Apabila dipakai suatu argumentasi sebagaimana yang bung nalarkan, memang 
sepertinya alasan buta huruf adalah mengada-ada atau diada-adakan, bukan. 
Pengertian kata "ummi" dalam budaya Bangsa Arab pada masa abad-abad sebelum 
abad ke 7 AD, adalah pengertian elite Arabia terhadap bangsa Arab gurun, 
al-badwii, yang hanya berbudaya nomad tidak mengenal aturan-aturan dan adat 
istiadat bermasyarakat kelompok menetap (lihat Phillip K. Hitti: "History of 
the Arabs"). 

Kita akan heran jika ada seseorang yang ngotot dengan kemauan dirinya walaupun 
dibuktikan keliru. Dalam budaya Arab konsistensi identitas, kehormatan diri dan 
kelompok (clan) serta kebulatan tekad merupakan nilai-nilai luhur yang 
diagungkan dalam masyarakat nomad. Dan rasulullah Muhammad saw pernah didik 
oleh keluarga Arab Badwii semasa bocahnya, sehingga identitas nomad Arabia 
tertanam, terhunjam sangat dalam pada dirinya. Inilah ciri-ciri utama yang 
membuat rasulullah Muhammad saw tetap buta huruf karena setelah diangkat jadi 
rasul tidak diperintah untuk belajar mengenal huruf dan membaca serta menulis 
oleh Allah swt. Bahkan di dalam beberapa wahyu yang difirmankan kepada beliau 
ditunjukkan "arti positif" kebutahurufan beliau dalam menghadapi perdebatan 
ideologi dengan yang menentang, tidak mempercayai kerasulan beliau serta tidak 
mempercayai Al-Quran sebagai wahyu yanbg diterima beliau dari Allah swt. Jadi 
di dalam melihat interaksi dialektis diantara Muhammad bin Abdullah bin Abdul 
Mutholib secara pribadi, asal kelompok Quraisyi, Bangsa Arab, letak geografi 
semenanjung Arab, berbagai bangsa yang berdiam mengelilingi semenanjung Arabia 
dll faktor sebagai suatu realitas obyektif mandiri kita tidak boleh hanya 
memegang satu bahagian saja tanpa mempertimbangkan dan menginferensikannya 
secara menyeluruh. Segala yang ada di ruang-waktu ini secara dialektis alami 
saling berinteraksi dalam model jalur informasi kwantum gravitasi.

Wassalam,
A.M
  ----- Original Message ----- 
  From: Peter Sleman 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, July 15, 2008 1:32 PM
  Subject: Re: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja


  setuju bung Marconi, yg kemudian lantas jd perdebatan itu apakah Rasulullah 
menerima wahyu "...iqra..." kok ada ayat yg bilang beliau itu buta huruf, khan 
jd aneh wong dari menerima wahyu pertama disuruh baca, kok masih terus buta 
huruf???

  Jawaban yg rasional adalah : rasulullah hrs terus buta huruf dari usia 40 
sampe 62 supaya Al Quran tdk dituduh contek sana sini dari Injil, Taurat, Zabur 
dll

  Contek? buktinya mana?, nih buktinya ada yg dari bahasa persia (kata Firdaus) 
harusnya konsisten pake bhs arab : Jannah.

  ----- Original Message ----
  From: A. Marconi <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Tuesday, July 15, 2008 13:47:19
  Subject: Re: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja

  Bung, kesan saya, apa tidak sebaliknya? Jika bung menganggap Al-Quran itu 
universal, apakah tidak salah bung berpendapat "...... lama kelamaan tulisan 
anda ini semakin mempersempit universalitas alquran."?

  Saya cenderung telusuri dahulu mula buka (sejarah) theologi dan sejarah 
sains. Nanti akan bung temukan bahwa sebelum manusia mengenal sains terlebih 
dahulu mereka membangun theologi, mereka mendasarkan diri kepada persangkaan 
pemikiran dan fantasi. Dan sains lahir dari kritik manusia terhadap theologi 
melalui filosofi. Sehingga sains merupakan pemahaman, pengenalan dan titik 
tolak pemikiran manusia yang paling akhir dari urutan sejarah budaya manusia di 
Bumi, setelah rasulullah Muhammad saw pada kira-kira 6 Agustus 670 AD menerima 
wahyu pertama. 

  Dan justru Al-Quran-lah wahyu pertama yang menganjurkan manusia mempergunakan 
sains guna mengenal illah yang sejati dengan seruan wahyu pertama "Iqro' 
Bismirobbika al-ladzi holaq....... .." ("Bacalah! dengan atasnama Rob-mu Yang 
menciptakan ......". Untuk bisa membaca kita perlu ilmu pengetahuan (tengok 
sejarah munculnya huruf-huruf paku dan gambar-gambar di gua-gua). Pengetahuan 
manusia yang diakses sebelum lahirnya sains modern pada dasarnya adalah 
pengetahuan pengalaman praktis dalam kekususan dan berlaku lokal yang belum 
tersimpulkan secara sistematis dan tersusun dalam keumumman sehingga memiliki 
ciri-ciri universalitas.

  Salam sejahtera,
  A.M

  ----- Original Message ----- 
  From: Ferry Adriansyah 
  To: [EMAIL PROTECTED] s.com 
  Sent: Tuesday, July 15, 2008 4:15 AM
  Subject: RE: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja

  Bung, saya perhatikan, lama kelamaan tulisan anda ini semakin mempersempit
  universalitas alquran. Anda terlalu sibuk melakukan pembuktian kebenaran
  Islam/alquran dengan sebatas elmu pengetahuan kealaman. Seperti orang yang
  sedang mengalami 'puber" dalam beragama. Secara prinsip saya menghargai
  kerja keras anda, tapi jangan sampai membuat anda terbelenggu dalam standar
  kebenaran elmu kealaman. Apalagi anda terkesan sinis terhadap teologi dan
  elmu-elmu keso-sial-an. Islam dan Alquran seakan anda kerangkeng dalam
  disiplin ilmu pengetahuan yang anda tekuni. Saya sarankan, kacamata kuda
  yang anda gunakan dilepas secepatnya. Proporsionalnya saja lah dalam
  memposisikan disiplin elmu tertentu.

  Salam damai,

  Ferry 

  _____ 

  From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On Behalf
  Of A. Marconi
  Sent: 14 Juli 2008 18:03
  To: patrapmania@ yahoogroups. com; Interdisiplin@ yahoogroups. com;
  Sains_Islami@ yahoogroups. com; [EMAIL PROTECTED] s.com;
  islam_liberal@ yahoogroups. com
  Subject: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja

  Islam Hanya Ada Satu Saja.

  April 9th, 2008 at 12:53 pm 

  Assalammu'alaikum wr wb,

  Hemat saya, jika kata Islam dimaksudkan sebagai Al-Dinu al-Islam, maka
  sesungguhnya kategorinya masuk di dalam kategori ilmu-pengetahuan kealaman
  atau 

  sains bukan theology (baca Al-Quranu al-Karim dengan tartil dan saksama).
  Menurut ayat-ayat Al-Quran, Al-Dinu al-Islam adalah Hukum alam semesta.
  Seluruh alam semesta lahir, berkembang dan runtuh menurut hukum dan aturan
  yang pasti dan tak dapat dihindari. Hukum ini juga berlaku bagi masyarakat
  manusia dan pribadi-pribadi manusia. Hukum ini telah dapat dideteksi,
  diujicoba, dianalisis sehingga diketahui keumuman dan kekhususan keberlakuan
  hukum alam semesta ini secara lokal, setempat dan secara menyeluruh. Hukum
  alam semesta ini secara mendasar telah dapat diujicoba melalui teori
  matematika S.W. Hawking et al dengan mempergunakan model hiphotetis (saya
  gunakan definisi hipotese demi memberikan ruang kebebasan argumentasi kepada
  para kritikus teori, a.l teori "Twistor" dari Roger Penrose PhD) yang
  dinamakannya sebagai "No Boundary Proposals". Dalam proposalnya itu S.W.
  Hawking et al mendasarkan pemikirannya kepada keumuman hukum dasar yang
  menjadi prinsip kwantum mekanika yang dikenal sebagai superposisi.
  Superposisi mekanika klasik ini oleh Richard Fyneman dirumuskan dalam model
  matematika kwantum superposisi yang memasukkan semua kemungkinan yang
  berbeda-beda dari rata-rata proses kejadian dari awal sampai selesai. Pada
  galibnya setiap obyek, baik yang klasik maupun kwantum, selalu berada di
  suatu keadaan yang menunjukkan letak kedudukannya dan kecepatan dalam ruang.
  Apabila dalam hal obyek klasik yang berada dalam suatu keadaan dapat
  dinyatakan dengan menjelaskannya melalui suatu jumlah satuan tunggal, maka
  pada obyek kwantum keadaan keberadaannya lebih diperkaya lagi sebagai jumlah
  atau superposisi dari semua kemungkinan yang ada pada keadaan klasik.
  Prinsip ini dipergunakan dalam pendekatan geometri kwantum gravitasi
  Eucledian yang diaplikasikan di seluruh alam semesta. Pendekatan geometri
  kwantum gravitasi ini tidak melibatkan superposisi dari jalan setapak
  partikel yang berlain-lainan, tetapi melibatkan proses yang berlain-lainan
  bagaimana alam semesta berkembang dalam waktu dan membentuk berbagai
  geometri ruang-waktu yang dimungkinkan [Jonathan J. Halliwel: "Quantum
  Cosmology and the Creation of the Universe" SciAm, Dec.1991]. 

  Pada ujicoba simulasi komputer dengan mempergunakan komputer tercanggih saat
  ini, sebuah team studi yang terdiri dari Jan Ambjorn dari Niels Bohr
  Institute Copenhagen, Denmark dan Universiteit Utrecht, Negeri Belanda,
  Jerzy Jurkiewicz dari Jagiellonian Institute Krakow, Polandia dan Renate
  Loll dari Universiteit Utrecht, Negeri Belanda telah dihasilkan suatu
  simulasi komputer pendekatan alam semesta melalui kwantum gravitasi geometri
  Eucledian dengan menyertakan KAUSALITAS PERTAMA bagi pembangunan alam
  semesta mengikuti pola pemikiran No Boundary Prosposals yang mendefinisikan
  ruang dan waktu dalam tingkat kesederajatan di mana waktu dinyatakan sebagai
  WAKTU SEMU (immaginair) .Di dalam teknis aplikasi simulasi komputer ini
  diwujudkan dalam penyertaan sebab struktural dengan yargon teknisnya "Causal
  Dynamical Triangulations" pada tingkat yang jauh lebih awal menjelang
  fluktuasi. Dalam teknis model ini pada setiap simplex dipasang panah waktu
  dari masalampau yang mengarah ke masadepan, selanjutnya diharuskan
  berlakunya suatu aturan sebab perekatan: tiap dua simplex harus direkatkan
  bersama sedemikian rupa agar arah panah waktunya menjadi searah, tidak
  pernah akan mandeg atau berlari balik arah. Dengan demikian maka ruang
  terjaga secara menyeluruh akan bentuk globalnya sepanjang perjalanan waktu,
  tidak rusak dan pecah berkeping-keping, terpisah-pisah, serta tidak menjadi
  "wormhole". Dalam proses menunggu hasil simulasi dengaan penuh ketegangan
  dengan berbagai kemungkinan yang terbuka dari ujicoba simulasi komputer
  tersebut, maka pada suatu hari di tahun 2004 komputer para fisikawan
  eksperimental tadi memberikan hasil pertama pendekatan dimensi alam semesta
  dalam satuan 4,02+/-0,1[Jan Ambjorn, Jerzy Jurkiewicz and Renate Loll: "The
  Selfs Organizing Quantum Universe" SciAm, July 2008].Demikianlah
  interpretasi yang paling dekat atas firman QS.36 ayat 82 mengenai kalimat
  "KUN! FAYAKUUN" secara mantab semakin jelas dan benderang. 

  Karenanya bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu eksakta akan lebih dekat
  untuk mampu memahami maksud ayat-ayat Al-Quran ketimbang yang hanya
  mempelajari ilmu-ilmu sosial. Sebab ilmu-ilmu sosial tidak dapat dipastikan
  dengan suatu teori maupun hyphothese. Ilmu-ilmu sosial, walaupun sekarang
  diusahakan mempergunakan peralatan ilmu-ilmu eksakta juga, namun prosentase
  kesalahan masih sangat besar dan bahkan kadang-kadang ada hal-hal yang tak
  terbaca samasekali (studie peristiwa G30S dan Surat Perintah Sebelas Maret
  1966). Dalam ilmu sosial masih belum diperoleh peluang kajiulang dan ujicoba
  dalam skala masyarakat manusia. Sekalipun suatu pandangan belum dibuktikan
  oleh realitas mandiri masyarakat manusia, kebanyakan pandangan fikir
  seseorang atau suatu kelompok manusia telah diadopsi secara konsensus
  sebagai teori yang dapat diaplikasikan tanpa menunggu konfirmasi data
  kajiulang dan ujicoba. Apabila masyarakat-masyarak at manusia yang pernah
  lahir, tumbuh, berkembang dan runtuh boleh dijadikan sebagai model-model
  masyarakat percobaan, kajiulang dan ujicoba, maka perolehan data darinya
  secara faktual sulit dapat dipastikan adanya, disebabkan terjadinya
  disintegrasi dan pemusnahan kebudayaan serta registrasi sejarah. 

  Di dalam ilmu eksakta terkandung selain rasionalitas dan logika pemikiran
  empiris juga ada kaitan dialektika alamiyah yang menjadi jelujur dalam
  lompatan 

  kwalitatif pemikiran (baca cerita S.W. Hawking dalam "Brief History of Time"
  di Nature). Di dalam Al-Quran firman-firman yang diwahyukan dalam Surah
  An-Najm (53) dari ayat 1 s/d ayat 18 memberi petunjuk kepada kita akan
  permasalahan dialektika alamiyah yang hingga kini masih terus digeluti oleh
  para ahli 

  matematika teori (Brian Green menjelaskan dialektika matematik alam semesta
  dengan jelas dan menarik dalam bukunya "The Fabric of the Cosmos"). 

  Menurut hemat saya Islam itu hanya ada SATU saja, yaitu yang difirmankan di
  dalam model Al-Quranu al-Karim dan diwahyukan kepada rasulullah Muhammad
  saw. Maksud saya agar kita tidak menjadi bingung sendiri oleh banyaknya cara
  pendekatan terhadap Islam yang telah dilakukan oleh para ahli Islam, sarjana
  Muslim dan 'ulama theologi Islam. Pendekatan terhadap Islam ini tentunya
  harus ada titik tolaknya, dari mana hendak didekati? 

  Jika didekati dari pemikiran manusia maka harus dicatat bahwa seringkali
  manusia mempergunakan titik tolak duga-duga tanpa dasar faktual (dzhonu)
  yang di dalam tradisi Yunani dinamakan filosofi. Oleh sebab itu di dalam
  penyajian obyek kajian diperlukan ketepatan penggunaan sistematika,
  symantica, gramatika, estetika, bahasa. Pendekatan filosofis demikian tidak
  akan dapat menghindar dari kerangka kerja pemikiran yang bertolak dari
  kepercayaan terhadap sesuatu yang supra alami dalam model religi atau agama.
  Sedangkan sifat-sifat Allah swt dan asma'ul husnaa yang 99 itu sendiri
  menunjukkan kemanunggalan yang tidak terjangkau akal, fikiran dan perasaan
  manusia. Jika didekati dari titik tolak pengamatan lapangan (empirik) maka
  kita tidak bisa menduga-duga begitu saja tanpa data faktual, sebab kita
  dikonfrontasi dengan bombardemen informasi persepsional melalui berbagai
  peralatan penginderaan yang ada pada setiap individu manusia (cobalah ke
  luar kamar dan menghirup udara di halaman atau kebun atau jalanan dan
  perhatikan langit yang gelap penuh bintang-bintang) . Bahkan dalam hal
  memahami "rasa" yang biasanya menjadi acuan spiritualisme religius dituntut
  adanya data-data faktual dari model keberadaannya yang sudah terregistrasi
  (QS.53:11). Maka adalah tidak mengada-ada apabila sunnah rasulullah Muhammad
  saw juga tidak menerapkan firman-firman Allah swt secara religius, tetapi
  secara praktis, methodis, didaktis dan strategis sebagai pembumian firman
  "Iqro' Bismirobbika al-ladzii holaq.....", sehingga terbentuk suatu model
  masyarakat manusia modern yang BERADAB dengan dasar Konstitusi Madinah di
  semenanjung Arabia yang masih biadab.

  Apabila kita memperhatikan kata per kata hingga mengenal kombinasi
  huruf-huruf Hijaiyah yang dipergunakan sebagai akar kata dalam susunan kata
  dan kalimat firman di dalam Al-Quran maka akan kita temukan petunjuk agar
  kita mendekati dari titik tolak di luar diri kita, sebagai manusia. Yaitu
  bertolak dari realitas mandiri alam semesta, masyarakat manusia. Dari titik
  tolak demikian itu kita akan dapat mengumpulkan pengetahaun dan menyusun
  postulat, hipothese, teori dan menyimpulkannya ke dalam ilmu pengetahuan
  yang dapat kita refernsikan kepada realitas mandiri alam semesta seisinya
  juga dapat direferensikan kepada firman-firmanb Qurani. Seyogyanya
  teman-teman yang memiliki basis sains (ilmu-pengetahuan kealaman)
  berkerjasama dengan teman-teman yang memiliki basis ilmu-ilmu sosial
  melakukan studi Islam dengan bertitik tolak dari realitas mandiri alam
  semesta. Selanjutnya hasil-hasil pendekatan tersebut dapat diaplikasikan
  kedalam studi gejala-gejala sosial yang hidup dan berkembang di dalam
  masyarakat Muslimin, di dalam kehidupan nyata keseharian kita pribadi dengan
  maksud meningkatkan kesadaran manusia biologis ke tingkat kesadaran manusia
  Mukminin, Muhlisin, Muhsinin dan Mutaqin. Ke-empat model kesadaran ini akan
  mentransformasikan diri kita menjadi anggota dari suatu masyarakat mahluk
  ciptaan yang ideal: Kholifatan fii al-ardzh. Polah laku dan pemikiran
  manusia tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan manusia terhadap alam semesta
  secara tunggal. Dalam hal ini tampak kelemahan ilmu-ilmu sosial yang
  memisahkan obyek kajiannya (manusia individual dan masyarakatnya) dari hukum
  alam semesta secara general.

  Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah wassalam,

  A.M

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]

  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG - http://www.avg. com 
  Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.10/1551 - Release Date: 14-7-2008 
6:49

  [Non-text portions of this message have been removed]

  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

  [Non-text portions of this message have been removed]



   
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com 
Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.11/1553 - Release Date: 15-7-2008 5:48


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke