Oo, we're in trouble.. ye ye.. (gak apal liriknya) :-) Wassalam,
Irwan.K ---------- Forwarded message ---------- From: Asnawi Ali <[EMAIL PROTECTED]> Date: 2008/6/20 Subject: Ini dia transkrip percakapan Jaksa2 Indôn Busuknya republik ini, dan bajingannya para penegak hukum di republik ini. Bayangkan setelah semua percakapan antara Arthalyta, Kemas, Untung, dan Urip terungkap, Jaksa Agung Hendarman Supandji tetap NGOTOT bahwa keputusan kejaksaan agung tentang kasus BLBI tidak bermasalah secara hukum. LUAR BIASA NGAWURNYA Jaksa Agung dan DPR juga yang tidak peduli. Baca baik-baik percakapan para bajingan itu di bawah ini, dan simpulkan sendiri adakah kaitan bebasnya maling2 BLBI (Syamsul Nursalim dan Sudono Salim, serta maling BLBI lainnya) dengan para bajingan di kejaksaan agung. Edan kita semua ratusan juta manusia terdidik tetap dianggap sangat bodoh oleh para bajingan itu... * 1.Artalyta Juga "Berkoordinasi" dengan Kemas dan Urip* Kamis, 12 Juni 2008 | 00:22 WIB Jakarta, Kompas - Majelis hakim Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi atau Tipikor yang mengadili terdakwa Artalyta Suryani dalam kasus dugaan penyuapan terkait Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI, Rabu (11/6), meminta jaksa penuntut umum memperdengarkan rekaman pembicaraan antara terdakwa dan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (saat itu) Kemas Yahya Rahman. Percakapan Kemas dengan Artalyta terjadi pada 1 Maret 2008 pukul 13.00, sehari sebelum jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Percakapan itu juga sehari setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) mengumumkan penghentian penyelidikan perkara BLBI yang ditangani Kejagung pada 29 Februari 2008. * Berikut percakapan Kemas Yahya Rahman dan Artalyta.* Artalyta (A): Halo Kemas (K): Halo A: Yah, siap. K, sambil tertawa: Sudah dengar pernyataan saya kan? A: Good, very good. K: Jadi, tugas saya sudah selesai kan? A: Siap, tinggal.... K: Sudah jelas kan, itu gamblang. Sekarang tidak ada permasalahan lagi. A: Bagus itu. K: Tetapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka? A: Aaah, Rakyat Merdeka gak usah dibaca. K: Saya disebut mau dicopot. Ha-ha-ha.... Jadi gitu ya. A: Sama ini, Bang, saya mau informasikan... K: Yang mana? A: Masalah si Joker. K: Oh, nanti, nanti, nanti. A: Saya kan perlu jelasin, Bang. K, (Dengan dengan nada tergesa-gesa): Nanti, nanti itu. Tenang saja, nanti ada cara lain. Nanti saja. A: Selasa saya ke situ ya. K: Gak usah, gampang itu. Nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah mendapatkan informasi dari sana. A: Tapi begini, Bang. K, (memotong): Jadi begini, ini sudah saya umumnya. Ada alasan lain, nanti dalam perencanaan. Telepon pun terputus. Urip minta bonus Di dalam persidangan itu, yang juga menghadirkan Urip sebagai saksi, majelis hakim Pengadilan Tipikor pun memutar rekaman pembicaraan antara Artalyta dan Urip. Namun, dalam persidangan itu Urip tidak mau mengaku bahwa suara dalam dalam percakapan telepon yang direkam KPK itu adalah suaranya. Sebaliknya, Artalyta justru mengaku itu suara dirinya dan Urip. Ketua Majelis Hakim Mansyurdin Chaniago juga berkali-kali meminta Urip agar tidak berbohong. Akan tetapi, Urip tetap membantah dengan mengatakan tidak tahu atau tidak ingat. Dalam percakapan itu terungkap juga perkataan Urip yang menyebut Artalyta dengan sebutan "bos". Dalam percakapan telepon juga terungkap, Artalyta memberikan petunjuk ke Hotel Shangri-La, Jakarta, untuk bertemu Itjih Nursalim, istri Sjamsul Nursalim, pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Sjamsul sempat menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi BLBI karena BDNI menerima BLBI, yang akhirnya dihentikan penyidikannya oleh Kejagung. Urip dalam percakapan itu menanyakan soal uang yang akan diberikan. Urip (U): Jadinya berapa? Artalyta (A): Kan enam. U: Belum bonus kan? Itu lho, yang kemarin saya garuk-garuk kepala. A: Kan tidak bisa, sudah dieksekusi segitu. U: Tambahin dikitlah. 2. Percakapan telepon antara Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kejagung Untung Udji Santoso dan Artalyta Suryani beberapa menit setelah jaksa Urip ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 2 Maret 2008. Percakapan telepon antara Untung dan Artalyta diperdengarkan dalam sidang di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (11/6). * Percakapan telepon antara Untung dan Artalyta ini tercatat pada tanggal 2 Maret 2008 pukul 17.48.* U (Untung): Halo? A (Artalyta): Halo, Mas, ini Ayin, Mas (suara Artalyta terdengar panik). U: Oh, ada apa, Dik? A: Urip, Mas. Saya pakai nomor lain sekarang. Urip, Mas, tertangkap KPK. U: Hah? A: Dia mau eksekusi, biasa, tanda terima kasih. U: Perkara apa? A: Urip kita, Mas. Tolong, Mas, telepon Antasari untuk mengamankan. Saya sudah suruh Joko untuk telepon Ferry. Untung Udji kemudian menyarankan agar Artalyta mengatakan tidak ada kaitannya dengan uang yang di tangan Urip. "Bilang aja tidak ada kaitannya. Gratifikasi, kalau belum satu bulan tidak lapor, tidak apa-apa. Wis, ngomong wae, gak ada kaitan apa-apa," kata Untung. Artalyta kemudian meminta Untung untuk menelepon Antasari. Untung kemudian berkata, "Ya wis, aku telepon dulu." Beberapa menit kemudian Untung dan Artalyta kembali berkomunikasi. U: Halo. A: Halo, Mas. Tadi Salim sudah telepon. (Terdengar Artalyta bercakap-cakap dengan seseorang di rumahnya, "Siapa ada di depan? Pantau siapa yang menerima.") A: Halo, Mas. U: Bilang aja tidak ada keterkaitan dengan BLBI. A: Si U (Urip) ngomong gitu gak? U: Bilang aja dari Agus. Sebut saja anaknya sakit. Emangnya you kasih berapa? A: Enam, Mas. U: Berapa? A: 660.000 dollar, Mas. U: Oh, itu 4 miliar? A: 6 miliar, Mas. U: Laa Ilahailallah. (Untung terdengar kaget) A: Jadi, bagaimana ini, Mas, untuk menyelamatkan semua, orang-orang kita? U: Yah enggak iso ngelak kalau 6 miliar. Gila! A: Jadi, bagaimana? U: Tak pikir enam atus yuto (Rp 600 juta) gitu. A: Enggak, itu banyak. Jadi, gimana? U: Itu untuk siapa? A: Ah, ya sudahlah. Sekarang kita cari jalan keluarnya gimana? U: Aduh biyung, gimana ini. Sek, sek, kalau kayak gitu, susah itu. A: Aku bilang, kan, ajudanku. Terus? U: Ajudan kok duite sakmono gede, soko ngendi? Ngarang wae. (Ajudan kok uangnya segitu besar, dari mana? Ngarang saja) Yo wis, gimana caranya hubungi Antasari. (Untung mengatakan telepon Antasari mati) A: Mati? Dicari dong, Mas. Suruh nyari dong, Ferry disuruh nyari. U: Ferry juga gak ngangkat. (Artalyta terdengar bingung. Untung menyuruh Artalyta mencari Antasari, tetapi Artalyta tidak tahu rumah Antasari) A: Jadi, gimana ini? Ini, kan, mesti ngamanin bos-bos kita semua. U: Minggu-minggu begini, kok, aneh-aneh. Kacau ini, kacau. * Skenario selamatkan Ayin* Beberapa menit kemudian, Untung Udji Santoso kembali menelepon Artalyta. U: Halo, Yin. Jadi, begini, tadi kita sudah koordinasi dengan Wisnu, you di rumah saja. Nanti you ditangkap kejaksaan. A: Hah? (Artalyta terdengar bingung) U: Kamu nanti ditangkep oleh jekso (jaksa). Mau diskenariokan begitu, lho. A: (Artalyta masih terdengar bingung) Hah? Kenapa, Mas, kenapa? U: Mau diskenariokan begitu. Awakmu neng endi iki? (Kamu di mana sekarang) A: Enggak, udah aman, ini nomor lain. Aku di rumah, di dalam rumah. U: Jadi, biar aja nanti kamu yang ambil (menangkap) kejaksaan. Si Urip dicekel (ditangkap), awakmu di kejaksaan (kamu ditangkap kejaksaan). Lho ini kok sudah penyelesaian begini, kok ada uang begini, maksudnya begini apa? Gitu lho maksudnya. A: Kan nanti saya bilang, saya tidak ada keterkaitannya juga dengan BLBI dan saya gak ada.... U: Jangan ngomong begitu. Biar saya saja yang mancing. Bilang saja ada hubungan dagang sama dia. Ini ada tambahan percakapan antara Untung Udji Santoso dengan Arthalyta Cuplikan rekaman percakapan antara Artalyta Suryani (AS) dan Untung Udji Santoso (UU) pada tanggal 2 Maret 2008 : AS : Coba sampeyan telepon dulu ke Antasari UU : Udah, mati teleponnya AS : Disuruh nyari dong. Ferry suruh nyari UU : Ferry juga nggak ngangkat AS : Jadi gimana? Inikan mesti ngamanin bos kita semua. Aku jawabnya apa? UU : Usahakan cepet you keluar, nyari Antasari deh AS : Ya dimana, dia rumahnya dimana? UU : Ya, anu...di BSD sana waktu itu, nggak tahu juga. Tapi jangan, jangan ke rumahnya AS : Kemana? UU : Ketemu di hotel atau dimana deh AS : Ya aku udah mau dibawa UU : Haaa? AS : Aku mau dibawa, sampeyan lah kejar cari dia mas, kan nggak ketara kalo sampeyan UU : Iya, tapi teleponnya..Aku nggak ngerti rumahnya. Teleponnya nggak ngangkat. Aku udah minta Wisnu AS : Sekarang susulin UU : Tak telepon dulu deh AS : Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu UU : Aku sudah telepon Wisnu, demi Allah AS : Apa kata Wisnu? UU : Sudah dibuka teleponnya. Kamu punya telepon lain nggak? Nggak punya...Lah, gimana? AS : Wah, sekarangkan aku udah mau dibawa (petugas KPK-red). Supaya keterangannya sama gimana? Kan jangan sampai kena semua. UU : Kenapa sih, kok Minggu-minggu (hari Minggu), nggawe gawean wae (bikin kerjaan saja) AS : Makanya, aku dari luar kota, dia maksa hari ini (tidak jelas siapa yang dimaksud "dia" oleh Artalyta) UU : Kacau kabeh. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

