Astaghfirullah ada yang marahnya samfai di ubun2. Tafi ane mafhum kalo ente 
marah begitu keras. Ane juga marah kalu negri ane dijelek jelekin ame kafir2 
itu. Orang2 itu memang sudah terlalu jauh dicekoki oleh urang2 kafir 
laknatullah. Astaghfirullah.
Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "v2xtopz" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Fri, 25 Jul 2008 13:38:22 
To: <[email protected]>
Subject: Bls: [ppiindia] Re: [RumahKita] Sekolah di Arab Saudi Mengajarkan 
Intoleransi


Salam.

Ada banyak hal yang kurang berkenan dalam nalar saya membaca tulisan
"Sekolah di Arab Saudi Mengajarkan Intoleransi" dan tanggapan kawan2
seputar adanya tuduhan intoleransi di Arab Saudi. Mudah aja pertanyaan
baliknya: "Apa kalian sudah pernah bermukim, atau bahkan sekolah di
Saudi hingga bisa mudah mengiyakan keseluruhan tulisan Anne Applebaum
itu? Lalu, siapa Anne Applebaum, dan apa pengalaman dia bisa mumpuni
menganalisis "bangsa yang asing" untuk dirinya?

Karena dari tanggapan2 yang ada, gak satu pun yang mengungkap
pengalaman realnya beradaptasi dengan "budaya" Saudi. Bayangkan coba,
ada orang mengkritisi tentang Indonesia di depan Anda, apa yang akan
Anda lakukan karena Anda lebih banyak tahu tentang negeri Anda?

Walau memang patut diakui ada banyak kekurangan yang dimiliki negara
petro dollar itu, tapi untuk menuduhkan keseluruhan negara itu
"intoleran" hanya dengan pijakan sebuah text book sangat kurang
ilmiah. Terlebih, tulisan itu hanya sebuah karya opini jurnalistik dan
bukan karya ilmiah.

Tahukah Anda, bahwa dalam Islam, pelajaran Tauhid adalah bassic ilmu
sebelum seorang muslim dapat benar-benar mengamalkan ajaran agamanya?
Kalau Anda beragama Islam, tolong iyakan, karena itulah faktanya.
Kalau Anda non Muslim, simak saja banyak uraian di internet tentang
ilmu Tauhid itu. Dan kalau Anda tidak beragama, jangan kritisi sesuatu
yang tidak Anda percayai, karena akan menjadi tidak kompatibel,
apalagi ilmiah.

Sangat simple untuk meretas kekeliruan nalar penulis yang mengatakan
text book itu memicu intoleransi. Alasan penulis, jika siswa mau dapat
nilai bagus, maka ia harus memilih poin C: Orang yang menyembah Allah
semata, mencintai orang-orang yang beriman dan membenci orang-orang kafir.

Dalam ilmu Sosiologi tingkat dasar yang pernah kita pelajari di
SMP-SMA dulu disebutkan beberapa alasan manusia menjadi homo socius
dan cenderung harus hidup berkelompok. Salah satu alasannya adalah
"keselamatan dan kenyamanan". Logis sekali jika poin C adalah pilihan
terbaik dibanding 2 poin sebelumnya (A & B). Karena, rekat ikatan
keimanan bagi seorang manusia yang memiliki "keyakinan" sangat begitu
kuat. Ikatan orang yang beriman (kepada Allah dan semata hanya
menyembah-Nya), logisnya akan lebih kuat berafiliasi kepada orang yang
seiman dengannya (sesama mukmin). Lebih berafiliasi kepada kelompok
lain sangat aneh, karena hidup dalam kelompok jelas lebih menjamin
keselamatan dan kenyamanan dibanding dengan hidup di ranah yang asing.

Mudahnya, Anda yang tidak beragama, tentu lebih asyik hidup dalam
lingkungan yang tidak beragama. Karena jika hidup di lingkungan
beragama, hidup Anda pasti akan "gerah" dengan suara adzan dari
masjid, atau lonceng dari gereja.


Mengenai warna Islam yang ada di Arab Saudi, dapat kita analisis dari
aspek antropologi agama. Andai Anda pernah mempelajarinya, tentu Anda
akan sangat dimaklumi jika suatu daerah memiliki warisan keberagamaan
yang unik dari daerah lain. Saudi Arabia, dengan kultur dan tekstur
antropologis, dan dipengaruhi oleh iklim dan sentuhan perjalanan
peradaban, sangat "in" dengan model Islam yang ada saat ini. Apakah
itu dalam kacamata kita dianggap "keras" atau lainnya. Namun,
relevansi itu relatif berlaku untuk wilayah itu saja, dan belum tentu
untuk wilayah lain. Terlebih bagi wilayah yang memiliki khazanah
kultural atau sejarah peradaban berbeda.

So, menganalisis fenomena Islam di Arab Saudi sangat tidak relevan
jika mengalisisnya menggunakan pisau analisis Barat, atau Timur yang
menjurus keindonesiaan. Karena akan mandeg, bahkan yang akan terhasil
hanya "clash of civilization".

Untuk menepis pendapat hanya ada satu agama "resmi" di Saudi, sangat
mudah. Gunakan saja komparasi pertanyaan analogis semisal: "Di
Vatikan, boleh ngak ada agama lain?" Dalam 

Dalam aspek kekuasaan, saya setuju jika dikatakan ada kecenderungan
pemerintah Saudi "mengulur waktu" mencerdaskan anak bangsanya karena
takut dilengserkan. Tapi, bayangkan jika Arab Saudi tidak menggunakan
pola kekuasaan seperti itu? Pola pikir dan kecenderungan hidup
masyarakat Saudi, karena faktor cuaca dan lingkungan, memang dalam
sejarahnya begitu. Pola dinasti keluarga, kecenderungan ta'assub
kekeluargaan mereka sangat kental. Pun, rakyat Saudi tidak bisa
pungkir bahwa kenyamanan hidup mereka saat ini adalah berkat revousi
Raja Saud dulu yang mendobrak cengkraman Turki Utsmani.

Pola pembatasan gerak perempuan di negeri ini juga merupakan kultur
mereka. Karena wanita adalah segalanya buat mereka, bahkan perhiasan
yang mahal. Maka harus dijaga, dan tidak bisa sembarang keluar rumah
tanpa dampingan orang dekat atau kerabat. Hijab, burqah atau niqab
yang mereka pakai juga tradisi yang sangat relevan dengan kultur dan
cuaca lokal. Dan kecocokan ini sudah berjalan berabad-abad tanpa
intervensi. Semua sudah membudaya. Maka bijaknya, jangan bandingkan
pola ini dengan model hidup, busana, atau pergaulan ala Indonesia,
atau bahkan Barat, yang jelas sangat kontras. "Laptopnya beda," kata
Tukul Arwana.

Any way, menurut saya, tulisan "Sekolah di Arab Saudi Mengajarkan
Intoleransi" sangat labil. Karena garis besar tulisannya mengarah pada
penyeragaman yang keliru, bermula dari penggunaan pisau analisa yang
keliru. 


Makasih

Taufiq "Vivix"





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke