Dear Rekans, Satu ketika, menemani istri belanja nugget ke agen, saya melihat 'warta kota' tergeletak di meja. Iseng saya lihat halaman pertama, ada artikel yang rasanya cukup menarik perhatian pembaca.. judulnya seputar 60 persen lebih anak smp sudah tidak perawan/perjaka(?) lagi dari hasil suatu survey.. (dan ternyata kabar ini sudah diangkat SCTV juga).
Saya langsung teringat anak" saya (2 anak perempuan, kelas 3 sd dan yang 2 tahun, 1 anak pria baru masuk tk).. bagaimana jaman mereka besar kelak? Terbayang dalam benak saya, inilah buah dari kebebasan yang diagung"kan para pendukung HAM.. termasuk seks bebas.. :-( Padahal sewaktu saya masih sekolah dulu, film cinta"an itu dibintangi aktor/ aktris yang sudah kuliah.. makin ke sini anak sma.. makin ke sini anak smp.. bahkan mungkin kalau tidak ada yang protes, anak tk dibuatkan scene pacaran juga.. :-( Berbahagialah anda para pengusung kebebasan itu.. yang masuk lewat berbagai pintu.. para pemodal yang membuat sinetron cinta yang sudah merambah anak smp.. para pencari bakat/bintang muda.. bahkan saya pernah sekilas melihat sinetron pemerannya anak sd (atau bahkan tk) yang digambarkan 'suka' dengan lawan jenis (Sinetron Nabila - lupa judulnya).. Apa yang kita lihat sekarang ini adalah akumulasi dari banyak hal.. termasuk kesuksesan (para pengendali) Inul sewaktu menghantam Rhoma Irama.. dan apa yang diucapkannya.. Inul bukan hanya merobohkan Rhoma, tetapi larangan" terhadap tindakannya.. Ini yang kita mau? Kita, loe aja kali, gw enggak.. (kata Eko, Ruben & Ivan).. :-p -- Wassalam, Irwan.K "Better team works could lead us to better results" http://irwank.blogspot.com/ 2008/7/25 si pitung <[EMAIL PROTECTED]> > entah, apa siy yg ada dlm pikiran orang yg membela kesesatan? atau jgn2 > orang-orang tsb ingin 'ngebor' jg hihi amit-amit dah > > > > Kapan Inul Bisa Merdeka ? > oleh: http://akmal.multiply.com/journal/item/684 > > > > assalaamu¢alaikum wr. wb. > > Sesungguhnya, setiap kali melihat wajah Inul Daratista, saya merasakan iba > yang sangat mendalam. Dari > sorot mata yang masih memancarkan sebentuk kepolosan itu, kelihatannya > banyak hal yang belum ia mengerti di dunianya sendiri. Inul tidak lebih > dari sebuah boneka yang dipermainkan oleh banyak tangan perkasa di > sekitarnya. Fitrahnya ingin merdeka, namun dunia hiburan yang penuh ilusi > telah menjadikannya budak yang bergelimang harta. Biarpun kaya raya, ia > tetaplah budak yang tak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. > > Dulu, > ketika sang raja dangdut Rhoma Irama menegurnya, Inul menangis > sejadi-jadinya dan menyatakan diri akan bertaubat dari goyang ngebor > yang penuh maksiat itu. Pertemuan diakhiri dengan acara cium tangan, > menunjukkan itikad baik Inul sebagai ¡warga dangdut¢ yang taat pada rajanya. > Pada > hari itu, seolah-olah Inul telah mendapat inspirasi agung yang > membuatnya yakin bahwa ia bisa sukses di jalur dangdut tanpa harus > mengeksploitasi pinggulnya. > > Sayang, episode pertaubatan yang sangat mengharukan itu sirna begitu saja > setelah Inul bertemu dengan Gus Dur. Tokoh spesialis kontroversi yang satu > ini memang gemar dengan segala hal yang ditentang oleh jumhur ulama. Jika > para ulama menentang eksploitasi syahwat di atas panggung musik, maka Gus > Dur justru mendukungnya. Dengan dukungan (a)moral dari Gus Dur, Inul pun > kembali mantap bergoyang. Apalagi saat itu ia sudah tidak lagi sendirian di > genre musik plus syahwat ini. Sudah > banyak juniornya yang bermunculan, baik yang namanya besar di level > nasional maupun yang baru bisa manggung dari desa ke desa. > > Prestasi Inul sebagai pelopor memang luar biasa. Bisa dibilang, Inul > adalah lokomotif penarik gerbong yang sangat perkasa. Di belakangnya ada > Anisa Bahar, Dewi Perssik, dan lain-lain. Belum lagi para penari erotis > yang manggung dari desa ke desa tanpa pernah diliput pers. Barangkali Inul > pun tak tahu bahwa ¡adik-adik kelasnya¢ begitu gencar bergerilya di > desa-desa. Jika > fans Inul yang di kota-kota besar ikut bergoyang bersamanya, maka > orang-orang desa hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan para penari > erotis menginvasi kampungnya. Mulai dari orang tua sampai anak kecil, > semua ikut menyaksikan, tak ubahnya seperti pagelaran wayang kulit saja. > > Mereka yang tinggal di kota mungkin merasa biasa-biasa saja menyaksikan > para penyanyi dangdut > melenggak-lenggokkan pinggulnya yang dibalut celana superketat di atas > panggung. Sebagian bahkan merasa jijik karena > sudah muak dengan eksploitasi sensualitas semacam itu yang dijumpainya > di mana-mana ; di TV, majalah, bioskop, bahkan di tempat kerja. Tapi > bagaimana dengan orang-orang desa yang begitu polos, yang selama ini belum > pernah dibakar bara syahwat sehebat itu? Mereka > yang selama ini hidupnya begitu sederhana, begitu bersahaja, sekedar > mencari isi perut untuk kini dan esok, kini hidupnya dibikin rumit > dengan imajinasi-imajinasi liar yang tak mau sirna sebelum benar-benar > diwujudkan nyata. Pemuda-pemuda yang selama ini > dibesarkan dengan sekolah, kesibukan membantu orang tua di > sawah-ladang, dan mengaji di surau, sementara matanya telah terbiasa > melihat lawan jenis yang tertib menutup auratnya, kini dibikin susah > hidupnya dengan tontonan seronok semalam suntuk. > > Diantara orang-orang yang dibikin susah hidupnya oleh para penari erotis > itu, ada yang tidak sabar dan mengambil jalan pintas. Prosesnya halus dan > bertahap. Mulai > dari rajin mendatangi panggung-panggung dangdutan, kemudian menyisihkan > uang untuk membeli majalah-majalah yang menampilkan foto-foto seronok, > membeli VCD porno yang dijual bebas tanpa harus takut dengan aparat > keamanan, mencari pacar yang bisa dijadikan objek, sampai akhirnya > gelap mata jika sang pacar tak mau menuruti keinginannya. Tidak terjadi > dalam semalam. Tidak ada yang tiba-tiba, dan tidak ada kebetulan. > > Bagaimana pun, fitrah seorang Inul Daratista yang lahir dan besar sebagai > seorang Muslimah tetap nyaring berbunyi. Terbukti, Inul masih rindu dengan > Baitullah. Seperti > artis-artis pada umumnya, Inul pun tidak lupa untuk datang menengok > rumah yang paling sering dikunjungi manusia sedunia itu. Di Tanah Suci, > saya yakin, setiap Muslim pasti akan bergetar hatinya. Bahkan Snouck > Hugronje pun pasti bergetar hatinya di sana. Hanya saja, terasa atau > tidaknya getaran itu sepulang dari Tanah Suci adalah hal yang lain lagi. > Banyak sekali manusia yang menangis-nangis di hadapan Ka¢bah dan > mendeklarasikan taubat nasuha, namun sepulangnya dari sana, kembalilah ia > pada profesi sebagai model seronok, politikus bejat, bahkan tukang tipu > tanah pun ada. > > Kini, Inul terombang-ambing kembali dengan sikap keras sebagian pejabat > Malaysia yang melarangnya tampil. Tidak ada toleransi sedikitpun pada > seorang Inul. Ketika ia mendarat di Malaysia, kabar itu langsung > dilemparkan ke wajahnya. Maka Inul pun kembali menangis sejadi-jadinya di > depan kamera. Ia kembali kebingungan, sebagaimana yang sudah-sudah. > Fitrahnya mengatakan bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah, tapi > sponsor terus mengalir. Dukungan > (a)moral terus datang dari para ¡seniman¢, dan selalu ada saja yang > memiliki cukup uang untuk memastikannya bisa tampil. Entah dimana. > > Saya membayangkan, suatu hari nanti, Inul bisa sepenuhnya merdeka > menentukan jalannya sendiri. Dengan demikian, ia tak perlu lagi > mengkhianati hati kecilnya yang sudah berteriak-teriak minta diperhatikan. > Namun masalah belum selesai. Jika > Inul dan hati kecilnya telah merdeka, saya sulit membayangkan betapa > pedih perasaannya ketika akhirnya ia menyadari betapa besarnya masalah > yang ditimbulkan oleh aksi goyang yang dipopulerkannya ke seluruh > pelosok negeri. Duhai, pedihnya penyesalan! > > wassalaamu¢alaikum wr. wb. > [Non-text portions of this message have been removed]

