. saya sgt sepaham dgn nietzche krn bagaimanapun agama2 di dunia lbh banyak memenjarakan manusia dr kemajuan peradaban dan malah mendorong degradasi peradaban. > > Lebih jauh lagi, para liberalis menuduh agama sebagai chrysalis > âkepompongâ dalam pemicu koflik. Menurut pendapat pemeluk mazhab > ini banyak konflik yang detonatornya adalah agama. John Lennon dalam > lagunya Imagine mengatakan âthere is no religion tooâ. > > Penilaian agama sebagai biang keladi dari konflik adalah sangat absurd > dan tidak proporsional. Bagaimana tidak, karena tidak semua konflik > dipicu oleh latar belakang agama. Perang Dunia I dan II sama sekali > tidak dipicu oleh faktor agama. Konflik bisa terjadi sebab harta, > batas wilayah kekuasaan dan -bahkan- wanita. *** kalau agama bukan biang keladi konflik, kenapa juga ada perang salin? sudah jelas2 perang terjadi karena paus urbanus memerintahkan umat katolik utk menyerbu dan merebut yerusalem dr tangan muslim. perang dunia 1 dipicu oleh pembunuhan franz ferdinand yg ternyata sebagai kedok saja. inti dr perang itu (war to end all wars) adalah mengusir kekuasaan ottoman dr tanah eropa khususnya daerah balkan dan inerian peninsula. mau bukti apa lagi? > > Budaya pemikiran bebas ini bukan hanya memicu munculnya inklusifisme > teologi, tetapi lebih dari itu akan memunculkan mazhab relatifisme > (sufastaiyah) yang ujung-ujungnya akan memberi kesimpulan ketidakadaan > kebenaran absolut. Karena teologi inklusif yang mempresentasikan > tentang kesamaan semua ajaran (baca; agama) atau lebih dikenal dengan > religious pluralism itu akan menafikan keyakinan yang pada akhirnya > akan mendeklarasikan semua agama benar. Pada titik inilah kayakinan > berganti kekaburan dan semuanya menjadi relatif. *** memang tidak ada dan tidak akan ada kebenaran absolute! pemahaman seperti itu hanya dimiliki oleh orang2 tidak beradab dan ingin menang sendiri. > > Adalah John Hick, tokoh yang kadang disebut sebagai ânabinyaâ > pluralisme mengajukan gagasan pluralisme ini sebagai pengembangan dari > inklusifisme, ajaran yang menegaskan bahwa agama adalah ajaran yang > berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama; Tuhan. > > Persepsi Agama; Sebuah Keberbedaan Natural > > Dari sedikit ulasan di atas, dapat memberikan gambaran tentang > inklusifisme-pluralisme; agama harus disingkirkan dari kehidupan. > Agama tidak memiliki peran penting dalam membangun peradaban. Betulkah > demikian? > > Manusia se-liberal dan se-sekuler Napoleon Bonaparte, yang pada 02 > Desember 1804 menobatkan dirinya sebagai Kaisar Prancis (emperor of > the Franch) dalam sebuah acara kolosal di Katedral Notre Dame, Paris, > saja masih mengeluarkan The Concordat 1801 yang mengakui bahwa > Catholicsm adalah agama terbesar di Prancis dan sebab perngakuan > itulah pemerintahan Napoleon diterima oleh kalangan mayoritas. > > Pakar sejarah, Arnold Toynbee dalam kajiannya tentang peradaban yang > dalam memberikan sebuah kesimpulan bahwa dalam peradaban ada sebuah > kelompok yang dinamakan creative-minorities (kreatifitas > minoritas)--yang dengan spiritual mendalam (deep spiritual) atau > motivasi agama (religious motivatoin) dapat membentuk atau > mempertahankan sebuah peradaban. *** a[a bedanya dgn indonesia? disini presiden harus muslim toh? > > Jadi, kalau dikatakan bahwa agama tidak memiliki peran penting dalam > membentuk peradaban, maka kesimpulan ini sangatlah absurd dan tidak > tendensius. > > Tentang persepsi yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama. > Kesimpulan ini masih sangat menimbulkan sekian banyak pertanyaan > mengemuka. Bagaimana tidak, kalau semua agama sama, maka yang terjadi > adalah persamaan âseolah-olahâ; seolah-olah pemeluk agama > menyembah pada tuhan yang sama. Padahal, kalau diteliti lebih dalam > lagi, dalam level esoteris (bathiniyah) pun semua agama adalah > berbeda. Bagaimana mungkin bisa sama bila persepsi dari masing-masing > agama terhadap tuhan berbeda. > > Selain itu, gagasan ini secara tidak terduga akan menimbulkan konflik > baru. Karena belum tentu semua pemeluk agama yang meyakini bahwa agama > yang dipeluknya adalah agama benar akan setuju dengan gagasan tersebut. > > Bagaimanapun dan dalam bentuk apapun semua agama adalah berbeda. Ini > adalah sunnatullah (hukum alam) yang tidak bisa dibantah. Tembok > pemisah antar agama yang dianggap telah runtuh, sebetulnya masih tetap > menjulang tinggi, tidak akan bisa runtuh. Tembok itu dianggap runtuh > hanya oleh orang-orang yang tidak mau mengakui bahwa agama yang > dipeluknya adalah agama benar. > *** tidak lain pemicu kenapa orang2 membuat agama adalah utk menciptakan polarisasi kelompok, pembentukan cluster2 politik yg ujungnya adalah untuk merebut kekuasaan. agama sgt dekat dgn kekuasaan. motif pembentukan kelompok2 berbasis agama adalah utk mengambil hati orang sealiran yg pada akhirnya medirikan hegemoni kekuasaan.

