Bung, pemahaman anda tentang khalaqo masih sangat dangkal. Masih menempatkannya sebagai kata yang berdiri sendiri.
Bung, mengenai kaum sufi, jika anda tamat membaca tarikh islam secara objektif, tentunya anda tidak akan memberikan pernyataan bahwa jika tafsir kaum sufi itu benar dunia sudah aman. Perkataan anda mengisyaratkan minimnya pengetahuan islam anda. _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of A. Marconi Sent: 16 Juli 2008 12:07 To: [email protected] Subject: Re: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja Memang. kata "holaqo - ho'-lam-qof" itu punya penggunaan pengertian berbeda dengan kata "badi'u - ba'-dal-'ain" yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan kata "mencipta, membuat, mengadakan" dan masih banyak lagi kata sinonim yang digunakan firman Qurani untuk memberikan aksentuasi terhadap YANG DIMAKSUDKAN oleh firman Qurani. Dalam hal tersebut di atas, saya mempergunakan kutipan firman dalam rangka menjelaskan tentang ARAH PETUNJUK firman-firman Qurani yang menjelaskan mengenai KEHARUSAN manusia mempergunakan prasarana penginderaan yang dimilikinya dan rasionalitas pemikiran manusia dalam memahami KEBERADAAN ALLAH SWT YANG UNIK (TUNGGAL TAK TERTANDINGI). Dalam tulisan saya tunjukkan perbedaan titik tolak dasar ilmu-ilmu eksakta dari ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial menggarap permasalahan benda yang berfikir dan berkesadaran yang menjadi SUBYEK alam semesta, sedangkan sains menggarap benda yang tidak berkesadaran dan tidak berfikir sebagai OBYEK dari subyek yang berfikir dan berkesadaran, subyek alam semesta (pengamat-observer). Saya hanya menyarankan agar PETUNJUK WAHYU QURANI difahami dan dilaksanakan sebagaimana yang dimaksudkan oleh YANG MAHA PEMBERI PETUNJUK. Dan tidak kita laksanakan sebagaimana yang kita perkirakan dan duga-duga tanpa dasar faktual. Apabila BENAR atau TEPAT pemahaman dan penafsiran kaum sufi dan para spiritualis terhadap TUHAN sebagaimana bung katakan, maka pada galibnya ummat manusia ini sudah hidup aman sentausa, makmur dan bergembira ria sebagaimana di idamkan saat sekarang ini, khususnya di dalam masyarakat kaum Muslimin sendiri. Salam, A,M ----- Original Message ----- From: Ferry Adriansyah To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com Sent: Tuesday, July 15, 2008 9:43 AM Subject: RE: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja Pemahaman anda terhadap wahyu pertama menunjukan anda hanya bisa memahami alquran dari sudut sains. Kata yang digunakan quran adalah khalaqo dalam wahyu pertama yang anda kutip. Sudahkah anda mengkaji dengan mendalam kata khalaqo dalam tata bahasa arab itu memiliki makna seperti apa? Untuk ketegori menciptakan yang seperti apa biasanya bangsa arab menggunakan kata khalaqo? Begitu juga nantinya dalam alquran. Argumentasi yang anda sampaikan sepertinya tidak didasari basis epistimologi studi alquran itu sendiri. Apa yang anda lakukan adalah penafsiran seperti terjun bebas. Tapi itu hak anda, yang menjadi titik poin saya adalah, tolong hindari arogansi disiplin keilmuan tertentu. Tulisan anda terasa hambar dan kaku karena anda sangat sibuk mengutip berbagai teori untuk membangun pandangan apologetik anda untuk membuktikan bahwa islam atau alquran sejalan dengan sains. Di lain sisi, anda tidak dapat memaparkan kajian mendalam dilluar kajian sains. Kalau anda mempertanyakan universalitas alquran, anda harus mampu membedakan terlebih dahulu teks ayat-ayat quran dan nilai moral ayat-ayat al-quran. Teks alquran memang lokal dan spesifik, tapi tidak untuk nilai moral alquran, ia bersifat universal. Sama seperti kitab suci manapun yang di dalam teks-teksnya terkandung nilai-nilai kebajikan. Banyak sarjana quran yang mengingatkan, alquran turun dalam bentuk sastra, maka setidaknya kita harus memposisikan dan memandang quran dalam perspektif sastra. Penuh dengan perlambang dan metafor. Begitupun misalnya dalam memahami wahyu pertama, terlalu gegabah jika anda menafsirkan wahyu pertama dengan sangat kaku seperti tadi lalu menjadikannya sebagai tafsir tunggal yang anda yakini paling tepat. Berislam tidak seperti matematika. Kebaikan - keburukan = nasib di kehidupan selanjutnya. Jika hasilnya plus maka akan mendapat kebahagian. Jika hasilnya minus maka akan beroleh kesengsaraan. Berislam juga tidak seperti sekolah, Main-main/bandel di kelas 1 sampe kelas 5, di kelas 6 baru memperbaiki diri (taubat) lalu lulus dari pendidikan dasar dan berhak melanjutkan ke kehidupan selanjutnya. Saya katakan anda terlalu apologetik salah satunya dengan pernyataan anda, Polah laku dan pemikiran manusia tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan manusia terhadap alam semesta secara tunggal. Dalam hal ini tampak kelemahan ilmu-ilmu sosial yang memisahkan obyek kajiannya (manusia individual dan masyarakatnya) dari hukum alam semesta secara general. Jutaan jiwa praktisi tasawuf misalnya, atau mereka yang menjalani praktis sufi/spiritualitas baik dari kalangan agama tertentu atau non agama, tanpa mereka dididik dengan pendekatan sains atau fisika, menyadari betul bahwa jiwa atau diri mereka bagian tidak terpisahkan dari semesta. Dalam setiap benda sekecil apapun baik yang "bernyawa" atau tidak disana ada "nafas" Tuhan. Tuhan sebagai pusat dari semesta. Mereka mampu memahami itu bukan dari nalar sains atau fisika. Tapi mereka memahami semua itu karena mereka "mengalami" sendiri semuanya. Mengalami semuanya karena mereka telah mengalami kesadaran ruhani. Jiwa mereka telah tersingkap untuk memahami kehidupan. Tidak perlu berliku-liku membangun keyakinan berbasis teori-teori tertentu. Waktu tidak dibuang-buang untuk hal yang tidak terlalu penting. Justru apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan, dan apa yang dipelajari bukan lagi mengurusi teologi atau mempelajari sains untuk mengukuhkan atau membuktikan kebenaran konsep teologi. Kalo mereka belajar sains atau ilmu apapun, tujuannya adalah untuk memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Tanpa perlu bawa-bawa agama. Tanpa perlu bawa-bawa kitab suci. Salam, Ferry _____ From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com] On Behalf Of A. Marconi Sent: 15 Juli 2008 13:47 To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com Subject: Re: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja Bung, kesan saya, apa tidak sebaliknya? Jika bung menganggap Al-Quran itu universal, apakah tidak salah bung berpendapat "...... lama kelamaan tulisan anda ini semakin mempersempit universalitas alquran."? Saya cenderung telusuri dahulu mula buka (sejarah) theologi dan sejarah sains. Nanti akan bung temukan bahwa sebelum manusia mengenal sains terlebih dahulu mereka membangun theologi, mereka mendasarkan diri kepada persangkaan pemikiran dan fantasi. Dan sains lahir dari kritik manusia terhadap theologi melalui filosofi. Sehingga sains merupakan pemahaman, pengenalan dan titik tolak pemikiran manusia yang paling akhir dari urutan sejarah budaya manusia di Bumi, setelah rasulullah Muhammad saw pada kira-kira 6 Agustus 670 AD menerima wahyu pertama. Dan justru Al-Quran-lah wahyu pertama yang menganjurkan manusia mempergunakan sains guna mengenal illah yang sejati dengan seruan wahyu pertama "Iqro' Bismirobbika al-ladzi holaq........." ("Bacalah! dengan atasnama Rob-mu Yang menciptakan ......". Untuk bisa membaca kita perlu ilmu pengetahuan (tengok sejarah munculnya huruf-huruf paku dan gambar-gambar di gua-gua). Pengetahuan manusia yang diakses sebelum lahirnya sains modern pada dasarnya adalah pengetahuan pengalaman praktis dalam kekususan dan berlaku lokal yang belum tersimpulkan secara sistematis dan tersusun dalam keumumman sehingga memiliki ciri-ciri universalitas. Salam sejahtera, A.M ----- Original Message ----- From: Ferry Adriansyah To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com Sent: Tuesday, July 15, 2008 4:15 AM Subject: RE: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja Bung, saya perhatikan, lama kelamaan tulisan anda ini semakin mempersempit universalitas alquran. Anda terlalu sibuk melakukan pembuktian kebenaran Islam/alquran dengan sebatas elmu pengetahuan kealaman. Seperti orang yang sedang mengalami 'puber" dalam beragama. Secara prinsip saya menghargai kerja keras anda, tapi jangan sampai membuat anda terbelenggu dalam standar kebenaran elmu kealaman. Apalagi anda terkesan sinis terhadap teologi dan elmu-elmu keso-sial-an. Islam dan Alquran seakan anda kerangkeng dalam disiplin ilmu pengetahuan yang anda tekuni. Saya sarankan, kacamata kuda yang anda gunakan dilepas secepatnya. Proporsionalnya saja lah dalam memposisikan disiplin elmu tertentu. Salam damai, Ferry _____ From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com] On Behalf Of A. Marconi Sent: 14 Juli 2008 18:03 To: patrapmania@ <mailto:patrapmania%40yahoogroups.com> yahoogroups.com; Interdisiplin@ <mailto:Interdisiplin%40yahoogroups.com> yahoogroups.com; Sains_Islami@ <mailto:Sains_Islami%40yahoogroups.com> yahoogroups.com; [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com; islam_liberal@ <mailto:islam_liberal%40yahoogroups.com> yahoogroups.com Subject: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja Islam Hanya Ada Satu Saja. April 9th, 2008 at 12:53 pm Assalammu'alaikum wr wb, Hemat saya, jika kata Islam dimaksudkan sebagai Al-Dinu al-Islam, maka sesungguhnya kategorinya masuk di dalam kategori ilmu-pengetahuan kealaman atau sains bukan theology (baca Al-Quranu al-Karim dengan tartil dan saksama). Menurut ayat-ayat Al-Quran, Al-Dinu al-Islam adalah Hukum alam semesta. Seluruh alam semesta lahir, berkembang dan runtuh menurut hukum dan aturan yang pasti dan tak dapat dihindari. Hukum ini juga berlaku bagi masyarakat manusia dan pribadi-pribadi manusia. Hukum ini telah dapat dideteksi, diujicoba, dianalisis sehingga diketahui keumuman dan kekhususan keberlakuan hukum alam semesta ini secara lokal, setempat dan secara menyeluruh. Hukum alam semesta ini secara mendasar telah dapat diujicoba melalui teori matematika S.W. Hawking et al dengan mempergunakan model hiphotetis (saya gunakan definisi hipotese demi memberikan ruang kebebasan argumentasi kepada para kritikus teori, a.l teori "Twistor" dari Roger Penrose PhD) yang dinamakannya sebagai "No Boundary Proposals". Dalam proposalnya itu S.W. Hawking et al mendasarkan pemikirannya kepada keumuman hukum dasar yang menjadi prinsip kwantum mekanika yang dikenal sebagai superposisi. Superposisi mekanika klasik ini oleh Richard Fyneman dirumuskan dalam model matematika kwantum superposisi yang memasukkan semua kemungkinan yang berbeda-beda dari rata-rata proses kejadian dari awal sampai selesai. Pada galibnya setiap obyek, baik yang klasik maupun kwantum, selalu berada di suatu keadaan yang menunjukkan letak kedudukannya dan kecepatan dalam ruang. Apabila dalam hal obyek klasik yang berada dalam suatu keadaan dapat dinyatakan dengan menjelaskannya melalui suatu jumlah satuan tunggal, maka pada obyek kwantum keadaan keberadaannya lebih diperkaya lagi sebagai jumlah atau superposisi dari semua kemungkinan yang ada pada keadaan klasik. Prinsip ini dipergunakan dalam pendekatan geometri kwantum gravitasi Eucledian yang diaplikasikan di seluruh alam semesta. Pendekatan geometri kwantum gravitasi ini tidak melibatkan superposisi dari jalan setapak partikel yang berlain-lainan, tetapi melibatkan proses yang berlain-lainan bagaimana alam semesta berkembang dalam waktu dan membentuk berbagai geometri ruang-waktu yang dimungkinkan [Jonathan J. Halliwel: "Quantum Cosmology and the Creation of the Universe" SciAm, Dec.1991]. Pada ujicoba simulasi komputer dengan mempergunakan komputer tercanggih saat ini, sebuah team studi yang terdiri dari Jan Ambjorn dari Niels Bohr Institute Copenhagen, Denmark dan Universiteit Utrecht, Negeri Belanda, Jerzy Jurkiewicz dari Jagiellonian Institute Krakow, Polandia dan Renate Loll dari Universiteit Utrecht, Negeri Belanda telah dihasilkan suatu simulasi komputer pendekatan alam semesta melalui kwantum gravitasi geometri Eucledian dengan menyertakan KAUSALITAS PERTAMA bagi pembangunan alam semesta mengikuti pola pemikiran No Boundary Prosposals yang mendefinisikan ruang dan waktu dalam tingkat kesederajatan di mana waktu dinyatakan sebagai WAKTU SEMU (immaginair).Di dalam teknis aplikasi simulasi komputer ini diwujudkan dalam penyertaan sebab struktural dengan yargon teknisnya "Causal Dynamical Triangulations" pada tingkat yang jauh lebih awal menjelang fluktuasi. Dalam teknis model ini pada setiap simplex dipasang panah waktu dari masalampau yang mengarah ke masadepan, selanjutnya diharuskan berlakunya suatu aturan sebab perekatan: tiap dua simplex harus direkatkan bersama sedemikian rupa agar arah panah waktunya menjadi searah, tidak pernah akan mandeg atau berlari balik arah. Dengan demikian maka ruang terjaga secara menyeluruh akan bentuk globalnya sepanjang perjalanan waktu, tidak rusak dan pecah berkeping-keping, terpisah-pisah, serta tidak menjadi "wormhole". Dalam proses menunggu hasil simulasi dengaan penuh ketegangan dengan berbagai kemungkinan yang terbuka dari ujicoba simulasi komputer tersebut, maka pada suatu hari di tahun 2004 komputer para fisikawan eksperimental tadi memberikan hasil pertama pendekatan dimensi alam semesta dalam satuan 4,02+/-0,1[Jan Ambjorn, Jerzy Jurkiewicz and Renate Loll: "The Selfs Organizing Quantum Universe" SciAm, July 2008].Demikianlah interpretasi yang paling dekat atas firman QS.36 ayat 82 mengenai kalimat "KUN! FAYAKUUN" secara mantab semakin jelas dan benderang. Karenanya bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu eksakta akan lebih dekat untuk mampu memahami maksud ayat-ayat Al-Quran ketimbang yang hanya mempelajari ilmu-ilmu sosial. Sebab ilmu-ilmu sosial tidak dapat dipastikan dengan suatu teori maupun hyphothese. Ilmu-ilmu sosial, walaupun sekarang diusahakan mempergunakan peralatan ilmu-ilmu eksakta juga, namun prosentase kesalahan masih sangat besar dan bahkan kadang-kadang ada hal-hal yang tak terbaca samasekali (studie peristiwa G30S dan Surat Perintah Sebelas Maret 1966). Dalam ilmu sosial masih belum diperoleh peluang kajiulang dan ujicoba dalam skala masyarakat manusia. Sekalipun suatu pandangan belum dibuktikan oleh realitas mandiri masyarakat manusia, kebanyakan pandangan fikir seseorang atau suatu kelompok manusia telah diadopsi secara konsensus sebagai teori yang dapat diaplikasikan tanpa menunggu konfirmasi data kajiulang dan ujicoba. Apabila masyarakat-masyarakat manusia yang pernah lahir, tumbuh, berkembang dan runtuh boleh dijadikan sebagai model-model masyarakat percobaan, kajiulang dan ujicoba, maka perolehan data darinya secara faktual sulit dapat dipastikan adanya, disebabkan terjadinya disintegrasi dan pemusnahan kebudayaan serta registrasi sejarah. Di dalam ilmu eksakta terkandung selain rasionalitas dan logika pemikiran empiris juga ada kaitan dialektika alamiyah yang menjadi jelujur dalam lompatan kwalitatif pemikiran (baca cerita S.W. Hawking dalam "Brief History of Time" di Nature). Di dalam Al-Quran firman-firman yang diwahyukan dalam Surah An-Najm (53) dari ayat 1 s/d ayat 18 memberi petunjuk kepada kita akan permasalahan dialektika alamiyah yang hingga kini masih terus digeluti oleh para ahli matematika teori (Brian Green menjelaskan dialektika matematik alam semesta dengan jelas dan menarik dalam bukunya "The Fabric of the Cosmos"). Menurut hemat saya Islam itu hanya ada SATU saja, yaitu yang difirmankan di dalam model Al-Quranu al-Karim dan diwahyukan kepada rasulullah Muhammad saw. Maksud saya agar kita tidak menjadi bingung sendiri oleh banyaknya cara pendekatan terhadap Islam yang telah dilakukan oleh para ahli Islam, sarjana Muslim dan 'ulama theologi Islam. Pendekatan terhadap Islam ini tentunya harus ada titik tolaknya, dari mana hendak didekati? Jika didekati dari pemikiran manusia maka harus dicatat bahwa seringkali manusia mempergunakan titik tolak duga-duga tanpa dasar faktual (dzhonu) yang di dalam tradisi Yunani dinamakan filosofi. Oleh sebab itu di dalam penyajian obyek kajian diperlukan ketepatan penggunaan sistematika, symantica, gramatika, estetika, bahasa. Pendekatan filosofis demikian tidak akan dapat menghindar dari kerangka kerja pemikiran yang bertolak dari kepercayaan terhadap sesuatu yang supra alami dalam model religi atau agama. Sedangkan sifat-sifat Allah swt dan asma'ul husnaa yang 99 itu sendiri menunjukkan kemanunggalan yang tidak terjangkau akal, fikiran dan perasaan manusia. Jika didekati dari titik tolak pengamatan lapangan (empirik) maka kita tidak bisa menduga-duga begitu saja tanpa data faktual, sebab kita dikonfrontasi dengan bombardemen informasi persepsional melalui berbagai peralatan penginderaan yang ada pada setiap individu manusia (cobalah ke luar kamar dan menghirup udara di halaman atau kebun atau jalanan dan perhatikan langit yang gelap penuh bintang-bintang). Bahkan dalam hal memahami "rasa" yang biasanya menjadi acuan spiritualisme religius dituntut adanya data-data faktual dari model keberadaannya yang sudah terregistrasi (QS.53:11). Maka adalah tidak mengada-ada apabila sunnah rasulullah Muhammad saw juga tidak menerapkan firman-firman Allah swt secara religius, tetapi secara praktis, methodis, didaktis dan strategis sebagai pembumian firman "Iqro' Bismirobbika al-ladzii holaq.....", sehingga terbentuk suatu model masyarakat manusia modern yang BERADAB dengan dasar Konstitusi Madinah di semenanjung Arabia yang masih biadab. Apabila kita memperhatikan kata per kata hingga mengenal kombinasi huruf-huruf Hijaiyah yang dipergunakan sebagai akar kata dalam susunan kata dan kalimat firman di dalam Al-Quran maka akan kita temukan petunjuk agar kita mendekati dari titik tolak di luar diri kita, sebagai manusia. Yaitu bertolak dari realitas mandiri alam semesta, masyarakat manusia. Dari titik tolak demikian itu kita akan dapat mengumpulkan pengetahaun dan menyusun postulat, hipothese, teori dan menyimpulkannya ke dalam ilmu pengetahuan yang dapat kita refernsikan kepada realitas mandiri alam semesta seisinya juga dapat direferensikan kepada firman-firmanb Qurani. Seyogyanya teman-teman yang memiliki basis sains (ilmu-pengetahuan kealaman) berkerjasama dengan teman-teman yang memiliki basis ilmu-ilmu sosial melakukan studi Islam dengan bertitik tolak dari realitas mandiri alam semesta. Selanjutnya hasil-hasil pendekatan tersebut dapat diaplikasikan kedalam studi gejala-gejala sosial yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Muslimin, di dalam kehidupan nyata keseharian kita pribadi dengan maksud meningkatkan kesadaran manusia biologis ke tingkat kesadaran manusia Mukminin, Muhlisin, Muhsinin dan Mutaqin. Ke-empat model kesadaran ini akan mentransformasikan diri kita menjadi anggota dari suatu masyarakat mahluk ciptaan yang ideal: Kholifatan fii al-ardzh. Polah laku dan pemikiran manusia tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan manusia terhadap alam semesta secara tunggal. Dalam hal ini tampak kelemahan ilmu-ilmu sosial yang memisahkan obyek kajiannya (manusia individual dan masyarakatnya) dari hukum alam semesta secara general. Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah wassalam, A.M [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] No virus found in this incoming message. Checked by AVG - http://www.avg. <http://www.avg. <http://www.avg.com> com> com Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.10/1551 - Release Date: 14-7-2008 6:49 [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] No virus found in this incoming message. Checked by AVG - http://www.avg. <http://www.avg.com> com Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.11/1553 - Release Date: 15-7-2008 5:48 [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

