entah, apa siy yg ada dlm pikiran orang yg membela kesesatan? atau jgn2 
orang-orang tsb ingin 'ngebor' jg hihi amit-amit dah



Kapan Inul Bisa Merdeka ?
oleh: http://akmal.multiply.com/journal/item/684



assalaamu¢alaikum wr. wb.
 
Sesungguhnya, setiap kali melihat wajah Inul Daratista, saya merasakan iba yang 
sangat mendalam.  Dari
sorot mata yang masih memancarkan sebentuk kepolosan itu, kelihatannya
banyak hal yang belum ia mengerti di dunianya sendiri.  Inul tidak lebih dari 
sebuah boneka yang dipermainkan oleh banyak tangan perkasa di sekitarnya.  
Fitrahnya ingin merdeka, namun dunia hiburan yang penuh ilusi telah 
menjadikannya budak yang bergelimang harta.  Biarpun kaya raya, ia tetaplah 
budak yang tak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
 
Dulu,
ketika sang raja dangdut Rhoma Irama menegurnya, Inul menangis
sejadi-jadinya dan menyatakan diri akan bertaubat dari goyang ngebor
yang penuh maksiat itu.  Pertemuan diakhiri dengan acara cium tangan, 
menunjukkan itikad baik Inul sebagai ¡warga dangdut¢ yang taat pada rajanya.  
Pada
hari itu, seolah-olah Inul telah mendapat inspirasi agung yang
membuatnya yakin bahwa ia bisa sukses di jalur dangdut tanpa harus
mengeksploitasi pinggulnya.
 
Sayang, episode pertaubatan yang sangat mengharukan itu sirna begitu saja 
setelah Inul bertemu dengan Gus Dur.  Tokoh spesialis kontroversi yang satu ini 
memang gemar dengan segala hal yang ditentang oleh jumhur ulama.  Jika para 
ulama menentang eksploitasi syahwat di atas panggung musik, maka Gus Dur justru 
mendukungnya.  Dengan dukungan (a)moral dari Gus Dur, Inul pun kembali mantap 
bergoyang.  Apalagi saat itu ia sudah tidak lagi sendirian di genre musik plus 
syahwat ini.  Sudah
banyak juniornya yang bermunculan, baik yang namanya besar di level
nasional maupun yang baru bisa manggung dari desa ke desa.
 
Prestasi Inul sebagai pelopor memang luar biasa.  Bisa dibilang, Inul adalah 
lokomotif penarik gerbong yang sangat perkasa.  Di belakangnya ada Anisa Bahar, 
Dewi Perssik, dan lain-lain.  Belum lagi para penari erotis yang manggung dari 
desa ke desa tanpa pernah diliput pers.  Barangkali Inul pun tak tahu bahwa 
¡adik-adik kelasnya¢ begitu gencar bergerilya di desa-desa.  Jika
fans Inul yang di kota-kota besar ikut bergoyang bersamanya, maka
orang-orang desa hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan para penari
erotis menginvasi kampungnya.  Mulai dari orang tua sampai anak kecil, semua 
ikut menyaksikan, tak ubahnya seperti pagelaran wayang kulit saja.
 
Mereka yang tinggal di kota mungkin merasa biasa-biasa saja menyaksikan para 
penyanyi dangdut
melenggak-lenggokkan pinggulnya yang dibalut celana superketat di atas
panggung.  Sebagian bahkan merasa jijik karena
sudah muak dengan eksploitasi sensualitas semacam itu yang dijumpainya
di mana-mana ; di TV, majalah, bioskop, bahkan di tempat kerja.  Tapi bagaimana 
dengan orang-orang desa yang begitu polos, yang selama ini belum pernah dibakar 
bara syahwat sehebat itu?  Mereka
yang selama ini hidupnya begitu sederhana, begitu bersahaja, sekedar
mencari isi perut untuk kini dan esok, kini hidupnya dibikin rumit
dengan imajinasi-imajinasi liar yang tak mau sirna sebelum benar-benar
diwujudkan nyata.  Pemuda-pemuda yang selama ini
dibesarkan dengan sekolah, kesibukan membantu orang tua di
sawah-ladang, dan mengaji di surau, sementara matanya telah terbiasa
melihat lawan jenis yang tertib menutup auratnya, kini dibikin susah
hidupnya dengan tontonan seronok semalam suntuk.
 
Diantara orang-orang yang dibikin susah hidupnya oleh para penari erotis itu, 
ada yang tidak sabar dan mengambil jalan pintas.  Prosesnya halus dan bertahap. 
 Mulai
dari rajin mendatangi panggung-panggung dangdutan, kemudian menyisihkan
uang untuk membeli majalah-majalah yang menampilkan foto-foto seronok,
membeli VCD porno yang dijual bebas tanpa harus takut dengan aparat
keamanan, mencari pacar yang bisa dijadikan objek, sampai akhirnya
gelap mata jika sang pacar tak mau menuruti keinginannya.  Tidak terjadi dalam 
semalam.  Tidak ada yang tiba-tiba, dan tidak ada kebetulan.
 
Bagaimana pun, fitrah seorang Inul Daratista yang lahir dan besar sebagai 
seorang Muslimah tetap nyaring berbunyi.  Terbukti, Inul masih rindu dengan 
Baitullah.  Seperti
artis-artis pada umumnya, Inul pun tidak lupa untuk datang menengok
rumah yang paling sering dikunjungi manusia sedunia itu.  Di Tanah Suci, saya 
yakin, setiap Muslim pasti akan bergetar hatinya.  Bahkan Snouck Hugronje pun 
pasti bergetar hatinya di sana.  Hanya saja, terasa atau tidaknya getaran itu 
sepulang dari Tanah Suci adalah hal yang lain lagi.  Banyak sekali manusia yang 
menangis-nangis di hadapan Ka¢bah dan mendeklarasikan taubat nasuha, namun 
sepulangnya dari sana, kembalilah ia pada profesi sebagai model seronok, 
politikus bejat, bahkan tukang tipu tanah pun ada.
 
Kini, Inul terombang-ambing kembali dengan sikap keras sebagian pejabat 
Malaysia yang melarangnya tampil.  Tidak ada toleransi sedikitpun pada seorang 
Inul.  Ketika ia mendarat di Malaysia, kabar itu langsung dilemparkan ke 
wajahnya.  Maka Inul pun kembali menangis sejadi-jadinya di depan kamera.  Ia 
kembali kebingungan, sebagaimana yang sudah-sudah.  Fitrahnya mengatakan bahwa 
apa yang dilakukannya selama ini salah, tapi sponsor terus mengalir.  Dukungan
(a)moral terus datang dari para ¡seniman¢, dan selalu ada saja yang
memiliki cukup uang untuk memastikannya bisa tampil.  Entah dimana.
 
Saya membayangkan, suatu hari nanti, Inul bisa sepenuhnya merdeka menentukan 
jalannya sendiri.  Dengan demikian, ia tak perlu lagi mengkhianati hati 
kecilnya yang sudah berteriak-teriak minta diperhatikan.  Namun masalah belum 
selesai.  Jika
Inul dan hati kecilnya telah merdeka, saya sulit membayangkan betapa
pedih perasaannya ketika akhirnya ia menyadari betapa besarnya masalah
yang ditimbulkan oleh aksi goyang yang dipopulerkannya ke seluruh
pelosok negeri.  Duhai, pedihnya penyesalan!
 
wassalaamu¢alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke