Tebak-Tebakan dengan Tuhan
Oleh : Akmal, ST.
assalaamu'alaikum wr. wb.
Memahami maksud Tuhan memang tidak mudah. Ada hikmah yang dapat
dengan mudah dipahami oleh manusia, namun ada pula yang butuh
perenungan selama beberapa waktu, bahkan hingga memakan waktu
bertahun-tahun, atau bahkan jawabannya baru terlihat beberapa generasi
sesudahnya. Generasi sahabat Rasulullah saw. dapat dengan mudah
memahami tujuan diwajibkannya shaum dengan bantuan ayat ke-183 dari
surah Al-Baqarah, namun baru generasi cucu-cicitnyalah yang bisa
memahami bagaimana matahari dan bulan beredar pada orbitnya,
sebagaimana yang telah disampaikan dalam beberapa ayat Al-Qur'an.
Kebijaksanaan sematalah yang membuat para sahabat Rasulullah saw. dan
para penerusnya untuk tidak buru-buru memberi vonis pada apa-apa yang
tidak mereka mengerti. Jika ada ayat atau perkataan Rasulullah saw.
yang belum sepenuhnya mereka pahami, mereka tidak mencapnya sebagai
ayat yang tak berguna, tak realistis, atau tak bisa dipakai. Mereka
hanya akan mengecek kembali periwayatan ayat atau hadits tersebut, dan
jika tidak ada cacatnya, maka mereka beriman padanya. Kalau sekarang
mereka belum paham, mungkin besok-besok tidak demikian. Jika
generasinya tidak memiliki cukup peralatan untuk menangkap informasi
dari suatu ayat atau hadits, maka mungkin generasi sesudahnya lebih
beruntung. Memang demikianlah yang selalu terjadi dalam sejarah
penafsiran Al-Qur'an dan hadits.
Yang menjadi masalah adalah sikap terburu-buru manusia yang memandang
dunia sebagai ruang yang sesempit akal pikirnya sendiri. Mereka
pikir, tidak ada misteri lagi di jagat raya ini, sehingga untuk segala
sesuatunya, akal harus dijadikan wasit, juri dan hakim. Jika tidak
mampu dicerna oleh akalnya, maka ayat dan hadits pun bebas untuk
direvisi. Inilah sikap yang tak pernah ditunjukkan oleh kaum
cendekiawan sejati. Mereka yang benar-benar bergelut dengan ilmu
pastilah tahu persis bahwa di dunia ini masih banyak hal yang belum
tuntas digali. Jangankan galaksi seberang, planet tetangga pun belum
kita singgahi. Jangankan mengeksplorasi kehidupan di luar angkasa,
spesies dalam perut bumi dan lautan pun belum beres didata.
Mereka yang besar kepala menganggap bahwa orang-orang yang beriman
kepada Al-Qur'an dan Al-Hadits sepenuhnya meskipun tidak semuanya
mampu dipahami sebagai orang-orang yang tidak kritis, jumud, dan
literalis. Sebagai alternatif atas sikap kerendahan hati di hadapan
Allah Yang Maha Tahu, mereka menyarankan pola pikir yang mereka beri
nama `substansialis'. Istilah ini digunakan sesuka hati, dan banyak
juga yang tidak setuju. Sebab, kebanyakan ulama berpendapat bahwa
Islam memang substansialis, dan dengan demikian, mengajukan pola pikir
substansialis pada ajaran agama yang sudah substansialis adalah rancu,
atau paling tidak mengundang pertanyaan.
Sebagai contoh, apakah substansi shalat? Istilah "shalat" pada
awalnya bermakna "doa". Meski demikian, shalat sebagaimana yang
dicontohkan oleh Rasulullah saw. jelas berbeda dengan doa, karena ia
dilengkapi dengan aturan-aturan waktu, gerakan dan bacaan yang sangat
spesifik. Doa secara umum boleh diucapkan dalam bahasa apa saja,
sedangkan shalat harus dalam bahasa Arab sebagaimana Rasulullah saw.
melakukannya.
Jika shalat direduksi menjadi doa (orang-orang `substansialis'
menganggap bahwa shalat adalah doa, karena substansinya adalah doa),
maka tidak perlu lagi aturan-aturan waktu, gerakan dan bacaannya.
Inilah contoh sikap terburu-buru yang mengakibatkan blunder bagi
pelakunya sendiri. Pasalnya, kini banyak penelitian yang menunjukkan
bahwa aturan-aturan khusus dalam shalat itu juga bersifat substantif.
Ada yang berpendapat bahwa penetapan waktu-waktu shalat (bahkan
termasuk yang sunnah) itu didesain sedemikian rupa agar sesuai dengan
jam biologis manusia. Ada juga penemuan-penemuan medis yang
menunjukkan bahwa gerakan-gerakan shalat memberikan efek positif bagi
kesehatan manusia. Perlu digarisbawahi juga bahwa keseragaman bacaan
shalat adalah salah satu perekat umat Islam sedunia, sehingga Muslim
Polandia bisa shalat berjamaah dengan Muslim Nigeria, dan Muslim Kutub
Utara bisa menjadi imam bagi Muslim Selandia Baru. Dengan demikian,
tidak ada yang tidak substantif dari ibadah shalat. Itulah sebabnya
Rasulullah saw. bersabda, "shalatlah kamu sebagaimana aku shalat,"
bukannya membiarkan masing-masing manusia merumuskan cara shalatnya
sendiri-sendiri.
Blunder serupa juga pernah dilakukan oleh Ahmad Mushaddeq yang tempo
hari mengambil peran sebagai nabi palsu. Menurutnya, daripada shalat
lima waktu tapi tidak berbekas pada akhlaq, lebih baik shalat tengah
malam dan dilanjutkan dengan merenung. Mushaddeq keliru total dalam
mendefinisikan permasalahan, dan akhirnya salah pula dalam merumuskan
jalan keluarnya. Jika ada yang shalat lima waktu tapi tetap korupsi,
maka yang salah bukan ajaran shalatnya, melainkan penghayatannya.
Jika memang kurang penghayatan, maka shalat lima waktu yang fardhu itu
hendaknya dibenahi dulu, kemudian boleh ditambah dengan shalat malam,
dan tentu saja boleh ditambah dengan perenungan. Bahkan Rasulullah
saw. tidak membatasi kegiatan merenung atau introspeksi diri hanya
sesudah shalat tengah malam. Dengan demikian, ajaran Rasulullah saw.
jauh lebih komprehensif daripada ajaran Mushaddeq. Merevisi ajaran
Rasulullah saw. dengan ajaran Mushaddeq adalah kecerobohan yang sangat
fatal.
Mushaddeq juga menganggap shaum Ramadhan tidak perlu, dan
menggantikannya dengan shaum Senin-Kamis. Beginilah pola pikir
seseorang yang tidak paham dunia pendidikan. Sebagai orang yang aktif
dalam dunia olahraga (Mushaddeq aktif dalam dunia bulu tangkis
pen.), Mushaddeq mestinya paham bagaimana seorang atlet mengkondisikan
dirinya. Untuk mencapai level yang lebih baik, seorang atlet harus
`dikarantina' dan menjalani pemusatan latihan dalam jangka waktu
tertentu. Misalnya untuk menghadapi Sea Games, diadakan Pelatnas
selama beberapa bulan. Setelah Sea Games selesai, maintenance tidak
perlu dilakukan dengan intensitas yang sama dengan Pelatnas. Cukuplah
berlatih 3-4 hari dalam seminggu untuk menjaga kondisi. Ramadhan
tidak ubahnya Pelatnas, sementara shaum Syawal, Senin-Kamis, Arafah,
dan shaum-nya Nabi Daud as. adalah latihan-latihan untuk menjaga
kondisi agar tidak kendor lagi. Kalau latihan maintenance dilakukan
tanpa Pelatnas, maka lupakan saja prestasi puncak di Sea Games.
Susahnya, dari masa ke masa ada saja yang berusaha bermain
`tebak-tebakan' dengan Allah. Mereka mengira-ngira maksud Allah,
bahkan kadang mereka merasa yakin seratus persen dengan hasil
pemikirannya sendiri. Kadang-kadang mereka menggunakan pola pikir
yang nampak ilmiah, namun sebenarnya melenceng jauh dari
prinsip-prinsip keilmiahan.
Ada yang menggunakan pola pikir `regresi' untuk memahami berbagai
hikmah dalam ajaran Islam. Sebagai contoh, kebolehan poligami
ditafsirkan sebagai kewajiban untuk bermonogami berdasarkan regresi
khayalan mereka sendiri. Aturan jahiliyah tidak memberi batas pada
poligami, sedangkan Islam memberi batasan seorang lelaki untuk
memiliki maksimal empat orang istri saja, itu pun dengan syarat-syarat
yang berat.
Sederhananya, regresi adalah penggunaan data dalam jumlah banyak untuk
melihat trend atau kecenderungannya. Seribu data akan lebih baik
daripada seratus data, karena hasilnya akan lebih komprehensif.
Anehnya, kaum liberal menyimpulkan bahwa Islam sebenarnya mewajibkan
monogami hanya berdasarkan dua data saja, yaitu :
*
Kaum jahiliyah membolehkan seorang lelaki memiliki istri
sebanyak mungkin.
*
Islam hanya membolehkan seorang lelaki memiliki maksimal empat
orang istri.
Secara ilmiah, regresi semacam ini tak dapat dibenarkan, karena
datanya terlalu minim. Berbeda misalnya, dengan masalah perbudakan.
Kaum jahiliyah mengijinkan perbudakan, dan Islam memberi aturan yang
ketat. Dalam Islam, hamba sahaya diperlakukan dengan sangat baik dan
terhormat. Selain itu, memerdekakan budak dianggap sebagai amal yang
sangat terpuji, sehingga para sahabat Rasulullah saw. rajin
memerdekakan budak-budaknya. Di sisi lain, ada pula aturan-aturan
tertentu yang mengharuskan seorang Muslim menebus kesalahannya dengan
memerdekakan budak. Dengan data-data seperti ini, bolehlah
menyimpulkan bahwa Islam pada prinsipnya menentang perbudakan, namun
tidak langsung mengharamkannya sebagai strategi dakwah.
Orang-orang yang berilmu menggunakan akalnya untuk mencerna data-data
yang sudah diberikan di dalam Al-Qur'an dan hadits, sedangkan mereka
yang bodoh atau malas akan menebak-nebak sendiri. Mereka yang cerdas
adalah yang menghabiskan waktunya untuk berpikir dan mengolah data,
sementara yang paling bodoh adalah yang mengira bahwa di dunia ini
sudah tak ada lagi yang tak dia mengerti.
wassalaamu'alaikum wr. wb.