Iye Bang... Ape kite razzia aje kali ye... Semua nyang kage solat, langsung kite cap kapir di jidat kalee ye...
mode "sangar" on mode "golok" on On 6/20/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Siapapun yg bersyahadat wajib menjalankan syariat Allah. Wajib tunduk & > taat kpd hukum Allah. Wajib berserah diri kpd Allah, itulah esensi islam. > Islam bukanlah agama khayalan & angan2, Iman adalah sesuatu yg diyakini dlm > hati, dibuktikan melalui perkataan & perbuatan. Iman tanpa amal > sholeh/perbuatan yg baik tdk akan ada artinya. Kedua hal tsb berkaitan. Jadi > jika anda tdk mau menjalankan syariat (sholat, puasa, haji dll) itu hak > anda, tp semua pilihan tentunya ada konsekuensinya, toh anda memilih bebas2 > saja, tdk ada yg memaksa. > oh iya, mudah saja kluar dari barisan muslim, misalkan anda tdk meyakini > salah satu dari ke-5 sholat waktu adalah WAJIB, maka anda sdh di luar islam, > atau anda meyakini ALquran adalah perkataan Muhammad saw, maka anda sdh di > luar islam, mudah bukan? > sungguh, tdk ada paksaan dlm beragama (islam), krn yg haq sdh jelas, yg > batil pun sdh jelas. Mau apalagi siy??? > > ----- Original Message ---- > From: Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]<ndewanto%40mail.tempo.co.id> > > > To: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com> > Sent: Thursday, June 19, 2008 5:26:57 PM > Subject: Re: [ppiindia] Re: koki dan tukang sayur (soal slavery) > > mas, tanggapan anda mengisi keanekaragaman pendapat > dalam tafsir qur'an dan hadis yang juga sudah dilakukan > para raksasa pemikiran islam di masa lampau. > > btw, mungkinkah tkw kita yang diperkosa dan digebuki > di saudi karena majikannya penganut salafi/wahabi > yang menganggap perbudakan masih boleh dilakukan? > > btw lagi, sangat menarik pendapat bahwa geneva convention > yang sekuler sama dengan holly law (syariat?). > > kalau semua penafsir syariat seperti anda, saya tak > keberatan dengan hukum syariat :)) > > At 06:50 PM 6/18/2008 +0000, you wrote: > > >Ada yang ingin saya tanggapi/koreksi dari tulisan > >mengenai hukum tentang perbudakan menurut Fiqih > >Islam di bawah ini. > > > >*** > > > >Pertama, dalam upaya "rekonsiliasi" Jurispundensi > >Islam dengan "peradaban" riil saat ini, masalah > >perbudakan saya pandang sebagai masalah yang > >solusinya secara prinsip sangat simple: > > > ><1> Sama dengan kedua agama Ibrahimiyah lainnya > >Islam juga tidak mengajarkan perbudakan, > >tetapi "mewarisi" masalah itu sebagai > >kenyataan riil yang sudah ada di masyarakat. > > > >Hukumnya membolehkan perbudakan tetapi > >di lain pihak menganjurkan Muslim untuk > >membebaskan budak. > > > ><2> Sepengetahuan saya, status "budak" muncul > >dari tawanan perang atau "rampasan" perang. > > > ><3> Ada larangan eksplisit untuk memperbudak > >seseorang yang statusnya merdeka, berdasar > >kan hadith Qudsi (artinya sangat kuat, > >karena ini dipandang sebagai firman Allah). > > > >< <http://tinyurl. com/4gqw7n>http://tinyurl. com/4gqw7n > > > > >*** Islam bans the enslavement of free people. > >*** Allah says in the holy Hadith (Qudsi): > >*** "I am opponent to three kinds of people: > >*** One of them is the one who enslaves a free man." > > > >*** > > > >Karena dewasa ini, paling tidak secara teoritis, di > >sebagian besar negara tidak ada lagi perbudakan, artinya > >hampir tidak ada lagi orang yang statusnya "budak" (menurut > >pengertian tradisional, berarti hampir semuanya berstatus > >orang "merdeka", jadi tidak ada lagi yang boleh diperlakukan > >sebagai budak. > > > >Juga dalam hal tawanan perang, karena sudah ada perjanjian > >internasional untuk memperlakukan tawanan perang maupun > >semua orang yang menjadi korban konflik bersenjata > >secara manusiawi pada Perjanjian Geneva: > > > ><<http://en.wikipedia .org/wiki/ Geneva_Conventio > >ns>http://en.wikipedia.org/wiki/ Geneva_Conventio ns> > > > >Maka semua negara, termasuk negeri-negeri Muslim (yang > >setahu saya semuanya anggota PBB) terikat perjanjian > >tersebut dan wajib mematuhinya. Keterikatan pada perjanjian > >ini bisa dijadikan dasar bagi warga negeri-negeri Muslim > >untuk melarang menjadikan tawanan perang atau penduduk > >sipil dari wilayah yang ditakluk-kan sebagai budak. > > > >Jadi meskipun 'geneva convention' itu hukum sekuler, > >karena merupakan perjanjian internasional, sifatnya > >mengikat bagi semua yang menandatanganinya, sehingga > >statusnya menjadi "holly law". > > > >Sepengetahuan saya di dalam sejarah Islam, Nabi dulu > >juga memberi contoh memegang teguh perjanjian Hudaibiyyah > >yang merupakan suatu Truce/Perjanjian Damai dengan suku > >Qurays, meskipun banyak sahabat yang mengritik isi per > >janjian itu yang dinilai sangat tidak adil bagi Muslim. > > > >Sedangkan Geneva Convention, saya yakin isinya adalah > >sesuatu yang adil. > > > >Dengan "setting" internasional seperti ini, maka cukup > >reasonable mengatakan bahwa dalam konteks dewasa ini, > >perbudakan hukumnya secara efektif menjadi haram. > > > >Jadi kalau ada orang Islam yang masih mempraktek-kan > >perbudakan dalam konteks masyarakat sekarang ini, > >saya cukup yakin itu bertentangan dengan ajaran > >Islam. > > > >Hanya sebagain Ulama Salafi yang masih memandang > >perbudakan itu masih boleh dilakukan. > > > >*** > > > >Yang kedua sekedar diskusi wacana "teoritis" > >Fiqih Islam (bukan untuk "dipraktek" kan) > > > >ada koreksi pada kutipan di bawah ini: > > > >Sepengahuan saya menurut Fiqih yang diterima > >secara luas, anak dari hasil hubungan seorang > >laki-laki Muslim merdeka yg berhubungan dengan > >budak wanitanya hukumnya menjadi anak yang merdeka. > > > >Tetapi kalau si anak ini anak bawa-an, jadi > >bukan anak si laki-laki tersebut, statusnya > >menjadi lebih kompleks. > > > > >>>>>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >> > > > > > > Tidak ada akad nikah, pemberian mas kawin, > > > atau prosesi apa pun sebelum hubungan seksual > > > itu berlangsung. Jika budak perempuan itu hamil > > > dan melahirkan anak, maka anak itu statusnya > > > tetap budak, tetapi ibunya naik status sedikit > > > menjadi ummu walad, tetapi masih tetap budak. > > > > > >>>>>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>> > > > >beberapa referensi: > >----------- -------- > > > ><<http://en.wikipedia .org/wiki/ Islam_and_ > >slavery>http://en.wikipedia.org/wiki/ Islam_and_ slavery> > > > ><http://archive. salon.com/ books/int/ 2001/04/05/ segal/index. html> > > > ><<http://jis.oxfordjo urnals.org/ cgi/reprint/ 13/1/42.pdf> > http://jis.oxfordjo urnals.org/ cgi/reprint/ 13/1/42.pdf> > > > >---( ihsan hm )----------- --------- --------- --------- --- > > > > >>>>>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>> > > > > > > ------------ --------- --------- --------- --------- - > > > From: Nugroho Dewanto > > > To: <mailto:ppiindia% <ppiindia%25> 40yahoogroups. > com>[EMAIL PROTECTED] s.com > > > Sent: Tuesday, June 17, 2008 11:23 AM > > > Subject: [ppiindia] Fwd: koki dan tukang sayur > > > ------------ --------- --------- --------- --------- > > > > > > <tulisan sayed mahdi al-jamalullail> > > > > > > <<http://idhamdeyas. blogspot. com/>http://idhamdeyas. blogspot. com/> > > > > > > Wednesday, March 16, 2005 > > > > > > > > > Karena perbudakan sekarang menjadi sesuatu > > > yang emoh untuk difikirkan, saya akan menjelaskan > > > sedikit: di dalam fiqih Islam hubungan seksual > > > antara laki-laki pemilik budak dengan budak > > > perempuan tidak dilarang. > > > > > > Tidak ada akad nikah, pemberian mas kawin, > > > atau prosesi apa pun sebelum hubungan seksual > > > itu berlangsung. Jika budak perempuan itu hamil > > > dan melahirkan anak, maka anak itu statusnya > > > tetap budak, tetapi ibunya naik status sedikit > > > menjadi ummu walad, tetapi masih tetap budak. > > > > > >>>>>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

