Hidup Dengan Asumsi (Bagian Pertama)    
Oleh : Akmal

assalaamu'alaikum wr. wb.

 

Asumsi adalah sebuah perkiraan yang biasa dibuat oleh manusia untuk
menyederhanakan suatu masalah.  Biasanya ia digunakan ketika
menganalisa suatu masalah dikarenakan adanya variabel-variabel
tertentu yang tidak terukur / diketahui.  Asumsi juga biasa digunakan
untuk menyingkat waktu penyelesaian masalah dan biasanya amat erat
terkait dengan pengalaman pribadi penggunanya.

 

Pada titik ini, barangkali asumsi terlihat sangat tidak ilmiah,
padahal tidak demikian.  Asumsi justru sangat berhubungan dengan
penyelesaian masalah secara ilmiah dan digunakan secara luas dalam
sains.  Sederhananya, Anda tidak mungkin menemukan aspek dalam sains
yang tidak melibatkan asumsi, meskipun sains sudah kadung
`dipuja-puji' sebagai ilmu pasti.

 

Pada dasarnya ilmu pasti itu tidak ada (atau lebih tepatnya : ilmu
pasti itu hanya milik Allah SWT).   Dalam perhitungan, biasanya kita
menggunakan nilai percepatan gravitasi yang sama untuk semua tempat di
muka bumi, padahal tidak demikian adanya.  Segala perhitungan harus
didasarkan pada sebuah asumsi, yaitu bahwa segala kondisi yang
diinginkan mesti tercapai.  Kita bisa saja mengestimasi produktifitas
sebuah pabrik dalam sehari, namun segala perhitungan yang kita buat
akan kehilangan akurasinya ketika terjadi pabrik diguncang gempa
besar, generatornya meledak, atau disapu habis oleh tsunami. 
Jangankan force majeur, kecelakaan yang terjadi pada salah seorang
operator mesin saja bisa menyebabkan produktifitas pabrik anjlok drastis.

 

Untuk mengatasi masalah yang tak teramalkan ini, digunakanlah asumsi.
 Setiap pengelola pabrik pasti memiliki persiapan untuk menghadapi
masalah-masalah seperti ini.  Oleh karena itu, jika pabrik itu
seharusnya berproduksi tiga ratus hari dalam setahun, misalnya, maka
sebaiknya pengelola pabrik bersiap menanggulangi kerugian yang mungkin
terjadi ketika pabrik terpaksa berhenti berproduksi.  Sebagai asumsi,
katakanlah, dalam setahun terjadi 4 hari penuh ketika pabrik tidak
berproduksi.  Maka perkiraan kerugian pun diperkirakan, dan kemudian
perencanaan pun akan lebih matang karena melibatkan dua buah asumsi :
perkiraan keuntungan dan perkiraan kerugian.  Semuanya berdasarkan
asumsi.  Perencanaan apa yang bisa Anda rencanakan jika tidak
menggunakan asumsi?

 

Meskipun sama sekali tidak `eksak', namun contoh-contoh di atas
menunjukkan bahwa asumsi itu sendiri sebenarnya amat bermanfaat jika
kita tahu cara menggunakannya.  Secara sederhana, sebuah asumsi
digunakan untuk kemaslahatan manusia, bukan sebaliknya.

 

Dari kacamata ilmiah, sesungguhnya sama sekali tidak ada alasan untuk
melarang pornografi dan pornoaksi, karena asumsi-asumsi yang digunakan
oleh para penentang aturan tersebut sama sekali tidak tepat. 
Asumsi-asumsi yang mereka gunakan antara lain adalah sebagai berikut :

    *
      Ada kerancuan ketika memisahkan antara `sensualitas' dengan
`pornografi'.  Sesuatu yang `sensual' dapat disebut sebagai karya seni
oleh sebagian orang, namun juga bisa membangkitkan birahi sebagian
yang lain, dan karenanya juga bisa disebut sebagai `pornografi'.
    *
      Seorang perempuan yang berpakaian minim tidak boleh
dipersalahkan, karena ia (diasumsikan) tidak memiliki niat buruk
dengan pakaiannya itu.  Memang ada orang yang merasa terganggu dengan
gaya pakaiannya, tapi ada pula yang tidak.

 Jadi, ketika sebuah gambar yang mengumbar aurat `dilempar' ke publik,
maka ada dua kemungkinan respon publik, yaitu merasa terganggu atau
tidak.  Ada yang menganggapnya `sensual', ada pula yang menganggapnya
tak pantas.  Anggaplah semua orang mampu menyatakan pendapatnya secara
jujur.  Sekarang, solusi apa yang cocok bagi kemaslahatan masyarakat?

 

Ketika mendesain sebuah konstruksi bangunan, seorang engineer teknik
sipil pasti membayangkan yang buruk-buruk ; topan badai, hujan salju,
air bah, gempa, dan sebagainya.  Bangunan yang didesain dengan asumsi
tidak akan terjadi bahaya apa pun terhadapnya adalah bangunan yang
sangat buruk.  Karena bencana alam tak dapat diramal, maka
digunakanlah asumsi.  Bangunan pun dikonstruksi dengan persiapan yang
dianggap cukup untuk menghadapi bahaya yang diasumsikan itu.  Jelaslah
bahwa logika ilmiah menghendaki kita untuk mempersiapkan diri
menghadapi bencana sebelum ia benar-benar terjadi.  Kata orang : hope
for the best, but prepare for the worst.  Pola yang sama harus pula
diterapkan dalam menangani masalah pornografi dan pornoaksi.

 

Anggaplah memang ada manusia yang menganggap aurat lawan jenisnya
sebagai objek sensualitas belaka dan sama sekali tidak melampaui garis
batas kepantasan.  Akan tetapi, asumsi tetaplah harus digunakan pada
sisi kemungkinan terburuknya.  Kalau memang orang-orang tidak menjadi
terangsang dengan pengumbaran aurat, maka tentu takkan ada masalah. 
Tapi justru disitulah masalahnya ; kita harus mengasumsikan adanya
masalah!

 

Masalah itu memang benar-benar ada.  Fakta menunjukkan bahwa banyak
sekali manusia di muka bumi ini yang pikirannya mudah teralihkan
akibat aurat lawan jenis yang tersaji di depan matanya.  Ketertarikan
yang cuma sekilas bisa mengundangnya untuk melihat lebih jauh, dan
kemudian menguasai pikirannya sehingga ia tergoda untuk melakukan
hal-hal yang tidak baik.  Ini adalah sebuah fakta, dan ia harus
digunakan sebagai sebuah asumsi, jika memang menginginkan kemaslahatan
bagi masyarakat.  Asumsi bahwa manusia tidak terganggu dengan
`sensualitas' sama sekali tidak bermanfaat, karena pada kenyataannya
ada dan seringkali terjadi masalah karena hal itu.  Satu-satunya
pemecahan logis yang bisa kita ambil adalah dengan menggunakan the
worst case scenario, yaitu bahwa manusia secara umum akan terganggu
oleh pengumbaran aurat.  Oleh karenanya, penyelesaian logisnya adalah
persis sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam sejak belasan abad
yang lalu.  Aurat harus ditutup dari pandangan manusia yang tak berhak
melihatnya, tak peduli bagaimana respon manusia secara individu.


Ironisnya, mereka yang mengklaim dirinya sebagai kaum yang intelek,
rasionalis, ilmiah dan terpelajar justru sering terjebak dengan asumsi
yang tidak mendatangkan keuntungan baginya.  Mereka menggunakan
asumsi-asumsi yang tidak akan menolongnya, karena tidak memandang
kemungkinan terburuk yang akan terjadi.  Mereka terlalu berani
mengambil `ijtihad' tanpa merasa khawatir akan terperosok dalam sebuah
kesalahan yang amat buruk dan memalukan.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

Kirim email ke