maklumlah mas, khan nyari duitnye emang bgini, paling laku & laris
menistakan islam dg mengenakan nama/baju/attribut islam itu sendiri,
lebih gede gajinye hehe..
KEKERASAN 'TANPA TUHAN'
Oleh : Akmal
assalaamu'alaikum wr. wb
Muak, jengah, jijik dan anti dengan agama ; begitulah kesan yang
secara provokatif ditampilkan oleh Luthfi Assyaukanie dalam artikelnya
yang berjudul "Aku Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Darwin : Serangan
Balik Kaum Ateis" (lihat di attachment). Seakan provokasi ini masih
kurang mengguncang, Luthfi mem-backup-nya pula dengan empat referensi
`tanpa Tuhan', yaitu :
*Christopher Hitchens. God is Not Great : How Religion Poisons
Everything. New York : Twelve, 2007.
*daniel C. Dennett. Breaking the Spell : Religion as a Natural
Phenomenon. New York : Viking, 2006.
*Richard Dawkins. The God Delusion. London : Bantam, 2006.
*Sam Harris. The End of Faith : Religion, Terror, and the Future
of Reason. New York : Norton, 2005.
Luthfi Assyaukanie adalah seorang `pemikir' (jika memang
provokasi-provokasinya hendak dianggap sebagai produk kegiatan
berpikir) yang sering dijadikan rujukan oleh Jaringan Islam Liberal
(JIL). Saking rajinnya membuat tulisan, situs JIL pun tidak lagi
dianggap cukup untuk menampung kreatifitas Luthfi. Kini, Luthfi aktif
mengisi situsnya sendiri. Dari situlah file attachment yang
disertakan di sini berasal.
Sebenarnya artikel Luthfi Assyaukanie kali ini benar-benar telah
mengalami penyakit secara keilmiahan, dan kesalahan fatalnya telah
terlihat bahkan sebelum kita membaca paragraf pertamanya. Daftar
referensi yang diajukan jelas-jelas tidak memberi ruang secuil pun
pada orang yang `pro-agama', karena keempat buku yang diajukan
kesemuanya mengacu pada dua teori : Tuhan itu tidak ada, dan agama itu
berbahaya. Dengan demikian, jelaslah bahwa artikel ini dibuat dengan
keberpihakan yang amat besar dan tidak bisa dijadikan acuan sama
sekali untuk menimbang baik-buruknya agama. Ini adalah sebuah artikel
propaganda yang seratus persen berpihak pada ateisme. Ironisnya,
artikel ini justru berasal dari seseorang yang memiliki komitmen
begitu tinggi pada organisasi induknya yang diberi nama : Jaringan
Islam Liberal.
Agaknya Luthfi sendiri mengalami kesulitan yang amat sangat untuk
menyembunyikan kebenciannya terhadap Islam. Di awal artikel, ia sudah
berusaha untuk `tampil objektif' dengan membuka paragraf dengan
kalimat : "Para pendukung Ateisme mestinya berterima kasih kepada
Osama bin Laden dan Jerry Falwell yang menjadikan agama begitu agresif
dan garang." Ditampilkanlah seorang `teroris Muslim' (Osama bin
Laden) dan seorang `provokator Kristen' (Jerry Falwell). Dalam logika
anak kecil yang emosional, ini sudah bisa dianggap adil. Sikap
`objektif' ini ditampilkannya sekali lagi pada akhir paragraf kedua,
dimana tokoh Islam, Syiah dan Kristen sama-sama disebut namanya
sebagai teroris. Akan tetapi pada paragraf selanjutnya, Luthfi
`kelepasan' ketika memberikan contoh-contoh teror jaman sekarang yang
dilakukan oleh `kaum beragama' :
"Kemunculan buku-buku tentang Ateisme belakangan ini dipicu oleh
berbagai peristiwa kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan agama.
Horor 9/11, peledakan stasiun kereta di Madrid dan London, bom bunuh
diri di Timur Tengah, dan aksi-aksi kekerasan dan keberingasan lainnya
mengusik kaum Ateis untuk kembali menyuarakan keyakinan lama mereka
bahwa agama memang buruk, agama hanya menyengsarakan manusia, dan tak
ada lagi alasan manusia untuk beragama."
Tragedi 9/11, peledakan stasiun kereta di Madrid dan London, semuanya
dituduhkan kepada umat Islam. Adapun bom jihad (yang disebutnya
sebagai `bom bunuh diri') memang benar sering dilakukan oleh umat
Islam. Dengan kata lain, Luthfi tengah mengatakan bahwa perbuatan
umat beragama, khususnya Islam, telah membuat kaum ateis semakin yakin
bahwa agama itu merusak. Penekanan khusus pada umat Islam disini,
meski implisit, menunjukkan `jati diri' Luthfi Assyaukanie yang
sebenarnya.
Untuk seorang pemikir masa kini, agaknya perlu dipertanyakan mengapa
Luthfi gagal mencantumkan sederet panjang aksi biadab kaum Zionis
terhadap Palestina dan Lebanon. Dulu, Quraish Shihab pernah bilang
bahwa suatu hal yang luar biasa ajaib namun terjadi secara rutin
lama-kelamaan akan dianggap sebagai hal biasa. Barangkali pembantaian
ala Zionis pun sudah menjadi biasa bagi Luthfi, sehingga tidak perlu
dicantumkan dalam daftar kekerasan di sini.
Di sisi lain, sebenarnya kita dapat dengan mudah memahami mengapa
Luthfi berusaha keras untuk membuat para pembaca lupa dengan kesadisan
Zionisme. Alasannya sederhana saja, yaitu karena hal tersebut
merupakan antitesis dari artikel Luthfi. Seperti diketahui, Zionisme
Internasional adalah sebuah gerakan yang ditentang oleh sebagian besar
kaum Yahudi religius. Para pendukung Zionisme bukanlah umat Yahudi
yang dikenal taat beragama, melainkan kaum sekulernya. Amnon
Rubinstein, seorang tokoh masyarakat Yahudi, menyebut Zionisme sebagai
"sebuah pemberontakan terhadap tanah nenek moyang mereka (kaum Yahudi)
dan sinagoga para Rabbi". Rabbi Hirsch, seorang agamawan Yahudi,
menyebut Zionisme sebagai sebentuk kekafiran, karena kaum Zionis ingin
mendefinisikan umat Yahudi sebagai sebuah entitas kebangsaan.
Zionisme adalah bukti nyata bahwa tindak kekerasan sama sekali bukan
monopoli umat beragama. Kaum sekuler dan ateis yang tidak
mengindahkan agama bahkan lebih giat menyebarkan kekerasan. Korban
tragedi 9/11 dan bom di Madrid dan London digabungkan menjadi satu
masih kalah jauh dibandingkan korban pembantaian `rutin harian' yang
dilakukan oleh kaum sekuler-ateis di dunia ini, termasuk Zionis dan
pendukungnya, terutama AS yang dipimpin oleh George W. Bush. Dan jika
harus melibatkan pula kaum ateis, tentunya Joseph Stalin dan Adolf
Hitler harus dimasukkan dalam perhitungan. Nah, hitung-hitungan
cermat yang semacam inilah yang dihindari oleh Luthfi, karena akan
`membunuh' artikelnya sendiri.