Bung Boni Triana,  Yth.

Perkenankan saya berkisah tentang Pak Rosihan Anwar, sehubungan dengan
kalimat "kesimpulan saya dia tak mau berkenalan dengan anak muda" dan
pada bagian terakhir: "lucu ya PSI yang satu ini...". Kalimat itu saya
anggap  agak melecehkan, dan saya tergerak untuk meluruskannya. 

Saya dekat dengan Pak Ros, meski tak lama, dan sudah lebih dari 5
tahun terakhir tak bertemu dengan beliau, karena kesibukan
masing-masing. Komunikasi hanya lewat telepon saja. Biasanya selepas
maghrig. Meski demikian, saya selalu memuliakannya. Beliau senior,
guru, dan teman saya. Setiap ada kesempatan saya untuk menghormatinya,
saya melakukannya. 

Beliau adalah "Kyai" saya di bidang jurnalistik, dan tak pernah ragu
saya mencium tangannya, setiap ada kesempatan, sebagaimana santri
mencium kyai yang dihormatinya.

Melewati 20 tahun perjalanan saya di bidang jurnalistik, dan
berselisih usia 40-an tahun, semakin hormat saya  pada beliau.
Terutama setelah merasai betapa letih-lelahnya menjadi wartawan.
Menulis setiap hari. Sedangkan beliau justru melewatinya selama 60
tahun lebih. Terus menerus. Beliau menjadi wartawan saat Indonesia
belum merdeka, meliput Konperensi Meja Bundar, dan Clas Jakarta I &
II, meliput penjemputan Pak Dirman oleh Pak Harto. Selain itu, beliau
mengenal langsung Bung Karno, Chairil Anwar, Djamaluddin Malik, Suryo
Sumanto (tokoh-tokoh film), Soeharto, DR. Soedjatmoko, Sultan
Hamngkubuwono, Ali Sadikin, dll, ketika orang-orang hanya bisa
mengenangnya sebagai lagenda. 

Siapa gerangan tokoh padanannya di Indonesia kini?

Saya melewati masa seperti Anda, masa-masa memandang enteng Pak Ros
dan menyebutnya "Si PSI" itu. Ketika baru mengenalnya di Dewan Film -
Menteng, Jakarta. 

Di mata wartawan muda, wajah baru, dan mereka yang tak mengenalnya
dekat, Pak Ros alias Haji Wa'ang, memang berkesan seperti itu. Sinis,
angkat dagu, dan arogan. Saya mengamati, banyak yang menganggap
perjalanan sukses dalam hidup jika mampu melompat-lompat dan kemudian
makmur secara ekonomis dari  jabatan yang disandangnya. 

Oke, jadi wartawan 10 tahun, lalu jadi pengusaha dan menjadi direktur.
Atau setelah 10 tahun jadi wartawan, pindah jalur ke politik, dan jadi
anggota dewan atau eksekutif. "15 tahun lalu saya ketemu Rosihan Anwar
sebagai wartawan, dan sekarang saya masih ketemu dengannya jadi
wartawan!" kata mereka, dengan mengangkat dagu, dan memandang rendah

Pak Ros, kelahiran Kubang Nan Dua, Sumbar, 10 Mei 1922, menjadi
reporter sejak 1943, lama memimpin suratkabar, dan tetap menulis
hingga 2008 ini.  Mandek kah beliau? 

Saya lebih banyak membaca buku Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis,
WS Rendra, Arief Budiman, Umar Kayam, Ashadi Siregar, dibanding
buku-buku karya H. Rosihan Anwar. Tapi setelah berkesempatan langsung
dan berbincang dengan beliau-beliau dan membandingkannya, Haji Waang
yang paling mengesankan saya.

Kami berkesempatan bareng ke AS saat mengantar film karya alm. Arifin
C. Noor, ke komunitas Indonesia di Los Angeles, AS selama 2 pekan. 
Bareng DR Salim Said, yang kini jadi dubes Indonesia di Eropa Timur.
Atas pertimbangan usia Beliau, saya "dapat tugas" dari sponsor, untuk
mendampingi Pak Ros, sekamar di apartemen dan  bahka tidur di ranjang
yang sama. 

Bukan karena perjalanan bersama maka kami dekat. Saya juga pernah
mengiringi rombongan Rendra ke New York selama sebulan bareng rekan
Kompas, 1986. Dan banyak bukunya yang saya baca. Dari dia juga saya
kenal Pram. Tapi tak sehebat dan seemosiaonal Pak Ros.

Padahal dalam perjalanan saya beliau sering mengomeli saya. Beliau
merupakan didikan Belanda yang organized dalam banyak hal. Bahkan
sampai kamarnya. Beda dengan saya yang "nyeniman". "Kamu itu
unorganized, ya". "Ceroboh kamu", dst.. Selebihnya, Pak Ros banyak
bercerita-cerita lucu. Kisah kocak bersama tokoh-tokoh beken.  Dalam
bercerita, dia juga dingin, sering sinis, tak ekspresif. Kamilah, yang
muda-muda, yang ketawa-ketawa ngakak karenanya, sembari melirik beliau
yang angkat dagu sambil melengos. 

Ketika menjadi tamu VIP di malam puncak FFI, kami duduk dekat. Pak Ros
bawa kamera pocket, dan lama membidik Menpen Harmoko yang sedang
pidato. Tak jadi memotret, balik ke tempat duduk,  justru dia memotret
sepatunya. "Aku foto sepatu saja, " katanya tenang. Di belakangnya,
kami terkekeh-kekeh. 

Seperti halnya WS Rendra yang pernah disalah-pahami wartawan karena
"komersial" (minta bayaran untuk wawancara)  dan Pak Ros yang dianggap
selalu sinis, dari hati ke hati, orang-orang besar ini banyak
bercerita kejengkelannya terhadap wartawan baru yang arogan. Hal yang
dirasakan dan juga dibuktikan langsung oleh Salim Said di depan saya. 

"Saya gampang kesal dengan wartawan yang 'jalan' untuk wawancara tapi
tanpa persiapan!" kata Bung Salim Said. Di tahun 2008 ini mungkin tak
ada lagi, seiring dengan maraknya pendidikan jurnalistik, media
online, dan internet. Tapi di 1980-an hingga 1990-an sungguh banyak.
Dan itu dari media-media besar, majalah "serius" yang ingin
memprofilkan dan memewawancara Pak Ros dan Salim Said, doktor politik
dari Hawaii itu. 

Di hadapan saya dan Pak Ros, tanpa sengaja, DR. Salim Said, yang saat
itu sudah dikenal sebagai kritikus film dan pakar sejarah militer, 
diawancarai dua wartawan media majalah politik yang mengajukan
pertanyaan-pertanyaan "basic", dan membuat Bung Salim hilang sabar.
"Waktu kalian mendapat penugasan ini memang tidak ada briefing dulu?"
dan seterusnya, dan saya menunduk malu, tak tega mereka balik
diwawancarai. 

"Maaf Pak Ros, saya sayang mereka. Mereka harus ditegur, kalau tidak
mereka tidak menyadari.." katanya, setelah reporter itu pergi. "Tak
apa, kau sudah betul. Aku melakukan hal sama..kalau jadi kau, " kata
Pak Ros.

itu hanya sekelumit pengalaman saya dan Pak Ros, yang kemudian memberi
kesan beliau dianggap arogan dan sinistik. Banyak hal yang kami alami
bersama, yang mengubah pandangan saya tentang sosok Pak Ros dan bisa
jadi membosankan untuk diceritakan.

Saya juga mengagumi sosok dan karya Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra,
Teguh Karya dan tokoh-tokoh kontroversial lain. Saya pun tahu, ada
banyak orang menulis hal-hal buruk tentang mereka. Dan saya akan
menulis yang sama seperti Pak Ros, seandainya ada yang menulis; "Lucu
ya Pram si ... yang satu ini ..."


Wassalam,



dimas. 



-- In [email protected], Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Berikut tulisan Pak Ros yang saya ambil dari Suara Pembaruan, 17
Juli 2008.
> 
> Sedikit koreksi, disebutkan "Ketua Panitia datang terlambat". Itu
betul, tapi Pak Ros tak menyebut penyebabnya, yang tak lain karena,
Sabrina, putri saya yang baru berusia 5,5 bulan mendadak masuk rumah
sakit karena muntah-muntah.
> 
> Kedua, di paragraf awal Rosihan bilang tak kenal (terkesan tak
pernah bertemu saya). Tapi sebetulnya dia pernah menerima langsung
dari saya dan rekan saya, Budi Setiyono, buku Revolusi Belum Selesai
dalam peluncuran di Hotel Regent (kini Four Seasons), Agustus 2003.
Mungkin dia lupa, maklum sudah 86 tahun.  Saya pernah berkali-kali
menghubungi dia untuk wawancara tentang Majalah Siasat yang sedang
saya tulis. Tapi dia selalu menolak. Jadi kesimpulannya dia tak mau
berkenalan dengan anak muda...hehehehehe..lucu ya PSI satu ini.
> 
> Demikian dari saya.
> 
> Tabik,
> 
> BT
> 
> -----
> 
> "Never On Sunday"
> 
> Rosihan Anwar
> 
> 
> Sekitar setengah abad yang lalu saya menonton film Amerika Never On
Sunday (Tak Pernah di hari Minggu). Ceritanya sudah lupa, tapi theme
song masih mengiang di telinga. Aktris utamanya adalah Nana Moscourie
yang kemudian jadi Menteri Kebudayaan dalam pemerintahan Yunani.
Apakah yang dimaksud "tak pernah di hari Minggu" dalam film ini? Tidak
bekerja, diberikan prei kepada pelacur yang beroperasi di bar/kafe
kota pelabuhan di mana pelaut mendarat.
> 
> Ketika menerima SMS dari Bonnie Triyana, wartawan/sejarawan yang
tidak saya kenal pribadi untuk menghadiri acara di Teater Kecil TIM
Jakarta, Minggu pukul 15.30, reaksi instan saya ialah tidak. Never On
Sunday. Bukan karena saya pelacur yang lagi libur, melainkan karena
mau tidur. Saya lagi HT (hyper-tension), berjalan dengan tongkat,
karena takut jatuh, maklum lansia 86 tahun.
> 
> Tapi, karena SMS Bonnie dimulai dengan simpatik, "Pak Rosihan yang
baik", karena acaranya memperingati HUT ke-80 wartawan, penulis, dan
penerbit Joesoef Ishak, karena Joesoef Pemred Harian Merdeka pimpinan
BM Diah pada 1960, dan karena saya ikut mendirikan Merdeka 1 Oktober
1945, maka demi corps d'esprit saya penuhi undangan itu, sekaligus
membalas ucapan selamat via kartu pos yang dikirim oleh Joesoef pada
HUT ke-70 saya pada 1992.
> 
> Joesoef, Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika dan Ketua PWI Jaya
(sebelum G-30-S), pada 1968 ditangkap oleh pemerintah Orde Baru dan
tanpa diadili ditahan 10 tahun di Rutan Salemba Jakarta, bersama Sitor
Situmorang, Siauw Giok Tjhan, Soemarsono, dan lain-lain. Joesoef
dilepaskan, dua tahun sebelum Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim
Rachman, mantan wartawan Bintang Timur, kembali dari Pulau Buru.
Ketiga orang itu membentuk penerbitan Hasta Mitra yang mulai 1980
menerbitkan novel Pram Bumi Manusia dan buku-buku lainnya.
> 
> 
> Memperkenalkan Diri
> 
> Waktu tiba di Teater Kecil, Joesoef tampak senang menyambut saya.
Surprise. Ia mengucapkan terima kasih. Saya masuki ruangan teater,
duduk di kursi barisan ketiga di muka pentas, di tengah orang- orang
yang kebanyakan tidak saya kenal. Sendirian. Lalu se-orang laki-laki
datang menemani di sebelah kanan. Dia bilang tak tahu persis nama
saya, tapi kerap lihat saya di televisi. 
> 
> Saya perkenalkan diri dan balik bertanya dari mana dia?
> 
> Ia asal Wonosari, Jawa Tengah, kerja di bagian arsitek, umurnya 48
tahun. Ayahnya dulu bekerja sebagai guru, kemudian jadi lurah di
daerah Solo, diciduk oleh militer, dibuang ke Pulau Buru, meninggal
dunia di sana, tidak jelas sebabnya, apa lantaran sakit atau entah
apa? Seorang perempuan datang dan duduk di sebelah kiri. "Ini istri
saya. Ibunya dulu anggota Gerwani" ujarnya.
> 
> Acara dimulai. Di atas pentas depan, sebelah kanan, se- orang gadis
remaja siap untuk bernyanyi, diiringi organ yang dimainkan oleh
seorang gadis cilik. "Yang nyanyi itu anak kami, yang main musik cucu
Njoto dari CC PKI" kata si lelaki. "Sekolahnya di mana?" tanya saya.
"Kelas satu SMA" jawabnya. 
> 
> Lagu yang dinyanyikan mulanya kurang jelas, tapi kemudian saya
tangkap kalimat dari syairnya I let you go...." Saya berkomentar,
entah kenapa dalam bahasa Jawa, swarane apik. Ibunya senang. Saya mau
bilang Njoto pandai main piano, rupanya bakatnya turun sama cucunya.
Itu tak sampai diucapkan, karena lelaki di samping saya melanjutkan
ceritanya.
> 
> Ia berusia enam tahun waktu militer datang menangkap ayahnya. Sejak
itu dia trauma bila melihat militer. Ia tak bisa lupa kejadian itu. Ia
dibesarkan oleh ambahnya. Lama sekali barulah ia dapat mengatasi
kejutan jiwanya. Kejadian itu sukar dimaafkannya.
> 
> "Maafkan, tapi jangan lupakan" kata saya seraya ingat ucapan
Presiden AS John F Kennedy dalam bukunya Profiles of Courage: In
politics forgive, but never forget (dalam politik berikanlah maaf,
tapi jangan pernah lupakan). Se- jurus kami berdua terdiam.
> 
> Bonnie, ketua panitia terlambat datang. Seorang bule asal Australia
yang menerjemahkan novel-novel Pram, menyampaikan selamat ulang tahun
kepada Joesoef Ishak. Ia sudah 30 tahun mengenal Joesoef yang berjuang
untuk "demokrasi dan sosialisme".
> 
> Tiba giliran Joesoef memberikan sambutan. Ia menyampaikan terima
kasih kepada panitia yang telah mengorganisasikan perayaan. Ia
berbahagia melihat begitu banyak orang, teristimewa karena "di sini
hadir senior saya wartawan Rosihan Anwar" dan Soemarsono. Ia tidak
sebutkan siapa Soemarsono, tapi ini orang yang mencetuskan Peristiwa
Madiun 18 September 1948 ketika PKI-Musso melawan pemerintah Presiden
Soekarno.
> 
> Joesoef memotong nasi tumpeng. Potongan nasi tumpeng pertama
diserahkannya kepada- sekali lagi diucapkannya- "senior saya Rosihan
Anwar". Maka saya terpaksa naik pentas menerima nasi tumpeng. Ia
bergumam saat itu, dia teringat almarhum Soebadio Sastrosatomo. "Saya
mengerti". Memang saya lihat Joesoef di rumah Soebadio, pemimpin PSI
(Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan Sjahrir), di hari-hari
menjelang akhir hayatnya.
> 
> Joesoef muda, juga seluruh keluarganya, banyak berhubungan dengan
PSI. Itulah habitatnya. Tapi, sebagaimana dipaparkan oleh Bonnie
Triyana dan Mark Lane dalam pengantar buku Liber Amicorum yang
diluncurkan, maka pada 1960-an Joesoef semakin jauh dari kelompok PSI,
karena kecewa istilah "sosialis" cuma jadi label kosong. Dalam
pandangan Joesoef, kelompok ini terasingkan dari realitas masyarakat
Indonesia.
> 
> Lingkungan Hidup
> 
> Pada acara kesan dan pesan, penyair Goenawan Mohamad berbicara di
pentas. Karena sedang ke toilet hanya kalimat penutupnya yang saya
dengar. Seorang wanita pintar menyinggung soal kiri dan kanan. Bila
bagian kiri dari badan tidak berfungsi, kita kena stroke. Kini cuma
bagian kanan yang ada. 
> 
> Seorang warga keturunan berkisah tentang burung di Tiongkok, tentang
lingkungan hidup, tentang ekosistem, tentang peristiwa tahun 1965 dan
tentang rusaknya ekosistem. Seorang deklamator membacakan sajak yang
antara lain memuat kata-kata "korupsi", "anak-anak Cendana", dan
"pengadilan menyelesaikan".
> 
> Saya paham makna tamsil-tamsil itu. Seperti di arus bawah masih
deras mengalir pahit getir, kecaman, semangat revanchist, pembalasan
dendam.
> 
> Sebuah paduan suara ibu-ibu memperdengarkan lagu- lagu medley
Indonesia. Tak ketinggalan lagu "Internationale" yang dinyanyikan
dengan meminta hadirin berdiri, termasuk saya. Bangunlah kaum hina
papa. Apakah mesti di- bilang goodbye, selamat tinggal rekonsiliasi?
> 
> Tiga jam saya berada di ruangan teater, melihat warna, mendengar
bunyi, menyimak kata. Dua generasi boleh sudah berlalu sejak G-30-S,
jejaringan lama itu masih ada, memori kolektif itu dipelihara, sekali
lagi selamat tinggal rekonsiliasi?
> 
> Sebuah film dokumenter dipertunjukkan. Gambar-gambar lama,
peristiwa-peristiwa lama, wajah mereka yang telah wafat seperti Bung
Karno, DN Aidit, Pram, dan Hasjim melintas di depan mata kita. Adegan
Joesoef bercerita di depan cucu-cucunya di depan penjara Salemba.
Istrinya, Asni, memaparkan soal keluarganya, kesibukannya sebagai
pengelola dan motor penerbit Hasta Mitra. 
> 
> Penutup acara adalah penyerahan buku kepada para kontributor
tulisan, kepada orang-orang asing yang dekat dengan Joesoef. Kembali
nama saya disebut, buat kedua kali saya naik ke pentas untuk menerima
dari Joesoef buku Liber Amicorum. Terima kasih. Sesudah itu, saya
langsung pulang, karena sudah lelah akibat mengalami ber- bagai emosi
cukup banyak untuk satu hari, apalagi di hari Minggu. 
> 
> Di luar TIM saya tanya kepada pengemudi bajaj berapa harus bayar ke
Jalan Surabaya. Harga BBM naik, tarif angkutan bajaj pun naik. Dalam
bajaj menuju Pasar Antik di mana saya tinggal saya berpikir,
pengalaman menarik, tapi Never On Sunday. 
> 
> 
> Penulis adalah wartawan senior
> 
> 
> 
> 
> Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com
>


Kirim email ke