TAMBAHAN PERTIMBANGAN:

Cobalah buka-buka Al-Quranu al-Kariim, Allah swt memberi petunjuk bahwa kaum 
munafiqin dan kaum musyrikin selalu mengatakan, bahwa mereka "menerima dan 
mendengar" Al-Quran TETAPI tidak bersedia melaksanakannya. Hal ini terjadi di 
zaman rasulullah Muhammad saw MASIH HIDUP dan menyampaikan dakwah beliau. 

Sesudah rasulullah wafat terlebih-lebih lagi pengkhianatan dan penggerogotan 
terhadap Al-Dinu al-Islam secara ideologis dilaksanakan dengan MEMBEKUKAN 
Petunjuk Wahyu Ilahiyah kedalam lemari pendingin theologi tradisional 
masyarakat perbudakan yang telah berlangsung ribuan tahun sebelumnya. Setelah 
beku betul kemudian dicelup (shibghoh) dalam "kesucian" virtual (lamunan, 
angan-angan, fantasi, dzhon) dan ditempelkan ke dinding Ka'bah menggantikan 
patung-patung Uza dan Latta dll. Al-hasil adalah pemahaman orthodox-konservatif 
 yang menjadikan Al-Dinu al-Islam sebagai suatu agama tradisi nenek-moyang 
tanpa ruh PEMBEBASAN bagi manusia dan masyarakatnya dari kemiskinan, 
ketidak-adilan, kebodohan dan kebiadaban. Hingga saat ini musuh-musuh Al-Dinu 
al-Islam di zaman rasulullah Muhammad saw untuk sementara "berhasil" 
memenjarakan Al-Dinu al-Islam di dalam penjara bola kristal "agama, religion 
dan angan-angan suci". 

Dengan keberhasilan dalam tingkat tertentu atas pembacaan dan pemahaman manusia 
terhadap asal-usul kelahiran alam semesta seisinya termasuk pemahaman terhadap 
mula-buka keberadaan manusia di Bumi yang dijelaskan oleh firman-firman 
Al-Kauniyah, maka di masa datang MENYATUNYA PEMAHAMAN firman Quraniyah dan 
firman Kauniyah akan membebaskan Al-Dinu al-Islam dari penjara bola kristal 
"agama, religion" dan menjadi ideologi yang membebaskan manusia dan 
masyarakatnya dari kebodohan, kejahilan dan kebiadaban tuan-tuan budak orthodox 
dan modern. 

Wassalam,
A.M

   
  ----- Original Message ----- 
  From: sipitung68 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, June 19, 2008 5:59 AM
  Subject: [ppiindia] Modus Operandi Mutakhir Dalam Mendiskreditkan Islam


  assalaamu'alaikum wr. wb.

  Musuh-musuh Islam (termasuk musuh di dalam selimut) memiliki banyak
  cara untuk mendiskreditkan Islam. Salah satu cara terbaik yang bisa
  mereka lakukan adalah dengan cara menyesatkan opini masyarakat,
  sehingga umat Islam teradu domba dan tidak bisa lagi menentukan mana
  yang benar dan mana yang salah

  Banyak sekali ragam penyesatan opini yang bisa kita lihat di
  tengah-tengah masyarakat. Jika ada sebuah media massa yang menyebut
  nama `Negara Israel', maka ini pun adalah sebuah penyesatan opini. 
  Seolah-olah ada dua negara yang berdaulat yang tengah bersengketa
  memperebutkan tanah Palestina. Padahal `Negara Israel' sendiri cacat
  secara hukum, karena merupakan bentuk dari penjajahan. Kita dibuat
  lupa bahwa dahulu Inggris datang dan mencaplok tanah Palestina,
  kemudian sebagian diberikan kepada kaum Yahudi, dan mereka menyebutnya
  sebagai `Negara Israel'.

  Bagaimana pendapat Anda jika VOC dihidupkan kembali, kemudian bangsa
  ini diperbudak, dirampas tanahnya, kemudian sebagian diberikan kepada
  bangsa Belanda? Sama tidak masuk akalnya dengan pengakuan terhadap
  `Negara Israel'.

  Karena sebagian masyarakat sudah kadung menyangka bahwa di Timur
  Tengah sana sedang berkecamuk peperangan antara dua bangsa, maka
  definisi pelanggaran HAM pun jadi kabur. Bangsa Palestina yang
  meledakkan bom dan menembaki warga `Negara Israel' pun dianggap
  melanggar HAM. Padahal, kejadian seperti ini sama wajarnya seperti
  Imam Bonjol yang memimpin masyarakat Minang untuk `membantai' pasukan
  Belanda, atau Teuku Umar yang `mengkhianati' Belanda dan berbalik
  menyerangnya. Sangat wajar jika kaum terjajah melakukan segala cara
  untuk mengusir para penjajah. Segala cara!

  Jaringan Islam Liberal (JIL) bersama partner sejatinya, The Asia
  Foundation, pernah menerbitkan sebuah buku berjudul "Syariat Islam :
  Pandangan Muslim Liberal". Buku itu ditulis secara `keroyokan'
  disertai laporan dari sebuah acara diskusi. Dalam buku itu, Saiful
  Mujani, salah satu penulisnya, memaparkan beberapa contoh kasus
  penerapan syariat Islam tanpa demokrasi. Salah satu contoh kasus yang
  diambilnya adalah Arab Saudi.

  Sejak awal, pengambilan contoh kasus seperti ini adalah sebuah
  penyesatan opini. Arab Saudi tidak bisa dikatakan telah menerapkan
  syariat Islam. Sejak kapankah bentuk kerajaan dianggap sesuai dengan
  syariat? Siapakah yang mengatakan sistem kerajaan ekivalen dengan
  sistem khilafah Islamiyah? Atas dasar apa Arab Saudi dianggap sebagai
  representasi atas penerapan syariat Islam yang baik?

  Jika kita telah berhasil digiring untuk berpendapat bahwa Arab Saudi
  adalah representasi penerapan syariat Islam, maka selanjutnya, melalui
  tulisannya, Saiful Mujani berusaha membuat kita mengakui bahwa
  demokrasi tidak berkembang dengan baik di Arab Saudi sebagai akibat
  dari syariat Islam. Akan tetapi, jika kita jeli, maka kita tahu bahwa
  Arab Saudi bukanlah representasi dari syariat Islam. Oleh karena itu,
  kegagalan Arab Saudi tidak bisa disimpulkan sebagai kegagalan syariat
  Islam.

  Berbicara masalah poligami bahkan bisa menjadi lebih seru lagi. Nia
  Dinata menyutradarai sebuah film yang berjudul "Berbagi Suami", yang
  dibintangi oleh nama-nama termahsyur, yaitu Jajang C. Noer, Rieke Dyah
  Pitaloka, Ria Irawan dan Shanty (mantan VJ MTV). Tema sentral film
  ini adalah pada kehidupan sebuah keluarga di mana sang suami memiliki
  tiga orang istri yang tinggal serumah. Konflik terjadi - sebagaimana
  dapat diperkirakan - dan inilah yang menjadi daya tarik ceritanya.

  Bagaimana komentar salah satu bintangnya, Rieke Dyah Pitaloka? 
  "Setelah saya membintangi film ini, saya semakin yakin untuk menolak
  poligami." Komentar ini dilontarkannya di depan liputan kamera salah
  satu acara infotainment.

  Tentu saja pandangan negatif terhadap poligami ini pada akhirnya
  berimbas pada pandangan masyarakat terhadap Islam, karena Islam
  memperbolehkan poligami (dengan berbagai syarat). Ini pun merupakan
  penyesatan opini. Siapa bilang Islam memperbolehkan poligami dengan
  tiga orang istri di bawah satu atap? Jika memiliki tiga orang istri,
  maka ia diharuskan memiliki tiga buah rumah. Lagipula, ada
  standar-standar lainnya yang membatasi laki-laki mana yang boleh
  berpoligami dan mereka yang tidak berhak berpoligami, antara lain
  batasan finansial dan wawasan keislaman. Jika batasan-batasan itu
  tidak diindahkan, maka sudah sewajarnya kehidupan poligami itu menjadi
  kacau dan banyak konflik. Dalam hal ini, Islam tidak boleh dipersalahkan.

  Di Sumatera Barat sendiri pernah ada kasus di mana seorang laki-laki
  memiliki sembilan belas orang istri. Ketika ia akan menikah untuk
  kedua puluh kalinya, ia tewas ditikam oleh istri kesembilan belasnya.
  Apakah dari kasus ini bisa disimpulkan bahwa ajaran Islam yang salah?
  Tentu saja tidak! Siapa bilang poligami boleh dilakukan sampai
  memiliki dua puluh istri?

  Kini, banyak sinetron `religi' yang hanya menjual aksi setan-setanan
  ala film horor. Ada juga sinetron `religi' lain yang mempertunjukkan
  bagaimana azab akan diturunkan di dunia kepada orang-orang yang
  melampaui batas. Akhirnya, Islam dicap sebagai agama yang mistis dan
  penuh kekerasan. Padahal ajaran Islam sama sekali tidak demikian. 
  Ini tidak lebih dari sebuah penyesatan opini. 

  Menyebut pejuang Palestina sebagai `teroris' adalah sebuah dagelan
  yang sama tidak lucunya seperti ketika Pemerintah Belanda di masa lalu
  menyebut gerilyawan Indonesia sebagai `ekstremis'. Menyebut kaum
  muslimah yang menutup auratnya secara sempurna sebagai `fundamentalis'
  adalah sebuah keanehan luar biasa. Bukankah manusia yang tidak
  fundamentalis adalah manusia yang plin-plan dan tidak bernilai sama
  sekali?

  Beginilah cara mereka menyesatkan opini global.

  wassalaamu'alaikum wr. wb.



   


------------------------------------------------------------------------------



  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG. 
  Version: 8.0.100 / Virus Database: 270.4.0/1507 - Release Date: 18-6-2008 7:09


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke