Partai agama itu JELAS enggak bakalan laku dan enggak BOLEH laku. Partai kok Agama. Jelas enggak bisa dong.
Kenapa? Karena penduduk suatu negara itu adalah bermacam-macam agama dan kepercayaan. Kalau partai agama itu menang maka dia kan berarti diskriminatif dan rasis hanya akan mementingkan pemeluk agamanya saja. Kalau mereka bilang tidak demikian. Ya sudah bikin aja partai umum, ngapain pake bawa nama agama segala. Berarti JELAS partai pakai nama agama sia-sia dan absurd enggak perlu. Yang harus diperhatikan bukan kepentingan satu agama saja tapi semua penduduk di negeri itu walaupun agama lainnya cuma satu orang jumlah penduduknya. Semua orang sama hak dan kedudukannya di depan hukum negeri itu apapun agamanya. Maka ABSURD sia sialah Partai Agama..... On 9/26/08, phyllobates.terribilis <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ****** Lha partai partai penuh sesak dengan model riri cute, nizami, > pitung dan makhluk makhluk sejenis... padahal ujung ujungnya duit! > > Partai Agama Sulit Jadi Mayoritas > > [JAKARTA] Partai berbasis agama, terutama partai politik (parpol) > berasas Islam, dipastikan akan sulit mengantongi suara mayoritas pada > Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Saat ini, masyarakat lebih melihat > kepedulian parpol terhadap kesejahteraan rakyat, ketimbang asas > agamanya. > > Hal itu dikatakan Direktur Riset, Lembaga Survei Indonesia (LSI), > Dodi Ambardi di Jakarta, Kamis (25/9). Menurutnya, pada Pemilu 1955, > partai-partai Islam, seperti Masyumi dan NU, hanya mampu meraih suara > sekitar 43 persen. > > Sedangkan, pada Pemilu 1999 dan 2004 kekuatan seluruh partai-partai > Islam hanya sekitar 30 persen. Berdasarkan temuan LSI, dalam sejarah > politik Indonesia, partai Islam tidak pernah menjadi kekuatan > mayoritas di pentas politik nasional. > > Dikatakan pula, sikap pemilih masih diliputi dikotomi antara partai > nasionalis dan agama. Partai-partai nasionalis, yang membawa isu > kesejahteraan dan prorakyat, tentunya akan lebih disukai pemilih. > > Oleh karena itu, Dodi mengimbau partai Islam untuk keluar dari konsep > awal mereka agar bisa menjadi partai besar. Sebab, ujarnya, pemilih > di Indonesia saat ini, termasuk kalangan muslim, sudah lebih rasional > dalam menentukan pilihan. > > Menyikapi temuan itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP > PKS, Moh Razikun mengakui kalau partainya sejak 2004 mulai menggeser > isu sentral Islam ke hal-hal yang universal, seperti pemberantasan > korupsi. Hal ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menambah > perolehan suara partai. > > "Tapi, tidak semua partai Islam jika bergeser ke tengah lantas > mendapatkan peningkatan suara yang signifikan," ujarnya. > > Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB Hanif Dhakiri mengatakan kecerdasan > pemilih dalam menentukan pilihan politiknya harus dibarengi dengan > politik rasional parpol. Kekuatan basis program dan pendekatan > politik personal kepada pemilih, jauh lebih efektif. > > Wakil Ketua Komisi X dari Fraksi PDI-P, Heri Ahmadi menegaskan > partainya tidak khawatir melihat fenomena pergeseran aliran partai > Islam ke tengah. "PDI-P, sejak 1955, malah sudah mempunyai konstituen > yang loyal dan militan. Jadi, kondisi yang dimaksud itu terbilang > aman," ujarnya. [ASR/O-1] > > ---------------------------------------------------------- > ---------- > Last modified: 26/9/08 > > > [Non-text portions of this message have been removed]

