sirikit syah sekarang jadi penulis kolom tetap di majalah sabili... coba sekali2 "ditengok"...
salam, ananto On 9/10/08, masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam, > > Seperti perawan tua yang meradang melihat orang pacaran, Sirikit Syah > yang gagal memperoleh media yang pas sebagai lahan ekspresi > jurnalistiknya - memperoleh momentumnya yang pas ketika menghantam > majalah TEMPO. Ada semacam ungkapkan kemarahan pribadi di situ. > > Sirikit gagal mengurus media di Brunei, gagal membangkitkan "Surabaya > Post" -- kontraknya sebagai Pemred "Surabaya Post" bahkan dipotong di > tengah jalan. Keluar dari SCTV, Habibie Center, dll, Sirikit Syah > bahkan mendorong dan mendukung diajukan pers ke pegadilan jika > dianggap melakukan kesalahan kepada pembaca dan narasumber. > > Terakhir Sirikit dihantam Gadis Arivia karena sembarang menuduh. > Katanya, gagasan pluralitas dan toleransi merupakan suara minoritas > elit, milik segelintir orang yang kini menguasai wacana di Indonesia. > > Salam. > > Dimas. > > Biodata Sirikit Syah selengkapnya dari situs sebelah > > --Sirikit Syah lahir di Surabaya 46 tahun yang lalu. Menamatkan > kuliahnya tahun 1984 (Sarjana Pendidikan Sastra Inggris dari IKIP > Negeri Surabaya), Sirikit kemudian menjadi wartawan Surabaya Post > (1984-1990). Tahun 1990 SCTV berdiri di Surabaya, Sirikit bergabung. > Di SCTV dan RCTI (gabungan waktu itu), dia memimpin Divisi Pemberitaan > yang berpusat di Surabaya tapi bersiaran untuk dua stasiun. Tahun > 1996-2000 Sirikit kembali ke media cetak, di harian The Jakarta Post > sebagai koresponden di Jawa Timur. > > Pengalaman mengajar dimulai di Unitomo tahun 1996, kemudian di UK > Petra, dan kini menjadi Wakil Ketua Stikosa-AWS, Sekolah Tinggi > Komunikasi yang memiliki jurusan Jurnalistik dan Kehumasan. Sirikit > menyelesaikan master komunikasi di Universitas Westminster, London, > tahun 2002. > > Tahun 1994-1995 berkuliah non-degree di AS sambil magang di beberapa > stasiun televisi, antara lain CNN di Washington, DC. Di UCLA, Davis, > California, Sirikit belajar American Culture & Communication selama > sebulan, kemudian di Syracuse University, New York, Sirikit belajar > Public Communication. > > Tahun 1999, setelah pers dibebaskan, Sirikit mendirikan Lembaga > Konsumen Media, yang bergerak di pengawasan media, peningkatan mutu > jurnalistik, dan pemberdayaan konsumen media. LKM berjalan hingga > sekarang dengan kegiatan riset media, penerbitan, siaran radio. > > Anggota kehormatan Pusham Ubaya dan anggota Surabaya Academy ini telah > menulis banyak buku, di antaranya Media Massa di Bawah Kapitalisme > (kumpulan esai, 1999), Harga Perempuan (kumpulan cerpen, 1996, 1999, > 2002), Memotret dengan Kata-kata (kumpulan puisi, 2004), Keadilan > untuk Semua (kumpulan tulisan tentang HAM, 2003), dan Muhammad Sang > Nabi (terjemahan karya Karen Armstrong, 2002). > > Penggemar film-film bermutu (film pemenang festival, yang jarang > laku/jarang diputar di bioskop Indonesia) ini juga gemar mendengarkan > dan bermain musik. Sirikit sudah menikah dengan Chairul Anam dan > memiliki dua anak yang sudah remaja. > > Kontak Sirikit Syah : [EMAIL PROTECTED] <sirikitsyah%40yahoo.com> > > - In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, Fahmi Faqih > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Selamat untuk Sirikit! > > > > ----- Original Message ---- > > > > From: Item <[EMAIL PROTECTED] com> > > > > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > > > > Sent: Wednesday, September 10, 2008 10:26:38 AM > > > > Subject: Re: [jurnalisme] Tempo divonis-SELAMAT untuk Hinca > Panjaitan dan Sirikit > > > > > > > > Ucapan selamat saya ucapkan kepada Hinca Panjaitan (kuasa hukum PT > > > > Asian Agri) dan Sirikit Syah (saksi ahli dari pihak PT Asian Agri) > > > > yang dengan senag hati telah membantu Sukanto Tanoto dan Asian Agri > > > > Group menghajar Majalah Tempo di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. > > > > > > > > Sirikit Syah dan Hinca Panjaitan, saya kira, menjadi orang yang paling > > > > berbahagia hari2 ini. Betapa tidak, nama Sirikit disebut berulang2 > > > > dalam sidang putusan kasus gugatan perdata PT Asian Agri Group melawan > > > > Majalah Tempo di PN Jakpus. Kesaksian Sirikit Syah yang dibacakan > > > > Majelis Hakim PN Jakpus antara lain mengatakan bahwa pemberitaan Tempo > > > > terkait dugaan manipulasi pajak Asian Agri senilai 1,3 Triliun dinilai > > > > mencemarkan nama baik dan menyerang kehormatan Sukanto Tanoto. > > > > > > > > Yang "membanggakan" , kesaksian Sirikit dalam kasus Asian Agri melawan > > > > Majalah Tempo itu mengalahkan kesaksian pejabat PPATK, pejabat Dirjen > > > > Pajak, ahli pers Atmakusumah dan Masmimar Mangiang, yang mendukung > > > > laporan majalah Tempo. Setiap majelis hakim menyebut nama Sirikit > > > > Syah, hati saya bertanya-tanya : kualitas keahlian macam apa yang > > > > dimiliki orang ini? > > > > > > > > Lucunya, pertimbangan Majelis Hakim itu membandingkan kasus Tempo > > > > tentang dugaan manipulasi pajak Asian Agri dengan kasus Harian Mimbar > > > > Bebas yang dituduh menyerang kehormatan Menlu Adam Malik pada tahun > > > > 1976, dan kasus pencemaran nama baik Majalah Selekta terhadap salah > > > > satu direktur perusahaan taksi Blue Bird. Lucu karena Majelis Hakim > > > > dengan sok taunya membandingkan liputan Majalah Tempo yang menyangkut > > > > kepentingan orang banyak (kasus dugaan penggelapan pajak) dengan kasus > > > > penyerangan kehormatan pribadi yang dibuat Majalah Selekta. > > > > > > > > Ini merupakan kekalahan kedua Tempo melawan perusahaan milik taipan > > > > Sukanto Tanoto, setelah awal Juli lalu Pengadilan Negeri Jakarta > > > > Selatan menghukum Tempo untuk membayar denda 220 juta dan memasang > > > > iklan permohonan maaf di 16 media massa selama 1 minggu berturut2 > > > > karena dianggap mencemarkan nama baik RAPP melalui pemberitaannya. Ini > > > > jelas ancaman bredel gaya baru karena hukuman pasang iklan di 16 media > > > > massa sama dengan keharusan membayar biaya iklan yang hitungannya > > > > mencapai 20 miliar. > > > > > > > > Pengacara RAPP (anak perusahaan Asian Agri) Hinca Panjaitan yang > > > > mantan anggota Dewan Pers dan salah satu anggota perumus UU Pers Nomor > > > > 40 Tahun 1999 itu sukses mengerjai Koran Tempo dengan prosedur Hak > > > > Jawab yang dipelintir begitu rupa hingga menguntungkan kepentingan > > > > Sukanto Tanoto. > > > > > > > > Selain ucapan selamat kepada Sirikit dan Hinca, saya ingin mengajak > > > > seluruh jurnalis agar meningkatkan profesionalisme pemberitaan dan > > > > memperketat standar etika profesi dan pemberitaan. Pers yang telah > > > > melakukan tugasnya secara profesional saja bisa digugat oleh pengacara > > > > musuh pers dan dihukum oleh pengadilan. Apalagi pers yang beritanya > > > > asal2an. > > > > > > > > Belum lagi, era kebebasan mendirikan usaha pers telah menciptakan > > > > ladang pekerjaan baru bagi mereka yang ngerti sedikit tentang pers > > > > kemudian menjual pemihakan dan keahliannya kepada pihak2 yang bersedia > > > > membayar mahal. Ini semacam pelesetan prinsip advokat dari Membela > > > > yang Benar, menjadi Membela yang Bayar. > > > > > > > > Hinca Panjaitan adalah ahli hukum media yang pernah bekerja di Dewan > > > > Pers, presenter di TVRI, dan pegacara mantan Direktur TVRI Sumita > > > > Tobing yang terjerat kasus korupsi senilai 50 miliar terkait pengadaan > > > > peralatan TVRI, dan pernah membantu menyusun logika hukum UU Nomor > > > > 40/1999 tentang pers. Hinca yang selalu menyebut dirinya ahli hukum > > > > media dan spesialis hak jawab itu sekarang berubah 180 derajat menjadi > > > > lawyer yang bekerja melayani para pengusaha hitam yang ingin > > > > memberangus pers. Entah berapa bayaran yang dikenakan Hinca kepada > > > > Sukanto Tanoto yang merupakan salah satu pengusaha kehutanan dan > > > > kelapa sawit terkaya di Indonesia. > > > > > > > > Adapun Sirikit Syah, maaf, saya tidak punya data tentang beliau. Yang > > > > saya tahu, Sirikit adalah pemilik LSM Media Watch di Surabaya yang > > > > bekerja membantu publik mengkritisi media. Saya mengira yang dibela > > > > Sirikit adalah publik atau warga miskin yang dirugikan pers yang > > > > ngawur dan tidak beretika. Sampai namanya muncul dalam ruang > > > > persidangan PN Jakpus dengan kesaksian yang menghakimi dan > > > > menghancurkan Majalah Tempo terkait laporan investigasi dugaan > > > > manipulasi pajak Asian Agri. > > > > > > > > Hari ini Koran dan Majalah Tempo yang dihajar. Besok2, kriminalisasi > > > > dan gugatan terhadap pemberitaan pers bisa saja menimpa Kompas, Media > > > > Indonesia, Detikcom, Republika, SCTV, Trans TV, Jakarta Post, KBR 68H, > > > > Elshinta, Sonora, bukan saja terhadap koran2 comberan. > > > > > > > > Saya ingin mengajak kaum jurnalis untuk mewaspadai sepak terjang kaum > > > > penjagal pers yang mengintai di setiap tikungan pemberitaan. Ancaman > > > > bredel pers gaya baru telah tiba, waspadalah, waspadalah.. ! > > > > > > > > Item > > > > Divisi Advokasi > > > > AJI Indonesia > > > > > > > > 2008/9/10 fajar riadi <schientizacao@ yahoo.co. id>: > > > > > TEMPOinteraktif, Selasa, 09 September 2008 | 20:05 WIB > > > > > > > > > > Tempo Akan Mengajukan Banding > > > > > > > > > > TEMPO Interaktif Jakarta: Kuasa hukum Tempo akan mengajukan > banding atas > > > > > putusan majelis hakim yang memvonis pemberitaan majalah Tempo > tentang dugaan > > > > > penggelapan pajak Asian Agri Group. Pemberitaan itu dianggap hakim > telah > > > > > mencemarkan nama baik Sukanto Tanoto dan Asian Agri. > > > > > > > > > > Menurut dia, majelis hakim tidak mempertimbangkan fakta-fakta dan > saksi di > > > > > persidangan. "Kesaksian dari Komisi Pemberantasan Korupsi tidak > dijadikan > > > > > pertimbangan majelis hakim," ujar Hendrayana, kuasa hukum Tempo. > > > > > > > > > > Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan > pemberitaan Majalah > > > > > Tempo itu dianggap telah menyerang kehormatan dan nama baik Asian Agri > > > > > Group. Karena itu, majalah Tempo diharuskan meminta maaf di > majalah Tempo, > > > > > Koran Tempo dan Kompas selama tiga hari berturut-turut. > > > > > > > > > > "(Kami) Mengabulkan gugatan sebagian, menyatakan tergugat melakukan > > > > > perbuatan melawan hukum telah melakukan penghinaan," kata > Panusunan Harahap, > > > > > Ketua Majelis Hakim, saat membacakan putusan di Pengadilan Negeri > Jakarta > > > > > Pusat, Selasa(9/9). > > > > > > > > > > Selain meminta maaf di media massa, Majelis hakim juga menghukum > Tempo dan > > > > > Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo membayar denda Rp 50 juta. > > > > > > > > > > Hendrayana mengatakan, putusan itu adalah lonceng kematian > kebebasan pers > > > > > Indonesia. "Ini preseden buruk bagi kebebasan pers Indonesia dan > > > > > bertentangan dengan semangat memberantas korupsi," kata dia. > > > > > > > > > > Hendrayana juga membantah penilaian majelis hakim yang menyatakan > > > > > pemberitaan Tempo subjektif dan tidak seimbang. "Ini fakta > jurnalistik, ini > > > > > investigasi ada data dan narasumber, kami juga memuat hak jawab. > Berita itu > > > > > juga berimbang, sudah dimuat dari Asian Agri," ujarnya. > > > > > > > > > > Hakim juga menilai pemberitaan Tempo tersebut berupa kesimpulan > dan opini > > > > > yang melanggar asas praduga tak bersalah karena belum memiliki > kekuatan > > > > > hukum tetap. > > > > > > > > > > Sutarto > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > > > > > Nama baru untuk Anda! > > > > > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan > > > > > @rocketmail. > > > > > Cepat sebelum diambil orang lain! > > > > > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/ > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed]

