hihi ngasih semangat ya buat si goen. mong-omong, lampu merah selevel ga ma koran tempo? pantes anda agak kurang 'berbobot', bacaannya sekelas lampu merah yg isinya kriminal trus cuih!
----- Original Message ---- From: mas dimas <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, July 3, 2008 10:48:10 PM Subject: Re: [ppiindia] TANGGAPAN HABIB RIZIEQ terhadap CATATAN PINGGIR GOENAWAN MUHAMMAD Salam, Tulisan Catatan Pinggir Goenawan Mohammad khas dan kelas TEMPO Tanggapannya sekelas LAMPUR MERAH (Lamer). Phuahh...Nggak level... Wassalam, Dimas. On 7/3/08, faris ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Di Majalah Tempo edisi selanjutnya (Edisi 30 Juni-6 Juli 2008), Tim Pembela > Muslim, Mohammad Assegaf, mengirim surat pembaca kepada Majalah Tempo. > Assegaf mempersoalkan tulisan Si Goen yang menyatakan Abu Bakar Ba'asyir > (ABB) "Dihukum karena terlibat kasus terorisme". Padahal, pengadilan > membuktikan ABB tidak pernah dihukum karena kasus terorisme. > > Kalau soal hukuman yang dikenakan karena "permufakatan jahat" dengan palaku > bom Bali, Mahkamah Agung melalui keputusan peninjauan kembali (PK) > menyatakan ABB tidak bersalah dan pemerintah harus merehabilitasi nama > baiknya. Anehnya, orang sekelas Si Goen, tidak memperhatinan fakta ini. > Kepada Si Goen kita perlu bertanya, ente nih bodoh atau pura-pura lupa, > sehingga membuat tulisan yang memfitnah ABB. > > "Saya tidak tahu apakah dengan jiwa besar GM pernah terpikir dan merasa > perlu meminta maaf kepada ustadz tua yang berulang kali kena fitnah dan > terpaksa harus mendekam dalam penjara atas dakwaan yang tidak pernah > dilakukannya itu, atau kepekaan pada rasa keadilan sudah ditimbun oleh > perasaan geram?" tulis Assegaf dalam surat pembaca itu. > > Sudikah Si Goen secara legowo meminta maaf? Atau, karena merasa punya nama > besar, dia enggan mengulurkan kata maaf? Nyatanya Si Goen tidak meminta maaf > dan berkelit bahwa dia tidak mengatakan ABB dihukum "karena melakukan aksi > terorisme". Padahal, dalam Capingnya SI Goen jelas-jelas menulis: "...Yang > membacakannya Abu Bakar Ba'asyir, disebut sebagai 'Amir' Majelis Mujhidin > Indonesia, yang dihukum karena terlibat aksi terorisme..". > > Itu asli tulisan Si Goen, tidak diubah satu huruf pun. Silakan tuan-tuan > cek di Caping GM itu. Apa si Goen sudah menganggap pembaca seluuruh > Indonesia bisa dengan mudahnya dibodohi, atau memang dia yang sudah bodoh > dan pikun?! > > Kepada tuan-tuan dan puan-puan yang ada di Tempo, kita harus mengingatkan: > Karena Si Goen setitik, rusak Tempo sebelanga! > > Apakah Anda, tuan-tuan dan puan-puan yang ada di Tempo, juga ingin berkelit > dan membela secara membabi buta kesalahan si Goen itu? > > > > --- On Wed, 7/2/08, Bardi Gofar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Bardi Gofar <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [ppiindia] TANGGAPAN HABIB RIZIEQ terhadap CATATAN PINGGIR > GOENAWAN MUHAMMAD > To: [EMAIL PROTECTED] > Date: Wednesday, July 2, 2008, 12:47 PM > > > Senin 23 Juni 2008, Advokasi Anti Ahmadiyah selaku Kuasa Hukum Al-Habib > Muhammad Rizieq Syihab, Mendatangi Kantor Majalah TEMPO untuk menyampaikan > HAK JAWAB HABIB RIZIEQ terhadap CATATAN PINGGIR GOENAWAN MOHAMAD di majalah > TEMPO edisi 16-22 Juni 2008 yang telah secara BIADAB penuh sikap RASIS dan > FASIS menghina Habib Rizieq dan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Namun ternyata > majalah TEMPO hingga saat ini tidak sudi memuat HAK JAWAB tersebut. > Karenanya, wajar jika dari balik sel tahanan Habib Rizieq Syihab menyerukan > Umat Islam : "SUDAH WAKTUNYA UMAT ISLAM MEMBOIKOT TEMPO !" Berikut > ini HAK > JAWAB HABIB RIZIEQ yang TEMPO takut memuatnya disebarkan ke seluruh dunia : > > > > > > *Si goen* > > > > Setelah membaca catatan pinggir si goen dalam majalah tempo edisi 16-22 > Juni > 2008, saya rasakan sel tahanan yang semula sempit dan pengap, berubah > menjadi luas dan nyaman. > > > > Tadinya, saya enggan menulis tanggapan ini, tapi karena si goen bertanya > dan > memantang, maka saya gunakan HAK JAWAB saya. Di sini saya sengaja menulis > namanya dengan singkat "si goen", itu pun cukup dengan huruf kecil. > Bagi > saya huruf besar hanya untuk orang yang besar, palagi nama MUHAMMAD hanya > untuk orang mulia. > > > > Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat tertawa saat > membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat membahagiakan ketika > kita mendapatkan "musuh" galau dan panik, apalagi depresi berat, > ketakutan > dan hilang kontrol. > > > > Anehnya, si goen yang selama ini tidak pernah memuji pemerintah, tiba-tiba > melalui catatan pinggirnya menjilat Polisi, Jaksa, Hakim hingga Presiden. > Kenapa? Takut atau cari muka? Mungkin si goen sedang depresi, takut > dituntut > dan diperiksa sebagai "biang kerok" insiden Monas? Atau si goen > sedang > ketar-ketir kedoknya terbuka sebagai antek asing? Atau si goen sedang > bingung hilangkan jejak dana asing ratusan juta dolar yang diterimanya > bersama "gang" akkbb, dari bosnya di amerika, melalui asia foundation > ford > foundation, usaid, ndi, rockefeller, dll? > > > > Lebih anehnya lagi, si goen ingin "menggurui" saya dan Al-Ustadz > Asy-Syeikh > Abu Bakar Ba'asyir tentang iman, ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan > Pancasila. > > > > Lucu, si goen dan "gerombolannya" yang selama ini mati-matian membela > pornografi, pornoaksi, sex bebas, homo sex, lesbi, nabi palsu, aliran > sesat. > Bahkan menghina Allah dan Rasul-Nya, memfitnah Iskam dan Al-Qur'an. Dia > ingin menggurui kami? Itukah "iman" dan "ketuhanan" yang > ingin diajarkan si > goen kepada saya dan Syeikh Ba'asyir?! > > > > > > Sejak kapan si goen mengenal kemanusiaan dan keadilan? Saat "geng" si > goen > "dikemplang bambu" oleh Komando Laskar Islam (KLI) pimpinan Sang > Pahlawan > Munarman, teriakan si goen dan "gerombolannya" keras sekali. Namun > dimana > suara mereka untuk ribuan Umat Islam yang "dibantai dengan sadis" di > Sampit, > Sambas, Ambon, dan Poso? Mana pula suaranya untuk Kasus Banyuwangi? > > > > Selain itu, si goen ini getol betul membela pki, bahkan nekat > memutar-balikan fakta sejarah dengan mengatakan bahwa pki sebagai "korban > pembantaian". Lalu bagaimana dengan kebiadaban pki yang telah membakar > pesantren, membantai santri, membunuh kyai, menculik jenderal, mengkhianati > negara, mengangkangi Pancasila? Kemanusiaan dan keadilan itukah yang ingin > ditunjukkan si goen kepada saya dan Ustadz Ba'asyir?! > > > > Soal Pancasila, lagi-lagi si goen sok menggurui. Saya ingin bertanya: > Pancasilais kah orang maca berikut ini: yang membela pki sang pengkhianat > Pancasila? yang ingin memperkosa kawan gadis "lsm"nya sendiri? yang > membayar > orang miskin untuk demo tentang apa yang tidak mereka paham? yang menipu > orang kampung dengan janji wisata ke Dunia Fantasi-Ancol, ternyata diajak > demo di Monas? Yang membohongi publik dengan publikasi foto Panglima KLI > yang sedang mencekik anak buahnya sendiri, lalu dipelintir menjadi berita > Panglima KLI mencekik anggota gerombolan akkbb? Yang menerima dana asing > untuk memecah belah bangsa? Yang menjadi antek asing? Yang membentuk atau > mendukung lsm-lsm komprador yang menjadi antek asing? Yang menjual harkat > dan martabat bangsa dengan dolar? > > > > Pantaskah orang macam itu bicara Pancasila? Orang model itukah yang ingin > menggurui saya dan Amir MMI?! Memalukan sekali. Orang yang tidak bermoral > bicara tentang moral. Orang yang rasis dan fasis berbicara tentang > kekeluargaan dan persamaan. > > > > Saya ingatkan anda goen: Indonesia memang bukan Arab dan Turki, tapi jangan > lupa Indonesia bukan amerika! Indonesia memang bukan negara Agama, tapi > Indonesia juga bukan negara syetan yang kau bisa seenaknya menistakan agama > dan budaya. > > > > Indonesia adalah Indonesia, negeriku tercinta, yang takkan kubiarkan orang > macammu untuk merusak dan menghancurkannya. Aku anak Indonesia dan kau > gundik amerika. > > > > Ingat, orang yang hidupnya hanya berpikir tentang apa yang masuk ke > perutnya, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya. > > > > Jakarta, 21 Juni 2008 > > > > *Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab* > > Ketua Umum Front Pembela Islam > > > > ------- > > *2. Salinan CATATAN PINGGIR GOENAWAN MUHAMMAD di Majalah Tempo 16-22 > Juni > 200*8 > > > > Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen > dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: "SBY Pengecut!" > > Yang membacakannya Abu Bakar Ba'asyir, disebut sebagai "Amir" > Majelis > Mujahidin Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme. > Yang bikin statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang > dalam tahanan polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir. > > Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan dengan gampang. > Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, dijebloskan ke dalam sel > pengap, atau dipancung. > > Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba'asyir! Ini bukan > Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun > 2008. > > Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang tahanan boleh > dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak dianggap bersalah > sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan membuat maklumat, > bahkan mengecam Kepala Negara. > > Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan dengan > hati-hati--karena para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan berendah hati > dan > beradab. Berendah hati: mereka secara bersama atau masing-masing tak boleh > meletakkan diri sebagai yang mahatahu dan mahaadil. Beradab: karena dengan > kerendahan hati itu, orang yang tertuduh tetap diakui haknya untuk membela > diri; ia bukan hewan untuk korban. > > Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan Ba'asyir, sebab itu > pelik. Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan mutlak kepada > hakim, > jaksa, polisi--juga tak bisa digantungkan kepada kadi, majelis ulama, Ketua > FPI, atau amir yang mana pun. Keadilan yang sebenarnya tak di tangan > manusia. > > Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: kita percaya > kepada yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia Yang Maha Sempurna > yang kita ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. Dengan kata > lain, iman adalah kerinduan yang mengakui keterbatasan diri. Iman > membentuk, > dan dibentuk, sebuah etika kedaifan. > > Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai > di > 17 ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat ketimbang bertolak dari > kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk membuat 220 juta orang > tanpa > konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk punya cara terbaik > mengelola sengketa. > > Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita gagal. Saya baca > sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang disusun oleh > orang-orang Indonesia yang prihatin: " *ternyata, sejarah Indonesia > tidak > bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan > Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an. > Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1998, konflik > antargolongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua, > sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, Munir."* > > Ingatkah, Saudara Ba'asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara > berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita > menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri > paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau > agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut > "bhineka-tunggal-ika". Saya mengimbau agar Saudara juga merawat > rahmat itu. > > Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan > meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda > untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi > ada > sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna--dengan > mengklaim diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi koreksi, sementara > kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi. > > Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan. > > Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya--dan itulah > yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara. > > Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, adalah buah sejarah > dan geografi tanah air ini--di mana perbedaan diakui, karena kebhinekaan > itu > takdir kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan. > > Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik dari tradisi > lokal, "gotong-royong". Kata itu kini telah terlalu sering dipakai > dan > disalahgunakan, tapi sebenarnya ada yang menarik yang dikatakan Bung Karno: > "gotong-royong" itu "paham yang dinamis," lebih dinamis > ketimbang > "kekeluargaan". > > Artinya, "gotong-royong" mengandung kemungkinan berubah-ubah cara dan > prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang satu ikatan > primordial, ikatan "kekeluargaan". Sebab, ada tujuan yang universal, > yang > bisa mengimbau hati dan pikiran siapa saja--"yang kaya dan yang tidak > kaya," > kata Bung Karno, "yang Islam dan yang Kristen", "yang bukan > Indonesia tulen > dengan yang peranakan yang menjadi bangsa Indonesia." > > "Gotong-royong" itu juga berangkat dari kerendahan hati dan sikap > beradab, > sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan membawa nama > Tuhan--atau justru karena membawa nama Tuhan--siapa pun, juga Saudara > Ba'asyir dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan yang disebut Bung Karno > sebagai "egoisme-agama." > > Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun kita tahu, tanah > air ini akan jadi tempat yang mengerikan jika "egoisme" itu > dikobarkan. > Pesan 1 Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: "Hendaknya negara > Indonesia > ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara > leluasa." > > Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara Shihab dan > Ba'asyir. Ataukah bagi Saudara ia tak punya arti apa-apa? > > Goenawan Mohamad > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2.. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

