Mas Dimas,

Voltaire bilang: "Saya boleh tidak setuju dengan pendapat Anda, tapi saya akan 
bela mati-matian hak Anda untuk berpendapat".

Dalam soal ini, saya setuju dengan Voltaire.

Tabik,

Bonnie Triyana

--- On Sat, 19/7/08, masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppiindia] Re: Rosihan Anwar tentang 80 Tahun Joesoef Isak
To: [email protected]
Date: Saturday, 19 July, 2008, 1:13 PM










    
            Bung Boni Triana,  Yth.



Perkenankan saya berkisah tentang Pak Rosihan Anwar, sehubungan dengan

kalimat "kesimpulan saya dia tak mau berkenalan dengan anak muda" dan

pada bagian terakhir: "lucu ya PSI yang satu ini...". Kalimat itu saya

anggap  agak melecehkan, dan saya tergerak untuk meluruskannya. 



Saya dekat dengan Pak Ros, meski tak lama, dan sudah lebih dari 5

tahun terakhir tak bertemu dengan beliau, karena kesibukan

masing-masing. Komunikasi hanya lewat telepon saja. Biasanya selepas

maghrig. Meski demikian, saya selalu memuliakannya. Beliau senior,

guru, dan teman saya. Setiap ada kesempatan saya untuk menghormatinya,

saya melakukannya. 



Beliau adalah "Kyai" saya di bidang jurnalistik, dan tak pernah ragu

saya mencium tangannya, setiap ada kesempatan, sebagaimana santri

mencium kyai yang dihormatinya.



Melewati 20 tahun perjalanan saya di bidang jurnalistik, dan

berselisih usia 40-an tahun, semakin hormat saya  pada beliau.

Terutama setelah merasai betapa letih-lelahnya menjadi wartawan.

Menulis setiap hari. Sedangkan beliau justru melewatinya selama 60

tahun lebih. Terus menerus. Beliau menjadi wartawan saat Indonesia

belum merdeka, meliput Konperensi Meja Bundar, dan Clas Jakarta I &

II, meliput penjemputan Pak Dirman oleh Pak Harto. Selain itu, beliau

mengenal langsung Bung Karno, Chairil Anwar, Djamaluddin Malik, Suryo

Sumanto (tokoh-tokoh film), Soeharto, DR. Soedjatmoko, Sultan

Hamngkubuwono, Ali Sadikin, dll, ketika orang-orang hanya bisa

mengenangnya sebagai lagenda. 



Siapa gerangan tokoh padanannya di Indonesia kini?



Saya melewati masa seperti Anda, masa-masa memandang enteng Pak Ros

dan menyebutnya "Si PSI" itu. Ketika baru mengenalnya di Dewan Film -

Menteng, Jakarta. 



Di mata wartawan muda, wajah baru, dan mereka yang tak mengenalnya

dekat, Pak Ros alias Haji Wa'ang, memang berkesan seperti itu. Sinis,

angkat dagu, dan arogan. Saya mengamati, banyak yang menganggap

perjalanan sukses dalam hidup jika mampu melompat-lompat dan kemudian

makmur secara ekonomis dari  jabatan yang disandangnya. 



Oke, jadi wartawan 10 tahun, lalu jadi pengusaha dan menjadi direktur.

Atau setelah 10 tahun jadi wartawan, pindah jalur ke politik, dan jadi

anggota dewan atau eksekutif. "15 tahun lalu saya ketemu Rosihan Anwar

sebagai wartawan, dan sekarang saya masih ketemu dengannya jadi

wartawan!" kata mereka, dengan mengangkat dagu, dan memandang rendah



Pak Ros, kelahiran Kubang Nan Dua, Sumbar, 10 Mei 1922, menjadi

reporter sejak 1943, lama memimpin suratkabar, dan tetap menulis

hingga 2008 ini.  Mandek kah beliau? 



Saya lebih banyak membaca buku Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis,

WS Rendra, Arief Budiman, Umar Kayam, Ashadi Siregar, dibanding

buku-buku karya H. Rosihan Anwar. Tapi setelah berkesempatan langsung

dan berbincang dengan beliau-beliau dan membandingkannya, Haji Waang

yang paling mengesankan saya.



Kami berkesempatan bareng ke AS saat mengantar film karya alm. Arifin

C. Noor, ke komunitas Indonesia di Los Angeles, AS selama 2 pekan. 

Bareng DR Salim Said, yang kini jadi dubes Indonesia di Eropa Timur.

Atas pertimbangan usia Beliau, saya "dapat tugas" dari sponsor, untuk

mendampingi Pak Ros, sekamar di apartemen dan  bahka tidur di ranjang

yang sama. 



Bukan karena perjalanan bersama maka kami dekat. Saya juga pernah

mengiringi rombongan Rendra ke New York selama sebulan bareng rekan

Kompas, 1986. Dan banyak bukunya yang saya baca. Dari dia juga saya

kenal Pram. Tapi tak sehebat dan seemosiaonal Pak Ros.



Padahal dalam perjalanan saya beliau sering mengomeli saya. Beliau

merupakan didikan Belanda yang organized dalam banyak hal. Bahkan

sampai kamarnya. Beda dengan saya yang "nyeniman". "Kamu itu

unorganized, ya". "Ceroboh kamu", dst.. Selebihnya, Pak Ros banyak

bercerita-cerita lucu. Kisah kocak bersama tokoh-tokoh beken.  Dalam

bercerita, dia juga dingin, sering sinis, tak ekspresif. Kamilah, yang

muda-muda, yang ketawa-ketawa ngakak karenanya, sembari melirik beliau

yang angkat dagu sambil melengos. 



Ketika menjadi tamu VIP di malam puncak FFI, kami duduk dekat. Pak Ros

bawa kamera pocket, dan lama membidik Menpen Harmoko yang sedang

pidato. Tak jadi memotret, balik ke tempat duduk,  justru dia memotret

sepatunya. "Aku foto sepatu saja, " katanya tenang. Di belakangnya,

kami terkekeh-kekeh. 



Seperti halnya WS Rendra yang pernah disalah-pahami wartawan karena

"komersial" (minta bayaran untuk wawancara)  dan Pak Ros yang dianggap

selalu sinis, dari hati ke hati, orang-orang besar ini banyak

bercerita kejengkelannya terhadap wartawan baru yang arogan. Hal yang

dirasakan dan juga dibuktikan langsung oleh Salim Said di depan saya. 



"Saya gampang kesal dengan wartawan yang 'jalan' untuk wawancara tapi

tanpa persiapan!" kata Bung Salim Said. Di tahun 2008 ini mungkin tak

ada lagi, seiring dengan maraknya pendidikan jurnalistik, media

online, dan internet. Tapi di 1980-an hingga 1990-an sungguh banyak.

Dan itu dari media-media besar, majalah "serius" yang ingin

memprofilkan dan memewawancara Pak Ros dan Salim Said, doktor politik

dari Hawaii itu. 



Di hadapan saya dan Pak Ros, tanpa sengaja, DR. Salim Said, yang saat

itu sudah dikenal sebagai kritikus film dan pakar sejarah militer, 

diawancarai dua wartawan media majalah politik yang mengajukan

pertanyaan-pertanya an "basic", dan membuat Bung Salim hilang sabar.

"Waktu kalian mendapat penugasan ini memang tidak ada briefing dulu?"

dan seterusnya, dan saya menunduk malu, tak tega mereka balik

diwawancarai. 



"Maaf Pak Ros, saya sayang mereka. Mereka harus ditegur, kalau tidak

mereka tidak menyadari.." katanya, setelah reporter itu pergi. "Tak

apa, kau sudah betul. Aku melakukan hal sama..kalau jadi kau, " kata

Pak Ros.



itu hanya sekelumit pengalaman saya dan Pak Ros, yang kemudian memberi

kesan beliau dianggap arogan dan sinistik. Banyak hal yang kami alami

bersama, yang mengubah pandangan saya tentang sosok Pak Ros dan bisa

jadi membosankan untuk diceritakan.



Saya juga mengagumi sosok dan karya Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra,

Teguh Karya dan tokoh-tokoh kontroversial lain. Saya pun tahu, ada

banyak orang menulis hal-hal buruk tentang mereka. Dan saya akan

menulis yang sama seperti Pak Ros, seandainya ada yang menulis; "Lucu

ya Pram si ... yang satu ini ..."



Wassalam,



dimas. 



-- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Boni Triyana <boni_triyana@ ...> wrote:

>

> Berikut tulisan Pak Ros yang saya ambil dari Suara Pembaruan, 17

Juli 2008.

> 

> Sedikit koreksi, disebutkan "Ketua Panitia datang terlambat". Itu

betul, tapi Pak Ros tak menyebut penyebabnya, yang tak lain karena,

Sabrina, putri saya yang baru berusia 5,5 bulan mendadak masuk rumah

sakit karena muntah-muntah.

> 

> Kedua, di paragraf awal Rosihan bilang tak kenal (terkesan tak

pernah bertemu saya). Tapi sebetulnya dia pernah menerima langsung

dari saya dan rekan saya, Budi Setiyono, buku Revolusi Belum Selesai

dalam peluncuran di Hotel Regent (kini Four Seasons), Agustus 2003.

Mungkin dia lupa, maklum sudah 86 tahun.  Saya pernah berkali-kali

menghubungi dia untuk wawancara tentang Majalah Siasat yang sedang

saya tulis. Tapi dia selalu menolak. Jadi kesimpulannya dia tak mau

berkenalan dengan anak muda...hehehehehe. .lucu ya PSI satu ini.

> 

> Demikian dari saya.

> 

> Tabik,

> 

> BT

> 

> -----

> 

> "Never On Sunday"

> 

> Rosihan Anwar

> 

> 

> Sekitar setengah abad yang lalu saya menonton film Amerika Never On

Sunday (Tak Pernah di hari Minggu). Ceritanya sudah lupa, tapi theme

song masih mengiang di telinga. Aktris utamanya adalah Nana Moscourie

yang kemudian jadi Menteri Kebudayaan dalam pemerintahan Yunani.

Apakah yang dimaksud "tak pernah di hari Minggu" dalam film ini? Tidak

bekerja, diberikan prei kepada pelacur yang beroperasi di bar/kafe

kota pelabuhan di mana pelaut mendarat.

> 

> Ketika menerima SMS dari Bonnie Triyana, wartawan/sejarawan yang

tidak saya kenal pribadi untuk menghadiri acara di Teater Kecil TIM

Jakarta, Minggu pukul 15.30, reaksi instan saya ialah tidak. Never On

Sunday. Bukan karena saya pelacur yang lagi libur, melainkan karena

mau tidur. Saya lagi HT (hyper-tension) , berjalan dengan tongkat,

karena takut jatuh, maklum lansia 86 tahun.

> 

> Tapi, karena SMS Bonnie dimulai dengan simpatik, "Pak Rosihan yang

baik", karena acaranya memperingati HUT ke-80 wartawan, penulis, dan

penerbit Joesoef Ishak, karena Joesoef Pemred Harian Merdeka pimpinan

BM Diah pada 1960, dan karena saya ikut mendirikan Merdeka 1 Oktober

1945, maka demi corps d'esprit saya penuhi undangan itu, sekaligus

membalas ucapan selamat via kartu pos yang dikirim oleh Joesoef pada

HUT ke-70 saya pada 1992.

> 

> Joesoef, Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika dan Ketua PWI Jaya

(sebelum G-30-S), pada 1968 ditangkap oleh pemerintah Orde Baru dan

tanpa diadili ditahan 10 tahun di Rutan Salemba Jakarta, bersama Sitor

Situmorang, Siauw Giok Tjhan, Soemarsono, dan lain-lain. Joesoef

dilepaskan, dua tahun sebelum Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim

Rachman, mantan wartawan Bintang Timur, kembali dari Pulau Buru.

Ketiga orang itu membentuk penerbitan Hasta Mitra yang mulai 1980

menerbitkan novel Pram Bumi Manusia dan buku-buku lainnya.

> 

> 

> Memperkenalkan Diri

> 

> Waktu tiba di Teater Kecil, Joesoef tampak senang menyambut saya.

Surprise. Ia mengucapkan terima kasih. Saya masuki ruangan teater,

duduk di kursi barisan ketiga di muka pentas, di tengah orang- orang

yang kebanyakan tidak saya kenal. Sendirian. Lalu se-orang laki-laki

datang menemani di sebelah kanan. Dia bilang tak tahu persis nama

saya, tapi kerap lihat saya di televisi. 

> 

> Saya perkenalkan diri dan balik bertanya dari mana dia?

> 

> Ia asal Wonosari, Jawa Tengah, kerja di bagian arsitek, umurnya 48

tahun. Ayahnya dulu bekerja sebagai guru, kemudian jadi lurah di

daerah Solo, diciduk oleh militer, dibuang ke Pulau Buru, meninggal

dunia di sana, tidak jelas sebabnya, apa lantaran sakit atau entah

apa? Seorang perempuan datang dan duduk di sebelah kiri. "Ini istri

saya. Ibunya dulu anggota Gerwani" ujarnya.

> 

> Acara dimulai. Di atas pentas depan, sebelah kanan, se- orang gadis

remaja siap untuk bernyanyi, diiringi organ yang dimainkan oleh

seorang gadis cilik. "Yang nyanyi itu anak kami, yang main musik cucu

Njoto dari CC PKI" kata si lelaki. "Sekolahnya di mana?" tanya saya.

"Kelas satu SMA" jawabnya. 

> 

> Lagu yang dinyanyikan mulanya kurang jelas, tapi kemudian saya

tangkap kalimat dari syairnya I let you go...." Saya berkomentar,

entah kenapa dalam bahasa Jawa, swarane apik. Ibunya senang. Saya mau

bilang Njoto pandai main piano, rupanya bakatnya turun sama cucunya.

Itu tak sampai diucapkan, karena lelaki di samping saya melanjutkan

ceritanya.

> 

> Ia berusia enam tahun waktu militer datang menangkap ayahnya. Sejak

itu dia trauma bila melihat militer. Ia tak bisa lupa kejadian itu. Ia

dibesarkan oleh ambahnya. Lama sekali barulah ia dapat mengatasi

kejutan jiwanya. Kejadian itu sukar dimaafkannya.

> 

> "Maafkan, tapi jangan lupakan" kata saya seraya ingat ucapan

Presiden AS John F Kennedy dalam bukunya Profiles of Courage: In

politics forgive, but never forget (dalam politik berikanlah maaf,

tapi jangan pernah lupakan). Se- jurus kami berdua terdiam.

> 

> Bonnie, ketua panitia terlambat datang. Seorang bule asal Australia

yang menerjemahkan novel-novel Pram, menyampaikan selamat ulang tahun

kepada Joesoef Ishak. Ia sudah 30 tahun mengenal Joesoef yang berjuang

untuk "demokrasi dan sosialisme".

> 

> Tiba giliran Joesoef memberikan sambutan. Ia menyampaikan terima

kasih kepada panitia yang telah mengorganisasikan perayaan. Ia

berbahagia melihat begitu banyak orang, teristimewa karena "di sini

hadir senior saya wartawan Rosihan Anwar" dan Soemarsono. Ia tidak

sebutkan siapa Soemarsono, tapi ini orang yang mencetuskan Peristiwa

Madiun 18 September 1948 ketika PKI-Musso melawan pemerintah Presiden

Soekarno.

> 

> Joesoef memotong nasi tumpeng. Potongan nasi tumpeng pertama

diserahkannya kepada- sekali lagi diucapkannya- "senior saya Rosihan

Anwar". Maka saya terpaksa naik pentas menerima nasi tumpeng. Ia

bergumam saat itu, dia teringat almarhum Soebadio Sastrosatomo. "Saya

mengerti". Memang saya lihat Joesoef di rumah Soebadio, pemimpin PSI

(Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan Sjahrir), di hari-hari

menjelang akhir hayatnya.

> 

> Joesoef muda, juga seluruh keluarganya, banyak berhubungan dengan

PSI. Itulah habitatnya. Tapi, sebagaimana dipaparkan oleh Bonnie

Triyana dan Mark Lane dalam pengantar buku Liber Amicorum yang

diluncurkan, maka pada 1960-an Joesoef semakin jauh dari kelompok PSI,

karena kecewa istilah "sosialis" cuma jadi label kosong. Dalam

pandangan Joesoef, kelompok ini terasingkan dari realitas masyarakat

Indonesia.

> 

> Lingkungan Hidup

> 

> Pada acara kesan dan pesan, penyair Goenawan Mohamad berbicara di

pentas. Karena sedang ke toilet hanya kalimat penutupnya yang saya

dengar. Seorang wanita pintar menyinggung soal kiri dan kanan. Bila

bagian kiri dari badan tidak berfungsi, kita kena stroke. Kini cuma

bagian kanan yang ada. 

> 

> Seorang warga keturunan berkisah tentang burung di Tiongkok, tentang

lingkungan hidup, tentang ekosistem, tentang peristiwa tahun 1965 dan

tentang rusaknya ekosistem. Seorang deklamator membacakan sajak yang

antara lain memuat kata-kata "korupsi", "anak-anak Cendana", dan

"pengadilan menyelesaikan" .

> 

> Saya paham makna tamsil-tamsil itu. Seperti di arus bawah masih

deras mengalir pahit getir, kecaman, semangat revanchist, pembalasan

dendam.

> 

> Sebuah paduan suara ibu-ibu memperdengarkan lagu- lagu medley

Indonesia. Tak ketinggalan lagu "Internationale" yang dinyanyikan

dengan meminta hadirin berdiri, termasuk saya. Bangunlah kaum hina

papa. Apakah mesti di- bilang goodbye, selamat tinggal rekonsiliasi?

> 

> Tiga jam saya berada di ruangan teater, melihat warna, mendengar

bunyi, menyimak kata. Dua generasi boleh sudah berlalu sejak G-30-S,

jejaringan lama itu masih ada, memori kolektif itu dipelihara, sekali

lagi selamat tinggal rekonsiliasi?

> 

> Sebuah film dokumenter dipertunjukkan. Gambar-gambar lama,

peristiwa-peristiwa lama, wajah mereka yang telah wafat seperti Bung

Karno, DN Aidit, Pram, dan Hasjim melintas di depan mata kita. Adegan

Joesoef bercerita di depan cucu-cucunya di depan penjara Salemba.

Istrinya, Asni, memaparkan soal keluarganya, kesibukannya sebagai

pengelola dan motor penerbit Hasta Mitra. 

> 

> Penutup acara adalah penyerahan buku kepada para kontributor

tulisan, kepada orang-orang asing yang dekat dengan Joesoef. Kembali

nama saya disebut, buat kedua kali saya naik ke pentas untuk menerima

dari Joesoef buku Liber Amicorum. Terima kasih. Sesudah itu, saya

langsung pulang, karena sudah lelah akibat mengalami ber- bagai emosi

cukup banyak untuk satu hari, apalagi di hari Minggu. 

> 

> Di luar TIM saya tanya kepada pengemudi bajaj berapa harus bayar ke

Jalan Surabaya. Harga BBM naik, tarif angkutan bajaj pun naik. Dalam

bajaj menuju Pasar Antik di mana saya tinggal saya berpikir,

pengalaman menarik, tapi Never On Sunday. 

> 

> 

> Penulis adalah wartawan senior

> 

> 

> 

> 

> Send instant messages to your online friends

http://uk.messenger .yahoo.com

>




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke