http://www.antara.co.id/arc/2008/7/3/tata-surya-berbentuk-seperti-telur-bukan-bundar/
Tata Surya Berbentuk Seperti Telur, Bukan Bundar

Paris (ANTARA News) - Jutaan buku teks yang menggambarkan Tata Surya kita 
seperti bola ternyata salah besar, demikian menurut pengkajian atas data yang 
dikirimkan dari antariksa oleh pesawat penyelidik Voyager 2 milik NASA.
Daerah pengaruh Matahari, yang disebut heliosfir, ternyata sangat tidak 
simetris, tidak bulat, kata para ilmuwan, seperti dilaporkan AFP dan Reuters.
Heliosfir terdiri atas antariksa yang didominasi angin surya atau partikel yang 
disemburkan oleh Matahari. Heliosfir merentang hingga di luar orbit Pluto, yang 
mengedari Matahari dengan jarak hampir enam miliar kilometer.
Diluncurkan pada 1977 bagi perjalanan bersejarah ke berbagai planet bagian luar 
Tata Surya, Voyager 2 kini telah melintasi tapal batas yang bergolak, yang 
dikenal sebagai "termination shock", yakni tempat kecepatan angin surya yang 
semula mencapai jutaan mil per jam menurun sampai hanya 250.000 mil per jam 
karena terdesak dari luar oleh pengaruh angin antar bintang. 
Pesawat penyelidik kembarannya, Voyager 1, melintas tapal batas yang sama empat 
tahun lebih awal di tempat berbeda sekitar 1,5 miliar kilometer jauhnya dari 
Matahari.
Perbedaan ini membuktikan heliosfir tidak bulat sama sekali, melainkan seperti 
sebutir telur, demikian menurut pengkajian yang dirilis jurnal Inggris, Nature, 
Rabu. 
"Bayangkan sebuah balon diterbangkan oleh angin surya. Anda boleh jadi 
membayangkan jika anda memegang balon itu, yang bentuknya kebanyakan bulat, dan 
menekannya ke tembok, bentuknya akan rata pada salah satu sisinya," tutur 
Edward Stone dari California Institute of Technology, salah satu ilmuwan yang 
terlibat dalam riset tersebut. 
Itu yang terjadi pada heliosfir, katanya. 
Astronom Universitas Arizona, Randy Jokipii, mengemukakan melintas heliosfir 
oleh kedua Voyager "membuka abad baru penjelajahan antariksa".
Untuk dua dekade mendatang, kedua pesawat penyelidik, yang meluncur dengan 
kecepatan lebih dari 17.000 kilometer per detik, akan menjadi satu-satunya 
sumber bagi pengamatan atas batas jauh Tata Surya kita.
Kedua pesawat semula dikirim untuk melakukan terbang jarak dekat dan mengamati 
Jupiter dan Saturnus, yang membuahkan hasil yang menggembirakan, termasuk 
penemuan beberapa gunung aktif di bulan Jupiter, Io, dan kerumitan pada cincin 
Saturnus.

Diprogram ulang
Setelah itu, misi mereka diprogram ulang untuk menjelajahi antariksa di luar 
planet-planet Tata Surya.
Voyager I dan Voyaegr II menjadi benda buatan manusia pertama yang memasuki 
wilayah yang gelap dan dingin ini, dengan penggerak baterai nuklir yang berumur 
panjang dengan tak adanya energi matahari.
Mereka begitu jauh, sehingga perintah dari Bumi, yang dipancarkan dengan 
kecepatan cahaya, memerlukan waktu lebih dari puluhan jam untuk mencapai 
mereka. masing-masing pesawat penyelidik setiap harinya mjenempuh perjalanan 
sejauh 1,6 juta kilometer.
Bila mereka bertemu dengan mahluk cerdas antariksa, sebagai salam perkenalan 
dari Bumi, kedua pesawat penyelidik membawa time capsule, "rekaman emas" berisi 
musik, termasuk rekaman gending "Ketawang Puspawarna" dari Indonesia, dan 
gambar mengenai kehidupan di Bumi pada pertengahan dasawarsa 1970-an. (*)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke