keliatan bodohnya hihi
----- Original Message ---- From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, July 15, 2008 2:08:26 PM Subject: [ppiindia] Re: Islam Hanya Ada Satu Saja Salam, Islam Hanya Ada Satu Saja: Islam Ahli Sunah Wal Jamaah, Islam Muhamadiyah, Islam NU, Islam Masyumi, Islam Permusi, Islam Suni, Islam Syiah, Islam Wahhabi, Islam Salafi, Islam Wetu Telu, Islam Ahmadiyah, Islam Hadhari, Islam NII Al Azytun, Islam Isa Bugis, Islam Sejati Islam AL Qiyadah, Islam Abangan Sudah jelas? Islam Hanya Ada Satu Saja : Satu baris, maksudnya... Dimas -- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "Ferry Adriansyah" <[EMAIL PROTECTED] > wrote: > > Bung, saya perhatikan, lama kelamaan tulisan anda ini semakin mempersempit > universalitas alquran. Anda terlalu sibuk melakukan pembuktian kebenaran > Islam/alquran dengan sebatas elmu pengetahuan kealaman. Seperti orang yang > sedang mengalami 'puber" dalam beragama. Secara prinsip saya menghargai > kerja keras anda, tapi jangan sampai membuat anda terbelenggu dalam standar > kebenaran elmu kealaman. Apalagi anda terkesan sinis terhadap teologi dan > elmu-elmu keso-sial-an. Islam dan Alquran seakan anda kerangkeng dalam > disiplin ilmu pengetahuan yang anda tekuni. Saya sarankan, kacamata kuda > yang anda gunakan dilepas secepatnya. Proporsionalnya saja lah dalam > memposisikan disiplin elmu tertentu. > > > > Salam damai, > > Ferry > > > > _____ > > From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On Behalf > Of A. Marconi > Sent: 14 Juli 2008 18:03 > To: patrapmania@ yahoogroups. com; Interdisiplin@ yahoogroups. com; > Sains_Islami@ yahoogroups. com; [EMAIL PROTECTED] s.com; > islam_liberal@ yahoogroups. com > Subject: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja > > > > Islam Hanya Ada Satu Saja. > > April 9th, 2008 at 12:53 pm > > Assalammu'alaikum wr wb, > > Hemat saya, jika kata Islam dimaksudkan sebagai Al-Dinu al-Islam, maka > sesungguhnya kategorinya masuk di dalam kategori ilmu-pengetahuan kealaman > atau > > sains bukan theology (baca Al-Quranu al-Karim dengan tartil dan saksama). > Menurut ayat-ayat Al-Quran, Al-Dinu al-Islam adalah Hukum alam semesta. > Seluruh alam semesta lahir, berkembang dan runtuh menurut hukum dan aturan > yang pasti dan tak dapat dihindari. Hukum ini juga berlaku bagi masyarakat > manusia dan pribadi-pribadi manusia. Hukum ini telah dapat dideteksi, > diujicoba, dianalisis sehingga diketahui keumuman dan kekhususan keberlakuan > hukum alam semesta ini secara lokal, setempat dan secara menyeluruh. Hukum > alam semesta ini secara mendasar telah dapat diujicoba melalui teori > matematika S.W. Hawking et al dengan mempergunakan model hiphotetis (saya > gunakan definisi hipotese demi memberikan ruang kebebasan argumentasi kepada > para kritikus teori, a.l teori "Twistor" dari Roger Penrose PhD) yang > dinamakannya sebagai "No Boundary Proposals". Dalam proposalnya itu S.W. > Hawking et al mendasarkan pemikirannya kepada keumuman hukum dasar yang > menjadi prinsip kwantum mekanika yang dikenal sebagai superposisi. > Superposisi mekanika klasik ini oleh Richard Fyneman dirumuskan dalam model > matematika kwantum superposisi yang memasukkan semua kemungkinan yang > berbeda-beda dari rata-rata proses kejadian dari awal sampai selesai. Pada > galibnya setiap obyek, baik yang klasik maupun kwantum, selalu berada di > suatu keadaan yang menunjukkan letak kedudukannya dan kecepatan dalam ruang. > Apabila dalam hal obyek klasik yang berada dalam suatu keadaan dapat > dinyatakan dengan menjelaskannya melalui suatu jumlah satuan tunggal, maka > pada obyek kwantum keadaan keberadaannya lebih diperkaya lagi sebagai jumlah > atau superposisi dari semua kemungkinan yang ada pada keadaan klasik. > Prinsip ini dipergunakan dalam pendekatan geometri kwantum gravitasi > Eucledian yang diaplikasikan di seluruh alam semesta. Pendekatan geometri > kwantum gravitasi ini tidak melibatkan superposisi dari jalan setapak > partikel yang berlain-lainan, tetapi melibatkan proses yang berlain- lainan > bagaimana alam semesta berkembang dalam waktu dan membentuk berbagai > geometri ruang-waktu yang dimungkinkan [Jonathan J. Halliwel: "Quantum > Cosmology and the Creation of the Universe" SciAm, Dec.1991]. > > Pada ujicoba simulasi komputer dengan mempergunakan komputer tercanggih saat > ini, sebuah team studi yang terdiri dari Jan Ambjorn dari Niels Bohr > Institute Copenhagen, Denmark dan Universiteit Utrecht, Negeri Belanda, > Jerzy Jurkiewicz dari Jagiellonian Institute Krakow, Polandia dan Renate > Loll dari Universiteit Utrecht, Negeri Belanda telah dihasilkan suatu > simulasi komputer pendekatan alam semesta melalui kwantum gravitasi geometri > Eucledian dengan menyertakan KAUSALITAS PERTAMA bagi pembangunan alam > semesta mengikuti pola pemikiran No Boundary Prosposals yang mendefinisikan > ruang dan waktu dalam tingkat kesederajatan di mana waktu dinyatakan sebagai > WAKTU SEMU (immaginair) .Di dalam teknis aplikasi simulasi komputer ini > diwujudkan dalam penyertaan sebab struktural dengan yargon teknisnya "Causal > Dynamical Triangulations" pada tingkat yang jauh lebih awal menjelang > fluktuasi. Dalam teknis model ini pada setiap simplex dipasang panah waktu > dari masalampau yang mengarah ke masadepan, selanjutnya diharuskan > berlakunya suatu aturan sebab perekatan: tiap dua simplex harus direkatkan > bersama sedemikian rupa agar arah panah waktunya menjadi searah, tidak > pernah akan mandeg atau berlari balik arah. Dengan demikian maka ruang > terjaga secara menyeluruh akan bentuk globalnya sepanjang perjalanan waktu, > tidak rusak dan pecah berkeping-keping, terpisah-pisah, serta tidak menjadi > "wormhole". Dalam proses menunggu hasil simulasi dengaan penuh ketegangan > dengan berbagai kemungkinan yang terbuka dari ujicoba simulasi komputer > tersebut, maka pada suatu hari di tahun 2004 komputer para fisikawan > eksperimental tadi memberikan hasil pertama pendekatan dimensi alam semesta > dalam satuan 4,02+/-0,1[Jan Ambjorn, Jerzy Jurkiewicz and Renate Loll: "The > Selfs Organizing Quantum Universe" SciAm, July 2008].Demikianlah > interpretasi yang paling dekat atas firman QS.36 ayat 82 mengenai kalimat > "KUN! FAYAKUUN" secara mantab semakin jelas dan benderang. > > Karenanya bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu eksakta akan lebih dekat > untuk mampu memahami maksud ayat-ayat Al-Quran ketimbang yang hanya > mempelajari ilmu-ilmu sosial. Sebab ilmu-ilmu sosial tidak dapat dipastikan > dengan suatu teori maupun hyphothese. Ilmu-ilmu sosial, walaupun sekarang > diusahakan mempergunakan peralatan ilmu-ilmu eksakta juga, namun prosentase > kesalahan masih sangat besar dan bahkan kadang-kadang ada hal-hal yang tak > terbaca samasekali (studie peristiwa G30S dan Surat Perintah Sebelas Maret > 1966). Dalam ilmu sosial masih belum diperoleh peluang kajiulang dan ujicoba > dalam skala masyarakat manusia. Sekalipun suatu pandangan belum dibuktikan > oleh realitas mandiri masyarakat manusia, kebanyakan pandangan fikir > seseorang atau suatu kelompok manusia telah diadopsi secara konsensus > sebagai teori yang dapat diaplikasikan tanpa menunggu konfirmasi data > kajiulang dan ujicoba. Apabila masyarakat-masyarak at manusia yang pernah > lahir, tumbuh, berkembang dan runtuh boleh dijadikan sebagai model- model > masyarakat percobaan, kajiulang dan ujicoba, maka perolehan data darinya > secara faktual sulit dapat dipastikan adanya, disebabkan terjadinya > disintegrasi dan pemusnahan kebudayaan serta registrasi sejarah. > > Di dalam ilmu eksakta terkandung selain rasionalitas dan logika pemikiran > empiris juga ada kaitan dialektika alamiyah yang menjadi jelujur dalam > lompatan > > kwalitatif pemikiran (baca cerita S.W. Hawking dalam "Brief History of Time" > di Nature). Di dalam Al-Quran firman-firman yang diwahyukan dalam Surah > An-Najm (53) dari ayat 1 s/d ayat 18 memberi petunjuk kepada kita akan > permasalahan dialektika alamiyah yang hingga kini masih terus digeluti oleh > para ahli > > matematika teori (Brian Green menjelaskan dialektika matematik alam semesta > dengan jelas dan menarik dalam bukunya "The Fabric of the Cosmos"). > > Menurut hemat saya Islam itu hanya ada SATU saja, yaitu yang difirmankan di > dalam model Al-Quranu al-Karim dan diwahyukan kepada rasulullah Muhammad > saw. Maksud saya agar kita tidak menjadi bingung sendiri oleh banyaknya cara > pendekatan terhadap Islam yang telah dilakukan oleh para ahli Islam, sarjana > Muslim dan 'ulama theologi Islam. Pendekatan terhadap Islam ini tentunya > harus ada titik tolaknya, dari mana hendak didekati? > > Jika didekati dari pemikiran manusia maka harus dicatat bahwa seringkali > manusia mempergunakan titik tolak duga-duga tanpa dasar faktual (dzhonu) > yang di dalam tradisi Yunani dinamakan filosofi. Oleh sebab itu di dalam > penyajian obyek kajian diperlukan ketepatan penggunaan sistematika, > symantica, gramatika, estetika, bahasa. Pendekatan filosofis demikian tidak > akan dapat menghindar dari kerangka kerja pemikiran yang bertolak dari > kepercayaan terhadap sesuatu yang supra alami dalam model religi atau agama. > Sedangkan sifat-sifat Allah swt dan asma'ul husnaa yang 99 itu sendiri > menunjukkan kemanunggalan yang tidak terjangkau akal, fikiran dan perasaan > manusia. Jika didekati dari titik tolak pengamatan lapangan (empirik) maka > kita tidak bisa menduga-duga begitu saja tanpa data faktual, sebab kita > dikonfrontasi dengan bombardemen informasi persepsional melalui berbagai > peralatan penginderaan yang ada pada setiap individu manusia (cobalah ke > luar kamar dan menghirup udara di halaman atau kebun atau jalanan dan > perhatikan langit yang gelap penuh bintang-bintang) . Bahkan dalam hal > memahami "rasa" yang biasanya menjadi acuan spiritualisme religius dituntut > adanya data-data faktual dari model keberadaannya yang sudah terregistrasi > (QS.53:11). Maka adalah tidak mengada-ada apabila sunnah rasulullah Muhammad > saw juga tidak menerapkan firman-firman Allah swt secara religius, tetapi > secara praktis, methodis, didaktis dan strategis sebagai pembumian firman > "Iqro' Bismirobbika al-ladzii holaq.....", sehingga terbentuk suatu model > masyarakat manusia modern yang BERADAB dengan dasar Konstitusi Madinah di > semenanjung Arabia yang masih biadab. > > Apabila kita memperhatikan kata per kata hingga mengenal kombinasi > huruf-huruf Hijaiyah yang dipergunakan sebagai akar kata dalam susunan kata > dan kalimat firman di dalam Al-Quran maka akan kita temukan petunjuk agar > kita mendekati dari titik tolak di luar diri kita, sebagai manusia. Yaitu > bertolak dari realitas mandiri alam semesta, masyarakat manusia. Dari titik > tolak demikian itu kita akan dapat mengumpulkan pengetahaun dan menyusun > postulat, hipothese, teori dan menyimpulkannya ke dalam ilmu pengetahuan > yang dapat kita refernsikan kepada realitas mandiri alam semesta seisinya > juga dapat direferensikan kepada firman-firmanb Qurani. Seyogyanya > teman-teman yang memiliki basis sains (ilmu-pengetahuan kealaman) > berkerjasama dengan teman-teman yang memiliki basis ilmu-ilmu sosial > melakukan studi Islam dengan bertitik tolak dari realitas mandiri alam > semesta. Selanjutnya hasil-hasil pendekatan tersebut dapat diaplikasikan > kedalam studi gejala-gejala sosial yang hidup dan berkembang di dalam > masyarakat Muslimin, di dalam kehidupan nyata keseharian kita pribadi dengan > maksud meningkatkan kesadaran manusia biologis ke tingkat kesadaran manusia > Mukminin, Muhlisin, Muhsinin dan Mutaqin. Ke-empat model kesadaran ini akan > mentransformasikan diri kita menjadi anggota dari suatu masyarakat mahluk > ciptaan yang ideal: Kholifatan fii al-ardzh. Polah laku dan pemikiran > manusia tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan manusia terhadap alam semesta > secara tunggal. Dalam hal ini tampak kelemahan ilmu-ilmu sosial yang > memisahkan obyek kajiannya (manusia individual dan masyarakatnya) dari hukum > alam semesta secara general. > > Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah wassalam, > > A.M > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed]

