Lha wong itu cuma komentar ngawur...
Yang bener itu, Munarman mirip Won Bin ! hehehe atau sekalian Jet Lee.

Terimakasih Akhi Ihsan atas uraiannya.
2008/7/26 imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]>

>
>
> wah, ya kalau menurut saya terasa berlebihan
> atau tidak tepat membandingkan kasusnya Ryan
> dan kasusnya Munarman.
>
> Kasus di Monas itu mungkin bisa digolongkan
> jenis *-mob violence-*, biasanya lebih didorong
> emosi massa, baik itu terjadi 'spontan' ataupun
> memang di'rancang', tapi jelas ada faktor amuk
> massa yang terlibat. Dalam kasus ini setidak-
> tidaknya tidak ada tujuan membunuh. Dalam
> kasus MOnas, pola & hubungan sebab akibat cukup
> jelas, dan cukup *-predictable-*, jadi seharusnya
> bagi pemerintah dan pihak-2 yang terkait ada
> cukup data masukan jika ingin mencegah terulangnya
> peristiwa yang sama.
>
> Meskipun tidak menyetujui cara-cara yang digunakan
> FPI, saya koq berbeda pendapat dengan kalangan
> "umum" bahwa kelompok FPI itu kelompok yang
> "menakutkan". Kalau menurut saya, "sosok" FPI
> itu cukup jelas dan "transparan". Apa yang
> mereka "maui" juga cukup jelas dan spesifik
> sebenarnya, dan to some extend, dari segi
> tujuannya "tidak salah" menurut Syariat
> Islam. Di samping itu, pelaksanaan aspek-2
> tertentu Syariat Islam yang dicoba di"perjuang
> kan" oleh FPI sebetulnya sebagian sudah
> tertampung dalam Undang-undang "sekuler"
> nya NKRI (Misalnya Undang-2 anti Psikotropika
> sebagai dasar untuk "meregulasi" peredaran
> minuman keras). Artinya sebagian aspirasinya
> FPI bisa "tertampung" dalam kerangka hukumnya
> NKRI tanpa mengubah Dasar Negara Pancasila.
>
> Lalu Pemimpin-nya siapa, domisilinya di mana
> juga jelas, jadi kalo ada apa-apa cukup
> "gampang" meminta pertanggung-jawabannya.
> Meskipun dikatakan mereka ada "backing" nya
> (Tentara), tapi dijaman sekarang saya rasa
> orang sudah tidak takut lagi dengan backing-2
> an semacam ini. Power yang dimiliki tentara
> sudah jauh lebih kecil dibanding jaman Orba
> dulu.
>
> Saya yakin aparat-2 keamanan di Indonesia
> juga tidak melihat FPI sebagai "ancaman"
> yang serius. Paling-paling ya bisa disebut
> "gangguan" ketertiban lah.
>
> ***
>
> HTI agenda-nya juga "transparan" tapi jauh
> lebih complicated, gerakannya lebih "global"
> dan lebih "Utopis" dibanding aspirasinya FPI.
> Aspirasi kelompok seperti HTI tidak mungkin
> bisa tertampung tanpa merombak total sistem
> yang ada. Jika dibandingkan dengan HTI ini,
> saya melihat agendanya FPI lebih bersifat
> "praktis", dan masih bisa di "negosiasi"
> kan.
>
> ***
>
> Lalu mungkin ada kelompok-kelompok kecil yang
> melakukan tindakan yang jaman sekarang disebut
> sebagai terorisme. Berbeda dengan kedua kelompok
> di atas, kelompok ini jelas bergerak di bawah
> tanah. Ini yang paling perlu diwaspadai, karena
> paling berpotensi memunculkan "fitna."
>
> Tapi kelompok seperti ini jelas-jelas melanggar
> hukum negara, jadi treatment-nya mereka "harus
> di apakan" sebenarnya cukup jelas. Yang repot
> kalau pola "counter insurgency" model Orde Baru
> ( pola-nya Ali Moertopo ) masih terus digunakan
> oleh aparat keamanan/intelijen;
>
> yaitu di mana justeru aparat keamanan negara
> yang sengaja menciptakan kelompok-2 seperti itu
> dengan agenda tertentu, misalnya:
>
> -> untuk memojok-kan kelompok-2 Muslim
> tertentu yang meskipun (misalnya) Pro
> Syariah tapi sebenarnya committed untuk
> tidak menggunakan kekerasan
>
> -> memprovokasi orang-2 tertentu yang
> diduga punya potensi "radikal" tapi
> masih takut-2 bertindak, dipancing
> supaya melakukan kekerasan, sehingga
> ada alasan bagi pihak ke-amanan untuk
> menumpas mereka spt yang terjadi di era
> 1980 an
>
> ***
>
> kalo semua kelompok Muslim yang suka pake
> baju koko putih-putih, berkopyah putih, berjenggot
> semua dikelompok-kan/di agregasi dengan satu
> istilah: kelompok radikal, ya menurut saya
> itu salah, suatu simplifikasi Black & White
> model George Bush yang tidak tepat untuk
> memecahkan masalah.
>
> Karena agenda dan modus operandi setiap
> kelompok tersebut sebetulnya tidak persis
> sama, sehigga "treatment" nya seharusnya
> juga tidak sama.
>
> ***
>
> Sedang kasusnya Ryan menurut saya kasus kriminal
> biasa, kayak yang bisa dibaca di novel-2 atau
> film-2 mengenai serial murder. Pelaku pembunuhan
> yang tidak di dasari sebab khusus, ya biasanya
> memang berkaitan dengan penyimpangan perilaku
> kejiwa-annya/psikopat.
>
> Menghubung-hubungkan kasus Ryan dengan latar
> belakang pendidikan agamanya juga bisa cenderung
> berlebihan. Saya rasa itu lebih merupakan kasus
> khusus. Orang seperti ini biasanya perilakunya
> susah diduga.
>
> Saya koq tidak melihat relevansinya menghubungkan
> kasusnya mas "Ryan" dgn kasus Monas.
>
> ----( ihsan hm )------------------------------
>
> --- In "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Ryan, si pembunuh berdarah dingin, kalau Anda
> > amati baik-baik, wajahnya sekilas mirip Munarman,
> > pelaku tindak kekerasan di Monas.
> >
> > Setuju?
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke