yah, namanya orang lg cari makan pak? yg haram aja susah musti blajar
dlu ke luar negri, nulis di blog atau komunitasnya, bikin buku, susah
khan?
suaranya siy ga beda jauh dg suara orientalis, yah mereka antek2nya
orientalis, blajarnya aja di barat, negri orientalis hehe
 

Yang aneh dari Islam Liberal ?           
Friday, 05 January 2007 07:10


Berikut ini adalah petikan dari ucapan beberapa tokoh Islam Liberal di
Indonesia disertai referensi yang cukup jelas untuk menjamin
otentisitasnya. Saya berusaha memberikan jawaban seobjektif dan
sesederhana mungkin dengan cara yang dapat dipahami setiap orang.
Hanya kepada Allah-lah kami berlindung dari godaan syetan dari
golongan jin dan manusia yang terkutuk.
 
"Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan
yang paling benar." (Ulil Abshar Abdalla, dari majalah GATRA, 21
Desember 2002).

Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah : apakah Ulil sudah
pernah melakukan studi perbandingan agama sebelumnya? Jika ya,
agama-agama apa sajakah yang sudah diperbandingkannya? Selain itu,
sebagai manusia yang intelek, seharusnya ia tidak membuat klaim begitu
saja, melainkan memberikan bukti-bukti yang konkrit.

Alangkah lebih baik jika ia membuat sebuah buku yang membuktikan bahwa
semua agama itu sama, atau menyelenggarakan sebuah seminar tentang
itu, kemudian menjadikannya sebagai rujukan dalam wawancara, agar para
pembaca tidak menelan bulat-bulat apa yang dikatakannya. Kecuali,
barangkali, ia memang ingin ucapannya ditelan bulat-bulat.

Jika ini yang terjadi, maka Ulil dan Islam Liberal sebenarnya adalah
sebuah gerakan ekstremis yang dilandasi oleh pemahaman yang fanatik.
Terakhir, jika memang ia menganggap semua agama itu benar, mengapa ia
mencatut nama Islam dalam organisasinya? Alangkah lebih baiknya ia
menyatakan diri sebagai penganut agama liberal dan mengubah nama JIL
menjadi JAL (Jaringan Agama Liberal). Menganut paham `semua agama
benar' sekaligus menggunakan nama `Islam' adalah suatu kontradiksi
yang amat mengherankan.

"Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah
mukjizat." (Ulil Abshar Abdalla, dari koran Jawa Pos, 11 Januari 2004).

Sekali lagi, perlu dipertanyakan (atas nama keilmiahan) sejauh mana
Ulil telah melakukan penelitian dan memperbandingkan semua kitab suci
dari berbagai agama. Samakah Al-Qur'an dengan Bible? Bagaimana Ulil
bisa berpendapat bahwa semua kitab suci adalah mukjizat? Di manakah
bukti-bukti kongkritnya? Jika ia tidak bisa menjawab, maka sekali
lagi, jelaslah bahwa JIL adalah organisasi ekstremis yang anggotanya
fanatik dan taqlid buta pada pemimpinnya.

"Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah
pluralisme antaragama, yakni pandangan bahwa siapa pun yang beriman –
tanpa harus melihat Agamanya apa – adalah sama di hadapan Allah.
Karena, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu." (Budhy Munawar
Rahman, dari buku Wajah Liberal Islam di Indonesia terbitan JIL).

Tentu saja Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu, Yang Maha Esa. Apa
pun agamanya, hanya ada satu ilah yang memegang kuasa penuh dan tak
tertandingi. Namun masing-masing agama memiliki definisi yang berbeda
tentang ilah ini.

Umat Islam percaya pada Allah, umat Kristiani percaya pada konsep
trinitasnya. Samakah Allah dalam pemahaman agama Islam dengan konsep
trinitas yang dipegang teguh oleh umat Kristiani? Rasanya saya belum
pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa kedua konsep
ketuhanan ini sama.

Selain itu, nampaknya Budhy Munawar Rahman ini khawatir bahwa
memberikan predikat `kafir' pada umat agama lain akan memicu kekerasan
antarumat beragama. Padahal, secara bahasa, `kafir' berasal dari kata
yang sama dalam bahasa Arab yang artinya `ingkar'. Orang yang kafir
adalah orang yang ingkar terhadap sesuatu (dalam hal ini ingkar
terhadap ajaran Islam). Tidak ada konsekuensi yang buruk sama sekali
atas keingkarannya itu, karena Islam tidak merasa perlu memaksa orang
lain untuk memeluk agama Islam.

Kekhawatiran kaum liberalis ini nampaknya mereka warisi dari para
mentornya yang berasal dari Eropa yang masih trauma dengan peristiwa
inkuisisi, yaitu pembantaian besar-besaran terhadap siapa saja yang
dikategorikan `kafir' oleh pihak Gereja.

"Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga
Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap
pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat
memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan,
penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah
jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini, kerja sama dan
dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin." (Abdul Munir Mulkhan, dari
buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar).

Pertama, ia mengawali pernyataan ini dengan kata "jika". "Jika semua
agama memang benar sendiri….." artinya adalah "belum tentu semua agama
memang benar sendiri…..". Dengan sendirinya, semua pernyataan setelah
itu adalah sebuah hipotesa belaka dan tidak perlu dianggap sebagai
sebuah fakta, karena ia juga tidak pernah mengajukan secuil bukti
dalam bentuk apa pun.

Kedua, ia melakukan sebuah kesalahan fatal, yaitu dengan menganggap
dirinya sudah sama dengan Tuhan atau mampu berpikir layaknya Tuhan.
Dari mana datangnya teori bahwa semua agama pasti diridhai oleh Allah?
Entahlah! Saya rasa tidak perlu dijawab, karena ia sendiri tidak
mengajukan alasan apa pun.

Kesalahan fatal ketiga adalah dengan mengatakan bahwa teorinya (yaitu
dengan menganggap semua agama sama) adalah pembuka jalan bagi kerja
sama dan dialog antarumat beragama. Kenyataannya, kerja sama dan
dialog dapat terjadi tanpa harus mengakui teori Abdul Munir Mulkhan
tersebut. Saya menganggap kalimat terakhirnya itu adalah sebentuk
megalomania yang menganggap bahwa teorinya adalah teori sapu jagat
yang bisa menyelesaikan masalah.

"Jadi, pluralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan
(sunnatullah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin
dilawan atau diingkari." (Nurcholis Madjid, dari buku Islam Doktrin
dan Peradaban).

Perlu dipahami bahwa pluralitas dan pluralisme adalah dua hal yang
berbeda. Pluralitas adalah fakta bahwa manusia diciptakan dalam
keadaan yang berbeda-beda, sedangkan pluralisme (menurut definisi
Nurcholis Madjid sendiri, namun tidak disetujui oleh Frans Magnis
Suseno) adalah paham yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, yaitu
sama-sama benar.

Apakah paham ini adalah sunnatullah? Apakah ia tak dapat dilawan?
Sebaiknya Nurcholis Madjid bersikap bijak dan menunggu hingga akhir
jaman untuk melihat bukti apakah paham ini bisa dilawan atau tidak.
Kenyataannya, banyak orang yang sedang berjuang untuk melawannya.
Salah satunya adalah saya sendiri. Jadi, kalau Cak Nur bilang bahwa
pluralisme tidak mungkin dilawan, maka saya akan menjawab : "We'll see."

"Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur'an adalah pengakuan
eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas
beragama dan dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan.
Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai pluralisme keagamaan
dan menolak eksklusifisme. Dalam pengertian lain, eksklusifisme
keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Qur'an. Sebab Al-Qur'an
tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya." (Alwi
Shihab, dari buku Islam Inklusif ; Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama).

Agaknya Alwi Shihab terlalu bersikap curiga pada umat Islam
sampai-sampai perlu diinklusifkan. Padahal sudah sejak dahulu umat
Islam tidak pernah bersikap eksklusif, bahkan berhubungan baik dengan
agama mana pun.

Jika memang ada sebagian Muslim yang bersikap ofensif terhadap umat
agama lain, maka yang perlu dilakukan adalah menasihatinya untuk
kembali pada ajaran Rasulullah saw., bukan mengarang-ngarang ajaran
baru yang disebut sebagai `Islam Inklusif' atau `Islam Pluralis'.
Embel-embel apa pun yang disandingkan dengan nama Islam menunjukkan
bahwa ia bukanlah Islam murni. Apakah Alwi Shihab hendak berkata bahwa
Islam ini kekurangan sehingga perlu dilengkapi? Sungguh sebuah gugatan
yang amat tidak pantas terhadap Allah SWT!!!

"Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi
dan agama-agama. Nietzsche menegasikan adanya `Kebenaran Tunggal' dan
justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi
pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama – entah
Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun
lainnya – adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan
ditemukan pada semua agama. Agama-agama itu diibaratkan, dalam nalar
pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many),
tapi berasal dari satu akar (the one). Akar yang satu itulah yang
menjadi asal dan orientasi agama-agama. Karena itu, mari kita
memproklamasikan kembali bahwa pluralisme sudah menjadi hukum Tuhan
(sunnatullah) yang tidak mungkin berubah. Dan, karena itu, mustahil
pula kita melawan dan menghindari. Sebagai muslim, kita tidak punya
jalan lain kecuali bersikap positif dan optimistis dalam menerima
pluralisme agama sebagai hukum Tuhan." (Sukidi, dari koran Jawa Pos,
11 Januari 2004).

Dari uraian yang panjang ini, mari kita bagi menjadi dua bagian, yaitu
sebab dan akibat. Pernyataan `sebab' dalam rangkaian kalimat ini
adalah pendapat dua orang manusia, yaitu Nietzsche dan Mahatma Gandhi.
Dua orang manusia! Bernapas, berdaging, dan kini sudah sama-sama mati.

Apa akibat yang ditimbulkan dari `sebab' tadi? Karena Nietzsche dan
Mahatma Gandhi berkata begini-begitu, maka (menurut Sukidi) kita harus
memproklamasikan pluralisme sebagai hukum Tuhan. Siapakah sebenarnya
Nietzsche dan Mahatma Gandhi, hingga kata-katanya harus kita telan
bulat-bulat? Sesukses apakah hidupnya dibandingkan dengan Muhammad
saw.? Jika kata-kata Rasulullah saw. (yang merupakan manusia paling
berpengaruh di dunia hingga detik ini) pun harus dikritisi (menurut
kaum liberalis dan pluralis), maka mengapa dua manusia ini tidak perlu
dikritisi? Kritik saya satu saja : buktikan bahwa semua agama
mengandung kebenaran yang sama! Umat Islam tidak mungkin menerima
konsep trinitas, dan umat Kristiani pastilah menolak kalau kaum
perempuannya dipakaikan jilbab. Samakah Islam dan Kristen? Samakah
Hindu dan Yahudi? Samakah Buddha dan Zoroaster?

Adapun mengenai masalah pluralisme yang dianggap sebagai sunnatullaah
yang tidak bisa dilawan, saya sudah menjelaskannya pada bagian sebelumnya.

"Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan,
mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang
Mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain;
Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Gandhi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun,
Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!" (Sumanto Al-Qurtuby,
dari buku Lubang Hitam Agama).

Sekali lagi, pernyataan ini diawali dengan kata "jika" dan "mungkin".
Artinya, hanya sebuah kemungkinan yang mampu dipikirkan oleh benak
seorang Sumanto. Saya menganggapnya sebagai sebuah hipotesa yang tidak
perlu ditanggapi serius karena memang sama sekali tidak ilmiah.


* * * * * * *

Anda perlu gambaran lebih lanjut? Saya akan mengutip beberapa tulisan
Sumanto Al-Qurtuby dalam bukunya yang berjudul Lubang Hitam Agama.
Silakan Anda menilai sendiri!

    *
      "Bahkan sesungguhnya hakekat Al-Qur'an bukanlah `teks verbal'
yang terdiri atas 6666 ayat bikinan Utsman itu melainkan
gumpalan-gumpalan gagasan." (hal. 42)
    *
      "Al-Qur'an bagi saya hanyalah berisi semacam `spirit ketuhanan'
yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh Nabi." (hal. 42)
    *
      "Seandainya (sekali lagi seandainya) Pak Harto berkuasa ratusan
tahun, saya yakin Pancasila ini bisa menyaingi Al-Qur'an dalam hal
`keangkeran' tentunya." (hal. 64)
    *
      "Di sinilah maka tidak terlalu meleset jika dikatakan,
Al-Qur'an, dalam batas tertentu, adalah "perangkap" yang dipasang
bangsa Quraisy (a trap of Quraisy)." (hal. 65) 

Na'uudzubillaah!

Kirim email ke