Udeehhhh, Tung, gini aja, kayak sebagian Jakarta yang digarap sama para pengembang menjadi hunian menengah keatas, tak ada lagi mesjid ( dari Kemang, Permata Hijau, Simprug diselatan Jakarta, sepanjang jalan Panjang menuju Podomoro City di Jakarta barat), kapuk diutara. Komplex Sudirman, Kuningan, Kapuk, dll.
Di hunian menengah keatas, Tung, kagak perlu SKB SKBan, mau dirikan gereja, vihara mah ayo saja. Dan hunian semacam ini kian meluas di Jakarta dan wilayah lain di Indonesia. Mungkin di komplex komplex padat huni masih diperlukan SKB. Tul nggak Tung? Tapi wilayah ini kian habis di Jakarta. --- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > hahaha adu domba adu domba..kay lagu rhoma irama nih > serahin aje ma pak aparat, stiap rmh ibadah ada aturannya pernh dengar SKB 3 mentri? > nah, klo mau diriin tempt ibadah harus sesuai aturan bang agar tdk terjadi hal2 yg diinginkan eh tdk diinginkan. khan lucu misale ada tmpt ibadah di suatu kampung, dmana jemaatnya bukan warga situ hehe.. > > > > > ----- Original Message ---- > From: RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Wednesday, August 20, 2008 7:00:23 PM > Subject: [ppiindia] Re: Surga Bukan Monopoli Muslim (Asghar Ali Engineer) > > > Ngomongin pluralisme nihh? > > Ini contohnye: > > http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0808/ 19/sh02.html > > Kebaktian Peringati HUT RI Dihentikan Massa > > Jakarta Acara kebaktian sebagai ucapan syukur atas Hari Kemerdekaan > RI ke-63 dan doa untuk pemerintah dan bangsa Indonesia yang dilakukan > oleh Gereja Pantekosta di Indonesia (GpdI) Pondok Rangon, Jakarta, > Minggu (17/8) pagi, dibubarkan oleh massa. > Massa yang datang ketika kebaktian sedang berlangsung, juga mencabut > pintu pagar utama, menendang rolling door, merusak beberapa kursi, > serta melempari gedung itu dengan puing-puing bangunan karena gereja > tersebut sedang direnovasi.. > Menurut Pendeta Gembala Sidang Pdt Christof Ambesa, yang dihubungi > SH, Selasa (19/8), acara kebaktian ucapan syukur Hari Kemerdekaan RI > dan doa untuk pemerintah dan bangsa Indonesia sudah biasa dilakukan > setiap tahun, pukul 09.00-11.00 dengan diikuti sekitar 50 jemaat. > Tetapi Minggu lalu ketika jemaat yang datang baru 20 orang, yaitu > sekitar pukul 09.30, tiba-tiba massa menyerbu."Ada warga yang kami > kenal, tapi ada juga yang tidak dikenal," katanya. > GPdI terletak Jalan Raya Pondok Rangon Barat, RT 05/RW 05 No 6, > Pondok Rangon, Jakarta Timur. "Setelah kejadian itu, saya hanya bisa > menenangkan jemaat, lalu karena di rumah anak-anak masih kecil, saya > usahakan agar mereka tidak trauma karena melihat peristiwa itu secara > langsung," lanjutnya. Christof mengakui, polisi dari Pos Polisi > Pondok Rangon langsung datang ke lokasi sehingga kejadian lebih buruk > dapat dihindarkan. > Menurutnya, massa melarang diadakan ibadah di tempat itu, dengan > alasan bangunan gereja itu tidak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan > (IMB) dan tak ada kaitannya peringatan dengan HUT RI ke-63. "Tapi > kenapa yang dihentikan ibadahnya, bukan IMB-nya?" katanya. > Massa tersebut juga memasang spanduk bertuliskan, "Pondok Rangon > Jakarta Timur Steril Bangunan Rumah Dijadikan Tempat Ibadah Atau > Gereja Mengatasnamakan Warga Pondok Rangon." > Menyikapi peristiwa tersebtu, Sekretaris Jenderal Partai Hati Nurani > Rakyat (Hanura), Yus Usman, yang dihubungi SH, menyatakan seyogyanya > hal tersebut tidak terjadi, terlebih karena negara Indonesia > merupakan negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 yang > menjamin eksistensi agama. > Yus juga mengharapkan pemerintah bisa menyikapi kejadian ini secara > tegas sesuai hukum, yaitu menindak mereka yang salah, termasuk jika > ada yang menyalahgunakan wewenang. > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "sautsitumorang" > <sautsitumorang@ ...> wrote: > > > > > > hahaha... > > > > > > perhatikan judul posting dari orang TUK ini!!! > > > > > > memang beginilah slalu gaya mereka ngomong soal "Islam" di manapun > > terutama di luar Indonesia, seperti di Amrik, Eropa Barat, Israel > dan > > Universitas Melbourne Australia. > > > > orang macam ini pulak lah nyang akan adakan diskusi "Islam dan > Seni" > > di bulan Ramadhan yad!!! bisa dibayangkan gimane aturan maennya > kan! > > hahaha... > > > > > > apa mereka (nyang ngaku-ngaku pembela "pluralisme" dalam > > "berkeyakinan itu) berani ngundang FPI dan organisasi semacam untuk > > ikut juga jadi pembicara?! apa mereka memang sudah "demokratis" , > > sudah "liberalis", sudah "pluralis", sudah "HAMis", sudah > > "posmodernis" cuma bisa mereka buktikan dengan mengundang jugak > para > > FPI, MMI dan kelompok Islam lain yang gak seideologi dengan "Islam" > > mereka!!! > > > > kalok nggak, ya Amerikanis dong namanye... > > > > > > hahaha.... > > > > > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] .com, MGR <indunisi@> wrote: > > > > > > > > > Majalah TEMPO 18-24 Agustus 2008 > > > > > > WAWANCARA > > > Asghar Ali Engineer: > > > > > > Surga Bukan Monopoli Muslim > > > DI dunia muslim, Asghar Ali Engineer > > > dikenal gigih memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak > > perempuan. > > > Dia juga memberikan perhatian pada nasib orang miskin yang > > dipinggirkan > > > karena struktur sosial yang timpang. Mereka, mengutip sosiolog > Iran, > > > Ali Syariati, disebutnya sebagai orang yang tertindas. Asghar Ali > > tak > > > cuma bicara. Dia sendiri memimpin komunitas Syiah Ismailiyah > Bohra > > yang > > > cukup terkenal di India. > > > > > > Belakangan, Asghar Ali kerap menyuarakan pentingnya hubungan > > > saling menghormati antarpemeluk agama berbeda. Dalam konteks > India, > > > tanah airnya yang acap diwarnai konflik antara pemeluk Hindu dan > > Islam, > > > suaranya amat berarti. Untuk dedikasi mendorong toleransi, dia > > > memperoleh penghargaan harmoni komunal dari pemerintah India pada > > 1997. > > > Asghar Ali lahir dari keluarga santri. Dia belajar bahasa Arab > > > dari ayahnya, Syekh Qurban Husain. Dia juga mendapat pendidikan > > sekuler > > > hingga memperoleh gelar sarjana teknik sipil dari University of > > Indore. > > > > > > Pekan lalu, bersama sejumlah cendekiawan dari kawasan Asia > > > Selatan, Asghar Ali berkunjung ke Indonesia. Ia menyampaikan > ceramah > > > tentang Islam dan negara bangsa serta bertemu dengan sejumlah > > > cendekiawan Islam Indonesia, antara lain bekas presiden > Abdurrahman > > > Wahid. Di sela kunjungan itu, Asghar Ali menerima Nugroho Dewanto > > dan > > > Iqbal Muhtarom dari Tempo. > > > > > > Mengapa belakangan Anda kerap menulis soal teologi perdamaian dan > > pluralisme religius? > > > Saya bahkan menulis buku tentang masalah itu. > > > Kedua isu tersebut sangat penting saat ini, ketika terorisme > > terjadi di > > > mana-mana dan muncul kesalahpahaman bahwa Islam mendukung perang > > serta > > > kekerasan lewat jihad. Padahal Islam sesungguhnya mendukung > > perdamaian. > > > Seorang muslim menyapa dengan ucapan assalamualaikum, yang berarti > > > kedamaian untuk Anda. Begitu pentingnya konsep damai dalam Islam > > > sehingga banyak disebut dalam Quran dan hadis. Perang dalam Islam > > > memiliki konteks semata untuk bertahan. Nabi mengatakan perang > suci > > > adalah jihad kecil, sedangkan memerangi hawa nafsu merupakan jihad > > > besar. > > > Dari mana kesalahpahaman ini dimulai? > > > Ketika kerajaan ditegakkan atas nama Islam, para > > > penguasa menyebut perang memperebutkan wilayah sebagai jihad. Arti > > > jihad pun berubah, dari upaya sungguh-sungguh menjadi semata > perang. > > > Para teroris bahkan menggunakan istilah jihad untuk membenarkan > > > pembunuhan terhadap orang tak bersalah, dengan bom yang > diletakkan > > di > > > sembarang tempat. Padahal, dalam syariat jelas disebut, dalam > perang > > > sekalipun tak boleh membunuh anak kecil, orang tua, orang tak > > bersalah, > > > dan noncombatant apalagi mengebom pasar. > > > Jadi tulisan-tulisan Anda tak cuma ditujukan kepada pembaca > > nonmuslim, tapi juga untuk sesama muslim? > > > Ya, banyak nonmuslim yang salah paham terhadap > > > Islam. Tapi apa yang dilakukan para teroris yang mengatasnamakan > > Islam > > > sesungguhnya juga tak sesuai dengan ajaran Quran. Mereka salah > > memahami > > > jihad. > > > Anda mendorong pluralisme religius, padahal ulama di sini > berfatwa > > bahwa pluralisme haram.... > > > Haram? (tertawa). Quran dalam surat Al-Maidah > > > mengatakan, "Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan- Nya > > satu > > > umat (saja). Tapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang > > telah > > > diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan." > > > Quran juga mengatakan bahwa surga bukan hanya monopoli muslim, > tapi > > > juga untuk mereka yang percaya kepada Allah dan hari akhir serta > > > melakukan kebajikan. Jadi, mencapai surga bergantung pada > bagaimana > > > sikap dan perilaku kita, bagaimana kita memperlakukan orang lain. > > > Kemanusiaan itu amat penting. Di India ada begitu banyak agama, > dan > > > penganut Islam 150 juta orang. Mereka menerima konsep masyarakat > > > majemuk. > > > Ulama mengatakan mereka menerima pluralitas tapi menolak > pluralisme. > > > > > Saya mengerti. Pluralisme merupakan konsep untuk > > > menerima perbedaan dalam beragama. Quran mengakui semua nabi dan > > > menunjukkan perbedaan masing-masing mereka. Quran menerima > keyakinan > > > Yahudi, Kristen, dan Sabiin. Kita diperintahkan untuk saling > > > menghormati.. > > > Di negara seperti Indonesia, tempat hidup berbagai agama seperti > > juga di India, apa arti penting pluralisme? > > > Kita harus menerima pluralisme, karena sekarang > > > ini perpindahan penduduk terjadi di seluruh dunia. Orang pindah > dari > > > satu negara ke negara lain. Kebanyakan muslim hidup sebagai > > minoritas > > > di berbagai negara, seperti Amerika, Australia, dan Eropa. > Bagaimana > > > jika warga negara-negara itu menolak kaum muslim? Pluralisme pada > > > dasarnya adalah Anda bebas memeluk agama tapi juga harus > menghormati > > > pemeluk agama lain. > > > Apa jadinya bila pluralisme ditolak? > > > Jika saya menghormati agamamu dan kamu > > > menghormati agamaku, tak akan terjadi konflik. Bila sebaliknya, > > jelas > > > akan terjadi konflik. Kita diminta berlomba-lomba dalam kebaikan, > > > tolong-menolong antarsesama, menegakkan keadilan. Dengan cara > itu, > > kita > > > bisa mencapai surga. > > > Bagaimana semestinya posisi Islam dalam kehidupan bernegara? > > > Quran tak bicara tentang negara, hanya bicara > > > tentang masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat, kita harus > menegakkan > > > keadilan, tak boleh ada eksploitasi, tak boleh ada persekusi. > Quran > > > adalah buku panduan moral. Bagaimana kita menjaga perilaku. > > Bagaimana > > > meminimalkan konflik. Itu semua pada akhirnya akan bermanfaat > dalam > > > hidup bernegara. > > > Agama tumbuh subur, tapi kenyataannya konflik terjadi di seluruh > > penjuru dunia. > > > Dalam konflik yang terjadi antarnegara atau di > > > antara dua individu, penyebabnya biasanya ketidakadilan. Tidak ada > > > penghormatan terhadap hak pihak lain. Ambil contoh apa yang > > dilakukan > > > Amerika terhadap Irak, Afganistan, Pakistan, dan Vietnam. Itu > adalah > > > bentuk arogansi. Dengan kekuasaannya, Amerika membunuh jutaan > orang > > di > > > seluruh penjuru dunia. Siapa yang menghormati hak orang lain, tak > > akan > > > terlibat dalam konflik. > > > Mungkinkah umat Islam menjadi satu kekuatan politik? > > > Muslim dapat menjadi satu kesatuan hanya dalam > > > soal agama, tapi tidak dalam soal politik. Kita bicara dalam > bahasa > > > yang berbeda, memiliki budaya yang berbeda, mengenakan pakaian > yang > > > berbeda. Satu-satunya yang menyatukan kita adalah agama yang sama. > > > Muslim tak pernah menjadi satu kesatuan politik sejak dulu sampai > > > sekarang. Tiap negara dan penguasa memiliki kepentingan berbeda. > > Mesir, > > > Suriah, dan Libya pernah bergabung dalam satu negara Republik > > Persatuan > > > Arab, tapi cuma bertahan dua tahun. Pakistan dan Bangladesh > akhirnya > > > berpisah. Indonesia dan Malaysia tak bisa bersatu. > > > Bagaimana dengan kelompok Islam yang mendukung konsep Khilafah > > Islamiyah? > > > Dalam sejarah Islam, khilafah cuma bertahan > > > selama 30 tahun. Sesudah itu, yang muncul adalah kerajaan Islam > dari > > > berbagai dinasti. Sekarang umat Islam terpisah dalam berbagai > > negara. > > > Mereka memiliki budaya dan tradisi yang berbeda. Umat Islam dapat > > > bersatu cuma dalam kesatuan agama, bukan dalam kesatuan politik. > > > Anda memimpin Center for Study of Society and Secularism. Apa > > sesungguhnya makna sekularime? > > > Saya tidak mengartikan sekularisme seperti di > > > Barat, yaitu pemisahan antara urusan agama dan negara. Tiap negara > > > memiliki sejarah berbeda. Sekularisme secara sederhana, menurut > > saya, > > > adalah konsep hidup berdampingan secara damai antarkelompok dan > > > penganut agama yang berbeda. Konstitusi di negara saya, India, > > adalah > > > sekuler, padahal mayoritas penduduknya beragama Hindu. Saya bebas > > > beragama dan menjalankan keyakinan Islam, tanpa memandang rendah > > > pemeluk Hindu. > > > Di sini ulama juga mengharamkan sekularisme. Bila ulama saja > susah > > memahaminya, bagaimana dengan orang awam? > > > Ya, saya tahu. Di negara saya, para ulama amat > > > menerima sekularisme karena dengan konstitusi itu, sebagai > minoritas > > > kami dapat diperlakukan dengan adil. Mereka menyebut India sebagai > > > Darul Amanini kategori ketiga selain Darul Islam dan Darul Harb. > Di > > > dalam Darul Aman, setiap muslim bebas menjalankan keyakinannya. > Tak > > ada > > > intervensi negara dalam urusan seperti perkawinan dan waris, > kecuali > > > ada ketidakadilan di situ. > > > Ada pula kelompok yang berpendapat Islam tak kompatibel dengan > > demokrasi... . > > > Bagaimana mungkin? Konsep demokrasi itu baru > > > muncul jauh setelah lahirnya Islam. Quran tak bicara apa-apa > tentang > > > sistem pemerintahan tertentu, apakah itu demokrasi, kediktatoran, > > atau > > > kerajaan. Quran hanya bicara tentang masyarakat. Kita yang harus > > > mengatur tata kehidupan yang terbaik untuk diri kita sendiri. > > > Apa pendapat Anda tentang formalisasi syariah? > > > Syariah adalah persoalan pribadi. Hukum syariah > > > jangan ditafsirkan oleh negara. Biarlah masing-masing komunitas > > > melaksanakannya. Contoh terbaik adalah periode Madinah, ketika > > pemeluk > > > Islam, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dan bebas > menjalankan > > > syariat mereka masing-masing. Negara hanya boleh menjaga > ketertiban > > dan > > > keteraturan. > > > Bagaimana Anda melihat kasus Ahmadiyah di Indonesia? > > > Saya sama sekali tidak setuju dengan ajaran > > > Ahmadiyah, tapi saya sedih melihat perlakuan terhadap mereka. > > > Biarkanlah mereka menjalankan keyakinan mereka dan biarkanlah > Allah > > > yang memutuskan nasib mereka kelak di akhirat. Manusia tidak bisa > > > mengambil alih wewenang Allah. > > > Ulama di sini bisa menerima Ahmadiyah bila mereka menyatakan diri > > keluar dari Islam..... > > > Mengapa mereka harus menyatakan diri sebagai > > > nonmuslim? Biarkanlah mereka menyebut diri muslim. Kalau keinginan > > > seperti itu dilanjutkan, nanti penganut Syiah dan Sunni juga akan > > > bertengkar, siapa yang paling benar. Akhirnya semua kelompok > Islam > > akan > > > saling mengafirkan. > > > Apakah Anda melihat ada hubungan antara penolakan terhadap > > > pluralisme dan sekularisme dengan meningkatnya fundamentalisme > dalam > > > Islam? > > > Terorisme dan fundamentalisme bukanlah produk > > > agama. Ini adalah produk situasi sosial dan politik. Apa yang > > dilakukan > > > Amerika di Palestina, tindakannya mendukung Israel, aksinya > > menyerang > > > negara-negara Islam, semua itu menjadi penyebab meningkatnya > > terorisme. > > > Siapa yang menciptakan Usamah bin Ladin? Amerika! Ketika > > bergandengan > > > tangan dengan Amerika memerangi Uni Soviet di Afganistan, Usamah > bin > > > Ladin tak disebut teroris, tapi mujahidin. Usamah bin Ladin > bukanlah > > > ciptaan Islam. > > > Jadi tuduhan bahwa Islam merupakan agama teroris itu tidak tepat? > > > Secara politik ataupun secara agama, tidak > > > tepat. Tidak ada agama yang mengajarkan penganutnya melakukan > > > kekerasan. Agama selalu mempromosikan kemanusiaan. > > > Bagaimana Anda memandang masa depan Islam dan kehidupan bernegara > > di Indonesia? > > > Indonesia sekarang sedang dalam ujian. > > > Konstitusinya mengakui demokrasi dan pluralisme. Di masa lalu, > kami > > > mengagumi hubungan antarpenganut agama: Islam, Kristen, Hindu, > > Buddha, > > > dan agama lain yang harmonis. Kebetulan di India juga ada banyak > > agama. > > > Tapi sekarang terjadi konflik agama di Indonesia. Saya berharap > > > demokrasi dan pluralisme di Indonesia akan bertambah kuat. > > > > > > Asghar Ali Engineer > > > Tempat dan Tanggal Lahir: > > > Rajasthan, 10 Maret 1939 > > > Pendidikan: > > > Belajar bahasa Arab dari ayahnya, Syekh Qurban Husain > > > Menyelesaikan pendidikan sarjana teknik sipil dari University of > > Indore > > > Karier: > > > Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Komunitas Dawoodi Bohra, 1977 > > > Mendirikan Institute of Islamic Studies di Mumbai, 1980 > > > Mendirikan Center for the Study of Society and Secularism, 1993. > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

