FPI VS AKKB Dalam kancah Budaya daerah

Rabu, 26 Juni 2008

     Menilik budaya di Kabupaten Tapin Rantau Kalimantan Selatan ,membawa 
kepada suasana akan aliran pemahaman dari bentuk suatu kepercayaan terhadap 
tuhan yang maha esa. Kabupaten Tapin yang mayoritas beragama islam mempunyai 
daya tersendiri dari sisi kehidupan yang lain ,terutama didalam hall 
kepercayaan dan keyakinan terhadap agama.sehingga akan terasa suasana otoriter 
kejayaan dari kerajaan banjar masih tertanam dan berakar dari generasi ke 
generasi di masyarakat setempat.

    Usaha masyarakat didalam hal membangun pemikiran lebih dominan pada sisi 
aspek keagamaan yang dibawai oleh para ulama setempat,yang membangun sebuah 
wawasan islami dengan usaha-usaha didalam hall pemanfaatan pengetahuan agamanya 
dan membentuk masyarakat yang bermoral pada standar etika agama,tak kalah 
pentingnya usaha para D'ai setempat mendapat sambutan dan respon masyarakat 
dari berbagai lapisan dimana para alim ulama tersebut didalam membina umat 
kedalam bentuk suatu kewilayahaan yang aman dan tentram ,dan istilah tersebut 
bagi para ulama itu sendiri ialah Al-Madinah "sebuah istilah wilayah yang 
tentram dan aman,dimana masyarakatnya memenuhi target pada standar-standar 
taqwa menurut islam".

    Tak jarang para aktor intelektual di balik seragam dinas pejabat Pemerintah 
pun tunduk akan kekuasaan yang berbudaya ini,sehingga dua sisi kehidupan selalu 
menjadi penerapan didalam perbandingan antara sistem Pemerintah dan Otoriter, 
Kepemerintahan yang berlandasan pada ideologi pancasila pada pemerintahan 
Indonesia adapun otoriter yang berlandasan pada aspek kehidupan beragama dan 
bertakwa pada tuhan yang maha esa. 

    Kedua sisi tersebut tergabung menjadi satu,dan tertanam pada masyarakat 
luas dari generasi ke generasi,pandangan tersebut terlihat dari sisi pendidikan 
.Dimana sisi pendidikan informal di Tapin lebih dominan terutama pada bidang 
keagamaan,Disitu terlihat pada suatu bentuk majlis ta'lim yang diselenggarakan 
diarena terbuka dengan di hadiri salah satu dai kondang dari daerah setempat 
maupun luar daerah dapat merespon dan menggerakan masyarakat Tapin untuk hadir 
mengikuti acara pendidikan moral beragama tersebut ketimbang mengikuti acara 
dangdut berkaroke,Yang lebih unik dari pada hal tersebut ialah "dimana 
masyarakat rela menuntut pengetahuan tersebut walau dengan jarak yang jauh 
sehingga berduyun-duyun sebuah kelompok kecil dengan pakaian khas beragama 
bersepeda untuk menghadiri acara tersebut" Itulah Tapin dengan budaya 
keagamaannya.

    Adapun sisi pemahaman didalam lingkungan Islam itu sendiri ,yang secara 
global dan menyeluruh. masyarakat Tapin didalam menghadapi suatu permasalahan 
beragama selalu dipecahkan secara arif dan bijaksana oleh para ulama 
setempat,dimana peran ulama dikabupaten Tapin tersebut dinilai sangat penting 
oleh pemerintah daerah. Sehingga ada keseimbangan dan kerjasama yang bagus 
didalam para aparatur pemerintah dan para ulama,yang menghasilkan perbandingan 
sebuah sistem organisasi yang kokoh dan terpelihara. 

   Dari sisi Pemerintah Kabupaten Tapin itu sendiri secara internal pun 
mendukung gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dibawai oleh Ulama 
setempat,hanya saja Pemerintah selalu membatasi landasan pemikiran yang 
berlandaskan ideologi pancasila dan peraturan agama yang dibawai oleh Ulama 
tersebut,sehingga lahirlah sebuah pemikiran-pemikiran beragam dengan landasan 
sebuah pemahaman dari budaya pemikiran masing-masing.

   Pandangan Islam itu sendiri pada islam garis keras seperti Front Pembela 
Islam ( FPI ) secara bijak menegaskan bahwasanya itu sah-sah saja didalam hal 
memberantas kemaksiatan dan memerangi kebatilan,dimana dengan bertujuan untuk 
membentuk umat masyarakat yang bermental dan bermoral bobrok menjadi baik dan 
beretika yang bersandar pada standar etika islam itu sendiri, serta membangun 
sebuah wilayah yang aman bagi negara Indonesia dengan umat yang bertakwa kepada 
tuhan yang maha esa , Tetapi di karenakan negara kita sudah tertanam oleh 
landasan pemikiran sebuah negara , maka hal tersebut dibutuhkan sebuah kearifan 
didalam menyelesaikan permasalahan konflik beragama yang semestinya dibawai 
oleh seorang figur pemimpin yang arif juga berintelektual dan dapat 
menyelesaikan permasalahan tersebut tanpa harus adanya sebuah huru-hara,tetapi 
inilah kenyataan sebuah laskar bagi para pejuang islam itu sendiri.

  Gerakan yang dibawai oleh aktor inteletual pada organisasi masyarakat seperti 
AKKB pun ,mempunyai alasan tersendiri pada landasan pemikirannya yang di nilai 
sangat khusus,sehingga melibatkan peran politik didalam membela negara 
indonesia dan agamanya. Mereka tertutup pada dasar yang menurut mereka itu tabu 
bagi masyarakat,sehingga berdiam itu lebih baik dengan pengertian yang tajam 
bagi mereka.Contohnya :Dokumen negara yang sampai saat ini di nilai masih 
sangat rahasia,hingga publik pun tak boleh mengetahuinya dengan alasan sebuah 
kebijakan pemerintah didalam menanggapi permasalahan tersebut.

Intinya ,bahwasanya kita harus bercermin pada sebuah sisi preventatif yang di 
bawai oleh ulama-ulama di daerah ,yang selalu faktual didalam setiap hallikwal 
dan khuyuk serta konsekuen pada landasan keagamaannya,sehingga takut mengotori 
kesucian itu dengan sebuah bentuk pemikiran-pemikiran negatif dan rasional 
dengan dasar hati yang bersih,beserta mengerti sebuah aturan - aturan etika 
hukum itu sendiri pada bentuk keadaan permasalahan dan berfokus ganda untuk 
menyelesaikan permasalahan sehingga membuahkan bentuk istijhad pada hukum yang 
berlaku pada saat ini.

( Nasrull  http://www.tapin.co.cc )




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke