Perlu ditindaklanjuti dengan membangun teleskop-teleskop supersensitif
--------------------------------
http://www.antara.co.id/arc/2008/8/25/indonesia-di-posisi-strategis-pengembangan-astronomi-dunia/
Indonesia di Posisi Strategis Pengembangan Astronomi Dunia


Bandung (ANTARA News) - Wilayah Indonesia yang berada di belahan bumi selatan 
dengan transmisi frekuensi radio yang masih rendah dinilai strategis dalam 
pengembangan astronomi dunia.

"Posisi Indonesia sangat bagus karena dilingkari oleh negara-negara yang 
memiliki pengamatan luar angkasa yang bagus seperti Australia, Jepang dan 
Selandia Baru," kata mantan Presiden Perhimpunan Astronomi Internasional (IAU), 
Prof Dr Ronald D. Ekers, dalam kuliah umum pada Olimpiade Astronomi dan 
Astrofisika (IOAA) II di Bandung, Senin.

Olimpiade berlangsung 19-28 Agustus 2008 diikuti oleh 95 orang peserta dari 25 
negara.

Olimpiade yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 Agustus 
itu melombakan observasi, analisis data, dan teori astronomi.

Doktor astronomi lulusan Universitas Nasional Australia (ANU) tahun 1967 itu 
menyatakan bahwa Indonesia bisa menjadi bagian penting dalam kerja sama untuk 
mengembangkan astronomi dunia.

Dalam orasi ilmiah berjudul "The Big Bang, Black Holes, Pulsars, and 
Extraterrestrial Life", Ekers yang bekerja di "The Australia Telescope National 
Facility" (ATNF) menekankan bahwa penelitian astronomi akan berkembang bila 
banyak informasi untuk dianalisis.

"Penelitian astronomi dari infomasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis bukan 
sebuah hasil eksperimen," katanya.

Salah satu upaya untuk mengungkap misteri angkasa luar dilakukan berbagai cara, 
salah satunya dengan mengembangkan teleskop dengan berbagi media mulai dari 
gelombang radio, infra merah, kosmik dan sinar-X.

Ilmuwan Ekers mengatakan pembangunan teleskop radio tercanggih dengan kemampuan 
penginderaan tinggi SKA (Square Kilometre Array) yang mendeteksi berbagai 
gelombang memerlukan kerja sama yang melibatkan negara-negara di seluruh 
belahan bumi.

Dengan penempatan teleskop berdaya tangkap tinggi di berbagai negara di belahan 
bumi maka kerja perangkat penginderaan itu akan bekerja lebih maksimal dalam 
melihat berbagai obyek yang belum teridentifikasi di alam semesta.

Sementara itu Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyatakan, 
Indonesia perlu memaksimalkan dan memanfaatkan berbagai kelebihannya terutama 
dalam posisi geografi di langit selatan.

"Sumber daya kita perlu didorong, sehingga di astronomi bisa berkembang dan 
makin baik," katanya.

Menristek menegaskan, peluang Indonesia untuk membangun dan memiliki teleskop 
baru cukup terbuka meski tidak mudah untuk merealisasikannya.

Pada kesempatan itu Menristek minta agar keberadaan Observatorium Boscha di 
Lembang tetap terjaga. 

Menurut Kusmayanto, idealnya dalam radius lima kilometer dari Boscha terbebas 
dari pembangunan berbagai sarana fisik. 

"Boscha harus dijaga, jangan ada pembangunan di sana karena menimbulkan polusi 
cahaya yang dapat mengganggu proses pengamatan. Perlu dukungan semua fihak agar 
fasilitas itu tetap bisa berfungsi optimal," katanya menambahkan. (*)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke