Fenomena artis/tokoh menjadi caleg rasanya baru diributkan kali ini -
menjelang pemilu 2009. Di pemilu" sebelumnya relatif tenang" saja.
Apakah ini karena banyak kalangan melihat PAN (paling?) banyak
menggaet artis sebagai caleg kali ini?

Kalau bicara soal kualitas sebagai (c)aleg, ada yang bisa sebutkan prestasi
Ibu Mega sewaktu menjadi aleg di DPR RI? Jangan" mencuatnya nama beliau
semata" karena faktor darah/keturunan ketimbang kemampuan/kompetensi
sebagai pemimpin?

Ini lho dada (bapak)ku..  mana dadamu?
CMIIW..

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com/

-------
Kamis, 07/08/2008 00:35 WIB
PAN Siapkan Doktor Bidang Politik Untuk Latih Caleg Artis
Rachmadin Ismail - detikNews

Jakarta - Kemampuan para artis di panggung politik masih diragukan
publik. Partai Amanat Nasional (PAN) pun siap melatih caleg-caleg
artisnya dengan mendatangkan doktor-doktor dalam bidang politik.

"Kita sudah menunjuk doktor-doktor dalam bidang politik untuk melatih
mereka," ujar Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir usai menghadiri acara
Silaturahmi FBSA dengan Pengusaha Nasional di Hotel Shangri-La,
Jl.Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/08/08).

Soetrisno Bachir yang sering disebut SB ini menjelaskan quota caleg
untuk artis sebanyak 5%. "Kita mengharapkan 5% (artis), dari 500
formulir yang sudah diambil," jelas pengusaha ini.

Menurut SB, PAN memberikan kesempatan yang sama dengan kalangan lain.
Sistem pemilihan nomor urut caleg yang berdasarkan suara terbanyak
menurutnya juga diminati artis-artis.

"karena mereka sudah populer, jadinya tidak sulit untuk memperoleh
suara," pungkas SB.

(mad/rdf)

http://www.detiknews.com/read/2008/08/07/003554/984238/10/pan-siapkan-doktor-bidang-politik-untuk-latih-caleg-artis


Pada 7 Agustus 2008 18:56, masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

>   Salam,
>
> Sebagai wartawan, saya banyak kenal artis dari dekat. Khususnya Dede
> Yusuf, Adjie Massaid, Angelina Sondakh. Juga Ratno Timoer, Eddy SUd,
> Rano Karno, dan Komar.
>
> Ketika mereka jadi wakil rakyat, mereka semua tak bersuara di DPR.
> Setidaknya, tak ada media yang mengutip suara mereka. Silakan cek,
> tak ada media yang mengekspose kepedulian artis-artis itu pada satu
> bidang yang dijadikan tanggung-jawabnya.
>
> Bagi rakyat, barangkali memilih artis lebih lumayan. Setidaknya sudah
> dikenal, ketimbang birokrat yang tak dikenal sama sekali. Meski pada
> akhirnya, sama-sama tidak peduli dan membela mereka.
>
> Berat dugaan artis-artis wajah baru di politik sekarang lebih karena
> sepi job dan gagal di bidang lain.
>
> Mereka yang lagi laris seperti Dorce, Eko Patrio, Tantowi Yahya, tak
> akan melirik dunia politik. Politik itu melelahkan, kotor, penuh
> spekulasi, salah-salah penuh jebakan. Tapi dari pada tak ada job,
> mengapa tidak?
>
> Coba lihat Vena Mellinda, namanya tak muncul lagi di layar teve,
> setelah diblacklist di sinetron karena selalu telat dan menyusahkan
> kru. Mencoba menjadi penari salsa, dan senam seks, tapi maksa. Sudah
> kendor tak tahu diri. Sekarang dia terjun ke politik. Backgroundnya
> sebagai None Jakarta menolongnya ke panggung politik. Orang-orang
> awam di Demokrat tak banyak tahu kualitasnya. Hasilnya seperti apa
> kita lihat.
>
> Ikang Fawzi, usaha kontruksinya macet. Istrinya, Marissa Haque gagal
> jadi gubernur Banten dan rugi Rp5 miliar (meski itu "uang kecil"
> untuk seorang calon gubernur) dan kini harus jadi kutu loncat karena
> bermasalah di mana-mana. Berbeda dengan penampilannya yang anggun
> jelita, dalam keseharian Marissa keras, egois, temperamental dan
> kasar.
>
> Sepenuhnya saya ragu pada Saipul Jamil, Dicky Chandra, Evie Tamala,
> apalagi Primus Justisio. Nggak ada wawasan politiknya sama sekali
> mereka itu.
>
> Khusus untuk Nurul Arifin dan Rieke Diah Pitaloka kita boleh
> berharap. Nurul dengan Golkar lumayan lama berjuang, aktifis, dan
> konsisten. Juga Rieke yang terbukti bukan hanya sukses sebagai
> aktris, tapi juga aktifis, penulis buku, dan pembela hak pekerja
> urban. Hanya bagaimana kiprahnya di Senayan nanti, tak jelas. Bisa
> saja mereka jadi perawan di sarang penyamun, sebagaimana Angelina
> Sondakh sekarang.
>
> Wassalam,
>
> Dimas.
>
> --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "RM
> Danardono HADINOTO"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > ******** Mungkin justru karena negara kita ini mirip panggung
> > raksasa Srimulat dan sejenis, maka pemainnya juga pemain sandiwara
> > alias artis. Lakon yang paling laku: "Petruk dadi ratu" (Petruk
> > menjadi raja)...
> >
> > >
> > Fenomena Artis Menjadi Caleg - Masihkah Menjual Gincu Pemerah
> > Kampanye?
> >
> >
> > Menjelang pesta demokrasi terbesar di Indonesia, 2009, partai-partai
> > politik kembali melirik kalangan artis atau selebritis menjadi calon
> > anggota legislatif (caleg). Apakah mereka benar-benar layak menjadi
> > wakil rakyat atau hanya sebagai pengumpul suara (vote getter) bagi
> > parpol?
> >
> > PEMILIHAN Umum 2004 seperti menjadi pintu terbuka bagi golongan artis
> > untuk terjun ke panggung politik. Masyarakat masih ingat nama-nama
> > seperti Nurul Arifin, Dedi Sutomo, Dede Yusuf, Adji Massaid, dan
> > Angelina Sondakh bertarung merebut suara konstituen demi sebuah kursi
> > di DPR.
> >
> > Saat ini, menjelang pemilu 2009, masyarakat kembali disuguhkan
> > ramainya pertarungan selebriti-selebriti papan atas Indonesia seperti
> > Tantowi Yahya, Venna Melinda, Marissa Haque, Evi Tamala, dan Wulan
> > Guritno yang akan bertarung memperebutkan kursi empuk di parlemen.
> >
> > Adalah Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir (SB) sejak awal menggandeng
> > artis. Bahkan banyak sudah tercatat sebagai caleg di PAN. ''Artis
> > juga banyak yang tertarik oleh visi misi partai, jadi tidak semuanya
> > ingin jadi calon,'' tandas Bachir.
> >
> > Artis berbondong-bondong mendaftar jadi caleg bukan karena inisiatif
> > PAN untuk merangkul mereka. Tidak ada inisiatif dari partai untuk
> > khusus merangkul artis, Partainya masih membuka pendaftaraan sampai 5
> > Agustus 2008. PAN akan menyerahkan 700 daftar nama Caleg kepada KPU
> > untuk diseleksi.
> > Langkah Maju
> > Dari waktu ke waktu, kehadiran artis di panggung kampanye semakin
> > bergeser. Sebagian tidak lagi sekadar sebagai pemanis atau gincu
> > semata. Sebut Dede Yusuf yang menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat serta
> > Rano Karno sebagai Wakil Bupati Tangerang.
> >
> > Keberhasilan kedua selebritis itu tampaknya mengilhami banyak artis
> > lain menjajal kemungkinan mencicipi empuknya kursi pemimpin daerah.
> > Sebut Saiful Jamil, mencalonkan sebagai Wakil Bupati Serang, Helmy
> > Yahya cawagub Sulawesi Utara dan sebagainya.
> >
> > Walau tidak semua berhasil. Sebut ketika Pilgub Banten 2006, PKS
> > mengusung aktris Marissa Haque sebagai cawagub berpasangan dengan
> > Zulkieflimansyah, tapi gagal. Lalu, Marissa juga Evie Tamala
> > bergabung dengan PPP.
> >
> > Marissa mengaku tak masalah bergabung dengan PPP meski suaminya,
> > Ikang Fawzi, di PAN. Membangun demokrasi harus dimulai dari keluarga
> > dulu. Marissa tidak memaksakan pilihannya kepada anak-anak. ''Kami
> > memang beda tetapi tidak apa-apa. Biarkan mereka menentukan
> > pilihannya sendiri.''
> >
> > Sementara Evie menilai langkah maju, saat artis bukan lagi objek
> > kampanye, sekadar menghibur massa. ''Selama ini kita para penyanyi
> > hanya dipergunakan saat kampanye. Sekarang saya ingin jadi subjek.
> > Saya ingin menempatkan diri saya di tempat yang tepat,'' kata Evie di
> > Kantor DPP PPP.
> >
> > Evie sadar berpolitik bukan perkara mudah. Tetapi dia siap jika nanti
> > menjadi anggota dewan. ''Yang penting harus punya iman dan
> > pengendalian diri. Kita di sana itu untuk mewakili suara orang
> > banyak,'' kata Evie.
> >
> > Presenter Rieke Dyah Pitaloka yang dulu berada di PKB kini membawa
> > payung PDI-P juga menyatakan siap masuk gedung DPR. Ia merasa punya
> > kapasitas sebagai penggodok kebijakan. ''Insya Allah saya pasang
> > target untuk legislatif. Saya yakin temen-temen artis yang terjun ke
> > dunia politik mempunyai kemampuan.''
> >
> > Diastari Kurnia Kusumawardhani, pemilik album Cowok Pasar Baru ini
> > mengaku, menyenangkan dan asyik terjun ke dunia politik. Menurut
> > artis yang masuk PAN ini politik memang tak bisa dilihat secara hitam
> > putih. Resepnya, berhati-hati dalam setiap tindak tanduknya agar
> > tidak terpeleset sehingga membuat imej diri jadi buruk di mata
> > masyarakat.
> >
> > ''Dunia politik itu abu-abu, sesuatu yang menit pertama A, berikutnya
> > bisa saja jadi B. Penuh dinamika. Karena itu kita perlu waspada
> > karena untuk membangun imej itu perlu perjuangan.''
> > Harus Belajar
> > Sejumlah artis pun mulai serius terjun ke dunia politik. Tidak begitu
> > saja langsung mengincar kursi kepala daerah, tetapi memulai karir
> > politik sebagai anggota legislatif. Contoh, Venna Melinda. Artis
> > cantik bertubuh sensual ini akhirnya menepis rasa takutnya terhadap
> > dunia politik.
> >
> > Bintang cantik ini mendaftarkan diri sebagai caleg DPR RI dari Partai
> > Demokrat untuk masa kerja 2009-2014. ''Aku ingin terjun ke politik,
> > karena ingin memperjuangkan nasib kaum perempuan yang selama ini
> > masih tertindas,'' ujar Venna.
> >
> > Vena mengakui dirinya memang masih buta dunia politik. Kendati
> > begitu, ibu dua anak ini tetap yakin akan mampu mengemban tugasnya
> > sebagai wakil rakyat.
> > ''Memang sekarang aku masih sangat awam dengan dunia politik, tapi
> > bukan berarti aku mandeg sampai disini saja. Aku terus belajar dan
> > mengasah pengetahuan untuk menggeluti dunia politik,'' kata humas
> > Forum Seniman Perempuan Partai Demokrat.
> > Sebelum akhirnya memutuskan mendaftarkan diri sebagai caleg, Venna
> > mengaku takut harus terjun total ke dunia politik. Waktu itu ia
> > merasa belum siap untuk bekerja maksimal di pemerintahan. Apalagi
> > karena imej perempuan berpolitik belum banyak.
> >
> > Kalau Venna Melinda baru mulai terjun ke politik, Nurul Arifin sudah
> > mulai menekuni dunia ini sejak 2003. Setelah menyelesaikan kuliahnya
> > di FISIP UI, Nurul makin mantap meninggalkan dunia keartisan dan
> > memilih jalan politisi. Partai Golkar menjadi pilihannya.
> >
> > Meski begitu, Koordinator Bidang Perempuan dan Pariwisata DPP partai
> > Golkar enggan saat ditawari menjadi peserta pilkada. ''Sejak awal
> > saya memang memantapkan diri untuk duduk di legislatif, bukan
> > eksekutif. Menjadi anggota legislatif menjadi sarana belajar saya
> > sebelum kelak duduk di kursi eksekutif. Dengan begitu saat menjadi
> > pejabat daerah tidak lagi kaku menjalankan pemerintahan,'' katanya.
> >
> > Nurul memilih Golkar karena partai ini adalah partai yang solid dan
> > memiliki paradigma jelas. Bagi Nurul, sah-sah saja banyaknya artis
> > yang mencalonkan diri sebagai pemimpin.
> >
> > Namun Nurul berharap artis yang terjun ke dunia politik tetap menjaga
> > imej artis dan mau terus belajar. ''Jangan sampai gagal memimpin
> > daerah hanya karena tak mau belajar.''
> >
> > Bagi Angelina Sondakh, keterlibatan artis di dunia politik bukan
> > persoalan aneh. Artis memiliki hak yang sama dalam berpolitik,
> > sebagai mana elemen masyarakat lainnya. Hanya saja artis memiliki
> > kelebihan lain, yaitu populartis.
> >
> > Senada dengan Nurul, keterlibatan artis dalam politik jangan hanya
> > sekadar sebagai vote getter. Untuk itu, aspek kualitas menjadi faktor
> > lain yang haris diperhatikan. Anggota legislatif dari Partai Demokrat
> > ini tidak memungkiri, keberadaan artis di suatu partai bisa menjadi
> > senjata parpol untuk mendulang suara.(Wisnu Wijanarko, Trenawati, A
> > Adib-77)
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke