Mungkin sekali, mas, para pekerja sosial yang andal itu, seperti mbak 
Rieke, lebih baik bertahan dibidangnya, langsung mengabdi pada publik.

Di gelanggang wakil rakyat, seperti mas katakan, adalah sarang 
penyamun. Banyak perawan ideal, lama lama menjadi perawan disarang 
penyamun. Mungkin mas Ali Imron ehh mas Al Amin, dulunya juga anak 
manis manis, lama lama jadi kucing garong..

Saya sebagai pemerhati jalannya demokrasi ditempat kami, terutama 
Jerman, Austria, Belanda, Inggris, Italia, melihat, bahwa penyerapan 
para selebritis di Dewan Agung ini agak over proportional.

Di negara negara yang demokrasinya sidah settled, wakil wakil rakyat 
sebagian besar adalah guru, pegawai pemerintahan dalam negri, pakar 
hukum terutama advokat, dan pengusaha.

Di negara negara yang masih democrazy, kebanyakan kutu loncat...

salam

danardono



--- In [email protected], "masdimas62" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam,
> 
> Sebagai wartawan, saya banyak kenal artis dari dekat. Khususnya 
Dede 
> Yusuf, Adjie Massaid, Angelina Sondakh. Juga Ratno Timoer, Eddy 
SUd, 
> Rano Karno, dan Komar.
> 
> Ketika mereka jadi wakil rakyat, mereka semua tak bersuara di DPR. 
> Setidaknya, tak ada media yang mengutip suara mereka. Silakan cek, 
> tak ada media yang mengekspose kepedulian artis-artis itu pada satu 
> bidang yang dijadikan tanggung-jawabnya.
> 
> Bagi rakyat, barangkali memilih artis lebih lumayan. Setidaknya 
sudah 
> dikenal, ketimbang birokrat yang tak dikenal sama sekali. Meski 
pada 
> akhirnya, sama-sama tidak peduli dan membela mereka.
> 
> Berat dugaan artis-artis wajah baru di politik sekarang lebih 
karena 
> sepi job dan gagal  di bidang lain. 
> 
> Mereka yang lagi laris seperti Dorce, Eko Patrio, Tantowi Yahya, 
tak 
> akan melirik dunia politik. Politik itu melelahkan, kotor, penuh 
> spekulasi, salah-salah penuh jebakan. Tapi dari pada tak ada job, 
> mengapa tidak?
> 
> Coba lihat Vena Mellinda, namanya tak muncul lagi di layar teve,  
> setelah diblacklist di sinetron karena selalu telat dan menyusahkan 
> kru. Mencoba menjadi penari salsa, dan senam seks, tapi maksa. 
Sudah 
> kendor tak tahu diri. Sekarang dia terjun ke politik. Backgroundnya 
> sebagai None Jakarta menolongnya ke panggung politik. Orang-orang 
> awam di Demokrat tak banyak tahu kualitasnya. Hasilnya seperti apa 
> kita lihat.
> 
> Ikang Fawzi, usaha kontruksinya macet. Istrinya, Marissa Haque 
gagal 
> jadi gubernur Banten dan rugi Rp5 miliar (meski itu "uang kecil" 
> untuk seorang calon gubernur) dan kini harus jadi kutu loncat 
karena 
> bermasalah di mana-mana. Berbeda dengan penampilannya yang anggun 
> jelita, dalam keseharian Marissa keras, egois, temperamental dan 
> kasar.
> 
> Sepenuhnya saya ragu pada Saipul Jamil, Dicky Chandra, Evie Tamala, 
> apalagi Primus Justisio. Nggak ada wawasan politiknya sama sekali 
> mereka itu. 
> 
> Khusus untuk Nurul Arifin dan Rieke Diah Pitaloka kita boleh 
> berharap. Nurul dengan Golkar lumayan lama berjuang, aktifis, dan 
> konsisten. Juga Rieke yang terbukti bukan hanya sukses sebagai 
> aktris, tapi juga aktifis, penulis buku, dan pembela hak pekerja 
> urban. Hanya bagaimana kiprahnya di Senayan nanti, tak jelas. Bisa 
> saja mereka jadi perawan di sarang penyamun, sebagaimana Angelina 
> Sondakh sekarang. 
> 
> 
> Wassalam,
> 
> 
> 
> Dimas. 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
> <rm_danardono@> wrote:
> >
> > ******** Mungkin justru karena negara kita ini mirip panggung
> > raksasa Srimulat dan sejenis, maka pemainnya juga pemain sandiwara
> > alias artis. Lakon yang paling laku: "Petruk dadi ratu" (Petruk
> > menjadi raja)...
> > 
> > > 
> > Fenomena Artis Menjadi Caleg - Masihkah Menjual Gincu Pemerah
> > Kampanye?
> > 
> > 
> > Menjelang pesta demokrasi terbesar di Indonesia, 2009, partai-
partai
> > politik kembali melirik kalangan artis atau selebritis menjadi 
calon
> > anggota legislatif (caleg). Apakah mereka benar-benar layak 
menjadi
> > wakil rakyat atau hanya sebagai pengumpul suara (vote getter) bagi
> > parpol?
> > 
> > PEMILIHAN Umum 2004 seperti menjadi pintu terbuka bagi golongan 
> artis
> > untuk terjun ke panggung politik. Masyarakat masih ingat nama-nama
> > seperti Nurul Arifin, Dedi Sutomo, Dede Yusuf, Adji Massaid, dan
> > Angelina Sondakh bertarung merebut suara konstituen demi sebuah 
> kursi
> > di DPR.
> > 
> > Saat ini, menjelang pemilu 2009, masyarakat kembali disuguhkan
> > ramainya pertarungan selebriti-selebriti papan atas Indonesia 
> seperti
> > Tantowi Yahya, Venna Melinda, Marissa Haque, Evi Tamala, dan Wulan
> > Guritno yang akan bertarung memperebutkan kursi empuk di parlemen.
> > 
> > Adalah Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir (SB) sejak awal menggandeng
> > artis. Bahkan banyak sudah tercatat sebagai caleg di PAN. ''Artis
> > juga banyak yang tertarik oleh visi misi partai, jadi tidak 
semuanya
> > ingin jadi calon,'' tandas Bachir.
> > 
> > Artis berbondong-bondong mendaftar jadi caleg bukan karena 
inisiatif
> > PAN untuk merangkul mereka. Tidak ada inisiatif dari partai untuk
> > khusus merangkul artis, Partainya masih membuka pendaftaraan 
sampai 
> 5
> > Agustus 2008. PAN akan menyerahkan 700 daftar nama Caleg kepada 
KPU
> > untuk diseleksi.
> > Langkah Maju
> > Dari waktu ke waktu, kehadiran artis di panggung kampanye semakin
> > bergeser. Sebagian tidak lagi sekadar sebagai pemanis atau gincu
> > semata. Sebut Dede Yusuf yang menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat 
> serta
> > Rano Karno sebagai Wakil Bupati Tangerang.
> > 
> > Keberhasilan kedua selebritis itu tampaknya mengilhami banyak 
artis
> > lain menjajal kemungkinan mencicipi empuknya kursi pemimpin 
daerah.
> > Sebut Saiful Jamil, mencalonkan sebagai Wakil Bupati Serang, Helmy
> > Yahya cawagub Sulawesi Utara dan sebagainya.
> > 
> > Walau tidak semua berhasil. Sebut ketika Pilgub Banten 2006, PKS
> > mengusung aktris Marissa Haque sebagai cawagub berpasangan dengan
> > Zulkieflimansyah, tapi gagal. Lalu, Marissa juga Evie Tamala
> > bergabung dengan PPP.
> > 
> > Marissa mengaku tak masalah bergabung dengan PPP meski suaminya,
> > Ikang Fawzi, di PAN. Membangun demokrasi harus dimulai dari 
keluarga
> > dulu. Marissa tidak memaksakan pilihannya kepada anak-anak. ''Kami
> > memang beda tetapi tidak apa-apa. Biarkan mereka menentukan
> > pilihannya sendiri.''
> > 
> > Sementara Evie menilai langkah maju, saat artis bukan lagi objek
> > kampanye, sekadar menghibur massa. ''Selama ini kita para penyanyi
> > hanya dipergunakan saat kampanye. Sekarang saya ingin jadi subjek.
> > Saya ingin menempatkan diri saya di tempat yang tepat,'' kata 
Evie 
> di
> > Kantor DPP PPP.
> > 
> > Evie sadar berpolitik bukan perkara mudah. Tetapi dia siap jika 
> nanti
> > menjadi anggota dewan. ''Yang penting harus punya iman dan
> > pengendalian diri. Kita di sana itu untuk mewakili suara orang
> > banyak,'' kata Evie.
> > 
> > Presenter Rieke Dyah Pitaloka yang dulu berada di PKB kini membawa
> > payung PDI-P juga menyatakan siap masuk gedung DPR. Ia merasa 
punya
> > kapasitas sebagai penggodok kebijakan. ''Insya Allah saya pasang
> > target untuk legislatif. Saya yakin temen-temen artis yang terjun 
ke
> > dunia politik mempunyai kemampuan.''
> > 
> > Diastari Kurnia Kusumawardhani, pemilik album Cowok Pasar Baru ini
> > mengaku, menyenangkan dan asyik terjun ke dunia politik. Menurut
> > artis yang masuk PAN ini politik memang tak bisa dilihat secara 
> hitam
> > putih. Resepnya, berhati-hati dalam setiap tindak tanduknya agar
> > tidak terpeleset sehingga membuat imej diri jadi buruk di mata
> > masyarakat.
> > 
> > ''Dunia politik itu abu-abu, sesuatu yang menit pertama A, 
> berikutnya
> > bisa saja jadi B. Penuh dinamika. Karena itu kita perlu waspada
> > karena untuk membangun imej itu perlu perjuangan.''
> > Harus Belajar
> > Sejumlah artis pun mulai serius terjun ke dunia politik. Tidak 
> begitu
> > saja langsung mengincar kursi kepala daerah, tetapi memulai karir
> > politik sebagai anggota legislatif. Contoh, Venna Melinda. Artis
> > cantik bertubuh sensual ini akhirnya menepis rasa takutnya 
terhadap
> > dunia politik.
> > 
> > Bintang cantik ini mendaftarkan diri sebagai caleg DPR RI dari 
> Partai
> > Demokrat untuk masa kerja 2009-2014. ''Aku ingin terjun ke 
politik,
> > karena ingin memperjuangkan nasib kaum perempuan yang selama ini
> > masih tertindas,'' ujar Venna.
> > 
> > Vena mengakui dirinya memang masih buta dunia politik. Kendati
> > begitu, ibu dua anak ini tetap yakin akan mampu mengemban tugasnya
> > sebagai wakil rakyat.
> > ''Memang sekarang aku masih sangat awam dengan dunia politik, tapi
> > bukan berarti aku mandeg sampai disini saja. Aku terus belajar dan
> > mengasah pengetahuan untuk menggeluti dunia politik,'' kata humas
> > Forum Seniman Perempuan Partai Demokrat.
> > Sebelum akhirnya memutuskan mendaftarkan diri sebagai caleg, Venna
> > mengaku takut harus terjun total ke dunia politik. Waktu itu ia
> > merasa belum siap untuk bekerja maksimal di pemerintahan. Apalagi
> > karena imej perempuan berpolitik belum banyak.
> > 
> > Kalau Venna Melinda baru mulai terjun ke politik, Nurul Arifin 
sudah
> > mulai menekuni dunia ini sejak 2003. Setelah menyelesaikan 
kuliahnya
> > di FISIP UI, Nurul makin mantap meninggalkan dunia keartisan dan
> > memilih jalan politisi. Partai Golkar menjadi pilihannya.
> > 
> > Meski begitu, Koordinator Bidang Perempuan dan Pariwisata DPP 
partai
> > Golkar enggan saat ditawari menjadi peserta pilkada. ''Sejak awal
> > saya memang memantapkan diri untuk duduk di legislatif, bukan
> > eksekutif. Menjadi anggota legislatif menjadi sarana belajar saya
> > sebelum kelak duduk di kursi eksekutif. Dengan begitu saat menjadi
> > pejabat daerah tidak lagi kaku menjalankan pemerintahan,'' 
katanya.
> > 
> > Nurul memilih Golkar karena partai ini adalah partai yang solid 
dan
> > memiliki paradigma jelas. Bagi Nurul, sah-sah saja banyaknya artis
> > yang mencalonkan diri sebagai pemimpin.
> > 
> > Namun Nurul berharap artis yang terjun ke dunia politik tetap 
> menjaga
> > imej artis dan mau terus belajar. ''Jangan sampai gagal memimpin
> > daerah hanya karena tak mau belajar.''
> > 
> > Bagi Angelina Sondakh, keterlibatan artis di dunia politik bukan
> > persoalan aneh. Artis memiliki hak yang sama dalam berpolitik,
> > sebagai mana elemen masyarakat lainnya. Hanya saja artis memiliki
> > kelebihan lain, yaitu populartis.
> > 
> > Senada dengan Nurul, keterlibatan artis dalam politik jangan hanya
> > sekadar sebagai vote getter. Untuk itu, aspek kualitas menjadi 
> faktor
> > lain yang haris diperhatikan. Anggota legislatif dari Partai 
> Demokrat
> > ini tidak memungkiri, keberadaan artis di suatu partai bisa 
menjadi
> > senjata parpol untuk mendulang suara.(Wisnu Wijanarko, Trenawati, 
A
> > Adib-77)
> >
>


Kirim email ke