Satu dari Jombang... satu dari Palembang... ya jauh tho... Tapi di media-media kok bisa mirip ya ? sengaja dibuat mirip kah? Hehehe... diedit pake Adobe Photoshop kali... sama kaya foto Munarman di TEMPO Tanya Bung Roy Suryo deh.... :-D
On Sun, Jul 27, 2008 at 11:25 AM, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas Muchtarom yb > > Wah, wah, kok penjelasannya panjang banget..... :)) > > Saya tidak bilang kasusnya Ryan dan Munarman mirip lho. Tapi yang mirip > adalah wajah alias raut muka Ryan dan Munarman. Ryan asal Jombang dan > Munarman asal Palembang, tapi sekilas memandang wajahnya yang terpampang di > media ada kemiripan. > > > salam, > > rd > > www.mediacare.biz > > --- On Sat, 7/26/08, imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]<imuchtarom%40yahoo.com>> > wrote: > > From: imuchtarom <[EMAIL PROTECTED] <imuchtarom%40yahoo.com>> > Subject: [ppiindia] Re: Ryan mirip Munarman > To: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com> > Date: Saturday, July 26, 2008, 10:00 AM > > > wah, ya kalau menurut saya terasa berlebihan > atau tidak tepat membandingkan kasusnya Ryan > dan kasusnya Munarman. > > Kasus di Monas itu mungkin bisa digolongkan > jenis *-mob violence-*, biasanya lebih didorong > emosi massa, baik itu terjadi 'spontan' ataupun > memang di'rancang', tapi jelas ada faktor amuk > massa yang terlibat. Dalam kasus ini setidak- > tidaknya tidak ada tujuan membunuh. Dalam > kasus MOnas, pola & hubungan sebab akibat cukup > jelas, dan cukup *-predictable- *, jadi seharusnya > bagi pemerintah dan pihak-2 yang terkait ada > cukup data masukan jika ingin mencegah terulangnya > peristiwa yang sama. > > Meskipun tidak menyetujui cara-cara yang digunakan > FPI, saya koq berbeda pendapat dengan kalangan > "umum" bahwa kelompok FPI itu kelompok yang > "menakutkan" . Kalau menurut saya, "sosok" FPI > itu cukup jelas dan "transparan" . Apa yang > mereka "maui" juga cukup jelas dan spesifik > sebenarnya, dan to some extend, dari segi > tujuannya "tidak salah" menurut Syariat > Islam. Di samping itu, pelaksanaan aspek-2 > tertentu Syariat Islam yang dicoba di"perjuang > kan" oleh FPI sebetulnya sebagian sudah > tertampung dalam Undang-undang "sekuler" > nya NKRI (Misalnya Undang-2 anti Psikotropika > sebagai dasar untuk "meregulasi" peredaran > minuman keras). Artinya sebagian aspirasinya > FPI bisa "tertampung" dalam kerangka hukumnya > NKRI tanpa mengubah Dasar Negara Pancasila. > > Lalu Pemimpin-nya siapa, domisilinya di mana > juga jelas, jadi kalo ada apa-apa cukup > "gampang" meminta pertanggung- jawabannya. > Meskipun dikatakan mereka ada "backing" nya > (Tentara), tapi dijaman sekarang saya rasa > orang sudah tidak takut lagi dengan backing-2 > an semacam ini. Power yang dimiliki tentara > sudah jauh lebih kecil dibanding jaman Orba > dulu. > > Saya yakin aparat-2 keamanan di Indonesia > juga tidak melihat FPI sebagai "ancaman" > yang serius. Paling-paling ya bisa disebut > "gangguan" ketertiban lah. > > *** > > HTI agenda-nya juga "transparan" tapi jauh > lebih complicated, gerakannya lebih "global" > dan lebih "Utopis" dibanding aspirasinya FPI. > Aspirasi kelompok seperti HTI tidak mungkin > bisa tertampung tanpa merombak total sistem > yang ada. Jika dibandingkan dengan HTI ini, > saya melihat agendanya FPI lebih bersifat > "praktis", dan masih bisa di "negosiasi" > kan. > > *** > > Lalu mungkin ada kelompok-kelompok kecil yang > melakukan tindakan yang jaman sekarang disebut > sebagai terorisme. Berbeda dengan kedua kelompok > di atas, kelompok ini jelas bergerak di bawah > tanah. Ini yang paling perlu diwaspadai, karena > paling berpotensi memunculkan "fitna." > > Tapi kelompok seperti ini jelas-jelas melanggar > hukum negara, jadi treatment-nya mereka "harus > di apakan" sebenarnya cukup jelas. Yang repot > kalau pola "counter insurgency" model Orde Baru > ( pola-nya Ali Moertopo ) masih terus digunakan > oleh aparat keamanan/intelijen; > > yaitu di mana justeru aparat keamanan negara > yang sengaja menciptakan kelompok-2 seperti itu > dengan agenda tertentu, misalnya: > > -> untuk memojok-kan kelompok-2 Muslim > tertentu yang meskipun (misalnya) Pro > Syariah tapi sebenarnya committed untuk > tidak menggunakan kekerasan > > -> memprovokasi orang-2 tertentu yang > diduga punya potensi "radikal" tapi > masih takut-2 bertindak, dipancing > supaya melakukan kekerasan, sehingga > ada alasan bagi pihak ke-amanan untuk > menumpas mereka spt yang terjadi di era > 1980 an > > *** > > kalo semua kelompok Muslim yang suka pake > baju koko putih-putih, berkopyah putih, berjenggot > semua dikelompok-kan/ di agregasi dengan satu > istilah: kelompok radikal, ya menurut saya > itu salah, suatu simplifikasi Black & White > model George Bush yang tidak tepat untuk > memecahkan masalah. > > Karena agenda dan modus operandi setiap > kelompok tersebut sebetulnya tidak persis > sama, sehigga "treatment" nya seharusnya > juga tidak sama. > > *** > > Sedang kasusnya Ryan menurut saya kasus kriminal > biasa, kayak yang bisa dibaca di novel-2 atau > film-2 mengenai serial murder. Pelaku pembunuhan > yang tidak di dasari sebab khusus, ya biasanya > memang berkaitan dengan penyimpangan perilaku > kejiwa-annya/ psikopat. > > Menghubung-hubungka n kasus Ryan dengan latar > belakang pendidikan agamanya juga bisa cenderung > berlebihan. Saya rasa itu lebih merupakan kasus > khusus. Orang seperti ini biasanya perilakunya > susah diduga. > > Saya koq tidak melihat relevansinya menghubungkan > kasusnya mas "Ryan" dgn kasus Monas. > > ----( ihsan hm )----------- --------- --------- - > > --- In "mediacare" <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote: > > > > Ryan, si pembunuh berdarah dingin, kalau Anda > > amati baik-baik, wajahnya sekilas mirip Munarman, > > pelaku tindak kekerasan di Monas. > > > > Setuju? > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

