Berikut tulisan Pak Ros yang saya ambil dari Suara Pembaruan, 17 Juli 2008.

Sedikit koreksi, disebutkan "Ketua Panitia datang terlambat". Itu betul, tapi 
Pak Ros tak menyebut penyebabnya, yang tak lain karena, Sabrina, putri saya 
yang baru berusia 5,5 bulan mendadak masuk rumah sakit karena muntah-muntah.

Kedua, di paragraf awal Rosihan bilang tak kenal (terkesan tak pernah bertemu 
saya). Tapi sebetulnya dia pernah menerima langsung dari saya dan rekan saya, 
Budi Setiyono, buku Revolusi Belum Selesai dalam peluncuran di Hotel Regent 
(kini Four Seasons), Agustus 2003. Mungkin dia lupa, maklum sudah 86 tahun.  
Saya pernah berkali-kali menghubungi dia untuk wawancara tentang Majalah Siasat 
yang sedang saya tulis. Tapi dia selalu menolak. Jadi kesimpulannya dia tak mau 
berkenalan dengan anak muda...hehehehehe..lucu ya PSI satu ini.

Demikian dari saya.

Tabik,

BT

-----

"Never On Sunday"

Rosihan Anwar


Sekitar setengah abad yang lalu saya menonton film Amerika Never On Sunday (Tak 
Pernah di hari Minggu). Ceritanya sudah lupa, tapi theme song masih mengiang di 
telinga. Aktris utamanya adalah Nana Moscourie yang kemudian jadi Menteri 
Kebudayaan dalam pemerintahan Yunani. Apakah yang dimaksud "tak pernah di hari 
Minggu" dalam film ini? Tidak bekerja, diberikan prei kepada pelacur yang 
beroperasi di bar/kafe kota pelabuhan di mana pelaut mendarat.

Ketika menerima SMS dari Bonnie Triyana, wartawan/sejarawan yang tidak saya 
kenal pribadi untuk menghadiri acara di Teater Kecil TIM Jakarta, Minggu pukul 
15.30, reaksi instan saya ialah tidak. Never On Sunday. Bukan karena saya 
pelacur yang lagi libur, melainkan karena mau tidur. Saya lagi HT 
(hyper-tension), berjalan dengan tongkat, karena takut jatuh, maklum lansia 86 
tahun.

Tapi, karena SMS Bonnie dimulai dengan simpatik, "Pak Rosihan yang baik", 
karena acaranya memperingati HUT ke-80 wartawan, penulis, dan penerbit Joesoef 
Ishak, karena Joesoef Pemred Harian Merdeka pimpinan BM Diah pada 1960, dan 
karena saya ikut mendirikan Merdeka 1 Oktober 1945, maka demi corps d'esprit 
saya penuhi undangan itu, sekaligus membalas ucapan selamat via kartu pos yang 
dikirim oleh Joesoef pada HUT ke-70 saya pada 1992.

Joesoef, Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika dan Ketua PWI Jaya (sebelum 
G-30-S), pada 1968 ditangkap oleh pemerintah Orde Baru dan tanpa diadili 
ditahan 10 tahun di Rutan Salemba Jakarta, bersama Sitor Situmorang, Siauw Giok 
Tjhan, Soemarsono, dan lain-lain. Joesoef dilepaskan, dua tahun sebelum 
Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman, mantan wartawan Bintang Timur, 
kembali dari Pulau Buru. Ketiga orang itu membentuk penerbitan Hasta Mitra yang 
mulai 1980 menerbitkan novel Pram Bumi Manusia dan buku-buku lainnya.


Memperkenalkan Diri

Waktu tiba di Teater Kecil, Joesoef tampak senang menyambut saya. Surprise. Ia 
mengucapkan terima kasih. Saya masuki ruangan teater, duduk di kursi barisan 
ketiga di muka pentas, di tengah orang- orang yang kebanyakan tidak saya kenal. 
Sendirian. Lalu se-orang laki-laki datang menemani di sebelah kanan. Dia bilang 
tak tahu persis nama saya, tapi kerap lihat saya di televisi. 

Saya perkenalkan diri dan balik bertanya dari mana dia?

Ia asal Wonosari, Jawa Tengah, kerja di bagian arsitek, umurnya 48 tahun. 
Ayahnya dulu bekerja sebagai guru, kemudian jadi lurah di daerah Solo, diciduk 
oleh militer, dibuang ke Pulau Buru, meninggal dunia di sana, tidak jelas 
sebabnya, apa lantaran sakit atau entah apa? Seorang perempuan datang dan duduk 
di sebelah kiri. "Ini istri saya. Ibunya dulu anggota Gerwani" ujarnya.

Acara dimulai. Di atas pentas depan, sebelah kanan, se- orang gadis remaja siap 
untuk bernyanyi, diiringi organ yang dimainkan oleh seorang gadis cilik. "Yang 
nyanyi itu anak kami, yang main musik cucu Njoto dari CC PKI" kata si lelaki. 
"Sekolahnya di mana?" tanya saya. "Kelas satu SMA" jawabnya. 

Lagu yang dinyanyikan mulanya kurang jelas, tapi kemudian saya tangkap kalimat 
dari syairnya I let you go...." Saya berkomentar, entah kenapa dalam bahasa 
Jawa, swarane apik. Ibunya senang. Saya mau bilang Njoto pandai main piano, 
rupanya bakatnya turun sama cucunya. Itu tak sampai diucapkan, karena lelaki di 
samping saya melanjutkan ceritanya.

Ia berusia enam tahun waktu militer datang menangkap ayahnya. Sejak itu dia 
trauma bila melihat militer. Ia tak bisa lupa kejadian itu. Ia dibesarkan oleh 
ambahnya. Lama sekali barulah ia dapat mengatasi kejutan jiwanya. Kejadian itu 
sukar dimaafkannya.

"Maafkan, tapi jangan lupakan" kata saya seraya ingat ucapan Presiden AS John F 
Kennedy dalam bukunya Profiles of Courage: In politics forgive, but never 
forget (dalam politik berikanlah maaf, tapi jangan pernah lupakan). Se- jurus 
kami berdua terdiam.

Bonnie, ketua panitia terlambat datang. Seorang bule asal Australia yang 
menerjemahkan novel-novel Pram, menyampaikan selamat ulang tahun kepada Joesoef 
Ishak. Ia sudah 30 tahun mengenal Joesoef yang berjuang untuk "demokrasi dan 
sosialisme".

Tiba giliran Joesoef memberikan sambutan. Ia menyampaikan terima kasih kepada 
panitia yang telah mengorganisasikan perayaan. Ia berbahagia melihat begitu 
banyak orang, teristimewa karena "di sini hadir senior saya wartawan Rosihan 
Anwar" dan Soemarsono. Ia tidak sebutkan siapa Soemarsono, tapi ini orang yang 
mencetuskan Peristiwa Madiun 18 September 1948 ketika PKI-Musso melawan 
pemerintah Presiden Soekarno.

Joesoef memotong nasi tumpeng. Potongan nasi tumpeng pertama diserahkannya 
kepada- sekali lagi diucapkannya- "senior saya Rosihan Anwar". Maka saya 
terpaksa naik pentas menerima nasi tumpeng. Ia bergumam saat itu, dia teringat 
almarhum Soebadio Sastrosatomo. "Saya mengerti". Memang saya lihat Joesoef di 
rumah Soebadio, pemimpin PSI (Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan 
Sjahrir), di hari-hari menjelang akhir hayatnya.

Joesoef muda, juga seluruh keluarganya, banyak berhubungan dengan PSI. Itulah 
habitatnya. Tapi, sebagaimana dipaparkan oleh Bonnie Triyana dan Mark Lane 
dalam pengantar buku Liber Amicorum yang diluncurkan, maka pada 1960-an Joesoef 
semakin jauh dari kelompok PSI, karena kecewa istilah "sosialis" cuma jadi 
label kosong. Dalam pandangan Joesoef, kelompok ini terasingkan dari realitas 
masyarakat Indonesia.

Lingkungan Hidup

Pada acara kesan dan pesan, penyair Goenawan Mohamad berbicara di pentas. 
Karena sedang ke toilet hanya kalimat penutupnya yang saya dengar. Seorang 
wanita pintar menyinggung soal kiri dan kanan. Bila bagian kiri dari badan 
tidak berfungsi, kita kena stroke. Kini cuma bagian kanan yang ada. 

Seorang warga keturunan berkisah tentang burung di Tiongkok, tentang lingkungan 
hidup, tentang ekosistem, tentang peristiwa tahun 1965 dan tentang rusaknya 
ekosistem. Seorang deklamator membacakan sajak yang antara lain memuat 
kata-kata "korupsi", "anak-anak Cendana", dan "pengadilan menyelesaikan".

Saya paham makna tamsil-tamsil itu. Seperti di arus bawah masih deras mengalir 
pahit getir, kecaman, semangat revanchist, pembalasan dendam.

Sebuah paduan suara ibu-ibu memperdengarkan lagu- lagu medley Indonesia. Tak 
ketinggalan lagu "Internationale" yang dinyanyikan dengan meminta hadirin 
berdiri, termasuk saya. Bangunlah kaum hina papa. Apakah mesti di- bilang 
goodbye, selamat tinggal rekonsiliasi?

Tiga jam saya berada di ruangan teater, melihat warna, mendengar bunyi, 
menyimak kata. Dua generasi boleh sudah berlalu sejak G-30-S, jejaringan lama 
itu masih ada, memori kolektif itu dipelihara, sekali lagi selamat tinggal 
rekonsiliasi?

Sebuah film dokumenter dipertunjukkan. Gambar-gambar lama, peristiwa-peristiwa 
lama, wajah mereka yang telah wafat seperti Bung Karno, DN Aidit, Pram, dan 
Hasjim melintas di depan mata kita. Adegan Joesoef bercerita di depan 
cucu-cucunya di depan penjara Salemba. Istrinya, Asni, memaparkan soal 
keluarganya, kesibukannya sebagai pengelola dan motor penerbit Hasta Mitra. 

Penutup acara adalah penyerahan buku kepada para kontributor tulisan, kepada 
orang-orang asing yang dekat dengan Joesoef. Kembali nama saya disebut, buat 
kedua kali saya naik ke pentas untuk menerima dari Joesoef buku Liber Amicorum. 
Terima kasih. Sesudah itu, saya langsung pulang, karena sudah lelah akibat 
mengalami ber- bagai emosi cukup banyak untuk satu hari, apalagi di hari 
Minggu. 

Di luar TIM saya tanya kepada pengemudi bajaj berapa harus bayar ke Jalan 
Surabaya. Harga BBM naik, tarif angkutan bajaj pun naik. Dalam bajaj menuju 
Pasar Antik di mana saya tinggal saya berpikir, pengalaman menarik, tapi Never 
On Sunday. 


Penulis adalah wartawan senior




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke