From: korandigital To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 11, 2008 9:00 AM
Subject: [Koran-Digital] Wawan Hari Purwanto => Saya Khilaf dan Minta Maaf
Jumat, 11 Juli 2008 8:38:00
Saya Khilaf dan Minta Maaf
JAKARTA -- Pengamat intelijen Dr Wawan Hari Purwanto mengaku khilaf dan meminta
maaf atas pernyataannya yang mengaitkan ajaran zakat, infak, dan shadaqah (ZIS)
dalam Islam dengan pendanaan aksi terorisme. Dia juga membantah sebagai agen
intelijen, apalagi bertugas untuk melakukan kampanye hitam (black campaign)
terhadap Islam.
''Ini kekhilafan. Maka dengan hati yang tulus, lillahita'ala, saya menyatakan
menyesal dan minta maaf. Saya tidak akan melakukan lagi hal yang akan dianggap
menyerang agama yang saya anut,'' kata Wawan ketika ditelepon Republika, tadi
malam.
Penegasan itu disampaikan Wawan setelah pada sore kemarin memberikan
klarifikasi dalam jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Dalam beberapa
hari terakhir, ulahnya mendapat kecaman terutama dari Majelis Ulama Indonesia
(MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Kalangan DPR juga bereaksi keras.
''Orang sakit yang mencurigai dana zakat untuk aksi terorisme. Itu sesat dan
menyesatkan. Jangan cari popularitas dengan cara begitu,'' kata anggota Fraksi
Bintang Pelopor Demokrasi (BPD), Ali Mochtar Ngabalin.
Menteri Pertahanan (Menhan) Kabinet Bayangan di DPR, Yuddy Chrisnandi, menilai
yang mengidentikkan terorisme dengan Islam merupakan pikiran yang sangat sesat.
''Dia harus meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam,'' kata politikus
Partai Golkar itu.
Anggota Komisi Hukum (III) dan Fraksi PKS, Soeripto, menilai pernyataan Wawan
tidak mencerminkan seorang pengamat independen. ''Dia harusnya memberikan
informasi yang akurat. Jangan sembarangan dan ceroboh, seakan-akan ada misi
tertentu,'' kata tokoh intelijen ini. Gara-gara pernyataan itu, lanjut
Soeripto, citra Islam di Indonesia kembali memburuk. Terutama citra lembaga
zakat yang kini dicurigai jadi tempat mengumpulkan dana untuk terorisme.
Apakah pernyataan Wawan ada kaitannya dengan kegiatan intelijen yang gencar
memojokkan Islam, Soeripto mengaku tidak tahu. Namun, ia menganalisis, Wawan
membuat pernyataan itu di Semarang (Jawa Tengah) sebagai tempat pelatihan
Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror yang bekerja sama dengan Amerika Serikat
dan sekutunya. ''Ia membangun opini seakan-akan untuk menyuplai informasi ke
Densus,'' kata Soeripto.
Membantah rekayasa
''Saya tidak menyangka, kekhawatiran saya terhadap penyalahgunaan dana ZIS, kok
jadi begini? Yakinlah, tak ada rekayasa dan tendensi apa pun untuk menyudutkan
ajaran Islam,'' ujar peneliti dan dosen di sejumlah perguruan tinggi itu.
Dia mengaku sebagai seorang Muslim yang taat. ''Saya ini lahir di Kudus, sebuah
kota santri. Saya juga menjadi panitia pembangunan sebuah masjid di Cijantung,
Jakarta Timur, yang dananya juga dari ZIS,'' katanya. Bahwa ada sejumlah
intelektual Muslim yang diperalat musuh Islam untuk melakukan serangan dari
dalam, Wawan menepis sebagai bagian dari kelompok tersebut. ''Di dunia Barat
saya malah gencar membela Islam dan tidak mungkin merusak agama sendiri yang
rahmatan lil'alamin,'' katanya.
Pernyataannya mengenai zakat, ujar Wawan, adalah spontanitas ketika menjawab
pertanyaan wartawan. Ia mencontohkan kasus di Arab Saudi yang penggunaan dana
zakatnya diawasi oleh pemerintah untuk mencegah penyalahgunaan.
Namun, berdasarkan penelitiannya, selama ini tidak ada bukti bahwa dana zakat
telah diselewengkan untuk kegiatan terorisme di Indonesia. Ia menegaskan,
pernyataannya sekadar untuk kewaspadaan. ''Kalau dana zakat itu sampai
disalahgunakan, maka yang akan terkena imbasnya umat Islam sendiri,'' katanya.
Sebagai peneliti yang aktif di Lembaga Pengembangan Ketahanan Nasional (LPKN),
Wawan mengaku dekat dengan berbagai kalangan dari dunia Barat maupun Timur,
baik dari pihak moderat maupun radikal. Kerjanya hanya meneliti atau memberikan
ceramah mengenai wawasan kebangsaan seperti di Lembaga Ketahanan Nasional
(Lemhannas), Departemen Pertahanan, Kejaksaan Agung, dan Badan Intelijen Negara
(BIN) atau lembaga-lembaga intelijen TNI. ''Saya bukan anggota BIN, tapi suka
ceramah di lembaga-lembaga intelijen,'' tukas Wawan.
Penulis buku Teroris Under Cover itu juga meyakini bahwa aksi terorisme sama
sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. ''Itu hanyalah oknum yang
mengatasnamakan dan ingin merusak Islam,'' tegasnya. zam/djo/evy
( ) sumber : republika-