Salam,

Tulisan Catatan Pinggir Goenawan Mohammad khas dan kelas TEMPO
Tanggapannya sekelas LAMPUR MERAH (Lamer).
Phuahh...Nggak level...


Wassalam,


Dimas.

On 7/3/08, faris ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Di Majalah Tempo edisi selanjutnya (Edisi 30 Juni-6 Juli 2008), Tim Pembela
> Muslim, Mohammad Assegaf, mengirim surat pembaca kepada Majalah Tempo.
> Assegaf mempersoalkan tulisan Si Goen yang menyatakan Abu Bakar Ba'asyir
> (ABB) "Dihukum karena terlibat kasus terorisme". Padahal, pengadilan
> membuktikan ABB tidak pernah dihukum karena kasus terorisme.
>
> Kalau soal hukuman yang dikenakan karena "permufakatan jahat" dengan palaku
> bom Bali, Mahkamah Agung melalui keputusan peninjauan kembali (PK)
> menyatakan ABB tidak bersalah dan pemerintah harus merehabilitasi nama
> baiknya. Anehnya, orang sekelas Si Goen, tidak memperhatinan fakta ini.
> Kepada Si Goen kita perlu bertanya, ente nih bodoh atau pura-pura lupa,
> sehingga membuat tulisan yang memfitnah ABB.
>
> "Saya tidak tahu apakah dengan jiwa besar GM pernah terpikir dan merasa
> perlu meminta maaf kepada ustadz tua yang berulang kali kena fitnah dan
> terpaksa harus mendekam dalam penjara atas dakwaan yang tidak pernah
> dilakukannya itu, atau kepekaan pada rasa keadilan sudah ditimbun oleh
> perasaan geram?" tulis Assegaf dalam surat pembaca itu.
>
> Sudikah Si Goen secara legowo meminta maaf? Atau, karena merasa punya nama
> besar, dia enggan mengulurkan kata maaf? Nyatanya Si Goen tidak meminta maaf
> dan berkelit bahwa dia tidak mengatakan ABB dihukum "karena melakukan aksi
> terorisme". Padahal, dalam Capingnya SI Goen jelas-jelas menulis: "...Yang
> membacakannya Abu Bakar Ba'asyir, disebut sebagai 'Amir' Majelis Mujhidin
> Indonesia, yang dihukum karena terlibat aksi terorisme..".
>
> Itu asli tulisan Si Goen, tidak diubah satu huruf pun. Silakan tuan-tuan
> cek di Caping GM  itu. Apa si Goen sudah menganggap pembaca seluuruh
> Indonesia bisa dengan mudahnya dibodohi, atau memang dia yang sudah bodoh
> dan pikun?!
>
> Kepada tuan-tuan dan puan-puan yang ada di Tempo, kita harus mengingatkan:
> Karena Si Goen setitik, rusak Tempo sebelanga!
>
> Apakah Anda, tuan-tuan dan puan-puan yang ada di Tempo, juga ingin berkelit
> dan membela secara membabi buta kesalahan si Goen itu?
>
>
>
> --- On Wed, 7/2/08, Bardi Gofar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> From: Bardi Gofar <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [ppiindia] TANGGAPAN HABIB RIZIEQ terhadap CATATAN PINGGIR
> GOENAWAN MUHAMMAD
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Wednesday, July 2, 2008, 12:47 PM
>
>
> Senin 23 Juni 2008, Advokasi Anti Ahmadiyah selaku Kuasa Hukum Al-Habib
> Muhammad Rizieq Syihab, Mendatangi Kantor Majalah TEMPO untuk menyampaikan
> HAK JAWAB HABIB RIZIEQ terhadap CATATAN PINGGIR GOENAWAN MOHAMAD di majalah
> TEMPO edisi 16-22 Juni 2008 yang telah secara BIADAB penuh sikap RASIS dan
> FASIS menghina Habib Rizieq dan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Namun ternyata
> majalah TEMPO hingga saat ini tidak sudi memuat HAK JAWAB tersebut.
> Karenanya, wajar jika dari balik sel tahanan Habib Rizieq Syihab menyerukan
> Umat Islam : "SUDAH WAKTUNYA UMAT ISLAM MEMBOIKOT TEMPO !" Berikut
> ini HAK
> JAWAB HABIB RIZIEQ yang TEMPO takut memuatnya disebarkan ke seluruh dunia :
>
>
>
>
>
> *Si goen*
>
>
>
> Setelah membaca catatan pinggir si goen dalam majalah tempo edisi 16-22
> Juni
> 2008, saya rasakan sel tahanan yang semula sempit dan pengap, berubah
> menjadi luas dan nyaman.
>
>
>
> Tadinya, saya enggan menulis tanggapan ini, tapi karena si goen bertanya
> dan
> memantang, maka saya gunakan HAK JAWAB saya. Di sini saya sengaja menulis
> namanya dengan singkat "si goen", itu pun cukup dengan huruf kecil.
> Bagi
> saya huruf besar hanya untuk orang yang besar, palagi nama MUHAMMAD hanya
> untuk orang mulia.
>
>
>
> Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat tertawa saat
> membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat membahagiakan ketika
> kita mendapatkan "musuh" galau dan panik, apalagi depresi berat,
> ketakutan
> dan hilang kontrol.
>
>
>
> Anehnya, si goen yang selama ini tidak pernah memuji pemerintah, tiba-tiba
> melalui catatan pinggirnya menjilat Polisi, Jaksa, Hakim hingga Presiden.
> Kenapa? Takut atau cari muka? Mungkin si goen sedang depresi, takut
> dituntut
> dan diperiksa sebagai "biang kerok" insiden Monas? Atau si goen
> sedang
> ketar-ketir kedoknya terbuka sebagai antek asing? Atau si goen sedang
> bingung hilangkan jejak dana asing ratusan juta dolar yang diterimanya
> bersama "gang" akkbb, dari bosnya di amerika, melalui asia foundation
> ford
> foundation, usaid, ndi, rockefeller, dll?
>
>
>
> Lebih anehnya lagi, si goen ingin "menggurui" saya dan Al-Ustadz
> Asy-Syeikh
> Abu Bakar Ba'asyir tentang iman, ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan
> Pancasila.
>
>
>
> Lucu, si goen dan "gerombolannya" yang selama ini mati-matian membela
> pornografi, pornoaksi, sex bebas, homo sex, lesbi, nabi palsu, aliran
> sesat.
> Bahkan menghina Allah dan Rasul-Nya, memfitnah Iskam dan Al-Qur'an. Dia
> ingin menggurui kami? Itukah "iman" dan "ketuhanan" yang
> ingin diajarkan si
> goen kepada saya dan Syeikh Ba'asyir?!
>
>
>
>
>
> Sejak kapan si goen mengenal kemanusiaan dan keadilan? Saat "geng" si
> goen
> "dikemplang bambu" oleh Komando Laskar Islam (KLI) pimpinan Sang
> Pahlawan
> Munarman, teriakan si goen dan "gerombolannya" keras sekali. Namun
> dimana
> suara mereka untuk ribuan Umat Islam yang "dibantai dengan sadis" di
> Sampit,
> Sambas, Ambon, dan Poso? Mana pula suaranya untuk Kasus Banyuwangi?
>
>
>
> Selain itu, si goen ini getol betul membela pki, bahkan nekat
> memutar-balikan fakta sejarah dengan mengatakan bahwa pki sebagai "korban
> pembantaian". Lalu bagaimana dengan kebiadaban pki yang telah membakar
> pesantren, membantai santri, membunuh kyai, menculik jenderal, mengkhianati
> negara, mengangkangi Pancasila? Kemanusiaan dan keadilan itukah yang ingin
> ditunjukkan si goen kepada saya dan Ustadz Ba'asyir?!
>
>
>
> Soal Pancasila, lagi-lagi si goen sok menggurui. Saya ingin bertanya:
> Pancasilais kah orang maca berikut ini: yang membela pki sang pengkhianat
> Pancasila? yang ingin memperkosa kawan gadis "lsm"nya sendiri? yang
> membayar
> orang miskin untuk demo tentang apa yang tidak mereka paham? yang menipu
> orang kampung dengan janji wisata ke Dunia Fantasi-Ancol, ternyata diajak
> demo di Monas? Yang membohongi publik dengan publikasi foto Panglima KLI
> yang sedang mencekik anak buahnya sendiri, lalu dipelintir menjadi berita
> Panglima KLI mencekik anggota gerombolan akkbb? Yang menerima dana asing
> untuk memecah belah bangsa? Yang menjadi antek asing? Yang membentuk atau
> mendukung lsm-lsm komprador yang menjadi antek asing? Yang  menjual harkat
> dan martabat bangsa dengan dolar?
>
>
>
> Pantaskah orang macam itu bicara Pancasila? Orang model itukah yang ingin
> menggurui saya dan Amir MMI?!  Memalukan sekali.  Orang yang tidak bermoral
> bicara tentang moral. Orang yang rasis dan fasis berbicara tentang
> kekeluargaan dan persamaan.
>
>
>
> Saya ingatkan anda goen: Indonesia memang bukan Arab dan Turki, tapi jangan
> lupa Indonesia bukan amerika! Indonesia memang bukan negara Agama, tapi
> Indonesia juga bukan negara syetan yang kau bisa seenaknya menistakan agama
> dan budaya.
>
>
>
> Indonesia adalah Indonesia, negeriku tercinta, yang takkan kubiarkan orang
> macammu untuk merusak dan menghancurkannya. Aku anak Indonesia dan kau
> gundik amerika.
>
>
>
> Ingat, orang yang hidupnya hanya berpikir tentang apa yang masuk ke
> perutnya, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya.
>
>
>
> Jakarta, 21 Juni 2008
>
>
>
> *Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab*
>
> Ketua Umum Front Pembela Islam
>
>
>
> -------
>
>   *2.  Salinan CATATAN PINGGIR GOENAWAN MUHAMMAD di Majalah Tempo 16-22
> Juni
> 200*8
>
>
>
> Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen
> dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: "SBY Pengecut!"
>
> Yang membacakannya Abu Bakar Ba'asyir, disebut sebagai "Amir"
> Majelis
> Mujahidin Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme.
> Yang bikin statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang
> dalam tahanan polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir.
>
> Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan dengan gampang.
> Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, dijebloskan ke dalam sel
> pengap, atau dipancung.
>
> Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba'asyir! Ini bukan
> Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun
> 2008.
>
> Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang tahanan boleh
> dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak dianggap bersalah
> sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan membuat maklumat,
> bahkan mengecam Kepala Negara.
>
> Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan dengan
> hati-hati--karena para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan berendah hati
> dan
> beradab. Berendah hati: mereka secara bersama atau masing-masing tak boleh
> meletakkan diri sebagai yang mahatahu dan mahaadil. Beradab: karena dengan
> kerendahan hati itu, orang yang tertuduh tetap diakui haknya untuk membela
> diri; ia bukan hewan untuk korban.
>
> Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan Ba'asyir, sebab itu
> pelik. Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan mutlak kepada
> hakim,
> jaksa, polisi--juga tak bisa digantungkan kepada kadi, majelis ulama, Ketua
> FPI, atau amir yang mana pun. Keadilan yang sebenarnya tak di tangan
> manusia.
>
> Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: kita percaya
> kepada yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia Yang Maha Sempurna
> yang kita ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. Dengan kata
> lain, iman adalah kerinduan yang mengakui keterbatasan diri. Iman
> membentuk,
> dan dibentuk, sebuah etika kedaifan.
>
> Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai
> di
> 17 ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat ketimbang bertolak dari
> kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk membuat 220 juta orang
> tanpa
> konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk punya cara terbaik
> mengelola sengketa.
>
> Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita gagal. Saya baca
> sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang disusun oleh
> orang-orang Indonesia yang prihatin: "… *ternyata, sejarah Indonesia
> tidak
> bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan
> Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an.
> Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1998, konflik
> antargolongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua,
> sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, Munir."*
>
> Ingatkah, Saudara Ba'asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara
> berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita
> menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri
> paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau
> agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut
> "bhineka-tunggal-ika". Saya mengimbau agar Saudara juga merawat
> rahmat itu.
>
> Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan
> meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda
> untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi
> ada
> sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna--dengan
> mengklaim diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi koreksi, sementara
> kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi.
>
> Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.
>
> Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya--dan itulah
> yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.
>
> Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, adalah buah sejarah
> dan geografi tanah air ini--di mana perbedaan diakui, karena kebhinekaan
> itu
> takdir kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan.
>
> Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik dari tradisi
> lokal, "gotong-royong". Kata itu kini telah terlalu sering dipakai
> dan
> disalahgunakan, tapi sebenarnya ada yang menarik yang dikatakan Bung Karno:
> "gotong-royong" itu "paham yang dinamis," lebih dinamis
> ketimbang
> "kekeluargaan".
>
> Artinya, "gotong-royong" mengandung kemungkinan berubah-ubah cara dan
> prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang satu ikatan
> primordial, ikatan "kekeluargaan". Sebab, ada tujuan yang universal,
> yang
> bisa mengimbau hati dan pikiran siapa saja--"yang kaya dan yang tidak
> kaya,"
> kata Bung Karno, "yang Islam dan yang Kristen", "yang bukan
> Indonesia tulen
> dengan yang peranakan yang menjadi bangsa Indonesia."
>
> "Gotong-royong" itu juga berangkat dari kerendahan hati dan sikap
> beradab,
> sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan membawa nama
> Tuhan--atau justru karena membawa nama Tuhan--siapa pun, juga Saudara
> Ba'asyir dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan yang disebut Bung Karno
> sebagai "egoisme-agama."
>
> Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun kita tahu, tanah
> air ini akan jadi tempat yang mengerikan jika "egoisme" itu
> dikobarkan.
> Pesan 1 Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: "Hendaknya negara
> Indonesia
> ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara
> leluasa."
>
> Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara Shihab dan
> Ba'asyir. Ataukah bagi Saudara ia tak punya arti apa-apa?
>
> Goenawan Mohamad
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------------
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------------
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke