kalau kita lihat di Hollywood, baru
Arnold Schwartzerneger yang ganti
jalur menjadi Gubernur. Mungkin
mereka tidak berbondong-2 mengikuti
jejak Arnold, karena imbalan finansial
nya jelas lebih tinggi di Hollywood.
Menariknya, Celebrities tkt tinggi
lainnya di Hollywood justeru memilih
pekerjaan 'sosial', seperti:
-> menjadi Duta PBB untuk Unicef
( mis. Angelina Jolie )
-> menjadi aktivis perdamaian/HAM
( George Clooney, Richard Gere,
Sean Penn, Dustin Hoffman, etc. )
***
Sementara di INA, mungkin imbalan
finansialnya +/- sama, antara menjadi
artis/caleg, dengan perbedaan: beban
/jadwal kerja keseharian sbg anggota
DPR jauh lebih santai ketimbang artis :-).
***
yang saya sependapat dgn. mas dimas, a.l.:
- bhw. Eddy Sud termasuk "pelopor" dari
fenomena ini.
- ada perkecualian, spt. untuk sosok spt
Nurul Arifin yg. memang nampaknya cukup
"menjiwai" pilihan karirnya sebagai
angota legislatif.
***
Saya juga menyayangkan bbrp. seniman
kawakan, seperti:
- Guruh Soekarnoputra
- Eros Jarot
dua-duanya musisi Handal yang telah
membuat gebrakan menjadi pelopor
Revolusi Musik Indonesia era 80-an.
-> Eros dengan karya musik dalam
Badai Pasti Berlalu (1976/1977)
- juga berperan membantu Slamet
Rahardjo dalam membuat film-2
sejarah yg. bermutu
-> Guruh dengan 4 serial konsernya,
ditambah hasil karya bersama-2
yang dengan musisi-2 Gang Pegangsaan:
Chrisye, Fariz RM, Keenan Nasution,
Yogie Suryoprayogo, dll.
Sejak Guruh aktif di DPR, ga kedengaran รถ
karya seni yang berarti darinya. Juga apa
"prestasi" dia di DPR kaga jelas. Kayaknya
populasi anggota DPR kalo dikurangi seorang
Guruh kaga akan ada beda-nya deh :-)
Eros setelah akttif dipolitik masih sempat
berperan dalam pembuatan film, tapi kayaknya
karya musiknya berhenti (?). Mirip dengan
Guruh, Eros yang (nampaknya) idealis ini
tidak kelihatan ada kontribusinya untuk
"merubah" DPR. Kayaknya mendingan dia
balik lagi menjadi full timer di bidang
musik.
Kalo mendiang Sophan Sophian masih ada
lah sedikit suaranya di DPR.
---( ihsan hm )------------------------
--- In "masdimas62" wrote:
>
> Salam,
>
> Sebagai wartawan, saya banyak kenal artis
> dari dekat. Khususnya Dede Yusuf, Adjie
> Massaid, Angelina Sondakh. Juga Ratno
> Timoer, Eddy Sud, Rano Karno, dan Komar.
>
> Ketika mereka jadi wakil rakyat, mereka
> semua tak bersuara di DPR. Setidaknya, tak
> ada media yang mengutip suara mereka. Silakan
> cek, tak ada media yang mengekspose kepedulian
> artis-artis itu pada satu bidang yang dijadikan
> tanggung-jawabnya.
>
> Bagi rakyat, barangkali memilih artis lebih
> lumayan. Setidaknya sudah dikenal, ketimbang
> birokrat yang tak dikenal sama sekali. Meski
> pada akhirnya, sama-sama tidak peduli dan
> membela mereka.
>
> Berat dugaan artis-artis wajah baru di politik
> sekarang lebih karena sepi job dan gagal di
> bidang lain.
>
> Mereka yang lagi laris seperti Dorce, Eko Patrio,
> Tantowi Yahya, tak akan melirik dunia politik.
> Politik itu melelahkan, kotor, penuh spekulasi,
> salah-salah penuh jebakan. Tapi dari pada tak
> ada job, mengapa tidak?
>
> Coba lihat Vena Mellinda, namanya tak muncul lagi
> di layar teve, setelah diblacklist di sinetron
> karena selalu telat dan menyusahkan kru. Mencoba
> menjadi penari salsa, dan senam seks, tapi maksa.
> Sudah kendor tak tahu diri. Sekarang dia terjun
> ke politik. Backgroundnya sebagai None Jakarta
> menolongnya ke panggung politik. Orang-orang
> awam di Demokrat tak banyak tahu kualitasnya.
> Hasilnya seperti apa kita lihat.
>
> Ikang Fawzi, usaha kontruksinya macet. Istrinya,
> Marissa Haque gagal jadi gubernur Banten dan rugi
> Rp 5 miliar (meski itu "uang kecil" untuk seorang
> calon gubernur) dan kini harus jadi kutu loncat
> karena bermasalah di mana-mana. Berbeda dengan
> penampilannya yang anggun jelita, dalam keseharian
> Marissa keras, egois, temperamental dan kasar.
>
> Sepenuhnya saya ragu pada Saipul Jamil, Dicky
> Chandra, Evie Tamala, apalagi Primus Justisio.
> Nggak ada wawasan politiknya sama sekali
> mereka itu.
>
> Khusus untuk Nurul Arifin dan Rieke Diah Pitaloka
> kita boleh berharap. Nurul dengan Golkar lumayan
> lama berjuang, aktifis, dan konsisten. Juga Rieke
> yang terbukti bukan hanya sukses sebagai aktris,
> tapi juga aktifis, penulis buku, dan pembela hak
> pekerja urban. Hanya bagaimana kiprahnya di
> Senayan nanti, tak jelas. Bisa saja mereka jadi
> perawan di sarang penyamun, sebagaimana Angelina
> Sondakh sekarang.
>
> Wassalam,
>
> Dimas.
>
>