Bid'ah Menurut Ahli Hadith
  Oleh : Mochammad Moealliem
   
  Dalam tulisan sebelumnya saya penasaran dengan hadith riwayat dari imam 
nasai, yang menyebutkan kata, "wakullu dlolalatin fin nar" dimana pada Shohih 
Bukhari dan Shohih Muslim kalimat itu tidak ada, sebenarnya sudah cukup saya 
mengambil yang punya kekuatan yang lebih tinggi dalam hadith itu, namun 
ternyata yang menjadi pegangan banyak orang untuk justifikasi bid'ah adalah 
dari hadith riwayat nasai.
   
  Alhamdulillah setelah saya telusuri di masing-masing syarah (penjelasan) dari 
beberapa kitab hadith, khususnya 3 kitab tersebut penulis mendapat gambaran 
yang jelas, bahwa bid'ah adalah hal umum yang dikhususkan, bahkan banyak para 
sahabat ketika tidak tahu hal baru mereka akan berkata bid'ah, misalnya ketka 
melihat sahabat yang lain melakukan sholat dhuha, dan yang belum tahu itu 
bertanya pada yang belum tahu juga, ketika ditanya sholat apaan tuh dia? 
jawabannya bid'ah.
   
  Imam malik ketika ditanya apa makna "Arrahmanu alal arsy istawa" Maka 
jawabannya, bahwa iman padaNya wajib dan bertanya demikian adalah bid'ah, 
demikian juga dosen penulis suatu ketika saya tanyakan hal demikian, jawaban 
dosen saya ternyata mencontek jawaban imam malik, yaitu pertanyaan itu adalah 
bid'ah, padahal menurut penulis dosen itu nggak punya jawaban, namun dia tak 
berani mengarang jawaban meski pada anak kecil seperti penulis.
   
  Tarawih adalah buatan Umar, Adzan pertama dalam jum'at buatan utsman, titik 
yang membedakan antara qof dan fa', ba' ta', tsa.dst, adalah buatan abul aswad, 
harokat buatan hajjaj bin yusuf, bahkan alqur'an yang begitu rapi sekarang ini 
adalah model yang dibuat al azhar, dan sekarang anda dengan mudah tahu, jus 
berapa, ayat berapa, surat apa dan sebagainya.
   
  Baiklah sekarang kita lihat pendapat ahli hadith, pemberi syarh shohih 
bukhori (Ibnu Hajar) misalnya dalam memberi penjelasan tentang bid'ah yang 
dimaksud dalam hadith Bukhari 6735,  
   
  (kalau font arab tak tampa kli disini 
http://muallimku.blogspot.com/2008/08/bidah-menurut-ahli-hadith.html
   
  æóÞóÏú ÈóíøóäúÊ Ðóáößó Ýöí " ßöÊóÇÈ ÇáúÃóÏóÈ " Ýöí ÈóÇÈ ÇáúåóÏúí ÇáÕøóÇáöÍ ¡ 
æ " ÇáúãõÍúÏóËóÇÊ " ÈöÝóÊúÍö ÇáÏøóÇáø ÌóãúÚ ãõÍúÏóËóÉ æóÇáúãõÑóÇÏ ÈöåóÇ ãóÇ 
ÃõÍúÏöË ¡ æóáóíúÓó áóåõ ÃóÕúá Ýöí ÇáÔøóÑúÚ æóíõÓóãøóì Ýöí ÚõÑúÝ ÇáÔøóÑúÚ " 
ÈöÏúÚóÉ " æóãóÇ ßóÇäó áóåõ ÃóÕúá íóÏõáø Úóáóíúåö ÇáÔøóÑúÚ ÝóáóíúÓó ÈöÈöÏúÚóÉò ¡ 
ÝóÇáúÈöÏúÚóÉ Ýöí ÚõÑúÝ ÇáÔøóÑúÚ ãóÐúãõæãóÉ ÈöÎöáóÇÝö ÇááøõÛóÉ ÝóÅöäøó ßõáø 
ÔóíúÁ ÃõÍúÏöË Úóáóì ÛóíúÑ ãöËóÇá íõÓóãøóì ÈöÏúÚóÉ ÓóæóÇÁ ßóÇäó ãóÍúãõæÏðÇ Ãóæú 
ãóÐúãõæãðÇ ¡ æóßóÐóÇ ÇáúÞóæúá Ýöí ÇáúãõÍúÏóËóÉ æóÝöí ÇáúÃóãúÑ ÇáúãõÍúÏóË 
ÇáøóÐöí æóÑóÏó Ýöí ÍóÏöíË ÚóÇÆöÔóÉ " ãóäú ÃóÍúÏóËó Ýöí ÃóãóÑúäóÇ åóÐóÇ ãóÇ 
áóíúÓó ãöäúåõ Ýóåõæó ÑóÏø
   
  Menurut beliau definisi bid'ah adalah segala sesuatu yang baru atau 
diperbarui yang tidak ada contoh sebelumnya dinamakan bid'ah, baik itu mahmudah 
atau madzmumah. Akan tetapi ketika disesuaikan dengan hadith yang lain, tentang 
hal-hal yang baru yang diriwayatkan Aisyah : "Barang siapa membuat pembaharuan 
dalam masalah kita ini, sesuatu yang tidak darinya adalah tertolak".
   
  Dari sini bahwa sholat tarawih berubah menjadi amru yang maqbul, sebab 
tarawih punya hal yang termasuk "minhu", sebab nabi pernah melakukan hanya saja 
untuk menghindari kesalahfahaman sahabatnya beliau tidak melakukan secara 
kontinyu, sebab nanti dikira tarawih adalah wajib, Lha wong anjuran jenggot aja 
dianggap wajib.
   
  Kalau orang NU tahlilan, itu juga termasuk "minhu" membaca la ilaha illa 
Allah, membaca tasbih, membaca ayat qur'an, semuanya termasuk minhu, hanya 
mungkin yang jadi masalah kirim do'a pada orang mati banyak perbedaan pendapat, 
jumhur sepakat pahalanya sampai, imam syafii tidak sepakat, namun nabi sendiri 
pernah mendoakan sahabatnya yang mati, Allah pun menyuruh kita beristigfar buat 
diri kita dan orang mukmin yang lain, bukankah orang-orang yang mati dijalan 
Allah adalah hidup? Hanya kita tidak peka kepada mereka, balhum ahyau walakin 
la tasy'urun.
   
  Peristiwa yang lain yang dianggap bid'ah adalah khutbah jum'at di mimbar, 
dimasa nabi di mekah kalau khutbah di pintu ka'bah, namun sekarang di masjidil 
haram khutbahnya di mimbar portable, kata beberapa ulama itu juga bid'ah. Namun 
jangan langsung diseret pasti dlolalah, baiklah kita buka pendapat imam nawawi 
dalam memberi penjelas atas hadith riwayat imam Muslim 1691.
   
  : " ßõáø ãõÍúÏóËóÉ ÈöÏúÚóÉ æóßõáø ÈöÏúÚóÉ ÖóáóÇáóÉ " ¡ æóÃóäøó ÇáúãõÑóÇÏ Èöåö 
ÇáúãõÍúÏóËóÇÊ ÇáúÈóÇØöáóÉ æóÇáúÈöÏóÚ ÇáúãóÐúãõæãóÉ ¡ æóÞóÏú ÓóÈóÞó ÈóíóÇä åóÐóÇ 
Ýöí ßöÊóÇÈ ÕóáóÇÉ ÇáúÌõãõÚóÉ ¡ æóÐóßóÑúäóÇ åõäóÇßó Ãóäøó ÇáúÈöÏóÚ ÎóãúÓóÉ 
ÃóÞúÓóÇã : æóÇÌöÈóÉ æóãóäúÏõæÈóÉ æóãõÍóÑøóãóÉ æóãóßúÑõæåóÉ æóãõÈóÇÍóÉ .
  Menurut Imam nawawi bid'ah yang dimaksud dalam hadith ini adalah pembaharuan 
yang bathil dan bid'ah yang madzmumah, dan imam nawawi telah menjelaskannya di 
bab sholat jum'at. Dan disana disbutkan bahwa bid'ah terbagi 5 macam : Wajibah, 
mandzubah(sunnah), muhrimah (haram), makruhah, dan mubahah.
   
  Maka bid'ah bisa aja jadi wajib, bisa aja jadi sunnah, bisa aja jadi 
haram,dan sebagainya, anda bisa gunakan nalar dan hati anda dalam hal ini, 
bukankah sekuat-kuat hadith adalah shohih bukhori+Muslim?
   
  Namun jika anda merasa kurang puas karena dalam riwayat nasai ada teks yang 
berbeda, baiklah kita akan lihat syarh (penjelasan) dari kitab syarh sunan 
nasai penjelasan hadith nomor 1560.
   
  íõÑöíÏ ÇáúãõÍúÏóËóÇÊ ÇáøóÊöí áóíúÓó Ýöí ÇáÔøóÑöíÚóÉ ÃóÕúáñ íóÔúåóÏ áóåóÇ 
ÈöÇáÕøöÍøóÉö æóåöíó ÇáúãõÓóãøóÇÉ ÈöÇáúÈöÏóÚö ßóÐóÇ ÐóßóÑóåõ ÇáúÞõÑúØõÈöíø 
æóÇáúãõÑóÇÏ ÇáúãõÍúÏóËóÇÊ Ýöí ÇáÏøöíä æóÚóáóì åóÐóÇ ÝóÞóæúáå æóßõáø ÈöÏúÚóÉ 
ÖóáóÇáóÉ Úóáóì Úõãõæãå
   
  Menururtnya bid'ah adalah, sesuatau yang tidak punya akar atau sumber awal 
dari syariah yang dianggap sohih. Qurtubi pun demikian bahwa pada umumnya 
bid'ah adalah dlolalah.
   
  Disisi lain beliau juga sepakat dengan Imam Nawawi, bahwa bid'ah terbagi 
dalam hokum taklifi.
   
  ( æóßõáø ÈöÏúÚóÉ ÖóáóÇáóÉ ) ÞóÇáó Çáäøóæóæöíø åóÐóÇ ÚóÇãø ãóÎúÕõæÕ ¡ 
æóÇáúãõÑóÇÏ ÛóÇáöÈ ÇáúÈöÏóÚ ÞóÇáó Ãóåúá ÇááøõÛóÉ ÇáúÈöÏúÚóÉ ßõáø ÔóíúÁ Úõãöáó 
Úóáóì ÛóíúÑ ãöËóÇá ÓóÇÈöÞ ÞóÇáó ÇáúÚõáóãóÇÁ : ÇáúÈöÏúÚóÉ ÎóãúÓóÉ ÃóÞúÓóÇã : 
æóÇÌöÈóÉ æóãóäúÏõæÈóÉ æóãõÍóÑøóãóÉ æóãóßúÑõæåóÉ æóãõÈóÇÍóÉ º Ýóãöäú ÇáúæóÇÌöÈóÉ 
äóÙúã ÃóÏöáøóÉ ÇáúãõÊóßóáøöãöíäó áöáÑøóÏøö Úóáóì ÇáúãóáóÇÍöÏóÉ ÇáúãõÈúÊóÏöÚöíäó 
æóãóÇ ÃóÔúÈóåó Ðóáößó æóãöäú ÇáúãóäúÏõæÈóÉ ÊóÕúäöíÝ ßõÊõÈ ÇáúÚöáúã æóÈöäóÇÁ 
ÇáúãóÏóÇÑöÓ æóÇáÑøõÈõØ æóÛóíúÑ Ðóáößó æóãöäú ÇáúãõÈóÇÍóÉ ÇáÊøóÈóÓøõØ Ýöí 
ÃóáúæóÇä ÇáúÃóØúÚöãóÉ æóÛóíúÑ Ðóáößó æóÇáúÍóÑóÇã æóÇáúãóßúÑõæå ÙóÇåöÑóÇäö 
æóÅöÐóÇ ÚõÑöÝó Ðóáößó Úõáöãó Ãóäøó ÇáúÍóÏöíË æóãóÇ ÃóÔúÈóåóåõ ãöäú ÇáúÚóÇãø 
ÇáúãóÎúÕõæÕ íõÄóíøöÏåõ
   
  Kata Imam Nawawi, ini adalah 'am yang makhsus, yang dimaksud adalah mayortas 
bid'ah, menurut ahli bahasa bid'ah adalah segala sesuatu yang dilakukan atas 
ketidak adaanya contoh sebelumnya. Bid'ah 5 macam, wajibah, mandzubah, 
muhrimah, makruhah dan mubahah, contoh bid'ah wajibah penataan dalil untuk 
melawan atheisme, dan semacamnya, bid'ah yang sunnah, mengarang buku keilmuan, 
membangun madrasah, pondok dan sebagainya, yang mubah, sederhana dalam 
warna-warni makanan dan sebagianya.
   
  Sudah jelas kiranya para pembaca memahami, kalau pembaca masih memaksa bahwa 
bid'ah semuanya dlolalah, bukankah pembaca termasuk ahlinya? Mengarang buku, 
membaca buku, membeli buku, membangun madrasah, sekolah, universitas, dan 
pembaca sebagai orang yang ada didalamnya adalah ahlu bid'ah.
   
  Islam itu mudah dan rahmah, hanya kebodohan kita saja yang terkadang membuat 
kita dan orang lain terganggu.
   
  Alliem
  Rabu, 06 Agustus 2008
  Beragamalah dengan ilmunya
   


  Mochammad Moealliem
  http://www.muallimku.blogspot.com or 
http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/
Virtual Islamic Education klik disini
 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke