Ini ada berita di media,mbak:
Mbah Liem: Noorsyaidah Kena Tenung (16) TPG Images ilustrasi Artikel Terkait: Noorsyaidah Ingin Sembuh Sesuai Aqidah (15) MUI Kaltim Dilibatkan Sembuhkan Noorsyaidah (14) Enam Dokter Terbaik Siap Tangani Noorsyaidah (13) Hj Robiah: Saya Ingin Noorsyaidah Sembuh (12) Kawat Masuk Perut Saat akan Dicabut Sendiri (11) Jumat, 11 Juli 2008 | 08:50 WIB SAMARINDA - Mbah Liem, paranormal yang terkenal di Kaltim karena sepak terjang ritualnya mendampingi Bupati (nonaktif) Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais sepakat dengan Ki Joko Bodo bahwa Noorsyaidah terkena santet. "Tidak salah lagi ia itu kena santet tenung. Santet ini tidak membunuh, tapi sifatnya hanya menyakiti sampai yang menyantet itu puas. Yang menyerangnya itu adalah orang yang sangat membenci. Ia itu punya dendam pribadi yang sudah memuncak," ujar Mbah Liem saat dihubungi Tribun Kaltim, kemarin. Ia mengatakan, yang menyantet Noorsyaidah adalah pendatang, bukan suku asli Kalimantan. Untuk bisa sembuh, Noorsyaidah harus diobati dengan ritual sajen adat si penyantet tersebut. "Tidak ada jalan lain ia harus lakukan ritual. Santet itu harus dilawan dengan santet yang lebih tinggi," katanya. Seperti halnya Ki Joko Bodo, Mbah Liem juga mengatakan, santet itu tidak mungkin disembuhkan dengan cara berobat ke dokter. Karena kawat yang tumbuh di perut Noosyaidah telah berlangsung 17 tahun. Mbah Liem menganggap santet itu sangat kuat. "Ini bukan santet beli dari dukun. Tapi, yang menyantet itu adalah orang yang punya dendam pribadi dengan korban," katanya. Ketika diajak untuk menyembuhkan Noorsyaidah, Mbah Liem mengaku siap. Ia mengatakan akan berangkat ke Kaltim dengan catatan ada orang yang mau mempersiapkan syarat-syaratnya. Syarat-syarat yang dimaksudnya itu adalah bagian yang harus dipenuhi dalam ritual penyembuhan. Seperti kelapa muda, ayam hitam, dan telur. Sebagai media perantara dengan penyantet, Mbah Liem meminta potongan kawat yang telah diambil dari perut Noorsyaidah. "Insya Allah bisa sembuh. Saya butuh kawat dari perutnya itu perlu sebagai media penghubung. Nanti akan muncul wajah yang menyantet dari dalam air yang saya taruh pada mangkuk. Saya akan serang balik dan mengobat. Tidak perlu takut, saya akan korbankan binatang. Nanti kalau syarat-syarat ini dipenuhi saya akan datang dan bisa disaksikan bagaimana ritualnya," kata Mbah Liem. Tentang apa yang dialami Noorsyaidah, spesialis penyakit dalam Prof Dr dr HR Moh Yogiantoro Sp PD-KGH menduga kuat kondisi itu sebagai sesuatu di luar jangkauan diagnosa medis. Namun, dari sisi medis, mungkin saja sebagai manusia Noorsyaidah mengalami kelainan anatomi, metabolisme, dan kejanggalan (anomali) lain, seperti tumor dan kanker, sehingga muncul kawat-kawat dari perut dan dadanya. "Cuma ini memang aneh. Yang jelas, ada kondisi tertentu yang bisa disebut sebagai penyakit nonmedis dan itu memerlukan pengobatan dari ahli lain. Inilah yang kemungkinan besar berhubungan dengan kasus yang dialami Noorsyaidah," kata spesialis dari RSU Dr Soetomo Surabaya yang akrab dipanggil Prof Yogi ini. Menurut Prof Yogi, pada beberapa kasus penyakit, ada yang memerlukan penyelesaian medis dan nonmedis sekaligus. Namun, ada pula yang cukup ditangani secara nonmedis, sedangkan penanganan medisnya kurang bermanfaat. Namun, ketika diminta menyebutkan tindakan nonmedis seperti apa yang bisa digunakan untuk menangani kasus Noorsyaidah, Prof Yogi menyebut hal itu tergantung dari kemauan si penderita sendiri. Ketika didesak, apakah menggunakan cara gaib, Prof Yogi menyebut kemungkinan ke arah tersebut selalu ada. "Percaya kepada Allah SWT, itu saja sudah merupakan bagian dari cara gaib. Begitu juga penyakit nonmedis, mungkin saja gaib. Sebab, hal itu sudah di luar jangkauan dunia kedokteran yang konvensional," tandasnya. Pemerhati dan praktisi supranatural sahabat Prof Yogi, KH Ir Agus Ubaidilah, ketika ditanya tentang kasus yang dialami Noorsyaidah membenarkan bahwa penyakit yang diderita wanita itu terjadi akibat kiriman benda gaib yang dibuat oleh manusia. Untuk pengobatannya, tutur Agus, tidak bisa dilakukan melalui medis. "Kalaupun ia pernah menggunakan pengobatan medis ternyata berhasil, tapi begitu kembali ke Samarinda kawat itu ternyata bermunculan lagi. Ini menunjukkan bahwa penyakitnya sudah di luar medis," kata KH Agus. Dari penerawangan jarak jauh yang dilakukannya dengan melihat foto dan ejaan nama Noorsyaidah, pria yang tinggal di Sidoarjo ini mengaku, ada sesuatu yang buruk yang ditanamkan di rumah Noorsyaidah. Hal buruk itulah yang kemudian membuat munculnya kawat-kawat dari perut dan dadanya. "Perlu proses penanganan yang panjang untuk mengobati Ibu Noor ini. Karena hal gaib itu telah ditanamkan pada dirinya sejak lama," kata Agus. (persda network/yat/bdu) --- In [email protected], "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > _____ > > > > fyi > > > > > > http://www.jawapos.co.id/ > > > > Jum'at, 11 Juli 2008 > > > > > > [ Jum'at, 11 Juli 2008 ] > > Selama 17 Tahun Noorsyaidah Terus Keluarkan Kawat Tembus Kulit > > Capai Panjang 10-20 Cm, Rontok, dan Muncul Lagi > > Berusia 40 tahun, sebagian besar waktu Noorsyaidah dihabiskan dengan > penderitaan dan rasa sakit yang amat sangat. Sakit itu muncul akibat > kawat yang terus keluar dari perut menembus kulitnya selama 17 tahun > terakhir. > > ----------- > > Perempuan yang tinggal di Jalan Merdeka III Samarinda, Kalimantan Timur, > itu tidak bisa memahami apa yang sedang dialaminya. Kawat besi terus > keluar dari perut dan menembus kulitnya, terutama saat dia tidur. Sudah > tidak terhitung berapa banyak baju yang robek akibat peristiwa nyeleneh > tersebut. > > "Penyakit" itu mulai dirasakan sejak dia menyelesaikan pendidikan di > Fisipol Universitas Mulawarman pada 1991. Meski begitu, dia tetap > beraktivitas dengan mengajar di sebuah TK secara sukarela. "Setidaknya, > bisa melupakan rasa sakit," katanya. > > Paling menyusahkan adalah ketika dia harus berjalan. Dia harus > membungkuk serta menahan baju dan jaketnya agar tidak terkena ujung > kawat yang menyembul dari perutnya. Meski begitu, dia dengan ramah > menyambut siapa saja yang menemui dan mengajaknya berdialog. > > Menurut dia, kawat-kawat tersebut biasanya rontok dengan sendirinya > setelah satu pekan menancap di perutnya. Namun begitu kawat itu rontok, > muncul kawat lain dari dalam perut dan menembus kulitnya lagi. > Penderitaannya sedikit berkurang enam bulan terakhir. Kawat yang kini > masih menancap di perutnya itu keluar enam bulan lalu dan belum juga > rontok. > > Penderitaannya bertambah karena lubang tempat kawat tersebut mencuat > meneteskan darah. Darah itu cepat kering sehingga susah dihilangkan. > > Anehnya, saat tanggal kelahirannya pada 9 Januari lalu, rasa sakitnya > meningkat. Dia bahkan sempat dianggap sudah mati. Namun, dia "hidup" > lagi setelah berita kematiannya diumumkan lewat masjid. > > Sampai saat ini, dia tidak tahu bagaimana semua penderitaan tersebut > berawal, juga penyebabnya. Dia hanya ingat merasa sakit demam saat masih > kelas V SD. Demam itu bahkan sempat membuatnya mengalami kebutaan. > > Selanjutnya, berbagai penyakit bergantian menyerangnya. Terakhir dan > paling menyiksa adalah kawat yang terus keluar dari perut dan menembus > kulitnya itu. > > Dia kali pertama mengetahui hal tersebut saat mandi. Tiba-tiba, sebatang > kawat muncul dari kulit perutnya. > > Penasaran, dia menyimpan kawat itu. Keesokan hari, kawat-kawat lain > mulai tumbuh tanpa henti. Ketika mencapai panjang antara 10-20 cm, > kawat-kawat tersebut tanggal sendiri, diganti dengan kawat lain yang > muncul dari lubang yang sama. > > Pernah dia mencoba mencabut kawat tersebut. Namun, justru benda itu > melesak ke dalam perutnya dan tak lama kemudian kembali muncul. "Pasrah, > tabah, dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Saya tidak pernah > berpikiran buruk tentang penyakit itu," ujar Noorsyaidah. > > Upaya pengobatan pun pernah dilakukannya. Mulai yang medis hingga > alternatif. Tapi, tak ada satu pun yang berbuah kesembuhan. > (bm-2/jpnn/rukbersambung) > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

