Salam damai.

Kalo kata almarhum Cak Nur, "Islam Yes, Partai Islam No."  

Perkiraan dan analisis LSI rasanya agak mendekati betul. Karena memang
kecenderungan "perut" masyarakat saat ini lebih terdepankan daripada
kebutuhan "hati" (iman). Kalo kita miskin, ekonomi susah, jelas ibadah
jadi gak asyik khan?

Tapi, partai-partai agama itu arifnya harus ada. Sebab bisa menjadi
kendaraan akomodatif bagi kalangan agamawan untuk apresiasi nilai dan
semangat politik kekuasaannya. Walau memang kekhawatiran kita terhadap
sejarah "kegelapan" Barat dulu yang terdomplengi gereja akan terulang
jika agama masuk ranah politik. Makanya dilakukan sekularisasi. Tapi
sekularisasi tidak boleh menolak demokrasi. Jika memang kelak
masyarakat pemilih sudah "haus" dengan nuansa politik agamis dan bosan
dengan jargon-jargon naslionalis maupun pluralis, yach sudah terimalah
itu sebagai "suratan" demokrasi. Jangan bersikap ala politik luar
negeri AS yang ambigu, teriak-teriak demokrasi tapi ketika FIS (partai
Islam di Aljazair) menang pemilu demokratos, malah negara itu diboikot
ato dicap "fundamentalis".

Untuk atmosfir politik Indonesia, agama memang masih akan terus
menjadi warna yang menarik. Bukan hanya marak berdiri partai Islam,
tapi partai cap nasionalis juga berupaya merebut "kue" suara dari
kalangan agamis. Liat deh PDI-P yang sudah menyiapkan "lubang" tuk
kalangan agamis di Baitul Muslimin. PDI-P sadar, itu sangat bisa
menjadi peluang mereka menarik simpati kaum islamis.

Konflik agamis-nasionalis sepertinya sudah mulai lahir lagi
akhir-akhir ini. Asiknya, kalo dimunculkan kembali kekuatan "Nasakom"
ala Soekarno dulu, tuk menjembatani konflik agamis-nasionalis-komunis.
Tapi mungkin sekarang minus komunis :) Yang agamis nasionalis rasanya
sudah banyak. Mereka bisa "jualan" agama dan nasionalisme tuk memenuhi
pundi-pundi rejeki mereka. Setelah berkuasa, lupakan deh agamanya,
korupsi lagi, mau pemilu, tobat dulu sebentar :)))))

Salam

Taufiq
Jakarta 

Kirim email ke