Yang menarik menghiasi artikel dikompas ini adalah foto Panglima TNI Djoko Santoso melakukan "Salam Komando" bersama para perwira tinggi dari ketiga matra dan dengan Kapolri Jendral Sutanto, yang kesemuanya memakai loreng Kopassus, di Markas Komando Kopassus Cijantung, Jakarta 30 January 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/27/02322965/langkah.pembenahan.di.tubuh.tni.berlanjut Sabtu, 28 Juni 2008 Langkah Pembenahan di Tubuh TNI Berlanjut Jumat, 27 Juni 2008 | 02:32 WIB Oleh F Djoko Poerwoko Di tengah kegamangan dan kecurigaan masyarakat tentang reformasi internal TNI, pasti tapi jelas langkah pembenahan diri di tubuh TNI terus berlanjut. Meski langkah itu sendiri kadang mengundang kecurigaan di masyarakat, sebut saja sebagai contoh pengangkatan pejabat sementara gubernur Sulawesi Selatan atau beberapa perwira TNI yang masuk dalam bursa pemilihan kepala daerah. Tapi semua itu akan terjawab bagaimana upaya TNI untuk tidak melanggar rambu-rambu yang disepakati, yaitu dilengkapinya persyaratan administrasi. Di balik itu semua seperti yang diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Jabatan Panglima TNI, semenjak diangkatnya Laksamana Widodo AS sebagai Panglima TNI (2001) langkah pasti itu terus berlanjut. Langkah ini telah dijalankan meskipun UU TNI masih dalam konsep kala itu. Ini sekadar contoh bahwa reformasi internal TNI telah dijalankan tanpa tekanan dari luar semenjak gelombang reformasi bergulir di negeri ini. Jabatan Panglima TNI yang sejak dulu selalu didominasi perwira tinggi matra darat kali ini dijabat ketiga matra secara bergantian. Bergantian yang diterjemahkan secara adil ini dapat divisualisasikan dalam bentuk grafik sinusoida. Setidaknya grafik dari Joseph Fourtier (1822) ini lebih memvisualisasikan secara proporsional dengan pola matra darat-laut-darat-udara-darat dan nantinya kembali ke laut. Setelah Djoko Dengan demikian, setelah Jenderal TNI Djoko Santoso yang akan pensiun pada September 2010, maka pola ini berulang lagi dengan jabatan Panglima TNI akan berasal dari matra laut. Semua ini mengacu pada UU No 34/2004 yang telah diundangkan pada 16 Oktober 2004 di mana jabatan Panglima TNI dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap-tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan (dengan batas umur sampai 58 tahun). Peluang sebagai Panglima TNI tahun 2010 terbuka bagi matra laut bila kita sepakat bahwa pola sinusoida secara tertibdijalankan dan dipatuhi. Dengan demikian, siapa pun pengganti Laksamana TNI Sumardjono (pensiun Juli 2008) nantinya mempunyai peluang yang besar menjabat sebagai Panglima TNI. Saat ini di lingkungan TNI AL ada tiga pati berbintang tiga. Mereka Laksdya TNI Tedjo Edhy Purdijatno (Kasum TNI), Laksdya TNI Y Didik Heru Purnomo (Wakil KSAL), dan Letjen (Mar) Safzen Noerdin (Irjen Dephan). Yang disebut terakhir berpeluang kecil menjadi KSAL karena yang bersangkutan berasal dari Korps Marinir dan belum perpah menjabat selaku Panglima Armada. Meski masih berbintang dua peluang justru dimiliki Laksda TNI Muchlis Sidik, kini Asisten Operasi KSAL. Dengan demikian Tedjo, Didik, dan Muchlis sama-sama mempunyai peluang memimpin TNI AL karena sama-sama pernah menjadi Panglima Armada, persyaratan kultural matra laut. Jika menilik faktor usia, Laksdya TNI Didik mempunyai peluang besar jadi orang nomor satu di TNI karena ia baru akan pensiun pada April 2012, sedangkan Laksdya TNI Tedjo Edy (September 2010), dan Laksda TNI Muchlis Sidik pensiun Juli 2011 meskipun dari angkatan yang lebih muda, yaitu alumnus AAL 1977. Pola trimatra Selain itu, masih ada beberapa ketentuan lain yang telah dijalankan dalam tubuh TNI meskipun tidak diatur secara tertulis. Seperti sudah menjadi kesepakatan antarangkatan bahwa jabatan Kepala Staf Umum TNI (orang kedua di TNI) dijabat oleh perwira tinggi yang tidak berasal dari satu matra dengan Panglima TNI. Jadi kalau panglimanya dari AD seperti saat ini, pasti kepala staf umum (kasum)-nya bukan dari AD. Ini terlihat kenapa Laksdya TNI Tedjo Edy (AL) hanya sebentar menjabat Komandan Sesko TNI dan langsung dialihkan menjadi Kasum menggantikan Letjen TNI Erwin yang pensiun. Atau contoh lain, kenapa jabatan Irjen Dephan dibiarkan kosong lama setelah Laksdya TNI Sumardjono (AL) diangkat menjadi KSAL menggantikan Laksamana TNI Slamet Subianto. Masih ada kesepakatan lain yang cukup unik, yaitu dibaginya jabatan bintang tiga, baik di dalam maupun di luar TNI dengan pola trimatra. Jabatan bintang tiga yang disepakati (lingkungan Mabes TNI) yaitu Kasum TNI, Irjen TNI, serta Komandan Sesko TNI. Adapun di luar struktur TNI adalah Sekjen Dephan, Irjen Dephan, dan Wakil Gubernur Lemhannas. Dengan diberlakukannya Perpres No 99/2007, yang memutuskan dikeluarkannya organisasi Basarnas dari Dephub dan langsung di bawah Presiden, pun telah diantisipasi TNI dengan bijaksana. Kesempatan jabatan bintang tiga lainnya telah terbuka, yaitu untuk Sekretaris Menko Polhukam, Sekjen Wantannas, Kepala Bakorkamla, serta Kepala Basarnas juga akan terbagi dengan adil ke matra darat, laut, dan udara. Sudah tertata Dengan selesainya Marsdya TNI Toto Riyanto (pensiun Mei 2008) sebagai Wagub Lemhannas dan penggantinya juga dari matra udara, jabatan bintang tiga di luar struktur TNI saat ini adalah Sekjen Dephan (AD), Irjen TNI (AL), dan Wagub Lemhannas (AU). Terlihat juga jabatan di dalam struktur TNI saat ini, yaitu Kasum TNI (AL), Irjen TNI (AD), serta Komandan Sesko TNI (AU). Pola ini telah dijalankan beberapa periode sebelumnya, yang menggambarkan terjadinya perubahan besar dalam pengertian intergative TNI. Patut diapresiasi bahwa para pejabat TNI telah meletakkan dasar pembinaan internal TNI yang jelas dan transparan. Seperti halnya Peraturan Panglima TNI No 44/2007 (19 Desember 2007) yang ditandatangani Marsekal Djoko Suyanto saat menjabat sebagai Panglima TNI, yaitu mengubah sebutan asisten dalam jajaran TNI, kecuali untuk Asrenum (Perencanaan Umum) dan Irjen TNI. Tadinya para Asisten berada dalam koordinasi Kasum, sehingga sebutannya adalah Asisten Kasum bermakna meng- "asisten"-i Kasum. Kali ini sebutan tersebut berumah menjadi Asisten Panglima TNI yang bermakna para asisten berada langsung dan bertanggung jawab kepada Panglima TNI, sedangkan Kasum TNI hanya sebagai koordinator dalam tugas keseharian. Komposisi tujuh Asisten Panglima TNI beserta Wakil Asisten saat ini pun sudah terbagi dalam trimatra secara seimbang, setiap matra mempunyai kontribusi yang sama. Setidaknya struktur (baru) ini akan terlihat lebih efektif setelah digelar Latihan Gabungan TNI Juni 2008 dengan sandi "Yudha Siaga", sebuah gelar pasukan terbesar dalam kurun waktu 12 tahun terakhir. F Djoko Poerwoko Pemerhati Militer © 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved

