Saya mengaku perokok. Kebetulan saat saya menulis sekarang ini saya sedang, memegang bungkus rokok. Setelah mengamati bungkus rokok saya melihat dan membaca tulisan yang terdapat dalam bungkus tersebut "MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN". Seingat saya kayaknya dulu terdapat tulisan peringatan pemerintah. Bagi saya terdapat beberapa pertanyaan dan penafsiran setelah tulisan tersebut diatas. Antara lain peringatan ataukah memperjelas ? Bilamana peringatan siapa yang mengingatkan ? Menyangkut rencana MUI, saya no coment. Berdasarkan pengalaman historis materistik saya merokok, secara umum merokok rasanya pahit serta mengurangi uang saku atau bahasa birokratisnya menambah pengeluaran anggaran.
Begitu kira-kiranya... __________________________ Powered ßy @RI CHIKI P, S.H. ANAK REMAJA INDONESIA Cerdas Halus Imajinatif Kreatif Inovatif Pemberani. -----Original Message----- From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, August 14, 2008 1:49 PM To: [email protected] Subject: [ppiindia] Re: MUI Berencana Haramkan Merokok Salam, Yang bilang saya benci MUI Anda, bukan saya. Tapi, buat lembaga sepenting MUI - sebagaimana DPR-RI, Kejaksaan, Kepresidenen, dan KPK memang harus dikritisi, ya. Karena menyangkut bangsa dan negara dan hajat hidup orang banyak. Jangan karena para ulama sepuh, bersarung dan berjenggot panjang, berkumpul di sana, kita lalu ikut manggut-manggut saja, terima produknya yang asal jadi. Contoh yang paling nyata 'kan fatwa-fatwa yang kemudian melegetimasi kekerasan oleh ormas Islam terhadap kelompok yang berbeda faham. Bagaimana pun MUI harus menanggung kesalahan dan bertanggung-jawab, bukan melengos dan lepas tangan. "Tugas kami hanya membuat fatwa dan menyampaikannya kepada umat. Kami sudah mengimbau agar jangan ada kekerasan. Tapi kan kami tak berdaya mencegahnya...." begitu argumen mereka. Enak amat! Saya mencium ada libido untuk berkuasa di kalangan ulama-ulama MUI, dan menggunakan ayat yang mereka plintir sedemikian rupa, sebagai senjatanya. Kegagalan gereja yang mengurus negara di Eropa, pada abad pertengahan, hingga melahirlkan sekularisme, tak cukup meyakinkan para ulama, untuk belajar dari rekannya yang beda agama itu. Apalagi belakangan ini masuk kelompok-kelompok Islam Trasnasional, seperrti HTI, dan preman berjubah seperti FPI dan FUI sebagai penunggangnya di sana. Saya kutip catatan rekan dari milis sebelah, yang diposting tahun 2001 tapi masih relevan untuk kond [The entire original message is not included] [Non-text portions of this message have been removed]

